
🌹 Happy Reading 🌹
7 bulan kemudian.
Saat ini terlihat Mansion besar Arvan sedang ramai-ramainya menyambut perayaan Baby shower dari Briell.
Semua keluarga dan tamu pada antusias tidak sabaran dalam menyabut kelahiran Caby yang masih di rahasikan jenis kelaminya itu.
Pernak-pernik acara Boy Or Girl yang sangat indah membuat acara itu semakin riuh di buat.
"Wah ini indah sekali sayang," ucap Briell penuh kagum dengan kerja keras suaminya yang mempersiapkan acara ini untuk dirinya dan juga Baby.
Cuuupp, Albert mencium kening Briell dengan singkat sebagai tanda kebahagiaanya.
"Kamu suka gak? Ini aku dekorasi khusus untuk Caby," serunya sambil mengelus perut istrinya yang sudah membelendung itu.
Tiba-tiba saja dari luar terlihat mulai ricuh tamu yang datang, mulai dari teman-teman rumah sakit Briell sampai teman kantor suaminya. Serta tamu-tamu pejabat penting lainya sebagai tamu Oppa-Oppanya.
"Wahh, ini indah sekali," seru tamu wanita itu dengan memberikan sebuah hadiah pada Briell.
"Selamat ya," ucapnya lagi pada Briell.
"Terima kasih ya, makasih," jawab Briell dengan penuh rasa haru.
Lalu setiap tamu di arahkan pada pintu masuk yang terdapat sebuah lukisan Briell dan Albert yang di bagian Briellnya sengaja di buat warna putih, jadi setiap tamu yang datang wajib mencap lukisan Briell dengan Cap Boy or Girl yang sudah di siapkan.
Tamu terus berdatangan hingga tiba saatnya acara di mulai.
Briell dan Albert terlihat di dampingi oleh orang tua masing-masing yang menggunakan baju seragam, yang pria menggunakan baju Biru dan Wanita memakai baju Pink menambah kesan rame pada acara itu.
Albert memegang sebuah balon hitam yang sangat besar, yang di dalamnya sudah ada jawaban dari jenis kelamin dari bayi yang Briell kandung.
"Ayo pecahkan cepat kami sudah tidak sabar ingin tau jenis kelamin penerus selanjutnya," teriak salah satu tamu yang sedari tadi brisik menambah meriahnya acar ini.
"Iya ayo cepat,"
"Pecah,,pecah,,pecahh," sorak mereka semua yang sudah tidak sabar ingin mengetahuinya.
Arvan, Jenni,Mario,Eden,Alson dan yang lainya kini menampilkan senyum bahagia yang tidak pernah terpancar sebelumnya.
"Baiklah,,baiklah, ayo kita pecahkan sayang," ajaknya pada Istrinya yang saat ini sudah memegang jarum besar memecahkan balon itu.
Terdengar semua para tamu sedang menghitung mundur untuk memecahkan balon itu.
"Saaattttuuuu,,,dddduuuaaa,,tttiggggga,"
"Doorr,"
"Aaaarrrggghhhhh," teriak Briell terkejut dan berlari mundur melihat ada sekor burung terbang keluar dari balon itu.
"Yeeeeyyyy Cabynya Boy," teriak para tamu yang melihat burung dan serpiha kertas bewarna biru.
Albert ingin tertawa melihat ekspresi dari istrinya, namun Briell langsung memukulnya.
Plaaakkkkk, "kamu apa-apaan sih masukin burung dalam situ, aku takut tau," bentaknya dengan air mata yang mulai menetes.
"Maaf sayang, bukan maksud ku begitu."
Albert merasa khawatir dengan istrinya dan langsung mendekapnya, sedangkan para tamu langsung saling berpelukan merasakan haru melihat kebahagiaan calon orang tua baru itu.
Semua orang tua dan keluarga langsung melangkah maju memeluk tubuh Briell. "Selamat ya Nak, sehat selalu sampai Cabynya lahir," ucap Eden yang memeluk haru tubuh putrinya.
Di susul oleh Mario yang juga ikut mengelus lembut perut Briell, "semoga menjadi anak laki-laki yang kuat dan berani ya," doanya tulus di ucapkan pada Cucunya.
Hingga semua para tamu sudah kembali menikmati pesta kembali, Briell dan Albert memilih beristirahat di sisi ruangan itu.
"Sayang are you okay?" Tanya Albert yang melihat istrinya seperti kelelahan.
Briell menganggukan kepalanya singkat meniawab suaminyan itu, "aku okey, cuman kaki aku agak pegal sedikit, tapi bentar lagi juga oke," jawabnya dengan lembut sambil memijat kakinya sendiri.
Albert yang merasa tidak tega melihat istrinya kelelahan kini langsung berjongkok di depan istrinya dan meletakan kaki istrinya di pangkuanya lalu memijitnya.
"Sayang, kamu apa-apaan sih, gak enak tau, cepat berdiri," serunya yang merasa tidak sopan ketika suaminya memegang kakinya seperti ini.
"Gak papah sayang, kan kamu hamil kecapean gini juga karna aku, jadi gak papah dong kalo aku sedikit membantu, yakan," balasnya dengan lembut sambil terus mengusap perut istrinya yang seperti sudah candu baginya.
Dan di saat mereka tengah saling mengobrol, tiba-tiba ada sepasang tamu yang menghampiri mereka untuk berpamitan.
"Dokter kami pamit dulu ya, udah sore Babby tadi di titip sama Bibi gak enak di tinggal lama-lama," pamit seseorang wanita yang merupakan rekan kerja Briell yang sedang bersama suaminya.
Briell tersenyum lalu berdiri dari duduknya, "makasih ya beb udah repot-repot datang," balasnya yang membalas dengan cipaka cepiki di pipi mereka.
"Iya sama-sama beb, aku iri deh sama kamu, hamil kok badanya gak gendut-gendut gitu, hisskk, dulu padahal aku naik loh 7 kilo, tapi kamu enggak masih bagus aja badanya," puji wanita itu yang merasa jika tubuh Briell masih masuk katagori ideal.
"Hahahha, enggak lah beb, ini aja Albert bilang badan ku sudah kaya lumba-lumba kok," balasnya dengan tertawa kecil, ketika mengingat suaminya mengomel jika Dirinya terlalu banyak makan Es krim.
"Hahaha itulah para suami emang selalu protes, ya sudah ya beb kami pulang dulu, bye/bye," pamitnya langsung melangkah pergi.
Sedangkan Albert yang sedari tadi ada di belakang Briell kini menyeritkan keningnya malas. "Kamu kenapa ?" Tegur Briell yang melihat wajah suaminya kecut seperti itu.
Albert menarik nafasnya dalam-dalam lalu memeluk tubuh istrinya, "kamu bilang lumba-lumba aku jadi pengen Honey moon ke Hawai deh," ungkapnya ingin berlibur dengan istrinya sebelum kelahiran Caby mereka.
Briell terlihat berfikir sejenak, "ya udah nanti kita konsultasi sama dokter kandungan dulu ya, boleh tidak jika aku melakukan perjalanan jauh, jika boleh maka kita akan pergi." Sahutnya yang langsung mendapatkan kecupan di keningnya.
"Makasih ya sayang, makasih udah bersedia mengandung bayi ku," ucapnya dengan tulus sambil menyatukan keningnya pada kening istrinya dari samping.
Karna jika dari depan Albert merasa sedikit terhalang oleh perut istrinya yang membelendung.
"Ini bayi kita, jadi tidak ada istilah bayi kamu atau bayi aku, ini adalah buah cinta kita, hasil dari penyatuan kasih dan cinta dari kita berdua." jawab Briell yang tidak terima jika Albert selalu mengatakan Bayi ku, dan Bayiku.
Albert tunduk, mensejejerkan tubuhnya dengan perut istrinya.
"Hallo Griffin, ini Papah sayang, sehat-sehat ya Son, sampai ketemu di dunia Nak," ucapnya sambil mencium dan mengelus lembut perut istrinya.
"Iya Papah, see you," jawab Briell dengan suara khas anak kecil.
Albert tersenyum dan langsung mencium pipi istrinya yang mulai caby itu dengan gemas.
"Kamu sangat menggemaskan sayang," ucapnya sambil mencium pipi Briell layaknya seorang Boneka.
Arvan,Jenni,Mario dan Eden yang melihat kemesraan dari mereka, kini tersenyum bahagia dan berharap kebahagiaan ini akan selamanya.
"Semoga cinta mereka kekal abadi hingga kematian pun tidak akan bisa memisahkan mereka." Seru Arvan yang berharap banyak dengan kisah cinta putra bungsunya itu.
To be continue.
Cukup 3 chapter ya hari ini🥰🥰
Detik-detik Tamat gengs, jangan jadi pembaca gelap dong😭😭
*Sedekah ya sedekah **😭😭Like,Komen,Hadiah,Dukungan dan Votenya ya semua para pembaca yang terhormat, biar Mimin lebih rajin lagi Updatenya😘😘 *
Kalo malas-malasan entar Mimin juga malas-malasan loh 😭😭😭
Terima kasih🙏🏻🙏🏻
Follow IG Author @Andrieta_Rendra