Love Me Please My Wife

Love Me Please My Wife
Chapter 33



Happy Reading


"Queen Jenni," lirih Kevin pelan, dia sama sekali tidak mengerti, siapa yang dimaksud dia oleh Jenni.


Jenni memaksa turun dari gendongan Kevin, dia ingin berbicara dengan temannya itu.


Namun Kevin tidak mengizinkannya.


"Queen, kita harus masuk ke dalam kamar sekarang juga," tegas Kevin pada Jenni.


Dia mengunci kuat tubuh Jenni agar tidak bisa turun dari gendongannya, "bisakah kamu ikut bersamaku masuk ke dalam kamar?" tanya Jenni pada sosok yang tak terlihat itu.


Kevin menghela nafasnya berat, dia sama sekali tidak mengerti apa niat Jenni sebenarnya.


Tapi satu yang Kevin tahu, bahwa ini semua hanyalah akal — akalan Jenni, cara dia mau melepaskan tubuh sang Queen agar bisa masuk ke dalam ruangan Arvan.


Sungguh licik bukan? Tetapi inilah Jenni, yang selalu saja mempunyai seribu satu cara untuk bisa kabur dari jangkauan Lord.


Sesampainya di dalam kamar, Kevin langsung mengunci kamar Jenni, dan tidak lupa dia menempatkan beberapa penjaga agar wanita itu tidak bisa kabur.


"Nama kamu siapa?" tanya Jenni pada sosok tersebut.


"Oohh jadi nama kamu Sisi?"


"Kenapa kamu ada di sini? Dan kenapa sepertinya wajahmu sangat menyedihkan seperti itu?" Jenni banyak mempertanyakaan mahluk tersebut.


Karena selama dia berada di dalam Mansion, hanya sosok inilah yang paling sering muncul dan mengikuti Jenni berkeliling di istana suaminya ini. "Sudah aku duga, suami aku memang jahat," lirih Jenni dengan pelan.


Dia begitu tersentuh dengan kalimat yang dinyatakan oleh Sisi.


"Tapi apakah kamu melihat keadaan dari Robert?" tanya Jenni lagi.


"Ahhh, jadi Arvan membawanya ke rumah sakit?" Jenni tersenyum dengan penuh rasa kelegaan di hatinya.


"Baiklah, terima kasih ya, kamu boleh kembali sekarang," ucap Jenni lagi pada Sisi.


Dan setelah dia melihat sosok Sisi sudah pergi, Jenni memilih untuk membersihkan tubuhnya kembali, karena darah Robert yang tidak sengaja ada di tubuhnya di saat dirinya tadi memangku kepala pria itu.


Sedangkan Kevin saat ini sudah kembali berada di dalam ruangan Arvan, dia ingin mengatakan semuanya pada Lordnya itu, tetapi dia tidak tahu harus memulainya dari mana.


Dia khawatir, jika nanti Arvan akan mengira jika dirinya menuduh Queen Jenni karena dendam dengan masalah yang tadi.


Namun Kevin sepertinya bisa berbicara jika menggunakan rekaman CCTV sekitaran.


"Permisi Lord," izinya, sembari menundukan kepalanya hormat pada Arvan yang saat ini sedang memejamkan matanya untuk mengistirahatkan otaknya terlebih dahulu.


Arvan sama sekali tidak menjawab Kevin; namun pria itu sangat tahu jika Arvan mendengarkannya.


"Lord, Anda harus membuka CCTV di lorong


12 dan juga di depan ruang kerja Anda Lord," ucap Kevin lagi, yang terdengar seperti perintah untuk Arvan.


Dan benar saja, Arvan yang sedari tadi mendengarkan Kevin, kini membuka matanya dengan perlahan untuk mencerna baik — baik, apa yang tengah disampaikan oleh anak buahnya itu.


Kevin langsung begegas melangkahkan kakinya mendekat ke arah Arvan, dan dengan izin Kevin menggeser laptop milik Arvan untuk membuka rekaman CCTV yang di maksud.


"Kita bisa melihat sendiri di sini Lord, apa yang telah dilakukan oleh Queen Jenni," ucap Kevin, lalu membesarkan suara yang ditangkap oleh kamera — kamera pintar yang dia miliki itu.


Arvan melirik ke arah Kevin sejenak, lalu kembali memperhatikan rekaman CCTV yang terlihat tidak masuk akal. "Ini maksudnya apa?"


Gubraaakkk.


Mendengar pertanyaan itu rasanya Kevin ingin sekali mencekik leher bosnya yang satu ini.


Dia mengira jika tadi Arvan melirik ke arahnya, Arvan akan paham dengan permasalahan ini, tetapi ternyata tidak.


"Lord, pernahkah Anda mengetahui jika istri Anda memiliki sixth sense?" tanya Kevin dengan serius. Namun Arvan hanya terdiam sembari menggelengkan kepalanya pelan.


Kevin juga memberitahu, bahwa suatu saat Jenni bisa memberontak dengan kelebihaan yang dia miliki itu.


Karena dia sangat tahu, orang cerdas seperti Arvan tidak akan pernah tahu cara kelicikan hantu — hantu dunia luar.


"Kevin, apakah aku juga bisa memiliki kelebihan tersebut?" tanya Arvan dengan pelan, sepertinya dia sedang merasa tidak terima jika Jenni memiliki sebuah kelebihan yang tidak dia miliki.


Dengan rasa kepala yang sangat pusing, Kevin hanya bisa menggaruk kepalanya yang tidak gatal. Pasalnya dia juga tidak tahu bagaimana caranya memiliki kelebihan itu.


"Setahu Saya, sixth sense atau yang biasa disebut indra ke — enam ini, hanyalah sebuah kelebihan yang Tuhan berikan sedari lahir.


Saya sama sekali tidak tahu, bagaimana caranya agar bisa memilikinya Lord." Kevin menjelaskan secara terperinci, namun sepertinya Arvan tidak menyukai jawaban itu, karena dirinya melihat wajah Arvan yang dingin tanpa senyuman.


"Begini Lord, yang saya tahu, manusia itu tidak bisa sembarang mempunyai kelebihan ini, karena jika mental Anda tidak kuat, yang bisa


Anda akan gila," terangnya secara to the point.


Setelah mendapatkan penjelasan dari Kevin tadi, kini Arvan memilih untuk melihat keadaan Jenni di dalam kamar, termasuk membicarakan tentang kehamilan.


Dia tidak mengerti, apa alasan Jenni sampai detik ini belum ada niat sama sekali untuk membicarakan tentang kehamilannya.


"Jenni," panggil Arvan,yang melihat Jenni sedang merangkai beberapa bunga di dalam vas. Jenni menoleh ke arah Arvan, yang baru saja masuk ke dalam kamar mereka, namun Jenni hanya diam saja, tanpa ada niatan sedikitpun ingin menjawab pertanyaan pria yang berstatus suaminya itu.


"Apa yang sedang kamu lakukan di sini?" tanya Arvan lagi, tetapi Jenni masih terus diam saja.


'Dia benar — benar buta? Apakah dirinya tidak bisa melihat jika aku sedang membuat apa?' Batin Jenni, sembari menatap Arvan dengan lirikan tajam.


"Jenni, apakah kamu marah denganku?" tanya Arvan lagi.


"No," jawab Jenni dengan singkat.


"Lalu kenapa kamu mendiamkan aku?" Arvan sama sekali tidak puas dengan jawaban yang diberikan istrinya ini.


"Aku tidak mendiamkanmu." Jawab Jenni lagi, benar — benar menunjukan bahwa dirinya sedang marah saat ini.


"Maaf," Arvan mengucapkanya dengan tulus.


"Maaf buat apa?" respon Jenni pada penyesalaan yang Arvan berikan.


"Maaf karena aku memberikan hukuman pada Robert," imbuhnya pelan.


"Untuk apa kamu meminta maaf? Bukankah kamu merasa bahwa semua yang kamu lakukaan itu adalah hal yang terbaik." Arvan menghela nafasnya berat.


Dia tidak tahu kenapa dia harus meminta maaf pada Jenni, padahal memberikan pelajaran kepada Robert itu bukanlah sebuah kesalahan untuknya.


"Kamu benar, semua yang aku lakukan itu adalah sebuah kebenaran, tetapi aku minta maaf karena aku tadi tidak menuruti perkataanmu." Jelas Arvan lagi.


"Perkataan yang mana?"


"Aku telah membunuh Robert," ucap Arvan bohong, dia ingin melihat reaksi Jenni jika mengetahui Robert telah meninggal.


"Oh," seru Jenni, lagi — lagi bersikap acuh dengan apa yang dikatakan oleh suaminya.


"Hanya oh?"


"Terus apa? Ketika aku tahu kamu bohong tentang kematian Robert, terus aku harus menjawab apa?"


To Be Continue.


Hallo teman - teman, jangan lupa dukungannya ya, Like, Komen dan Hadiahnya untuk mimin. Supaya Mimin lebih semangat lagi updatenya.


Dan jangan lupa ya, mampir ke karya mimin yang Iainnya.


Terima Kasih.