
Happy Reading Bestie 😘
Setelah menunggu waktu yang cukup lama, saat ini Jenni tengah duduk di atas tempat tidur dengan gaun pernikahaan yang lengkap.
Jenni menunggui Arvan dengan begitu takut, dia takut bertemu pria itu. Dia takut jika pria itu akan menghukum dirinya atas kesalahan yang kemarin dia lakukan.
Tap„ tap„ tap, suara langkah kaki yang terdengar begitu tajam di telinga Jenni. Dia ingin kabur, tetapi nasib Robert berada di tanganya. "Hiskk„ hiskk," tangis Jenni yang tidak bisa menahan lagi rasa ketakutaan yang mulai menggrogotinya.
Arvan yang baru saja masuk ke dalam kamar, melihat Jenni dengan gaun pernikahaan itu terlihat begitu cantik dan menawan.
"Kenapa kamu kabur dari aku?" Tanya suara bariton yang kini sudah berada di sebelahnya.
Arvan menatap Jenni dengan tajam, dia hanya ingin mengetahui, kenapa istrinya ini berani melarikan diri darinya.
"Arvan, Lola sudah tidak ada, perjanjian kita sudah selesai," ucap Jenni dengan ragu — ragu.
"Enggak, tidak akan pernah berakhir jika bukan aku yang mengakhirnya!" Tegas Arvan, kembali mempermainkan perasaan Jenni.
"Awal perjanjian kita, hanyalah melakukan hubungan cinta satu malam, tidak ada perjanjian bahwa aku harus hidup denganmu selama yang kamu mau."
"Aku punya keluarga, aku punya kakak, bagaimana perasaan dia, jika aku pergi jauh darinya." Jenni menolak untuk hidup bersama
Arvan.
Baginya, ketika perasaan tidak bisa dipaksakan, lalu untuk apa dipertahankan.
"Jen, ini adalah hari bahagia kita, aku sudah memaafkanmu dari dosa yang telah kamu perbuat kemarin. Aku mohon bersikaplah dengan baik," pinta Arvan pada Jenni.
Dengan tangisan yang pilu, Jenni hanya bisa diam tanpa bisa berkata apapun. Karena mau dia berkata hingga mulutnya berbisa sekalipun, tetap saja Arvan tidak mau mendengarkannya.
"Jen, bersiaplah, kita akan menikah kembali?" ucap Arvan, meminta agar Jenni segera menghentikan tangisannya.
"Menikah lagi? Arvan, bahkan kita saja belum bercerai? Bagaimana bisa?"
"Kita sudah selesai, di saat dengan beraninya kamu membiarkan Robert memeluk dirimu begitu saja," tungkas Arvan, menahan emosinya yang nyaris saja meledak karena pertanyaan Jenni yang seharunya tanpa dia menjawab saja, wanita itu sudah memahaminya.
Arvan menangkap wajah Jenni yang nampak terkejut mendengar jika dirinya tahu, tentang apa saja yang dia lakukan bersama dengan Robert.
"Kenapa? Kamu kaget karena aku mengetahui semuanya?" Arvan tersenyum sinis, entah dia sedang tersenyum melihat kebodohan Jenni, atau dia malah tersenyum dengan nasib dirinya sendiri.
"Apakah kamu tahu Jen? Jika aku tidak pernah berniat ingin melukaimu lebih dalam Iagi dengan berhubungan dengan wanita lain yang berada di luar sana?"
"Aku hanya ingin kamu mengerti, jika aku hanya mencintai Mira, tetapi aku tidak pernah mengkhianati perasaanmu dengan memeluk wanita lainnya di luaran sana."
DEG, jantung Jenni berdegup semakin kencang, dia merasa bahwa saat ini Arvan tengah menyalahkan dirinya atas semua yang telah terjadi.
"Kamu menyalahkan aku?" tanya Jenni sinis.
"Aku tidak menyalahkanmu! Aku hanya mengatakan hal yang sebenarnya!"
"Tapi -,"
"Setelah ini jadilah istri yang baik! Aku tidak akan pernah melepaskaanmu sampai kapanpun," ucap Arvan tidak ingin dibantah.
Lalu dia memilih untuk melangkahkan kakinya keluar, karena tidak ingin terus menerus merasakan sesak di dalam ruangan bersama dengan Jenni.
Arvan benar — benar merasa muak ketika mendengar suara tangisan Jenni, padahal jelas — jelas dia yang salah, kenapa malah dia yang menangis.
Saat ini, Jenni dan Arvan telah berada di dalam Jet pribadi milik Arvan.
Tadi, setelah mereka melakukan sumpah janji pernikahaan untuk yang kedua kalinya. Arvan langsung membawa Jenni untuk pulang.
Dia tidak mau jika terus berada di sana, karena bayangan ketika Robert memeluk istrinya, masih terus berputar — putar di dalam otaknya.
"Apakah setelah kita melakukan pernikahaan ini, kamu akan membebaskan Robert?" tanya Jenni dengan ragu.
Dan benar saja, ketika mendengar pertanyaan itu dari mulut istrinya, Arvan melirik tajam ke arah Jenni. Masih dengan pakain pernikahaan mereka, bagaimana bisa wanita yang baru saja dia nikahi ulang itu, kembali mempertanyakaan tentang pria lain kepadanya.
"Pantaskah kamu mempertanyakan pria lain, ketika kamu sedang bersamaku?" Arvan terlihat sangat emosi, hingga Jenni memilih untuk menundukan kepalanya takut.
Sedangkan Kevin, yang juga sedang bersama mereka di dalam pesawat, kini hanya bisa menggelengkan kepalanya pusing.
"Bagaimana bisa wanita ini begitu bodoh?" batin Kevin, yang entah menganggap Jenni seperti apa.
"Kamu tahu? Semarah — marahnya Mira denganku, Mira tidak pernah mengkhianatiku seperti apa yang kamu lakukan, dengan "Aku tidak mengkhianatimu, aku masih mencintaimu, dan tetap akan mencintaimu." Jenni menatap Arvan dengan lekat. Dia benar — benar mengungkapkan perasaan yang selama ini dia pendam.
Cinta yang ada untuk Arvan, itu bukanlah sebuah dosa, yang harus dia sembunyikan, karena di Sisi negara Arvan adalah suaminya yang sah dan wajib dicintai.
"Persetan dengan cintamu itu?" Serkas Arvan, dia bukanlah orang bodoh yang bisa mempecayai Jenni begitu saja.
"Terserah jika kamu tidak mempercayaiku, yang jelas aku sudah berkata jujur denganmu, aku sangat — sangat mencintaimu Arvan, sangat — sangat -,"
"Cukup Jen!" Sentak Arvan, yang tiba — tiba berdiri dan menganggetkan Jenni dan Kevin yang berada di dalam sana.
Arvan menatap ke arah Kevin, meminta agar pria itu meninggalkan dia dan istrinya berdua.
Kevin menghela nafasnya sesak, merasa bahwa kedua pimpinananya ini sangatlah bersikap kekanak — kanakan. Hubungan antara suami istri yang mereka jalani saat ini, tanpa sadar membuat Kevin merasa jika dirinya tidak ingin menikah.
"Saya permisi dulu Lord," pamitnya, mau tidak mau harus memisahkan diri dari pertengkaran orang dewasa ini.
Arvan hanya diam, sama sekali tidak merespon, karena saat ini dirinya tengah mewanti — wanti agar istrinya tidak lagi jatuh cinta kepada Kevin atau siapapun lagi.
"Bicaralah Jen!" Titah Arvan, ketika dirinya sudah melihat bahwa Kevin tengah berada dibagian depan pesawat, dengan pintu yang sudha tertutup.
Jenni melirik sejenak ke arah Arvan, lalu dirinya menggelengkan kepalanya pusing.
"Aku rasa, aku sudah tidak perlu bicara lagi, karena percuma saja jika -,"
"Cikh, kamu bilang apa? Percuma?"
"Iya percuma, jelas sangat percuma, karena kamu juga tidak akan percaya dengan apa yang aku katakan." Jenni kini mulai membuka suaranya.
Dia tidak ingin selalu disalahkan oleh Arvan seperti ini. Dia selalu saja dipojokan tanpa Arvan pernah tahu, bagaimana sikapnya dia pada Jenni selama ini.
"Siapa yang bisa percaya kamu kalau aku sudah melihatnya dengan mata kepalaku sendiri!" Suara Arvan mulai meninggi. Di saat Jenni mulai bersikeras membela diri, dia juga bisa membalikkan kata — kata yang keluar dari mulut Jenni.
"Melihat apa? Kamu hanya menerima laporan dari beberapa anak buahmu yang kamu suruh itukan!"
"Tetapi kamu tidak melihat dan mendengar secara langsung apa yang aku katakan dengan Robert."
Jenni mulai meneteskan kembali air matanya, tetaoi dia sama sekali tidak menundukan kepalanya, dia tetap menatap łajam ke dałam mata Arvan, agar dirinya bisa melihat bagaimana isi hati pria ini kepadanya.
"Aku tahu aku salah karena sudah berani lari dari kamu, aku lari bersama dengan Robert, dan kamu tidak terima semua iłu!"
"Tetapi apakah kamu pernah tahu?
Bagaimana rasanya jadi aku Van? Bisakah sedikit saja kamu mempunyai rasa emoati kepadaku? Bonekamu sudah rusak Van, hidupku sudah rusak, hisk„ hiskk,” Jenni luruh ke dałam pelukan Arvan, dia sedikit memukul — mukul dada bidang milik suaminya, agar sedikit meluapkan rasa sakit yang dia rasakan.
To Be Continue.
Hallo teman - teman, maaf ya, kalau chapternya sedikit berantakan, cerita ini memang sedang saya rubah alur, tetapi jangan khawatir, karena plotnya akan tetap sama dan nanti akan berłemu dengan cerita series yang lainnya.
Jadi jangan lupa ya, like, Komen dan hadiahnya. Biar mimin semakin semangat untuk updatenya.
Dan jangan lupa ya, mampir ke karya mimin yang lainnya.
Terima Kasih🙏🏻