Love Me Please My Wife

Love Me Please My Wife
Chapter 38



Setelah kepulangan dari keluarga Enrique, saat ini Jesper terlihat melangkahkan kakinya naik untuk masuk ke dalam kamar adiknya.


Jesper sadar, sudah begitu lamanya dia mengacuhkan adiknya, untuk melayani tamu di luar, dan dia juga berharap jika Jenni tidak akan ngomel ataupun mendiamkannya karena kesalahan ini.


"Jenni sayang," panggil Jesper, dengan mengetuk — ngetuk pintu kamar adiknya.


Namun, sudah beberapa kali dia mencoba untuk mengetuknya, tidak ada sama sekali sahutan dari dalam sana.


Jesper mencoba untuk masuk begitu saja, dia ingin mengecek sendiri keadaan adik kesayangannya itu.


Dan beruntungnya, Jenni memang tidak pernah mengunci pintu kamarnya jika bukan kakaknya itu yang menguncikan nya untuknya.


"Sayang apakah kamu sudah tidur?" tanya Jesper, sambil terus melangkahkan kakinya mendekati adiknya yang terlihat sudah tertidur lelap dengan damai.


"Ahh, kamu sudah tertidur ya, maafin kakak ya Jenni sayang, tadi kakak ngobrolnya pasti kelamaan ya," gumam Jesper, nampak merasa bersalah karena telah meninggalkan adiknya tadi.


Jesper memilih duduk disebelah Jenni, sembari mengusap — usap lembut rambut adik kecilnya itu.


Dia tidak bisa membayangkan bagaimana nasibnya jika adiknya sampai menikah dengan seorang pria yang baru dia kenal, atau mungkin Jenni memang pernah kenal, tetapi Jenni telah melupakan sosok David.


Sudah begitu lama Jenni tidak pernah keluar dari rumah, bahkan dia selalu saja merasa ketakutan ketika dia berintraksi dengan orang — orang luar.


Karena itulah yang terjadi, ketika Jesper telah mengatur sebuah rencana kencan buta, Jennifer pasti mengetahui, jika kakaknya itu akan memboking restoran tersebut, dan tidak akan ada orang lain lagi selain kakaknya dengan teman wanitanya.


Memang diawal Jenni merasa kuat, ketika mereka hanya bertiga saja didalam, namun ketika adanya pelayan langsung membuat wajah Jenni berubah pucat, dan mendadak jatuh pingsan. Membuat kencan buta yang dijalani oleh Jesper, akhirnya gagal total.


"Mah, Pah, apa yang harus Jesper lakukan sekarang? Jesper tahu, jika keputusan untuk menikahkan adik Jenni, adalah harus keputusannya sendiri. Tetapi Jesper ingin melakukan semua yang terbaik untuk Jenni Pah, Mah," Jesper menghela nafasnya sejenak.


Lalu dia memilih untuk berdiri, dan melangkahkan kakinya menuju balkon kamar adiknya, yang langsung mengarah pada taman dibelakang rumah.


Dia menikmati sejuknya angin yang menerpa kulitnya di malam hari. Jesper sadar, sudah begitu lama dia tidak menikmati suasana seperti ini.


"Aku yakin, jika aku mengizinkan David untuk menikahi Jenni, pasti nanti Jenni tidak akan pernah merasa kesepian lagi," batin Jesper, yang merasa jika pilihan untuk menerima lamaran David itu adalah hal yang paling terbaik.


"Mungkin aku bisa meminta mereka untuk tinggal di Mansion ini saja setelah menikah, agar aku tidak merasa kesepian sama sekali, bahkan aku akan merasa lebih ramai, karena anggota keluarga yang akan bertambah satu," gummnya, mulai membayangkan, ketika Mansion yang saat ini terlihat sangat sepi. Suatu saat akan terasa ramai, jika adiknya sudah memiliki anak bersama dengan David nanti.


"Akan aku pastikan, jika adik kesayangan aku nanti akan memiliki banyak anak, agar rumah ini terasa sangat — sangat dan sangat ramai," ucapnya lagi, merasa bahwa keputusannya ini akan terasa benar.


Namun, biar bagaimanapun juga, Jennilah yang akan menikah dengan David, dirinya tidak bisa memaksakan keinginan adiknya sama sekali. Karena kebahagiaan Jenni itu adalah hal yang paling utama yang harus dia lakukan.


Tetapi, tetap saja Jesper akan berusaha untuk mengarahkan agar Jenni bisa memilih jalan mana yang terbaik untuknya nanti.


"Malam sudah begitu larut, lebih baik sekarang aku tidur saja dulu, karena besok aku harus ada meeting ternyata," lirih Jesper, lalu dia kembali melangkahkan kakinya, mendekat ke arah tempat tidur adiknya, dia tidak ingin lupa untuk mengecuup singkat kening adiknya itu, sebagai ucapan good night Kiss for Little his baby girl.


Ke — esokan paginya, Jenni yang terbangun duluan dari tidur, kini mulai merilekskan tubuhnya, dia menikmati terpaan angin yang berhembus bersamaan dengan embun di pagi hari.


Nampak di luar angin berhembus sangatlah kencang, disertai dengan hujan deras yang mengiringi di pagi ini.


Bahkan Jenni sampai tidak bisa membedakan mana hujan, mana embun dan mana angin, karena semuanya terlihat beriringan masuk ke dalam balkon Jenni.


Namun, suasana seperti inilah yang Jenni sukai, dia paling menyukai ketika hujan turun dengan membawa suasana sejuk yang menenangkan hati.


Jenni mulai beranjak dari posisinya, lalu dia segera melangkahkan kakinya keluar ke balkon, untuk menikmati tempiasan air hujan yang akan membasahinya.


Jenni memang sengaja meminta kepada kakanya desain balkon yang rendah atap, karena dia tidak ingin melewati susana ini.


Sedangkan di sisi lain, Jesper yang juga sudah terbangun bahkan bersiap untuk ke kantor. Saat ini sudah terlihat rapi dengan seluruh atributnya.


"Harusnya Jenni sudah bangun, karena kan dia tadi tidur duluan dari pada aku," gumam Jesper, lalu melihat ke arah jam yang masih menunjukkan angka tujuh.


"Aku akan ke kamarnya lebih dulu," ucap Jesper lagi, lalu dia langsung keluar kamar untuk melihat apa yang sedang dilakukan adiknya saat ini.


Dan jika waktunya memungkinkan, Jesper akan mengatakan tentang lamaran David tadi malam.


Ketika dirinya baru saja masuk ke dalam kamar adiknya, Jesper tidak melihat tubuh Jenni berada di atas tempat tidur. Tetapi Jesper bisa mendengar dengan jelas, bahwa di luar sana tengah mengalami hujan deras.


"Ahh, pasti gadis kecil ini sedang bermain hujan lagi,” batin Jesper, sembari menggelengkan kepalanya, ketika mengingat kelakuan adiknya yang sangat begitu mirip dengan anak kecil.


"Kakak,” balas Jenni, tanpa membalikkan tubuhnya untuk melihat kakaknya dibelakang.


Jesper menghela nafasnya kesal, lalü tidak lama kemudian, Jenni merasa bahwa tubuhnya sedang melayang di udara, karena kakaknya yang menggendongnya secara tiba — tiba.


"Kakak,” pekik Jenni, merasa sangat tidak suka dengan tindakan kakanya ini.


"Kamu tidak boleh terus menerus bermain hujan seperti itu, nanti kamu bisa sakit,” tegas Jesper, lalü memasukan tubuh adiknya ke dalam bathup yang ada di dalam kamar mandi Jenni.


'Kakak akan menutup jendelanya,” ucap Jesper lagi, karena dirinya sangat tidak suka ketika jendela yang mengarah ke pemandangan luar sana terlihat dari kamar mandi adiknya.


"Kakak, kenapa ditutup Sih?” Jenni sangat kesal melihat kakaknya yang mulai mengatur gaya kebiasaanya.


"Jenni, No, No, No.,” tegas Jesper, yang membuat Jenni tidak mempunyai pilihan lain, selain menuruti kakanya yang sangat cerewet ini.


"Mandi sekarang! Kakak tunggu kamu diluar," Jesper menatap tajam ke arah Jenni, menandakan bahwa dirinya tidak ingin dibantah.


"Iya — iya bos, aman,” jawab Jenni dengan asal.


Lalu Jesper segera keluar dari kamar mandi adiknya, untuk membiarkan adiknya mandi terlebih dahulu.


"Hufft, sepertinya aku yang salah, karena dulu mengiyakan Jenni untuk mendesain kamar mandi seperti itu,” lirih Jesper dengan pelan.


Kemudian dia memilih untuk duduk di sisi tempat tidur Jenni, menunggu adiknya itu sampai sudah selesai dengan ritualnya.


Jesper kembali berpikir — pikir dengan niatnya untuk menerima lamaran dari David untuk adiknya.


Setelah setengah jam lamanya, Jesper menunggu adiknya keluar dari kamar mandi, akhirnya Jenni keluar juga dengan sudah menggunakan pakaian rumahnya.


"Sini kakak keringkan rambut kamu,” ucap Jesper, lalu mulai mengambil alih hairdryer Jenni yang berada di atas meja rias.


Jenni hanya diam, dengan menuruti saja apa yang dilakukan oleh kakaknya itu.


"Dek, kakak ingin mengatakan sesuatu kepadamu, bisa?" Jesper merasa ragu, apakah adiknya saat ini bisa diajak bicara atau tidak.


Jenni tertegun sejenak, dia melirik singkat ke arah kakaknya, yang sepertinya ingin berbicara serius dengannya.


Dan ketika Jenni menyadari situasi saat ini, dia memilih untuk mengambil tangan kakaknya untuk menghentikan kegiatan Jesper yang sedang mengeringkan rambutnya.


"Bicaralah kak," ucap Jenni, dengan tatapan sendu ke arah kakaknya.


Jesper tidak tahu harus memulainya dari mana, dia tidak ingin membuat kesan jika dia sedang memaksa keputusan adiknya.


"Jenni, kakak mengambil keputusan ini bukan semata — mata karena keinginan kakak, tetapi kakak melakukan semua ini, karena menurut kakak ini semua memang jalan yang terbaik untuk kamu dan keluarga kita." Ucapan Jesper, kini membuat Jenni sedikit menyeritkan keningnya bingung.


Dia sama sekali tidak mengerti dengan apa yang sedang dibicarakan Oleh kakaknya ini.


Mendapatkan tatapan adiknya yang seperti itu, membuat Jesper merasa gugup sendiri. "Ehmm, Jenni, kamu sangat tahukan jika kakak sangat mencintai kamu?" tanya Jesper pada Adiknya.


Yang lalu dijawab dengan anggukan kepala oleh Jenni sambil terus menatap kakanya dengan bingung. Pasalnya dia sangat tahu, jika kakanya bukanlah seorang type laki — laki yang mau membuang waktunya dengan kalimat — kalimat yang sangat tidak penting.


Apa lagi sekedar mengucapkan kata cinta, Jesper adalah laki — laki yang selalu mengungkapkan perasaanya dengan sebuah tindak prilaku saja, yang menyatakan bahwa dirinya sangat mencintai orang Iain, tidak dengan ungkapan sebuah kalimat yang terdengar sangat memuakkan.


"Dan kamu tahu, jika kakak selalu ingin melakukan semua yang terbaik untuk kamu," Jenni semakin tidak mengerti kemana arah pembicaraan kakaknya ini.


"Kak, sebenarnya apa yang ingin kakak bicarakan? Kenapa sedari tadi aku merasa bahwa kakak hanya berputar — putar di situ saja? Kenapa tidak langsung to the point saja." Tegasnya pada Jesper. Dia sangat tidak suka melihat kakaknya yang seperti ini.


"Kakak bukanlah type orang yang selalu bicara dengan omong kosong seperti ini, dan sekarang kenapa kakak berbicara dengan berputar — putar, aku sungguh sangat pusing untuk memikirkannya.


To Be Continue.


Hallo Teman - teman, jangan lupa ya, untuk Like, Komen, Vote dan Hadiahnya untuk Mimin. Agar mimin merasa lebih semangat lagi untuk updatenya.


Dan jangan lupa untuk mampir ke karya mimin yang Iainnya ya. Terima Kasih 😘🙏🏻