Love Me Please My Wife

Love Me Please My Wife
Chapter 45



Happy Reading BESTie 😘


”Maaf, maafkan Aku Lola, please, maafkan aku." Jesper berusaha menggengam tangan wanita itu, dia benar — benar sangat merasa bersalah dengan keadaan ini.


Dia tidak menyangka bahwa semua perasaan seketika hancur hanya karena sebuah rasa emosi, khawatir akan ketakutannya.


”Lola, aku janji, setelah aku memastikan jika adik aku bahagia dengan rumah tangganya, aku pasti akan bertanggung jawab, please, percaya sama aku, dan aku mohon ampuni aku Lola, ampuni aku." Jesper benar — benar sangat merasa takut.


Dia takut ketika nanti di saat Lola tidak mau memaafkan kesalahannya, malapetaka dari sebuah kehancuran akan menimpa adiknya.


Jesper tidak mau, ketika dirinya sudah menyakiti adiknya dengan sebuah pernikahan paksa ini, dia tidak ingin menyakiti kembali adiknya dengan sebuah karma yang seharusnya menimpanya.


"Saya — saya,” ucap Lola terputus, karena sangking tidak sanggupnya mengucapkan kalimat yang begitu sulit dia ungkapkan.


Bukan dia merasa sombong, atau menang atas ini semua. Mungkin benar jika Jesper adalah pria yang selama ini dia impikan.


Sosok pria yang merupakan Cinta pertamanya, pria yang mampu membuatnya menyimpan perasaan begitu dalam karena kesadaran dirinya yang sangat tidak layak memiliki tuannya.


”Lola, Please, maafkan aku.” Jesper kembali memohon sebuah pengampunan dari wanita dihadapannya itu.


Namun, bukannya menjawab, Lola malah semakin menenggelamkan kepalanya masuk ke sela — sela kaki dan tubuhnya.


Membuat Jesper langsung menutup matanya dengan berat, dan berusaha mengatur nafasnya kembali, agar emosi yang mulai menyeruak di dalam jiwanya itu bisa hilang, atau setidaknya terkontrol.


Dengan perlahan Jesper bangkit dari posisinya, dia membalikkan tubuh agar bisa membelakangi Lola.


Kemudian Jesper kembali membuka matanya, dan sangat terlihat dengan jelas, jika kedua mata yang tadi menangis dengan menampilkan sebuah rasa penyesalannya, kini terlihat begitu merah, seperti ingin menunjukan bahwa dia sedang sangat — sangat marah saat ini.


Bugghhh„prangggg, Jesper memukul kaca besar yang terdapat di kamarnya, dia meluapkan segala emosi serta kekesalannya dalam sekali pukulan itu.


Bahkan sangking marahnya, dia sama sekali tidak merasakan sakit, ketika begitu banyaknya darah yang mengalir dari sela — sela buku — buku jarinya.


"Aaarrrggghhhhh, damnnnnn, you are so damn Jacob, you soo damn," jerit teriakan Jesper, sehingga mampu menngagetkan Lola yang sedari tadi hanya diam.


"Tuann," lirih Lola pelan, memanggil Tuannya yang sedang berdiri dengan nafasnya yang memburu.


"Aku hanya ingin melindungi adikku Lola, aku hanya ingin melindunginya, tidak bisakah?


Siapapun yang ada? Untuk mengerti posisiku saat ini." Jesper berucap dengan suara yang sangat menggelegar. Membuat Lola merasa sangat heran, kenapa saat ini harus Jesper yang marah? Bukankah di sini dirinya yang tersakiti? Lalu apa hubungannya masalah ini dengan adik? Apakah yang di maksud adik oleh Jesper itu adalah Jenni?


Ahhh, melihat emosi Jesper yang tiba — tiba seperti Ini, pastinya sangat membuat gadis cantik tersebut merasa tambah bingung dengan keadaan ini.


"Jenni sedang mencarimu, lebih baik kamu pergi dan mengompres matamu, agar bengkaknya bisa sedikit berkurang," titah Jesper dengan nafas yang memburu.


Lola terdiam sejenak, lalu dengan perlahan dirinya bangkit dan mendekat ke arah Jesper, dengan memberanikan dirinya untuk menatap mata merah yang sedang menyorotkan sebuah kemarahan itu.


"Tuan," lirih Lola lagi pelan.


Sejenak kedua mata mereka sempat bertemu dan saling menatap satu sama Iain, hingga akhirnya Jesper kembali berlutut dihadapan Lola dan bahkan kali ini dengan memeluk erat pinggang mungil milik Lola, serta menempelkan kepalanya diperut rata Lola.


Sangat terlihat seperti anak kecil yang sedang mengadu kepada ibunya, terlebih lagi, saat ini Jesper mengambil salah satu tangan Lola dan meletakan di atas kepalanya.


"Tuan, sebenarnya apa yang sedang Anda rasakan?" tanya Lola, sebisa mungkin dia ingin membagi kesedihan serta keresahan dari hati sang pujaan hati.


Bahkan dia seperti sedang berusaha agar bisa melupakan kejadian yang menyakitkan beberapa jam lalu.


"Aku butuh seseorang yang bisa mengerti dengan kesakitanku," gumam Jesper pelan, namun terdengar jelas di telinga Lola. Karena memang keadaan kamar yang begitu hening, hingga membuat suara mereka bisa terdengar walaupun sangat pelan.


Dan detik selanjutnya, belum saja Lola merespon apapun, kembali tanpa izin Jesper mengangkat tubuh Lola naik ke atas tempat tidur.


"Tuan„ Tuan, Apa yang ingin Anda lakukan?" Perasaan takut Lola kini kembali menyeruak.


Dirinya bahkan sampai harus memeluk tubuhnya sendiri, karena khawatir jika Jesper akan mengulangi kegilaannya seperti semalam lagi.


Lola yang tadi sempat ketakutan, kini merasa sedikit lega, ketika Jesper benar — benar tidak melakukan apa — apa lagi padanya.


"Bisakah kamu meletakan tanganmu kembali di atas kepalaku?" pinta Jesper pada Lola.


Mengerti akan keinginan Jesper, kali ini dengan perlahan Lola mengusap lembut kepala Tuannya.


"Lola, apakah kamu tahu, jika aku sangat menyayangi adikku?" tanya Jesper, tanpa membuka keduanya matanya.


Lola yang memang sudah tahu, hanya diam dan menganggukkan kepalanya pelan, seakan — akan Jesper mempunyai sebuah indra yang bisa melihat jawabannya tanpa harus membuka mata.


"Tuan, apakah Anda butuh sesuatu?" Tanya Lola, ketika dia sangat merasa gugup, dengan posisi ini.


Karena di saat Lola mengusap lembut kepala Jesper, bayangan imajinasi ingin memiliki pria pujaan hatinya seketika muncul di dalam pemikirannya. "Aku tidak membutuhkan apapun saat ini Lola," jawab Jesper dengan suara seraknya.


Lola menatap Tuannya dengan begitu lekat, tanpa dia sadari jika Jesper juga sedang membuka matanya. Sehingga kedua mata mereka bertemu dan terpaku untuk ke sekian kalinya.


Jesper yang mulai terbuai, kini langsung menyambar bibir mungil milik Lola, dan mau tidak mau Lola yang juga sudah terbuai, akhirnya membuka mulut dan menyambut sebuah ciiumannn panas dari Tuannya.


Hasrat keduanya kini kembali bangkit hingga sama — sama terbuai dengan kenikmataan mereka lagi pada siang itu.


"Terima kasih," ucap Jesper dengan tulus, pada Lola yang saat ini sedang tidur membelakanginya.


Lola menganggukkan kepalanya dengan pelan, dan membiarkan saja ketika Jesper memeluknya dengan posesif. "Aku akan menikahi mu setelah ini," bisiknya lagi, di saat Lola sudah hampir memejamkan matanya.


"Jangan berjanji, ketika Anda tidak bisa menepatinya Tuan," lirih Lola dengan pelan.


"Tidak Lola, aku tidak berjanji, tetapi itu memang adalah sebuah keharusanku," balas


Jesper lagi. Seperti memang baru menyadari, Jesper merasa jika dia merasa nyaman dengan adanya Lola di sisinya.


"Tidak Lola, aku tidak berjanji, tetapi itu memang adalah sebuah keharusanku," balas


Jesper lagi. Seperti memang baru menyadari, Jesper merasa jika dia merasa nyaman dengan adanya Lola di sisinya.


Mungkin memang belum menunjukan perasaan cinta, tetapi Jesper sudah merasakan sayang dan bahkan rasa untuk takut kehilangan itu ada.


Bukan karena dia sudah meniduuri pembantunya sendiri, namun, tanpa kejadian ini harus terjadi, Jesper memang selalu mengatakan jika Jenni tidak bisa kehilangan Lola, dan seharusnya hal itu juga bisa diartikan bahwa dirinyalah yang memiliki rasa pada wanita itu, tetapi selama ini belum menyadarinya.


Dan karena merasa kelelahan, mereka berdua akhirnya tertidur di dalam satu selimut yang sama, tanpa mengenakan pakaian apapun.


Tidur mereka berdua begitu nyenyak di siang hari itu, tanpa melepaskan tubuh satu sama Lain, keduanya nampak seperti perangko yang saling memeluk satu sama Lain.


Bahkan sangking nyamannya, mereka tidak menyadari, ada seorang wanita yang masuk ke dalam kamar Jesper.


"Apa yang kalian berdua lakukan!!!!!"


To Be Continue.


Hallo teman - teman Semua, jangan lupa ya untuk Like, Komen, Vote dan Hadiahnya untuk Mimin, agar mimin lebih semangat lagi updatenya.


Kayanya cerita mimin yang ini sangat - sangat tidak menarik ya? Jadi kalian sama sekali gak mau komen.


Gak apa - apa deh, walaupun mimin jadi sedih.


Mimin tetap berterima Kasih banyak sama kalian semua.


Terima Kasih karena sudah mendukung Mimin sampai di detik ini dan tahap ini.


Mimin mencintai kalian semua.


Terima Kasih Banyak.