
🌹 Happy Reading 🌹
Dengan langkah santai, Albert dan Briell datang menghampiri Mario yang tengah sibuk dengan laptopnya, sepertinya terlihat sedang bekerja.
"Sayang, itu Daddy lagi sibuk, gimana cara kasih taunya?" tanya Albert yang merasa takut jika menganggu singa tidur itu.
Briell terlihat sedang berfikir sejenak, karna dia juga tahu jika Daddynya sedang bekerja itu berarti tidak boleh di gangu, karna jika ada yang gangu itu akan memecahkan konsentrasinya, dan itulah yang menyebabkan mengapa Mario selalu mencari tempat sunyi jika ingin bekerja.
"Sayang, kamu sekarang ambil test pack ini, dan langsung tunjukan di depan Daddy, jangan bicara apa pun, langsung tunjukan aja," seru Briell yang akan menggunakan cara ini untuk memberikan kejutan pada Daddynya.
Albert mengangguk setuju dengan ide istrinya, dan dengan santai dia berjalan hingga tepat di hadapan mertuanya, dia langsung mengeluarkan test pack positif itu.
Namun sepertinya Mario masih belum menyadarinya, "kenapa kamu berdiri di situ?"tanya Mario yang melihat sebuah kaki di hadapanya.
Albert diam tak menjawab, seperti apa yang di minta oleh istrinya dari kejauhan yang memberikanya kode untuk tidak menjawab Daddynya.
Mario yang merasa risih kini mulai menaikan kepalanya, hingga tatapanya itu jatuh pada alat testpack yang di tunjukan Albert tepat di hadapanya.
"What is this? tanyanya bingung, langsung mengambil alat itu untuk memastikan bahwa penglihatanya itu tidak salah dalam mengenali tanda garis di alat itu.
Mario memperhatikan alat itu dengan cermat, dan memandang kembali ke arah Albert dengan senyuman yang merekah di wajahnya. "Ini seriusan? Ini nyatakan bukan sebuah candaan ?" tanyanya ingin memastikan jika menantunya ini tidak akan mempermainkan dirinya.
Namun bukanya menjawab Albert malah mengalihkan pandanganya pada sosok istrinta yang sedari tadi berdiri di depan pintu sana.
Dan Mario yang memperhatikan itu, juga mengikuti arah pandangan Albert yang menuju ke putrinya.
"Kakak, ini seriusan atau bohongan?" tanyanya dengan antusias pada putri sulungnya.
Briell yang merasa canggung, kini hanya bisa membalas pertanyaan Daddnya dengan sebuah Tawa yang aneh.
Mario yang sudah sangat mengenal putrinya itu tidak akan menjawab jika dalam keadaan grogi, langsung membawa Briell ke dalam dekapanya.
"Oh godness, selamat ya sayang, selamat Kakak Briell mau jadi Ibu sekarang, Daddy turut bahagia ya Nak, selamat ya,"Lirihnya dengan mendekap erat tubuh putrinya yang sekarang memilih tertawa, namun dari ujung matanya terlihat air mata yang menetes, dan dia segera mengahapusnya.
"Makasih ya Dad, atas dukunganya selama ini, terima kasih sudah merawat Briell sampai besar dan akan menjadi Mommy juga seperti ini, terima kasih karna kasih sayang yang tak pernah pudar Daddy selalu berikan pada Briell selama ini," Tangisnya Haru karna merasa jika ini adalah saat di mana kehidupan barunya di mulai.
Saat di mana dirinya benar-benar harus berjuang bersama dengan suaminya, agar dia tau bagaimana indahnya hidup berumah tangga tanpa orang tua itu seperti apa.
Mereka ingin mandiri untuk berjuang bersama hidup berdua dengan caby.
Dan tiba-tiba dari arah belakang, muncul sosok Eden yang memeluk tubuh putrinya dari belakang, sambil mengusap lembut perut putrinya. "Sehat-sehat ya Baby dan Mommynya, selamat ya sayang sekali lagi, cuupp," Timpal Eden yang sekaligus memberikan kecupan di pipi putrinya.
"Terima kasih Mom,Dad, kalian memang adalah yang paling berharga buat hidup Briell, sekarang Briell udah punya suami, doain Briell
ya Dad, Mom, semoga kelak rumah tangga Briell akan seharmonis Daddy dan Mommy," harapnya memandang Daddny dan Mommynya yang sedang berpelukan bahagia saat ini.
Albert juga ikut memeluk istrinya, melingkarkan tanganya pada pinggang ramping istrinya. "Kita akan jauh lebih Harmonis dari mereka sayang," sindir Albert yang mulai membuat Eden dan Mario memandang sinis kepadanya.
"Benarkah sayang?" tanya Briell dengan antusias.
"Iya sayang, aku akan membuat kisah cinta kita seindah Sharul Khan yang sangat romantis itu," Seru Albert yang menekan nama artis india kesayangan mertua wanitanya itu.
Membuat mata Eden sontak beninar mendengar jika Albert akan berubah menjadi romantis seperti Sharul Khan.
Namun berbeda dengan Mario yang malah menampilkan wajah cemberutnya.
Nama Sharul Khan saat ini adalah racun untuk Mario, dia harus mewanti-wanti, karna bisa jadi nama itu yang akan menghancurkan kehidupanya ke depan nanti.
Dan di saat mereka tengah berbincang bersama, Tiba-tiba sosok Arvan datang tanpa di undang.
"Waahh, ada apa nih, sepertinya ada kabar gembira nih?" tanya Arvan yang melihat sorot wajah bahagia yang terpancar dari semua orang yang berada di ruangan itu.
Albert yang merasa jika Papahnya juga berhak tau, kali ini melakukan hal yang sama pada Arvan dengan menunjukan hasil testpack tanpa bersuara.
Arvan yang tidak pernah melihat alat seperti itu, hanya mengedikan bahunya singkat tanpa ekspresi.
"Apa ini?" tanyanya mengambil alat itu dari tangan putranya. Lalu membalik-balikan alat itu seperti mencari sebuah tombol namun tak menemukanya.
Arvan yang bingung, kini kembali mengedikan bahunya singkat dan wajah yang acuh, "Papah gak tau ini apa," Jawabnya langsung membuang alat itu ke sembarangan arah.
Membuat Mario the Family tebengong melihat sikap Arvan saat ini.
"Kamu gak merasa bahagia atau antusias gitu?" tanya Mario yang mulai kesal melihat sikap biasa aja dari sahabatnya yang sekarang sudah menjadi besannya ini.
Arvan terdiam bingung dengan pertanyaa yang di berikan oleh Mario itu. "Kenapa harus antusias? alat gak penting seperti itu kenapa kalian menatapku seperti itu ?" balasnya yang heran dengan tatapan membunuh dari seluruhnya.
Terlebih lagi dia melihat Briell yang mulai ingin menangis.
"Huaaaa, pantas saja Mamah Jenni pergi, ternyata Papah memang jahat, huaaaa," tangisnya dengan histeris, di saat tidak ada raut bahagia dari wajah mertuanya ini ketika melihat alat kehamilan itu.
"What?" Tanya Arvan bingung melihat menantunya yang menangis serta tatapan tajam dari Putranya.
"Papah memang gak berubah ya. Papah masih sama aja seperti yang dulu, gak pernah mau perduli sama perasaan orang lain," seru Albert yang salah paham, dia mengira jika Arvan tidak menyukai kehadiran calon cucunya itu.
"Ada apa ? Kenapa Papah yang di salahin Boy? Arvan benar-benar tidak paham dengan situasi ini.
Dia bingung mengapa tiba-tiba Albert marah-marah kepadanya seperti ini.
"Papah gak tau apa kesalahan Papah?" seru Albert yang semakin kesal dengan tampang tak berdosa dari Arvan.
Sedangkan Arvan hanya menggelengkan kepalanya singkat, dan tatapanya jatuh pada alat yang tadi dia buang.
Dengan sigap dia mengambil alat itu kembali, dan memberikanya kepada Albert. "Ini, Papah gak tau ini apa, tapi sepertinya kamu marah sama Papah karna ini kan," lirihnya lembut, yang membuat Albert menyadari jika Papahnya itu memang tidak tau apa arti dari alat itu.
Albert mengambil alat itu dari tangan Papahnya yang sedang tersenyum tipis saat ini, Albert menyadari jika dia sudah salah dalam membentak Arvan tadi, "maaf Pah, Albert pikir," ucapnya terputus di saat Arvan membalasnya dengan senyuman yang sumbang.
"Its okay Boy, Papah memang tidak berguna hahaha, mungkin itulah yang menyebabkan Mamah memilih pergi dari Papah," lirihnya lagi dengan nada yang bergetar.
Dia akhirnya merasakan bagaimana sakitnya di saat dirinya di bentak oleh orang yang dia sayangi.
"Apakah seorang penguasa tidak boleh menangis? Apakah seorang penguasa tidka boleh merasakan kesepian serta sakit yang mendalam?" batinya yang meringis, merasa bahwa hidupnya memang sudah tidak berguna lagi.
Arvan yang sudah tidak tahan ingin menjatuhkan air matanya, kini pamit undur diri dari hadapan Anak dan Menantunya.
"Ehmm,sepertinya Papah harus pergi, heheh maaf Papah menghancurkan suasana," serunya dengan suara yang muali bergetar.
Dan detik selanjutnya dia melangkahkan kakinya keluar dari ruangan itu.
To be continue.
*Jangan lupa sedakah Like,Komen,Hadiah,Dukungan dan Votenya ya semua para pembaca yang terhormat, biar Mimin lebih rajin lagi Updatenya**😘😘 *
Kalo malas-malasan entar Mimin juga malas-malasan loh 😭😭😭
Terima kasih🙏🏻🙏🏻
Follow IG Author @Andrieta_Rendra