Love Me Please My Wife

Love Me Please My Wife
Chapter 34



Happy Reading


"Terus apa? Ketika aku tahu kamu bohong tentang kematian Robert, terus aku harus menjawab apa?" Jenni menjawab Arvan dengan begitu ketus. Hingga Arvan hanya bisa menghela nafasnya kasar.


"Jenni, aku ingin meminta sebuah kejujuran darimu," ucap Arvan serius pada Jenni yang terlihat sangat mengacuhkannya.


Dengan melirikkan matanya tajam, Jenni merasa tidak terima dengan apa yang dikatakan oleh Jenni.


"Kejujuran apa lagi? Kenapa kamu selalu menganggap aku berbohong?" sahut Jenni dengan kesal, lalu dia menghentikan kegiataannya merangkai bunga, untuk meninggalkan Arvan seorang diri.


Namun, pergerakan Arvan terlihat lebih cepat dibandingkan pergerakan Jenni, sehingga dia lebih dulu menarik tangan istrinya itu untuk duduk di atas pangkuannya.


"Lepaskan aku!" Tegas Jenni, terus berusaha untuk memberontak dari pelukan suaminya.


Arvan tersenyum, lalu mengusap perut Jenni dengan pelan. "Apa yang sedang kamu lakukan?" tanya Jenni sedikit khawatir.


Dia merasa cemas jika sampai Arvan mengetahui tentang kehamilannya.


"Aku tahu, jika di dalam sini itu ada bayi kita," ucap Arvan tepat sasaran.


DEG, jantung Jenni terlihat berpacu dengan sangat cepat, dia tidak menyangka bahwa suaminya ini akan benar — benar pandai dalam mengetahui semua kebohongannya.


"Aku tidak hamil," balas Jenni, dengan segera menetralkan perasaanya.


Dia tidak mahu sampai Arvan mengetahui jika dia tengah hamil saat ini. Karena Jenni sudah berniat kabur lagi dari Arvan, tetapi niatnya itu nanti dia akan menjalankannya setelah dia berhasil mengembalikan kepercayaan Arvan, dan yang pastinya hal itu akan terjadi sebelum perutnya benar — benar membesar.


'Masih berniat untuk bohong rupanya,' batin Arvan yang benar — benar tidak habis pikir dengan Jenni.


Padahal wanita ini sudah jelas sangat mengetahui siapa suaminya, tetapi tetap saja dirinya terus menerus membohongi Arvan, menganggap jika pria itu adalah orang yang begitu bodoh, hingga dirinya mudah sekali untuk berkata bohong.


"Aku sudah bilang sama kamu, jika sangat begitu percuma jika kamu mau membohongiku, karena meskipun kamu berusaha menyembunyikan semua itu, aku pasti akan mengetahuinya dalam hitungan menit," bisik Arvan, yang semakin membuat tubuh Jenni semakin menegang.


Ketika Arvan melihat sorot mata Jenni yang mulai sendu, dia tahu jika Jenni kembali menyesali kebohonganya.


"Kenapa mau bohong lagi?" tanya Arvan, sembari mengalihkan wajah Jenni agar berhadapan dengan wajahnya.


Jenni terdiam, dia tidak tahu harus beralasan apa, karena tidak mungkin dirinya akan jujur tentang rencanyq pada Arvan.


"A — aku," Jenni begitu gugup saat ini, terlebib tatapan Arvan yang tidak henti — hentinya meneliti raut wajahnya.


"Aku hanya memberitahukan kepadamu, aku sudah tahu semuanya, tetapi aku ingin mendengarkannya langsung dari kamu." Arvan menegaskan kepada Jenni, jika dirinya benar — benar ahli dalam membaca raut wajah seseorang.


Lidah Jenni terasa sangat kaku, dia tidak mempunyai pilihan lain saat ini, selain jujur kepada suaminya.


"Aku — aku," Jenni menundukan kepalanya takut. Dia khawatir jika Arvan akan kembali marah kepadanya, ketika mendengarkan alasanya saat ini.


Sebenarnya Arvan sama sekali belum mengetahui apa — apa. Hanya saja, dia memang sengaja untuk memancing emosi wanita yang begitu polos menurutnya ini.


Arvan juga sangat tahu, jika yang membuat Jenni istrinya berani untuk berbohong seperti itu adalah Robert.


"Katakanlah, jangan takut," ucap Arvan lagi.


"Aku, aku berniat untuk kabur lagi darimu, lalu aku ingin tinggal di sebuah negara lain untuk hidup bersama dengan anak — anakku," ucap Jenni dengan lirih.


Arvan menghela nafasnya kasar, saat ini emosinya mulai menyeruak, ingin sekali dia membentak dan memarahi Jenni, karena sudah berani membuat rencana yang begitu besar dibelakangnya.


"Maaf, Arvan, aku tidak bermaksud untuk membohongimu, tetapi aku takut -," ucapnya lagi — lagi terputus, sembari menundukan kepalanya takut.


Dia sama sekali tidak berani melihat wajah Arvan yang sudah mulai memerah saat ini.


Jenni khawatir, jika dia kembali salah bicara, emosi Arvan bisa — bisa akan memuncak, dan itu malah akan melukainya.


"Kenapa kamu bisa memuncai rencana seperti itu? Bagaimana caramu berpikir jika untuk kedua kalinya kamu bisa lari dari aku? Hem?" Arvan benar — benar tidak habis pikir dengan jalan pikiran Jenni.


"Karena -," lagi — lagi Jenni merasa jika bibirnya keluh untuk berbicara.


"Jenn," tegur Arvan lagi.


"Aku hanya tidak ingin kamu mengambil anak — anakku, setelah aku melaharikan, dan terlebih akan memisahkan aku dengan mereka, aku gak bisa Van, aku gak bisa." Jawabnya dengan jujur.


Arvan terdiam sejenak mendengar apa yang dikatakan oleh Jenni. Memang benar, perjanjian mereka dulu salah satunya adalah hal ini.


Arvan akan menceraikan Jenni setelah istrinya itu melahirkan bayi mereka, dan lebih parahnya, Arvan akan meletakan nama Mira sebagai ibu dari bayi Jenni.


"Apakah kamu bisa membayangkan? Bagaimana sakitnya ketika seorang wanita yang mempertaruhkan nyawanya untuk melahirkan anak ke dunia ini? Dan tiba — tiba setelah dilahirkan, lalu bayi kamu diambil begitu saja dan dipisahkan secara paksa?" Air mata Jenni mulai mengiringi kalimat demi kalimat yang diungkapkannya.


Perasaan sakit yang dia rasakan, tidak akan pernah ada seorang pun yang akan memahaminya.


"Jenni, itu adalah perjanjian awal kita, tetapi kenapa sekarang kamu berubah?"


"Perjanjian awal apa? Tentang perjanjian di atas nyawa sahabatku? Seperti tu?" Jenni kini dengan berani, mulai mengangkat pandanganya menatap ke dalam mata Arvan.


"Kita melakukan sebuah perjanjian untuk melakukan One Night Stand, tanpa adanya sebuah perjanjian pernikahaan," tegas Jenni, mengingatkan kepada Arvan tentang kesepakataan mereka diawal, jika pria itu melupakaanya.


"Kamu pikir aku bodoh? Kamu pikir aku gadis yang bisa kamu manfaatkan?" Jenni kini mulai membanting stir untuk menantang kepada Arvan. Dia tidak mau terus menerus terlihat lemah di mata pria itu.


Penjelasaan dari Robert dulu, itu sudah sangat cukup baginya untuk melawan Arvan saat ini.


Flash Back On


Jenni dan Robert yang baru saja pulang dari pemerikasaan kehamilan, kini menumpangain sebuah taxi untuk kembali pulang ke rumah mereka.


Suasana heningpun menyelimuti mereka, Jenni yang sedari tadi diam, mungkin sedang memikirkan nasib dirinya dan juga bayi yang saat inu tengah dikandungnya.


Sedangkan Robert, kini nampak sekali jika dia sangat kecewa, dia kecew ketika benih yang ditanamkan oleh pria itu, kini harus tumbuh di rahim Jenni.


"Jen," panggil Robert pelan.


"Aku tidak tahu apa yang ingin aku lakukan saat ini, aku benar — benar terikat oleh sebuah janji bersama dengan Arvan." Ucap Jenni, mengingat perjanjian yang dulu dia sepakati bersama dengan suaminya.


"Sebenarnya ini sangat aneh," balas Robert.


"Maksudnya aneh?" tanya Jenni dengan bingung.


"Apakah kamu pernah bertanya, siapa orang yang sudah menabrak Lola?"


DEG, jantung Jenni langsung berpacu dengan begitu cepat. Betapa bodohnya dia sampai melupakan hal satu ini.


"Aku tidak begitu fokus pada saat itu," jawab Jenni singkat, sembari dia mengingat terus menerus kejadian tempo lalu.


"Akulah yang menabrak Lola dulu," seru Robert dengan Lugas. Dia mengatakan semuanya dengan jujur, karena tidak ingin dihantui dengan rasa bersalah terus menerus.


Mendengar hal itu, ingatan Jenni langsung kembali mengingat kejaudan itu. Robert dan Arvan yang menolong mereka, adalah pelaku yang sebenarnya.


Flash Back Off


***To Be Continue.


Hey teman - teman, jangan lupa untuk Like, Komen, Vote dan Hadiahnya untuk mimin ya. agar mimin lebih semangat lagi untuk updatenya.


Dan jangan lupa untuk mampir ke karya mimin yang lain ya.


Terima Kasih***.