
🌹 Happy Reading 🌹
"Sayang, Grifiin," tangis Briell pecah melihat babynya yang tak kunjung menerima rangsangan.
Albert yang melihat babby di penuhi dengan alat-alat medis seperti itu merasa tidak tega sendiri.
Mario yang mendengar suara tangisan Briell dari luar, langsung segera berlari masuk ke dalam dengan membawa beberapa pakaian bayi yang sudah di belikan oleh Letty tadi.
"Ada apa ini?" tanya Mario panik melihat baby yang sedang di tangani.
"Daddy," tangis Briell langsung segera mendapatkan pelukan dari Mario.
Mario terus menerus memberikan ketenangan untuk putrinya. Berbeda dengan Albert yang berdiri melangkah untuk mendekat ke arah putranya.
"Biarkan saya menggendonya dok." Pintanya pada dokter yang masih menangani Griffin.
Dokter itu saling memandang satu sama lain, lalu kemudian mengangkat tubuh mungil Griffin yang beratnya hanya 1,5 gram itu, "sayang, ini Papah Nak," bisiknya pelan sambil menerima baby di gendonganya dengan perlahan.
Dokter itu mengarahkan agar Albert memasukanya di dalam baju milik papahnya lalu menutupinya lagi dengan selimut agar tetap hangat.
"Kecil sekali kamu Nak," lirihnya lagi, dengan menteskan air matanya melihat bayinya yang begitu kecil dan lemah.
Lalu dia melangkah mendekat ke arah istrinya dan membaringkan tubuhnya di sebelah Briell.
Cuuppp, Briell memiringkan tubuhnya dan mencium pipi mungil putranya. "Sayang Grifiin ini Mamah sayang, ayo nangis yuk nak, jangan bikin Mamah dan Papah takut sayang," imbuhnya pelan mendekatkan wajahnya pada putranya yang berada di dekapan suaminya.
"Sayang, ayo nangis," bujuknya lagi, dan terlihat Grifiin yang mulai bergerak sesak di dalam dekapan Albert.
Briell memeluk putranya dengan melingkarkan tanganya di dada suaminya, "sayang Mamah takut Nak, jangan begini ayo nangis." Ucapnya lagi yang tak kunjung mendapatkan sahutan.
"Eeennnghh,,eenngghh," suara Griffin yang mulai muncul sedikit sontak membuat Albert dan Briell menangis penuh harap.
"I love you, you love me, we're a happy family with a great big hug and a kiss from me to you
won't you say you love me too,( "Aku mencintaimu, kamu mencintaiku, kita keluarga bahagia dengan pelukan besar dan ciuman dariku untukmu, maukah kamu mengatakan jika kamu mencintaiku juga)," tangisnya haru menyanyikan dan membiskan lagu Happy Family di telinga Griffin, dengan mencium dan memeluknya.
"Eenngghh,,ookk,eenngghh," suara Griffin mulai terdengar kembali mendengar suara Briell yang menyanyi di dekatnya.
Mario,Albert dan dokter lainya kini ikut bernyanyi bersama drngan Briell.
"I love you, you love me, we're a happy family with a great big hug and a kiss from me to you
won't you say you love me too,I love you, you love me, we're best friends like friends should be, with a great big hug and a kiss from me to you, Won't you say you love me too ( aku Mencintaimu, kamu mencintaiku, kita keluarga bahagia dengan pelukan besar dan ciuman dariku untukmu, Maukah kamu mengatakan mencintaiku juga, aku mencintaimu, kamu mencintaiku, kita sahabat seperti teman, dengan pelukan besar dan ciuman dari saya untuk Griffin , maukah Grifiin anda mengatakan mencintaiku juga)." Suara mereka semua terdengar semakin kencang bernyanyi.
"Hooeeeekkk,,hoeeekkk,hoeekkkkl,," tangis Griffin yang akhirnya terdengar bahkan menarik kencang tubuhnya, membuat seluruhnya tersenyum bahagia.
"Oh Thanks God, Griffin menangislah nak, menangislah dengan kencang sayang." Tangis Albert yang mengeluarkan putranya dari dekapan bajunya.
"Griffin, sayang," lirih Briell mengelus lembut wajah putranya yang menangis.
Dokter yang melihat itu langsung mengambil Bayi itu dan ingin membersihkanya.
"Briell terima kasih, makasih sayang karnamu aku sudah menjadi Papah sekarang," tangisnya menggengam tangan istrinya ketika bayinya sudah di ambil kembali oleh dokter untuk di selesaikan.
"Selamat ya Nak, putri kecil Daddy sudah menjadi Mamah sekarang," Sahut Mario yang juga tak kalah bahagia mendengar tangisan cucunya.
"Terima kasih Daddy," balasnya dengan tersenyum penuh kebahagiaan.
Mario membalas senyum itu dengan mengelus kepala putrinya dengan rasa sayang, dan tiba-tiba saja Mario langsung memeluk tubuh Briell dengan sangat erat." Jika kamu merasakan sakit bilang sama Daddy ya nak, Daddy mencintai Briell, sangat-sangat mencintai Briell, ingat itu Nak," air matanya yang tumpah ruah mengungkapkan kalimat cinta kepada putrinya.
Albert mengelus lembut punggun istrinya untuk sedikit mengurangi rasa cemasnya.
Bbbbooooooommmmmm,,booommmmm tiba-tiba saja terdengar suara bom yang meledak di area sekitaran Villa.
"Sayang ada apa ini?" Tanya Briell yang panik mendengar suara itu.
Sontak Mario dan Albert langsung berdiri dan melihat ke arah luar, "Daddy, pengawal kita semua sudah habis," teriak Albert yang menunjuk ke arah luar Villa yang sudah hancur terbakar karna sebuah bom yang meledak.
Roma dan Letty terlihat berlari masuk ke dalam kamar Briell.
"Senhor, apresse-se e leve sua esposa e bebê para se esconderem nesta sala secreta, eles já estão sob o senhor, imploro que se apresse. ( tuan, cepat dan bawa istri dan bayi Anda untuk bersembunyi di ruang rahasia ini, mereka sudah di bawah Anda, saya mohon Anda cepat)," pinta Roma dan Letty yang terlihat begitu khawatir.
Mario langsung menatap ke arah Albert dan Briell. "Albert bawa Briell cepat! Biar Daddy yang menghadapi mereka," perintah Mario dengan tegas.
Sedangkan Letty terlihat membantu Briell untuk bangkit dengan di bantu beberapa dokter yang sudah siap membersihkan tubuh Griffin.
Letty langsung mengambil alih Griffin dari tangan dokter itu. "deixe ir, deixe-me carregá-lo. vocês não vêm! ( lepaskan, berikan dia kepadaku, kalian tidak boleh ikut)" bentaknya dengan menatap tajam ke arah dokter-dokter itu, seperti mengetahui sesuatu.
Mario yang melihat tatapan Letty itu kini mengetahui jika salah satu dokter itu atau bahkan beberapa ada yang sudah berkhianat. "Shitt! Aku kelepasaan lagi," batinya memandang tajam ke arah dokter-dokter itu.
Albert dengan cepat membantu Letty dan Briell untuk bergegas pergi dari kamar itu menuju tempat rahasia, sedangkan Mario langsung memandang wajah dokter-dokter itu satu persatu.
"Jika aku mengetahuinya, maka jangan pernah mengatakan ampun," tegas Mario yang kini sudah menampilkan sosok iblisnya.
Booommmm, sekali lagi bom itu meledak dan sudah menghabiskan seluruh pengawal yang ada.
"Roma, amarre todos eles! certifique-se de que eles não escapam! ( roma tahan mereka semua, pastikan jika mereka tidak akan ada yang kabur," perintahnya lagi yang menyuruh Roma untuk menyekap mereka untuk meminta pertanggung jawaban.
Dan setelah itu Mario dan Roma langsung berlari kebawau untuk melihat siapa musuh kali ini.
Namun tiba-tiba saja Albert muncul tiba-tiba
"Albert kamu di sini, lalu Briell dan Griffin?" tanya Mario dengan khawatir.
"Mereka aman Dad," jawabnya dengan senyum yang di paksa.
Mario menganggukan kepalnya pelan, di kadaan yang terjepit seperti ini, dia memang membutuhkan bantuan, dia memandang siap kepada seluruh pengawal yang tidak berguna itu.
Namun di tengah kondisi seperti ini, Mario masih sempat memberikan sinyal Bahaya kepada Arvan, untuk segera datang membantu mereka.
Mengingat jarak yang cukup jauh meskipun menggunakan pesawat tempur, membuat mereka harus bisa menangani ini sampai bantuan datang.
"Dad, mari kita berjuang bersama," lirihnya pelan mempersiapkan dirinya mengahadapi musuhnya ini.
Mario dan Roma kini menganggukan kepalanya bersamaan dan bersiap mengatur formasi.
To be continue.
Detik-detik Tamat gengs, jangan jadi pembaca gelap dong😭😭
*Sedekah ya sedekah **😭😭Like,Komen,Hadiah,Dukungan dan Votenya ya semua para pembaca yang terhormat, biar Mimin lebih rajin lagi Updatenya😘😘 *
Kalo malas-malasan entar Mimin juga malas-malasan loh 😭😭😭
Terima kasih🙏🏻🙏🏻
Follow IG Author @Andrieta_Rendra