Love Me Please My Wife

Love Me Please My Wife
Chapter 25



Happy Reading


Semenjak dirinya diabaikan begitu saja oleh Robert, kini Jenni terlihat sedang duduk sembari mengusap perutnya dengan lembut.


"Apa yang harus aku lakukaan saat ini?" gumamnya dengan perasaan yang sangat bingung.


Dia tidak tahu keputusan apa yang akan dia ambil setelah ini, karena tidak mungkin dia melaporkan atau meminta pertanggung jawaban dari Arvan, apa lagi dirinya sudah benar - benar membuat kesalahan besar dengan kabur dari pria itu.


Namun, Jenni juga menganggap jika ini semua memanglah takdir dari Tuhan kepadanya. Karena seperti memang mengetahui tentang keinginan hatinya, Tuhan mengirimkan malaikat kecil ini, setelah dirinya keluar dari jeratan Arvan.


Tuhan tahu, jika Jenni sama sekali tidak mau berbagi anak dengan pria itu. Dan itu sebabnya, Tuhan baru memberikaanya kabar itu sekarang.


"Sayang, kamu tenang saja ya, Mamah pasti akan selalu berusaha untuk memberikanmu kebahagiaan. Walaupun saat ini Dunia sedang membenci Mamah, tetapi Mamah akan selalu terus berjuang untuk kamu, Nak, Mamah janji," ucap Jenni pada janin yang masih belum menjadi bayi.


Berbeda di sudut lain, saat ini terlihat Arvan yang sedang tidak enak badan. "Dammnn! Kenapa kepalaku bisa sepusing ini dari tadi," umpatnya untuk yang kesekian kalinya. Dia memang peling benci jika dirinya sakit seperti ini.


"Roberrttttt," teriak Arvan, mencari asistem pribadinya, yang tidak akan kunjung datang.


"Kemana dia?" Lirih Arvan pelan, sepertinya sakit di kepalanya, membuat sebagian ingatannya lupa jika dirinya sudah tidak mempunyai Asisten bernama Robert.


"Robertttt." Panggilnya untuk yang ke sekian kalinya. Bahkan dengan keadaan yang memegang kepalanya yang sangat berat.


"Delon, kemana Robet? Kenapa dia masih belum datang jam segini?


"Ehm - anu Lord - ehm," Delon sama sekali tidak tahu harus berkata apa saat ini.


"Siall, kenapa bisa dia lupa jika asistennya itu sudah pergi mengkhianati dia," umpat Delon di dalam hati.


Dia terus saja meretuki kepergian Robert, karena kepergian pria itulah dia selalu saja berhadapan dengan bosnya sendiri.


"Ehm, ham , hem, yang benar jika bicara Delon! Jika tidak akan aku potong Iidahmu biar kamu tidak bicara seumur hidup," sentak Arvan, yang sudah tidak sabaran mendapatkan jawaban atas pertanyannya.


"Ehh„ iya Lord, Tuan Robert itu -," belum selesai Delon berbicara, tiba - tiba saja Lucas datang dengan menggunakan kaca mata hitamnya, seperti orang yang hendak berpergiaan.


"Ada apa ini? Kenapa kalian terlihat sangat tegang sekali?" tanya Lucas.


"Eh, ini Tuan, Lord Arvan sedang mencari Tuan Robert, asistennya yang paling baik hati itu," sindir Delon. Yang sontak mendapatkan tatapan tajam ingin memangsanya hidup - hidup dari Arvan. Lucas melirik sejenak ke arah Delon, lalu kembali menatap Arvan dengan tatapan menyelidik.


"Kamu percaya sama dia? Aku tidak pernah bertanya tentang Robert kepadanya," elak Arvan, tidak ingin jika Lucas mengetahui kebodohaanya. Lucas hanya menggelengkan kepalanya pusing, sepertinya kehilangan asisten kesayanganya, membuat otak Arvan semakin konslet.


"Sepertinya Anda lupa siapa aku Lord," ucap Lucas, sembari menaik turunkan alisnya, menatap Arvan bagaikan mangsa yang siap untuk diterkam.


"Damnn! Ada apa denganku? Kenapa aku lupa jika Lucas adalah pria yang sama sekali tidak bisa dibohongi," ucapnya dalam hati, menahan malu karena ketahuan bohong di depan Lucas.


Dia sangat lupa jika Lucas adalah seorang Manusia khusus yang entah bagaimana cara membuatnya. Pasalnya dia selalu saja bekerja bagaikan seorang robot yang bisa melihat tanpa harus melihat. Eh maksudnya dia bisa melihat meskipun matanya itu tertutup. Dia bisa mengetahui mana yang sedang berbohong kepadanya, mana yang sedang mengkhianatinya, dan bahkan bisa melihat serangan dari belakang melalui firasatnya itu. Dan jangan lupakan mata elang yang dia miliki, membuatnya ditakuti oleh siapapun.


Arvan juga begitu heran, harusnya IQ yang dimiliki oleh Lucas itu lebih tinggi darinya. Atau mungkin saja dokter yang dulu memeriksa mereka itu salah membaca hasilnya. Tapi entahlah, yang jelas perusahaan besar Cyberaya akan jatuh jika tidak ada Lucas yang menopangnya.


"Anda yakin ingin menyuruh saya pergi?" Tanya Lucas, sembari mengeluarkan ponsel pintarnya dari dalam saku, lalu menunjukan sebuah vidio pada Arvan.


"Siapa mereka? Kenapa jelek sekali," Arvan mengembalikan ponsel Lucas, dan merasa enggan melihat siapa yang ada di dalam vidio itu.


Karena yang terlihat di dalam vidio tersebut hanyalah dua orang jelek yang sangat hitam menurut Arvan.


Lucas menghela nafasnya berat, entah apa yang terjadi dengan Lordnya itu, kenapa bisa berubah jadi bodoh seperti itu.


"Lord, please, perhatikan baik - baik, siapa mereka, apakah Anda tidak bisa melihat jelas jika itu adalah Jenni dan Robert." Arvan langsung membulatkan matanya besar, ketika mendengar apa yang dikatakaan oleh Lucas.


"Ha? Tap - tapi bagaimana bisa?" tanya Arvan bingung.


"Mereka sengaja menyamarkan identitas mereka, Robert telah mengatur semuanya, dia mengganti nama ld card mereka, serta Sidik jari mereka, sehingga itu yang berhasil membuat mereka lepas dari pihak kepolisian dan imigrasi setempat." Terang Lucas, namun ini malah semakin membuat Arvan tidak yakin dengan apa yang akan dia lakukan.


Dia bahkan sudah menebak jika Lucas tidak membutuhkan waktu berhari - hari untuk mencari keberadaan seseorang. Dan itu terbukti saat ini juga.


"Ehm Lucas Tapi -,"


"Anda jangan khawatir Lord, saya ke sini , selain ingin menyampaikan hal tadi, saya juga ingin bilang ke Anda, jika saya tidak akan menangani kasus Robert, saya akan mengirim Kevin untuk ke sana. Karena saya akan mengurus para pengkhianat di Belanda, dan oh ya, saya juga sudah mendapatkan alamat mereka di Mumbai India," jelas Lucas, dia tahu jika Arvan saat ini tengah merasa khawatir jika dia yang turun sendiri menemukan Robert dan Jenni.


"Oh begitukah? Ya, sayang sekali, padahal aku sangat ingin jika kamu yang menemukan Robert," seru Arvan, dengan senyum manisnya.


Dia merasa legah, karena Kevin si anak baik Iah yang akan menemukan Robert dan Jenni. Si anak baik yang bekerja dipaksa menjadi seorang Psychopat ini, lebih gampang diatur dari pada bos besarnya Lucas.


"Baiklah Lord, jika begitu Anda sudah mengerti, saya harus pergi sekarang, karena sudah waktunya aku berolahraga hari ini," pamit Lucas, namun sama sekali tidak digubris oleh Arvan.


Membuat Lucas tersenyum melihatnya, "ahhh, Lord, aku ada satu lagi informasi, apakah Anda tidak ingin mendengarnya?" tanya Lucas, sembari menurukan sedikit kaca mata hitamnya dan menatap Arvan dengan sinis.


"Katakan saja jika kamu memang ingin mengatakannya! Tidak usah membuang waktuku," ketus Arvan, yang semakin membuat Lucas tertawa, karena tidak sabar untuk membuat Lordnya yang satu ini terdiam tanpa bisa berkata apapun lagi.


"Di saat tadi saya menyuruh anak buahku menangkap Robert dan Jenni, mereka tidak sengaja mengikuti keduanya hingga sampai di rumah sakit. Dan setelah mereka melakukan pemeriksaan, di saat itu beberapa anak buah saya masuk, dan memaksa dokter tersebut untuk berbicara tentang apa yang terjadi pada mereka.


Dan yang terjadi adalah." Ucap Lucas terhenti, karena dia ingin melihat dulu wajah penasaraan dari Lordnya, yang terkesan tidak sabaran ini. "Lucas!" Bentak Arvan, ketika tidak menyukai jika Lucas bicara gantung kepadanya.


To Be Continue.


Hey teman - teman Jangan lupa ya, Like,


Komen, Vote dan Hadiahnya untuk karya Mimin ini. Agar mimin semakin bersemangat untuk updatenya.


Dan jangan lupa untuk mampir ke karya mimin yang Iainnya ya.


Terima kasih.