
Sesampainya di Bandara Kualanamu. Mereka pun berangkat ke Hotel yang sudah di reservasi khusus untuk mereka berdua. Saat mereka tiba di JW Marriott Hotel Medan, mereka di sambut oleh dua pelayan yang menunjukkan arah kamar yang mereka tempati dan membawa barang - barang mereka.
"Mom, kita memang tinggal di sini? Gak salah tujuan kan, Mom?" Tanya Grace setelah memasuki lobi dan melihat kemewahan Hotel itu.
"Tidak, kita gak salah. Kita akan tidur di sini selama 2 malam saja. Trus kita akan pergi jalan - jalan dan mencari tempat menginap yang lain." Ucap Mrs.Melv. dengan penuh senyuman.
"Kemana lagi, Mom?" Tanya Grace penasaran.
"Nanti aja bahasnya, kamu mau kita istirahat dulu atau langsung ke Rumah saudaramu yang ada di Medan? Atau kita ke Rumah temanmu itu?" Tanya Mr.Melv. pada Grace agar mengalihkan pembicaraan tadi yang sempat membuatnya bingung untuk menjawabnya.
"Kita langsung ke Rumah teman aku aja dulu ya, Mom? Pulang dari sana, kita jalan ke Mall Centre Point. Kita belanja dan nonton bioskop juga. Bagaimana menurut Mom?" Tanya Grace dengan antusias. Dia sangat merindukan Teman masa kecilnya yang baik itu.
"Ide yang bagus, tuh. Nanti kita ajak saja temanmu itu. Sekalian ada yang bawa kita jalan - jalan mengelilingi Mall itu." Ucap Mrs.Melv. tak kalah bersemangat.
Mereka pun berangkat ke Rumah teman Grace yang alamatnya masih diingatnya. Tidak salah jika Steve yang mengurus semuanya. Mereka tidak kekurangan apapun. Malah transportasi pun sudah tersedia. Mereka memiliki supir yang akan mengantar mereka kemana pun mereka tuju.
Sesampainya di Rumah Deandra Callista, Grace langsung menghambur ke pelukan temannya itu. Dia sangat merindukannya.
"Dea! Maafkan aku, karena sudah lama tidak bisa memberikan kabar padamu." Ucap Grace dengan penuh semangat.
Dea hanya membalas pelukan teman lamanya itu. Dia syok! Tidak menyangka akan mendapat kunjungan dari teman dekatnya itu.
"Dea juga sangat merindukanmu, Grace. Pokoknya, kamu jangan sampai gak ada kabar lagi. Nanti aku harus dapat nomor ponselmu untuk tetap bisa berkomunikasi denganmu. Jangan sampai kamu hilang lagi ya!" Tegas Dea sambil menatap tajam ke arah Grace.
"Ehh, ini kenalin. Calon Mertua aku, panggil Mommy saja." Grace mengingat kalau dia sedang bersama dengan Mrs.Melv. yang senantiasa menunggunya selesai dengan kegiatan kangen - kangenannya.
"Hah? Kamu sudah punya calon Mertua? Kapan kamu bertunangannya, Grace?" Dea terlihat kaget bukan main mendengar kata calon Mertua yang keluar dari bibirnya Grace.
"Sudah lama. Udah akh, jangan dibahas lagi. Kamu gak ada niatan untuk mempersilahkan kami masuk ke dalam nih ceritanya?" Tanya Grace sambil melirik ke arah temannya itu.
"Oh iya, aku hampir lupa. Ayo, masuk. Mommy juga, ayo masuk. Salam kenal ya, Mom. Aku Deandra, panggilnya Dea aja." Ucap Dea sambil mengulurkan tangannya menyalami Mrs.Melv.
Mrs.Melv. menarik tangan Dea dan berbisik setelah Grace masuk ke dalam Rumah, "Nanti kasih Mommy nomor mu, ya. Kamu ikut Mom kasih kejutan untuk Grace ya? Nanti Mom yang minta izin sama Orangtuamu ya. Semua biayamu, Mom yang tanggung. Oke?"
Dea hanya menganggukkan kepalanya. Dia juga tidak tau mengapa dia bisa langsung percaya dengan wanita paruh baya yang baru dikenalnya.
"Wahh, ternyata kita kedatangan tamu ya?" Ucap Mama Callista yang baru saja datang dari dapur.
"Iya, Ma. Ini Grace. Mama masih ingat kan?" Tanya Dea dengan ragu.
Mama Callista hanya memandangi wajah Grace dengan seksama, "Sepertinya Mama mengenalnya, tapi dimana ya?"
"Tante Callista. Grace sering ke sini sebelum pindah ke Siantar sejak SD." Grace berjalan menghampiri Mama Callista dan memeluknya singkat.
"Ahh, iya. Mama baru ingat. Kamu anak yang belajar bermain piano bareng Dea kan? Masih lancar main pianonya, Nak?" Mama Callista pun memeluk Grace dan menyalami Mrs.Melv.
"Oh iya, kalian mau minum apa? Biar aku buatkan." Tanya Mama Callista dengan tamunya itu.
"Oh iya, Mommy mau ke dapur bareng Mama mu dulu ya, Dea. Mommy mau buat teh sendiri." Ucap Mrs.Melv. untuk memghindari kecurigaan Grace.
Setelah mendapat anggukan kepala, Mrs.Melv. menarik tangan Mama Callista ke dapur. Dia ingin membicarakan hal penting dengan Mama Callista.
"Jeng, aku ingin bilang sesuatu padamu. Aku ingin minta izin membawa Dea bersama kami untuk menginap selama 2 hari 1 malam. Aku akan menjamin kesehatan dan keselamatannya." Tutur Mrs.Melv. pada Mama Callista yang masih ragu dengan orang yang di hadapannya.
"Ada keperluan apa Jeng membawa Dea bersama kalian?" Tanya Mama Callista dengan wajah yang penuh dengan keragu - raguan.
"Perkenalkan, aku adalah calon Mertuanya Grace. Kami sekeluarga ingin membantu Anak kami untuk membuat kejutan untuk Grace. Aku melihat kalau mereka begitu dekat. Jadi, aku berinisiatif untuk mengajaknya meramaikan acara yang akan diselenggarakan lusa nanti. Aku akan menanggung semua biaya keperluannya di sana. Aku hanya ingin calon Menantuku bahagia di hari itu. Akan aku pastikan Anak Jeng akan baik - baik saja selama berada di dekatku." Mrs.Melv. memberikan penjelasan secara rinci pada Mama Callista yang masih terlihat ragu itu.
"Baiklah, aku akan mempercayaimu, Jeng. Jeng bisa aku minta nomor ponselmu? Aku juga ingin mendapat kabar mengenai Anakku selama jauh dariku, meskipun itu hanya satu malam." Pinta Mama Callista pada Mrs.Melv. yang langsung memberikan kartu namanya pada Mama Callista.
Setelah lama berbincang, akhirnya Mrs.Melv beserta Grace dan Dea pamitan dengan Mama Callista untuk pergi ke Mall Centre Point pilihan Grace.
Mall ini sangat mewah, begitu pula dengan isi di dalamnya. Setiap stand memiliki keunikan sendiri yang sesuai dengan Brand yang mereka jual. Mereka bertiga mengelilingi dan bahkan berbelanja begitu banyak barang, mulai dari topi, pakaian, hingga sepatu. Semua tagihan ditanggung oleh Mrs.Melv. sebagai orang yang bertanggungjawab terhadap kedua perempuan yang sedang bersama dengannya.
Selesai berbelanja, mereka pun makan malam bersama dan lanjut dengan kegiatan nonton Bioskop bersama. Tidak terasa, waktu sudah menunjukkan pukul 9 malam. Sudah saatnya bagi mereka untuk berpisah dan mengantar Dea pulang. Mereka berdua harus segera pulang dan beristirahat, karena mereka harus berkunjung ke banyak tempat.
Keesokan harinya, Grace yang sudah siap untuk menempuh perjalanan yang panjang mulai mengingat satu per satu alamat dari sanak saudaranya. Mereka memulai perjalanan dari yang Rumahnya yang paling dekat dengan Hotel yang mereka tempati.
Grace tidak mengetahui apa yang direncanakan oleh Mrs.Melv. yang mengajaknya berkunjung ke Rumah saudaranya. Dia hanya tau kalau dirinya sudah merindukan keluarganya yang sudah sangat lama tidak bertemu dengannya. Di balik itu semua, Mrs.Melv. hanya ingin mengenal lebih dekat bagaimana ikatan kekerabatan yang ada pada keluarga Grace. Maklum saja, meskipun nama keluarga Melviano terdengar besar, tapi mereka tidak memiliki hubungan kekeluargaan yang sama seperti keluarga besar Grace.
Mr.Melv. hanya memiliki seorang Adik perempuan yang sudah tiada dan hanya memiliki seorang Anak, yaitu Silvia. Sedangkan Mrs.Melv.? Dia hanya Anak Tunggal di keluarganya. Jadi, dia tidak ingin Anaknya merasakan hal yang sama dengannya. Karena saat Upacara Pernikahan berlangsung, lebih banyak Kolega bisnis yang datang dibandingkan keluarga. Karena jumlah sanak - saudaranya memang terbatas.
Mrs.Melv. ingin Pernikahan Anaknya akan berlangsung dengan penuh kehangatan dari hubungan kekerabatan. Dia ingin Anaknya bahagia dalam kehangatan keluarga yang sesungguhnya. Maka dari itu, setiap kali bertemu dengan keluarga Grace, Mrs.Melv. menyempatkan diri untuk memberikan kartu namanya pada mereka agar mereka menghubunginya. Dia ingin mengundang semuanya, tanpa terkecuali, untuk menghadiri Pesta Pernikahan Arion dan Grace.
Mereka semua menyambut dengan tangan terbuka kehadiran Mrs.Melv. yang masih asing itu. Mereka sangat ramah, sehingga Mrs.Melv. bisa merasa nyaman berkomunikasi dengan mereka meskipun itu kali pertama mereka bertemu. Hari ini mereka akan melakukan perjalanan yang panjang dan besok mereka sudah harus berangkat ke Wisma yang sudah ditentukan sebagai tempat berkumpulnya semua orang.
**********
Di sisi lain, Ar sudah berhasil mengumpulkan semua orang di Wisma. Keluarga dan teman dekat Grace sudah mendapatkan bagian masing - masing untuk melanjutkan perannya dengan baik. Tidak ada seorang pun dari mereka yang menolak permintaan Ar. Hari ini adalah hari terkhir mereka untuk mempersiapkan segalanya.
Meskipun acaranya akan berlangsung di malam hari, mereka tetap akan menyelesaikan semuanya hari ini juga. Mereka tidak menyangka bahwa Ar bisa membuat rencana yang begitu romantis hanya untuk memberikan kejutan pada Grace.
Selama dua hari ini, Ar merasa gugup. Ini kali kedua ia melakukan hal seperti ini. Tapi, ini kali pertamanya melakukan sesuatu yg benar - benar menguras daya pikirnya membuat semua orang ikut berpartisipasi dalam mendukungnya.
>>> Bersambung <<<
Sampai sini dulu ya..
Kita akan lanjut di eps selanjutnya..
Siapa yang mau kalau besok Author up eps 98 yang menceritakan Proposal Lamaran Arion?
Jawabnya dengan target jumlah like dan komen di eps ini ya, Kakak - Kakak..
Like \= 250
Komen \= 25
Sejujurnya, mood Authornya sedang down 😔😔 Makanya eps kali ini terasa tanggung di ending..
Selain rating The Perfect Girl turun, aku juga mendapat komentar yang berhasil menghancurkan mood baikku hari ini..
Mau dibilang lebay atau lelet, aku terima - terima saja (Seperti yang diucapkan oleh beberapa orang dikolom komentar di eps yg lalu2)..
Tapi, apakah kalian pembaca bisa sesuka hati menghujat penulis yang rela membagi waktu real life nya hanya uintuk menciptakan scene yang bisa membuat pembacanya senang?
Aku bukannya menuntut banyak hal dari kalian, aku juga manusia biasa yang butuh support dari semuanya..
Setidaknya hanya itu yang bisa diminta oleh penulis gratisan sepertiku ini..
Maaf, jika perkataanku kali ini agak menyinggung, aku hanya mohon sedikit pengertian dari Kakak-Kakak..
TERIMAKASIH BANYAK BUAT PEMBACA SETIA THE PERFECT GIRL YANG SAMPAI RELA MEMBAGI WAKTUNYA UNTUK MEMBACA NARA MESKIPUN CERITA INI BANYAK KEKURANGANNYA 😊🙏
Salam Kasih untuk Yg Terkasih
***LOVE YOU ALL ***💞