Love Me Please My Wife

Love Me Please My Wife
Chapter 40



Happy Reading BESTie 😘


Seharian ini Jesper sama sekali tidak bisa fokus dengan pekerjaan — nya, pikirannya terus saja fokus dengan keadaan adiknya.


Apa yang harus dia lakukan? Bagaimana cara membuat adiknya ini bisa mengerti dengan apa yang akan keputusan dirinya saat ini? Semuanya benar — benar membuat Jesper merasakan dilema yang sangat mendalam.


"Apa yang harus aku lakukan saat ini Tuhan, berikanlah aku sebuah jalan," ucapnya, sambil memejamkan matanya. Dia hanya bisa menyerahkan dirinya kepada Tuhan saja saat ini.


Membuatnya teringat akan sesuatu, lalu dirinya segera melangkahkan kakinya keluar dari kantor.


"Lita, Maks, kosongkan jadwal saya untuk hari ini! Karena saya tidak akan kembali Lagi hari ini," tegas Jesper pada asisten dan sekertaris nya.


Maks dan Lita begitu paham apa yang sedang dirasakan oleh bosa mereka saat ini. Sehingga mereka hanya mengiyakan saja apa yang diperintahkan oleh Jesper.


Di sinilah Jesper, pria yang dengan segala kelembutan hatinya, kini menyerahkan dirinya sepenuhnya didepan Tuhan.


Ya, di saat Jesper memiliki perasaan yang sangat kalut, dirinya hanya mampu datang ke tempat ini, tempat yang menurutnya adalah tempat yang paling pas untuk mengadukan semua keluhan - nya kepada Tuhan.


Karena menurutnya di saat dirinya jauh dari Tuhan, maka setiap masalah akan datang untuk menerpanya.


Jesper berdoa dengan sepenuh hatinya, dia menyerahkan semua takdir kepada Tuhannya, agar bisa ditunjukan jalan terbaik dari masalahnya ini.


Bagi Jesper, mungkin tidak mengapa jika dirinya dianggap egois oleh adiknya, tetapi dia merasa bahwa ini adalah keputusannya yang paling tepat.


Setelah Jesper menghabiskan waktunya di Gereja, kini dengan langkah penuh keyakinan Jesper melangkahkan kembali kakinya masuk ke dalam kediaman keluarga Enrique, dia ingin menjawab lamaran mereka yang semalam keluarga ini berikan.


"Hallo selamat datang anak Iaki — Iaki mamah," Sapa Selena, yang terlihat begitu bahagia ketika melihat kedatangan Jesper yang secara tiba — tiba ke Mansion mereka.


Jesper merasa sangat senang sekali, mendapatkan perlakuan hangat dari keluarga tersebut, dia merasa bahwa dirinya kembali mendapatkan cinta dari seorang ibu.


"Hallo bu Selena," sahut Jesper, membalas


Sapaan dari ibu Selina.


Selena Menyeritkan keningnya dengan bingung ketika mendengar Jasper masih memanggilnya dengan sebutan ibu Selena


"Mengapa kamu masih memanggilku dengan sebutan ibu Selena Jasper?" Tanya Selana pada pria itu.


Membuat Jesper menjadi salah tingkah dan tidak tahu harus menjawab apa.


"Jesper, kamu tidak perlu merasa sungkan kepada saya, kamu boleh memanggilku dengan sebutan tante atau bahkan mamah," ucap Selen Iagi.


Namun kali ini berhasil membuat Jesper merasa semakin canggung ketika dirinya harus diminta untuk memanggil orang lain dengan sebutan tante ataupun mamah.


"Ehmm, mungkin saya akan memanggil tante, karena bagi Jesper, mamah itu hanya akan ada satu di dunia ini tante, maaf," Jesper mengungkapkan perasaannya pada Selena, dia sangat — sangat menyesal karena harus berkata seperti itu.


Selena sendiri paham, bagaimana perasaan dari Jesper, makanya dia hanya tersenyum dengan menganggukkan kepalanya pelan.


"Anything sayang, kamu boleh memangil saya dengan sebutan tante, karena menurut saya itu jauh lebih baik dibandingkan kamu harus memanggil saya dengan sebutan ibu Selena," respon Selena, yang di — iringi dengan senyum manisnya.


Dan di saat mereka tengah asyik mengobrol, terlihat Calista yang baru saja turun dari lantai atas, dan dirinya begitu sangat sexy ketika ada di rumah. Tetapi Jesper memakluminya, karena itu memang adalah sifat pribadi milik Calista.


"Loh, ada kamu Jesper?" Seru Calista, yang baru saja melihat Jesper yang duduk di ruang tamu.


Jesper tersenyum kaku ketika dirinya selalu bertemu dengan Calista, karena dia masih merasa canggung akibat keputusan mereka untuk putus dengan cara yang tidak baik — baik.


"Kamu mau kemana Sayang?" tanya Selena pada anak sulungnya itu.


"Loh, aku baru saja ingin menjemput Kikiy mah," jawab Calista, yang terlihat mengambil kunci mobil di atas meja, karena dia berniat ingin keluar untuk menjemput anak pertamanya yang baru saja masuk ke dalam sekolah gold khusus baby yang berusia tiga tahun.


"Cecil di mana?" tanya Selena lagi, menanyakan keberadaan cucu keduanya yang masih baby.


"Cecil tidur mah, tadi habis minum susu, dan sekarang sedang bersama bibi di atas," jawab Calista lagi.


Lalu pandanganya kembali fokus kepada Jesper, "kamu tumben ke sini?" tanya Calista lagi, karena tadi dia sama sekali belum mendapatkan jawaban.


Dan sebenarnya pertanyaan itu juga baru saja ingin Selena tanyakan ada pria tampan itu.


"Saya ingin menyampaikan jawaban atas lamaran yang keluarga Enrique lakukan tadi malam tante, Cal," jawab Jesper langsung to the point.


Membuat Calista langsung menatap mamahnya dengan tatapan bingung. "Bukankah kamu meminta waktu hingga besok lusa?" tanya Calista lagi. Sambil mengingat — ingat kalimat yang dikatakan oleh Jesper tadi malam.


Selena menyubit kecil putri pertamanya itu, "ahhhsshh, mamah sakit," keluh Calista, sambil mengelus lembut tangannya yang baru saja dicubit oleh mamahnya.


"Sudah sana pergi jemput Kikiy, nanti cucu mamah nangis karena kamu terlalu lama menjemputnya," titah Selena pada Calista.


Bukan dia tidak ingin mendengar jawaban dari pertanyaan yang diajukan oleh putri sulungnya, tetapi dia hanya merasa tidak pantas mendengar jawaban itu, jika belum ada suami dan anggota keluarga yang lainnya.


"Baiklah — baiklah, aku jemput Kikiy dulu, tetapi mamah ingat ya, kita tidak boleh mendengar jawaban keputusan sebelum seluruh keluarga berkumpul dengan lengkap," ucap Calista, kemudian melangkahkan kakinya keluar.


Jesper dan Selena hanya memandang langkah dari seorang ibu muda yang begitu cerewet itu.


"Maaf ya Jesper, karena kamu datangnya mendadak, jadi tante harus mengabari om Dony kamu, David dan Jason terlebih dahulu," ucap Selena, merasa tidak enak ketika keluarga terlihat sangat mengacuhkan kedatangan Jesper di Mansion mereka.


"Ahh, iya tidak apa — apa tan — tante," tuturnya masih agak canggung memangil Selena dengan sebutan tante.


"Lagian ini memang salah saya yang memang datang secara tiba — tiba seperti ini. Malah justru seharusnya saya yang harusnya meminta maaf kepada keluarga ini, karena sudah menganggu waktunya karena kedatangan saya yang tidak mengenal waktu ini tante," ujar Jesper, dengan sedikit menundukkan kepalanya hormat.


"Ahhh, tidak jadi masalah Jesper, tante sudah pernah bilang dulu denganmu, jika anggap saja rumah ini adalah rumah kamu, jadinya kamu bebas mau main kapanku ke rumah ini," balas Selena lagi, yang lagi — lagi di — iringi oleh tawa yang mampu mencairkan suasana kalut di dalam hati Jesper.


"Sudah yuk, silahkan kamu duduk dulu, biar tante panggilkan bibi di dalam untuk menghidangkan makanan untuk kamu."


"Jesper sudah makan siang, Nak?" Tanya Selena lagi. Karena memang saat ini adalah waktunya untuk semua makan siang. Dan Selena sendiripun sebenarnya harus menyiapkan makanan siang untuk suami dan anak — anaknya yang lain, karena dipastikan hari ini mereka semua akan makan di rumah.


"Ehmm, tidak usah repot — repot tante, biar nanti saya makan di luar saja," jawab Jesper, tidak ingin merepotkan orang lain.


"Ahh, tidak ada yang repot kok, bir kita makan siang bareng terlebih dahulu saja, baru selesai itu kita bahas tentang apa yang menjadi tujuanmu datang ke sini," ucap Selena lagi, terlihat sekali jika dia tidak ingin dibantah.


"Tapi tante -," Jesper benar — benar merasa sangat tidak enak hati sekali, merepotkan orang lain untuk kepentingan nya pribadi.


Padahal dia datang ke sini hanya untuk menjawab lamaran keluarga ini saja, tetapi kenapa sekarang harus sampai disuguhkan makanan.


Namun, belum saja kalimat Jesper selesai, Selena sudah lebih dulu melangkah masuk ke dapur untuk mencari pelayan rumahnya.


Setelah berapa saat Jesper menunggu, kini Selena kembali keluar dan ikut duduk bersebelahan dengan Jesper.


"Kenapa Calista harus menjemput anaknya sendiri tante? Kenapa tidak menyuruh supir saja?" tanya Jesper secara lancang. Dia bahkan langsung menutup mulutnya, karena tidak sengaja mengeluarkan pertanyaan yang sangat tidak berbobot itu.


Selena tersenyum mendengar pertanyaan dari mantan kekasih putrinya ini, karena sepertinya Jesper masih belum bisa move on dari Calista.


"Calista itu sudah sering sekali tante bilangin untuk menggunakan supir, tetapi dia tidak mau, karena dia bilang dia ingin sendiri memantau kegiatan putra dan putrinya secara langsung," jawab Selena, yang membuat Jesper sebenarnya masih sangat mengganggumi sosok Calista.


"Dia memang selalu saja bersikap mandiri," gumam Jesper, dengan tanpa sadar suaranya itu terdengar oleh Selena.


"Hushh, ingat Calista sudah mempunyai suami, kamu juga seharusnya sudah cukup umur untuk menikah," ucap Selena, menyadarkan Jesper, jika dirinya baru saja mengagumi wanita yang sudah bersuami.


"Ahh maaf tante, bukan maksud saya seperti itu," ucap Jesper, merasa sangat malu dengan tindakannya.


"Bukan maksud apa?" tanya Jason yang tiba — tiba muncul di belakang mereka.


Bahkan keberadaan Jason, nyaris membuat Selena terkena serangan jantung.


"Aaahh, Jason, kenapa Sih kamu itu selalu saja muncul dengan tiba — tiba seperti itu? Buat mamah jantungan saja," tegur Selena kepada menantu kesayangannya itu.


"Maaf mah," jawab Jason dengan datar.


"Papah dan adik kamu di mana?" tanya Selena lagi, belum melihat keberadaan dua laki — laki yang menjadi kelengkapan keluarganya itu.


"Papah di sini mah," sahut Dony, yang mulai membuat suasana kembali mencair.


Bahkan kedatangan merekapun bersamaan dengan Calista yang baru saja pulang menjemput putranya.


"Kalau begitu mari kita makan siang dulu, baru setelah itu kita membahas tentang pernikahaan antara Jenni dan David," ajak Selena, yang langsung merangkul tangan suaminya.


Begitu pula dengan Calista yang langsung dipeluk erat oleh Jason, seakan dirinya benar — benar takut jika Jesper akan merebut istrinya.


"Ayo, Nak, Jesper, kita makan terlebih dahulu," ajak Dony yang kini mulai menunjukkan suaranya.


David yang masih bersebelahan dengan Jesper, kini mulai merangkul tubuh calon kakak iparnya tersebut, untuk masuk ke dalam ruang makan, dan makan bersama dengan keluarga besar mereka.


"Bagaimana bisnis Jesper? Apakah lancar?" Tanya Dony ketika mereka baru saja selesai makan.


Karena saat ini mereka terlihat sedang duduk bersama di ruang keluarga.


Jesper bisa melihat sendiri, betapa hangatnya berada di dalam suasana keluarga ini, dirinya bahkan sudah bisa membayangkan betapa bahagainya hidup adiknya jika sampai berada di antara salah satu mereka.


"Jesper," panggil Dony lagi. Karena pertanyaan dirinya tadi sama sekali tidak dijawab oleh Jesper, karena pria itu terlihat sedang melamun entah memikirkan apa.


Sontak saja Jesper terkejut ketika ada sebuah tangan menyentuhnya. "Kak Jesper," panggil David lagi. Karena saat ini posisi David Lah memang yang paling dekat dengannya.


"Ahh iyah," sahut Jesper, merasa canggung ketika dirinya kinu menjadi pusat perhatian dari sekelilingnya.


"Ada apa Jesper? Kenapa sepertinya kamu terlihat sangat gelisah sekali?" tanya Dony, yang sepertinya sudah sempat beberapa kali menangkap Jesper yang tengah melamun.


"Tidak om, hanya saja, aku sedang memikirkan betapa bahagianya Jenni ketika bisa berada bersama dengan keluarga yang begitu tepat seperti kalian," jawab Jesper dengan jujur.


David yang mendengar kalimat daei Jesper kini mulai menampilkan senyum manisnya, karena jika dia tidak salah menafsirkan, jawaban Jesper adalah menerima lamarannya untuk menikahi Jenni.


"Kak Jesper? Apakah itu artinya kakak?" Tanya David, ingin benar — benar meyakinkan jawaban dari Jesper itu sendiri.


Jesper menoleh ke arah David, lalu dia menganggukkan kepalanya pelan sebagai jawaban atas pertanyan pria yang terlihat sangat mencintai adiknya itu.


"Aahhh terima kasih kak," David langsung spontan memeluk tubuh Jesper sebagai bentuk rasa bahagianya.


Bahkan kebahagiaan David, kini sampai membuat Dony dan Selena tersenyum melihat anak mereka yang dulunya hanya bisa murung dan selalu saja mengatakan bahwa dirinya harus menikahi Jenni, kini keinginannya benar — benar tercapai.


Apa lagi, senyum manis milik David yang tidak pernah mereka lihat selama Jenni dinyatakan pindah dari sekolah, David merasa bahwa hidupnya benar — benar runtuh.


Padahal jika dipikirkan umur mereka baru saja masih terlalu kecil untuk memikirkan sebuah rasa kehilangan yang mendalam seperti itu.


"Selamat ya sayang, akhirnya putra mamah akan menikah," ucap Selena, yang juga ikut merasakan kebahagian putranya. Begitu juga dengan yang lainnya.


"Pah, ayo kita langsung ke Mansion kak Jesper pah, karena David akan menikahi Jenni secepatnya pah," ucap David, tidak kalah heboh sendiri.


Jesper tersenyum dengan penuh rasa bahagia, setidaknya dia bisa memberikan adiknya kepada keluarga yang akan benar - benar menyayanginya.


Dia sendiri sebenarnya sudah pasrah, jika besok nanti Jacob akan marah dan bahkan membunuhnya. Jesper tidak akan pernah merasa takut. Karena dia yakin David akan bisa mengantikan posisinya untuk menjaga Jenni sampai maut memisahkan mereka.


Plaaakkk, Calista yang nyaris di — injak oleh adiknya sendiri, kini merasa kesal sehingga dirinya mendaratkan sebuah pukulan dengan spontan.


"Calista," tegur Dony, ketika melihat anak perempuannya begitu berani memainkan tangan kepada adiknya.


"Maaf pah, tapi David tadi nyaris menginjak kakiku," sahut Calista membela diri.


"Ya maklumi sajalah sayang, adik kamu itu lagi bahagia, karena sebentar lagi dia akan berhasil memiliki bahkan menikahi wanita yang begitu sangat dia cintai," Selena tersenyum degan bahagia.


Dia benar — benar tidak sabar untuk menambah satu putri lagi di keluarga mereka.


Membayangkannya saja, sudah membuat seluruh keluarga besar itu sangat bahagia, apa lagi kalau itu semua benar — benar akan terjadi.


"David bisakah kamu duduk dulu sejenak?" tanya Dony kepada putranya yang nampak sangat memalukan dihadapan Jesper.


Karen Dony khawatir, karena sifat ke kanak — kanakan yang dimiliki oleh David putranya nanti ltu malah akan menjadi Jesper ilfil dengannya, dan malah membatalkan pernikahan antara David dan juga Jenni.


Sontak saja David yang mendapatkan teguran seperti itu dari papahnya, langsung terdiam dan memilih untuk duduk dengan rapi.


"Maaf pah, itu semua hanya ungkapan kebahagiaanku saja," balas David, tidak menunjukan rasa bersalahnya sama sekali.


Dony hanya mampu menghela nafasnya berat, ketika dirinya melihat putranya yang selalu saja menjawab ketika dinasehati olehnya.


"Jadi kapan pertunangan mereka akan kita laksanakan Jesper?" tanya Dony, langsung mengalihkan perhatian nya kepada Jesper.


"Sabtu ini 0m," jawab Jesper dengan cepat.


Membuat semua orang yang berada di sana menatap Jesper dengan tatapan kebingungan.


Pasalnya hari ini adalah hari rabu, dan lalu hanya ada dua hari lagi menjelang pertunangan.


"Benar om sabtu ini," tegas Jesper.


"Bahkan sabtu ini bukanlah sebuah hari acara pertunangan 0m, melainkan langsung ke tahap pernikahaan dan janji suci,"'sambungnya lagi. Dan kali ini dia berhasil membuat beberapa orang yang berada di sekelilingya itu hanya terdiam tanpa bisa berkata apapun sebagai respon yang positif untuk pernyataan Jesper.


"Saya tahu, jika kalian semua yang berada di sini akan sangat terkejut dengan apa yang saya katakan ini, tetapi ini adalah keputusan yang terbaik untuk kita semua," ucap Jesper lagi. Seperti dirinya sedang mengirimkan sinyal bahaya kepada Dony.


Tetapi, ketika baru saja Dony ingin berkata sesuatu, Selena dan Calista langsung tertawa, dan bahkan mereka dua wanita punya kekuatan untuk menjadikan sebuah pesta pernikahaan mewah dalam dua hari saja.


"Sudahlah, kalian tenang saja, aku dan mamah akan mengurus semuanya dengan begitu cepat, jadi Adik aku yang paling ganteng ini," ucapnya lalu menepuk — nepuk pelan bahu adiknya.


"Persiapkan dirimu benar — benar untuk dua hari ini. Apakah kamu mengerti?!" Calista menegaskan kepada David, untuk tidak bermain — main ataupun melakukan hal yang macem — macam dalam beberapa hari sebelum pernikahaannya dengan Jenni.


"Iya — iya kak, bawal banget sih," jawab David, merasa ingin sekali memitas kepala kakak kandungnya sendiri.


Namun dia juga tidak akan pernah berani melakukan hal itu kepada kakanya lantaran dirinya terlalu sayang kepada kakak satu - satunya yang dia miliki.


"Sebenarnya masalahnya bukan apakah kalian siap atau bisa mengerjakan semuanya dalam waktu dua hari ini," seru Dony, yang kali ini muali bersuara kembali.


Dia bahkan sampai sedikit pusing melihat kelakuan istri dan anak - anaknya yang terkesan seperti bar - bar sekali.


"Lalu apa masalahnya Pah? Papah jangan mulai memperkeruh suasana deh," protes Selena pada suaminya. Dia khawatir suaminya ini malah akan membuat sebuah omong kosong yang berakibat fatal untuk hubungan baru ini.


Dony sadar saat ini, perannya sebagai kepala keluarga, selalu saja dianggap main - main oleh istrinya. Mungkin karena sifat yang terlalu humoris membuat dirinya menjadi seperti bersahabat dengan siapapun.


"Bukan memperkeruh suasana mamah, tetapi papah hanya begitu penasaraan saja, karena baru saja malam ini kita melamar Jenni, lalu Jesper juga meminta waktu dua hari untuk memikirkannya, lalu sekarang dia datang padahal belum ada waktu dua puluh empat jam dari kejadian malam hari, Jesper sudah datang untuk memberikan sebuah jawaban tentang kepastian hubungan mereka, dan kenapa tiba - tiba, tidak ada angin, tidak ada hujan, sekarang dia bilang jika ingin menikahkan David dan Jenni dalam waktu dua hari ini."


"Papah hanya ingin mendengar jawaban yang sebenarnya Mah, hanya itu saja," ucap Dony menjelaskan inti dari pertanyaan yang mulai tadi bernari - nari di dalam otaknya, meminta untuk dilepaskan.


"Apa yang dikatakan oleh Papah itu memang benar Mah," sahut Jason yang akhirnya kini mulai bersuara, ikut memberikan pendapat pada masalah keluarga istrinya.


"Awalnya ketika Jesper mengatakan hanya menerima, mungkin kita semua paham, karena Jenny sudah menjawabnya pagi ini. Dan itu sangat puji Tuhan bagus sekali." Ucap Jason, yang mulai menyatakan teorinya.


"Tetapi ketika Jesper mengatakan untuk menikahkan mereka di dalam waktu dekat ini, itu seperti tidak masuk di logika saja Mah, terasa diburu - buru sekali, dan ini tidak mungkin jika tidak ada faktor yang mendorongnya." Sambung Jason lagi, dan sepertinya semua tepat sasaran.


Menikahkan mereka di dalam waktu dekat ini, itu seperti tidak masuk di logika saja Mah, terasa diburu - buru sekali, dan ini tidak mungkin jika tidak ada faktor yang mendorongnya." Sambung Jason lagi, dan sepertinya semua tepat sasaran.


Seketika pernyataan Jason membuat Jasper merasa sangat gugup, karena dia sendiri merasa bahwa masalah dirinya dengan Jacob, biarkanlah hanya dirinyanya saja yang tahu, tidak perlu orang lain untuk masuk campur di dalam masalah yang sedang dia hadapi saat ini.


To Be Continue.


Hallo teman - teman Semua, jangan lupa ya untuk Like, Komen dan Hadiahnya untuk Mimin, agar mimin lebih semangat lagi updatenya.


Kayanya cerita mimin yang ini sangat - sangat tidak menarik ya? Jadi kalian sama sekali gak mau komen.


Gak apa - apa deh, walaupun mimin jadi sedih.


Mimin tetap berterima Kasih banyak sama kalian semua.


Terima Kasih karena sudah mendukung Mimin sampai di detik ini dan tahap ini.


Mimin mencintai kalian semua.


Terima Kasih Banyak.