
Happy Reading
Ketika mereka berada di tengah perjalanan, terlihat ada beberapa polisi yang terlihat berjaga di setiap sudut jalanan yang ada, membuat Jenni tiba - tiba merasa keringat dingin karena ketakutaan yang menjalar menghantuinya.
Sehingga dirinya langsung menggengam tangan Robert untuk mencari sumber kekuataan yang baru.
"Apakah semua akan baik - baik saja?" Bisik Jenni, ketika dirinya menyenderkan kepalanya di bahu tegap milik Robert.
"Aku tidak yakin, tetapi percayalah, cara ini pasti akan berhasil," ungkap Robert dengan serius.
Jenni menganggukan kepalanya pelan, kali ini dia menyerahkan semuanya kepada Robert, dia percaya, jika pria ini sudah mengambil langkah hingga sejauh ini, pastinya Robert sudah memikirkan semua resiko dan keberhasilaan yang mereka dapatkaan dari semua ini.
"Tuan dan Nona, mohon maaf menggangu perjalanan kalian, tetapi apakah bisa kami melihat surat identitas kalian," pinta salah satu polisi yang terlihat sedang mengetuk jendela mobil taxi tersebut.
Robert menghela nafasnya dalam, karena dia merasa sudah sangat beruntung karena sudah benar - benar membuat identitas baru untuk mereka.
"Ini Pak," ucap Robert, sembari mengeluarkan Id Card, beserta paspor yang mereka miliki.
Jenni memandang Robert dengan tatapan yang sulit diartikan, yang jelasnya saat ini wanita tersebut sangat bangga dengan apa yang sudah dilakukan oleh pria ini untuk dirinya.
"Kenapa?" tanya Robert, yang mulai menyadari tatapan Jenni kepadanya.
Jenni menggelengkan kepalanya pelan, jujur dia sangat malu, ketika ketahuan sedang menatap kagum seseorang.
"Mau kemana kita?" tanya Jenni, mengalihkan rasa canggungnya, ketika berada bersama dengan Robert.
"Emh, mungkin ke tempat yang disebut dengan desa, tetapi aku belum paham, ke desa mana kita akan pergi," jawab Robert, dengan suara yang sangat pelan sekali, hingga Jenni saja harus memasang telinga dengan tajam agar bisa mendengar semua yang sedang dikatakan oleh Robert.
"Tetapi kamu sudah membeli tiket ke India," sahut Jenni, sembari menunjuk ke arah Tiket yang mengarah ke bandara Navi Mumbai - India.
Robert menganggukan kepalanya pelan, lalu tersenyum singkat menatap Jenni yang kini terdiam sembari mengalihkan pandanganya ke arah lain. "l Love You Jenni, aku harap kehidupan baru kita di sana, kita bisa hidup tanpa bayangan Arvan," ungkap Robert, lalu mengusap lembut pipi cuby milik Jenni, dan tanpa dia sadari, Robert yang terbawa suasana kini langsung mencium singkat pipi Jenni.
”lhh, Robert, malu sama orang di depan,” keluh Jenni, sembari memukul sekali lengan kekar milik Robert.
"Dia juga pernah muda,” balas Robert dengan tatapan yang sulit diartikan.
Jenni memutar bola matanya malas, lalü tersenyum sembari menggelengkan kepalanya, merasa Robert telah berbeda dari yang seharusnya. "Terserah kamu sajalah,” jawabnya Final. Setelah itu, yang terjadi selama perjalanan adalah sebuah keheningan.
Jenni tidak pernah menyangka, jika cinta yang dia punya, masih dan tetap berlabuh pada Arvan. Dari awal, dia mengira jika dia telah jatuh cinta kepada sosok pria yang saat ini sedang berada di sampinginya.
Pria yang selalu ada di saat dirinya mendapatkan perlakuaan buruk dari Arvan suaminya, pria yang membela dirinya mati matian, hingga kini nyawa sekali dia pertaruhkan dan semua itu hanya untuk dirinya Jennifer Emilio, istri dari Lordnya.
"Aku akan menghapuskan cinta kepada Arvan, karena pria itu sama sekali tidak pantas aku cintai, lagi pula, bagaimana bisa aku jatuh cinta kepada seorang pria yang seumur hidupnya hanya ingin menyiksaku.” Ucap Jenni yang berkata lirih di dalam hatinya.
Dia memandang ke arah luar pemandangan, melihat hamparan pohon - pohon yang mereka lewati selama perjalanan.
"Lola, aku tidak tahu ini semua adalah takdir yang bagaimana, aku menjuaaal harga diri, menjjual kehormatan, menjual kehidupan bahagiaku hanya demi kamu, demi kesembuhan kamu. Tetapi sekarang apa? Kamu membuat semua pengorbanan yang aku lakukaan selama ini menjadi sia - sia, kamu membuat harga diriku yang sudah hilang menjadi seperti hembusan debu yang tak berguna.”
"Entah, kamu yang jahat, atau aku yang terlalu bodoh dengan dunia kejam ini, yang pasti, aku akan selalu menyalahkan takdir yang tidak akan pernah mau berpihak kepadaku.” Jenni kembali meneteskan air matanya perlahan.
Teramat sakit jika dirinya harus mengingat semua yang saat ini membuatnya merasa sangat begitu hancur.
"Mulai sekarang, berubahlah Jenni, raih kebahagiaan barumu, karena saat ini, berkat bantuan dari Robert, kamu bisa melepaskan hidupmu dari sebuah perjanjian konyol yang tidak bermutu,” batinya yang mengatakan semuanya dengan penuh keyakinan.
Dia benar - benar akan memulai hidup
barunya bersama dengan Robert, dan apakah dia akan membalas perasaan cinta Robert, itu adalah nilai plus minus di dalam hubungan yang akan mereka rajut saat ini.
"Apakah kamu sudah siap untuk menjalani kehidupan baru?" tanya Robert, sembari mengeluarkan tas mereka yang sebenarnya hanya berisikan baju - baju yang sama sekali tidak berkwalitas.
"Tentu saja aku siap, bahkan sangat siap," jawab Jenni dengan wajah yang sedang mencoba menampilkan senyum terbaiknya.
Robert merasa puas dengan semuanya, dia merasa bahwa pilihaanya untuk membawa Jenni kabur dari Mansion Arvan itu adalah pilihan yang paling tepat saat ini.
"Apakah kita akan hidup bersama?" tanya Jenni iseng pada Robert yang saat ini tengah mengantri untuk cek in tiket.
Hal yang seumur hidup belum pernah dia lakukan, kali ini demi Jenni dia melakukan segalanya.
Robert menganggukan kepalanya pelan, menjawab pertanyaan Jenni yang membuat wanita itu langsung tersenyum puas.
"Apakah kita akan menikah?" tanya Jenni lagi. Namun kali ini jawabanya adalah gelengan kepala dari Robert, yang mengartikan mereka tidak akan menikah.
Jenni langsung memasang wajah cemberutnya, merasa bahwa Robert juga ingin mempermainkaanya dengan mengajaknya hidup bersama tetapi tidak mau menikahinya, sungguh keterlaluan bukan?
"Kenapa?" tanya Jenni dengan suara yang sendu.
"Kamu masih tanya kenapa?" balas Robert, yang tidak paham, apakah Jenni sudah lupa akan posisinya atau memang sengaja melupakaanya.
"l don't know, what are you talking About?" Sahut Jenni, yang sama sekali tidak mengerti arah pembicaraan Robert.
Melihat ekspresi Jenni yang seperti itu, rasanya ingin membuat Robert nyaris menggigit pipi Jenni karena sangking dia merasa sangat gemas.
"Kamu adalah istri orang, apakah kamu lupa Jen?" Jenni terkejut mendengar itu semua, dia benar - benar lupa akan status istri yang masih dia sandang saat ini.
Namun rasa keterkejutan itu seketika menghilang ketika dirinya memandang Robert yang tengah serius memperhatikan semua pergerakaan dari Pihak Kepolisian beserta Imigrasi yang ada.
"Aku tidak lupa jika adalah istri orang," jawabnya bohong. Akan tetapi Robert sudah mengetahui itu semua. Sehingga pria itu hanya memilih diam, dan mengiyakan semua yang dikatakaan oleh Jenni.
"Tetapi kenapa jika aku istri orang, kamu mau menculikku?" tanya Jenni dengan senyum manisnya.
Seakan - akan dirinya sama sekali tidak memperlihatkan jika dirinya sedang takut jika sampai penyamaraan mereka terbongkar begitu saja.
To Be Continue.
Hey teman - teman, jangan lupa ya, like, komen,vote dan kasih hadiah untuk aku ya. Agar aku lebih semangat lagi updatenya.
Dan jangan lupa untuk mampir ke karya aku yang lainnya ya.
Terima Kasih.