Love Me Please My Wife

Love Me Please My Wife
Chapter 43



 Happy Reading BESTie 😘


Setelahnya Jesper sampai di Vila belakang, dia mengitari pandanganya mencari sosok Lola, tetapi dia sama sekali tidak tahu di mana letak kamar Lola.


"Permisi Tuan Jesper, Nona Jenni memanggil Anda sedari tadi." Ucap sang pelayan yang saat ini sedang berdiri tepat dihadapan Jesper.


"Iya Tuan, sekarang Nona Jenni sedang berada di dalam kamarnya, sedari tadi dia tidak mau memakan sarapannya Tuan," adu pelayan tersebut.


"Kemana Lola? Harusnya Lola yang melayani adikku!" Sentak Jesper, yang sebenarnya sedang memanfaatkan keadaan.


Dan di saat Jesper mulai meninggikan suaranya, terlihat Lola yang langsung berlari ke arahnya.


"Saya di sini Tuan," sahut Lola dengan suara yang sedikit bergetar.


Dengan tatapan tajam, Jesper langsung menarik tangan Lola masuk ke dalam Mansion utama. Hingga membuat pelayan yang sedari tadi bersama mereka kini terlihat menatap keduanya dengan bingung.


"Ahh, mungkin Tuan Jesper sedang emosi karena Lola bangun siang dan tidak menemani Nona Jenni," gumam pelayan tersebut, lalu memilih untuk melanjutkan pekerjaan β€” nya sendiri.


"Tuan Lepaskan saya, please Tuan," Pinta Lola dengan sedikit memohon pada Jesper agar mau melepaskan cengkaram di pergelangan tanganya.


Namun, bukannya melepaskan Jesper malah mendorong tubuh Lola mepet ke dinding. "Kenapa kamu kabur dari kamarku? Kamu mau semua orang tahu bahwa aku sudah memaksamu untuk tidur denganku ha?!" Sentak Jesper dengan suara yang setengah berbisik.


Jujur saja Lola sangat ketakutan dengan situasi ini, dia ingin sekali berteriak. Akan tetapi dirinya sadar, jika dia berteriak pasti akan ada orang Iain yang mengetahuinya.


Hingga dirinya hanya bisa menangis menatap penuh benci ke arah mata Jesper. "Maafkan aku Lola, aku tidak bermaksud untuk melecehkanmu," lirih Jesper pelan, benar β€” benar di luar dugaan Lola.


Jesper melepas cengkramannya, dan langsung mengarahkan kepala Lola untuk masuk ke dalam pelukannya, "jangan seperti ini Tuan, akan ada yang melihat kita," ucap Lola


Namun sepertinya Jesper lebih memilih untuk menulikan pendengaranya, sehingga dia langsung menggendong tubuh Lola masuk ke dalam kamarnya.


"Aku akan bertanggung jawab," ucap Jesper, ketika keduanya sudah sampai di dalam kamar.


Lola menggelengkan kepalanya pelan, "aku Lola menggelengkan kepalanya pelan, "aku tidak ingin menyakiti hati Nona Jenni, dengan perbuatan kita ini Tuan," isak Lola, dia menangis hingga matanya sudah terlihat sangat bengkak.


Jesper terdiam sejenak, dia tidak ingin melukai sebuah harga diri dari seorang wanita, karena dia tahu dia juga memiliki adik seorang wanita.


Lola menutup wajahnya menggunakan kedua tanganya, dia juga ingin menghentikan tangisanya ini, tetapi dirinya tidak bisa melakukannya.


"Maafkan aku Lola, aku sangat menyesalinya," ucap Jesper dengan lembut, lalu segera memeluk tubuh Jenni dari belakang.


Tanpa penolakan, Jenni hanya menurut saja, karena baginya sangat percuma melawan ataupun mengelak pelukan Jesper, sebab pria itu pasti akan kembali mamaksanya.


"Ya sudah, kamu istirahat dulu saja di kamar ini, dan jangan keluar sebelum aku perintahkan! Apa kamu mengerti?!" Jesper menurunkan tangan Lola agar tidak lagi menutupi wajahnya.


Jesper sungguh merasa bahwa dirinya sangat jahat ketika melihat wajah Lola yang begitu merah hingga bengkak β€” bengkak dengan air mata yang sudah membasahinya.


Jesper segera mengambilkan tissue untuk Lola, "ini bersihkan dulu wajah kamu, lalu beristirahatlah, aku akan segera membawakanmu obat untuk meredahkan rasa sakit itu," ucapnya yang sebenarnya merasa malu ketika membicarakan soal itu.


Dengan perlahan, Jesper melepaskan pelukannya dari tubuh Lola, dan beranjak ingin meninggalkan wanita itu di dalam kamar sendiri.


"Aku ingin melihat keadaan Jenni terlebih dahulu, jadi kamu tunggu di Sini sebentar ya."


Jika dia protes ataupun menuntut banyak yang ada pekerjaanya bisa saja menghilang dan dirinya tidak bisa lagi membiayai ibunya yang masih membutuhkan biaya darinya.


Jesper perlahan melangkahkan kakinya keluar kamar, dia ingin melihat keadaan Jenni yang sedari tadi dikabarkan tidak ingin menyentuh makanannya sema sekali.


Ketika dirinya sampai di kamar adiknya, Jesper melihat Jenni yang hanya berbaring dengan malasnya di atas tempat tidur.


"Jadi kamu tidak ingin makan?" tanyanya dengan suara bariton yang mulai tegas.


Jenni mendengar saja suara itu, namun dia hanya diam sambil memutar bola matanya malas.


Malahan saat ini Jenni lebih memilih untuk lebih menarik selimutnya agar menutipu seluruh tubuhnya.


Jesper yang melihat hal itu, kini menghembuskan nafasnya kasar, dan mengambil makanan yang sedari tadi ada di atas nakas meja adiknya.


Dia duduk di sofa sebelah Jenni, dan mulai menarik selimut yang dipakai oleh Jenni. "Kamu mau tidak makan satu minggupun, kakak akan tetap menikahkan kamu dengan David," tegas Jesper lagi. Membuat Jenni langsung memandang Kakaknya dengan tatapan penuh amarah


"Kenapa Sih kakak memperlakukan Jenni seperti ini, Jenni punya kehidupan kak, Jenni punya mimpi yang Jenni juga ingin raih, hisβ€ž hisk," dia kembali lagi menangis, dan protes akan keputusan kakaknya yang selalu saja tidak berpihak kepadanya.


"Tapi kakak hancurkan semua mimpi Jenni, kakak egois, kakak hanya menjadikan Jenni sebagai alat bisnis kakak, untuk membuat perusahaan kakak semakin berkembangkan, iya kan kak." Jenni menuduh kakanya yang hanya berniat untuk menjadikannya sebagai alat pertukaran bisnis, seperti yang biasa dilakukan oleh para pengusaha β€” pengusaha Iain.


Jenni memang tidak pernah keluar rumah, tapi dia ingat ketika mendiang papah dan mamahnya masih ada, setiap kali ada tamu atau teman keduanya yang datang ke rumah, pasti saja mereja selalu membicarakan hal tersebut.


"Jenni, meskipun kakak jatuh miskin sekalipun, kakak tidak pernah ada niat sedikitpun untuk menjual ataupun menjadikan adik kakak sebagai alat bisnis kakak sendiri," Jesper berucap dengan penuh rasa amarahnya.


Terdengar suara tangis Jenni yang terseduh β€” seduh, ketika melihat kakaknya yang memakinya hingga sedemikian.


"Lalu apa yang membuat kakak sampai harus memaksa Jenni kak? Kenapa Sih kakak tidak bisa mengerti dengan perasaan Jenni?"


Jesper sudah tidak tahu lagi harus berkata apa, karena dirinya tidak akan mengatakan kepada Jenni, bahwa alasan β€” nya memaks adiknya menikah.


"Jenni, kakak tidak ingin berkata panjang lebar denganmu, yang pastinya, kakak lebih baik memaksa kamu menikah dengan David, dari pada kamu harus menikah dengan seorang bajjjjingan ataupun pembunuh."


Deg, jantung Jenni terasa seperti berpacu dengan sangat cepat, bukan karena dia engerti apa yang dikatakan oleh kakaknya. Tetapi dia hanya mengerti dengan satu kata dibalik kalimat kakaknya yaitu, PEMBUNUH.


"Sekarang makanlah Jen, kalau kamu tidak mau makan saat ini, kakak akan lebih mempercepat pernikahaan kamu menjadi besok, lihat saja." Jesper sengaja mengancam adiknya, agar tidak semenah β€” menah lagi terhadap dirinya.


"Kamu marah boleh, kecewa dengan kakakpun boleh, tetapi jangan pernah kamu menyakiti ataupun menyiksa diri kamu sendiri, karena itu sangat β€” sangat salah, apa kamu paham itu?" Jenni menganggukan kepalanya pelan, karena baginya, jika kakak nya sudah berkata seperti itu, bahkan ketika dirinya mogok makan saja, Jesper sama sekali sudah tidak perduli dengannya.


Maka jalan satu β€” satunya untuk menghentikan pernikahaan itu adalah satu. Dan rencana itu sudah benar β€” benar terlintas di dalam pemikiraanya.


To Be Continue


Hallo Teman - Teman semua, jangan lupa ya, untuk Like, Komen, Vote dan Hadiahnya untuk Mimin.


Agar Mimin lebih semangat lagi updatenya.


Dan jangan lupa juga untuk mampir ke karya Mimin yang lainnya ya. Terima Kasih.