
Sebulan lebih telah berlalu. Semuanya terlihat aman-aman saja. Ricky sudah kembali ke London dan menempatkan beberapa orang kepercayaannya sebagai bodyguard untuk keluarga Melviano termasuk istri dan anaknya.
Dia juga mengatur kembali lowongan pekerjaan di perusahaan Melviano. Dia banyak membantu dalam hal mencari orang-orang yang bisa dipercaya.
Sedangkan Arion sendiri, dia bekerja lebih keras dari sebelumnya dengan sedikit bantuan dari Adam. Karena kemampuan Sam dan Yoru belum memadai. Dia dan Steve cukup sibuk dengan pekerjaan masing-masing yang sempat terbengkalai selama setengah tahun terakhir.
Meskipun Grace banyak membantu pekerjaan mereka, namun ada beberapa pekerjaan yang tidak pernah disentuh oleh Grace. Sebab pekerjaan itu cukup rumit baginya jika belum memiliki informasi sepenuhnya mengenai dunia bisnis.
Proyek properti Mr. Melv. bersama dengan Mr. Adhinata pun sudah sepenuhnya selesai. Dua pertiga dari properti itu sudah laku terjual. Mereka sangat berterima kasih pada Steve yang sudah membantu mereka sejak awal. Peran Steve sebagai Manajer Pemasaran pada proyek itu pun sangat membantu mereka.
Tanpa harus mereka bersusa payah untuk mempromosikan lebih dari properti itu, mereka sudah bisa mendapatkan keuntungan yang cukup memuaskan. Semakin erat pula hubungan di antara kedua kepala keluarga tersebut.
Mereka juga sudah memutuskan hari pernikahan yang sesuai untuk Steve dan Lisya. Mereka akan resmi menjadi sepasang suami-istri saat setelah kedua calon cucu keluarga Melviano dilahirkan. Mereka tidak mau menyusahkan kedua ibu hamil itu.
Oh ya, ada hal yang sempat terlupakan. Steve sudah resmi menjadi anak dari keluarga Melviano. Namanya sudah tercantum jelas sebagai Steve Melviano secara hukum bersamaan dengan penggantian nama Yoru menjadi Charles Finley. Dia merupakan satu-satunya sepupu Silvia Finley yang sudah sah menjadi Ny. Bratadikara.
*********
"Ar! Aku harus pergi. Sudah waktunya bagi Silvia untuk melahirkan. Mommy baru saja mengabariku," ucap Adam setelah ia membaca pesan singkat dari Mrs. Melv.
Dia, Arion dan Steve memang sedang berada di dalam ruang kerja Steve. Mereka sedang membicarakan hal yang akan menjadi bahan pertimbangan mereka dalam meningkatkan kualitas barang yang akan diproduksi bulan depan.
"Baiklah, kita semua akan pergi ke sana. Aku juga tidak mau menjadi adik yang durhaka karena tidak menyambut keponakanku yang lahir lebih dulu dari anakku," ajak Arion yang sudah mengambil kunci mobilnya.
Langkah mereka begitu terburu-buru sampai Sam dan Charles yang melihat hal itu pun mendekati mereka. "Ada apa ini?" tanya mereka bersamaan.
"Silvia akan melahirkan. Dia sudah dibawa ke Rumah Sakit dan kami akan ke sana," ujar Steve yang berusaha mengimbangi langkah kaki Arion dan Adam.
"Kami ikutlah, Kak!" pinta Sam dan Charles dengan cepat.
"Tidak, kalian harus tetap bekerja. Karena perusahaan ini butuh pengawas selama kami tidak ada di sini. Sepulang kerja nanti, kalian bisa pergi ke sana bersama Robert. Jangan sampai kalian menghilang dari penglihatan dia. Mengerti?" titah Arion yang otomatis menghentikan langkah kaki kedua pemuda itu.
"Mengerti, Kak!" jawab mereka secara bersamaan. Mereka pun kembali ke ruangannya masing-masing, berharap agar Silvia bisa melahirkan dengan selamat.
Sesampainya di Rumah Sakit, Adam langsung dipersilahkan masuk ruang bersalin oleh sang Dokter. Dia ingin berada di sisi sang Istri yang sedang berjuang untuk melahirkan buah hati mereka.
"Bertahanlah, Honey. Aku ada di sini. Jadi, jangan takut. Ikuti instruksi dari Dokternya ya, Honey. Cup!" bisik Adam sambil memberikan kecupan di kening sang Istri.
Silvia mulai berjalan mengitari ruangannya mengikuti lagu permintaan Dokter. Dia berusaha menahan rasa sakit yang baru pertama kali dirasakannya. Selama masih pembukaan serviks yang ketujuh, Silvia dibantu oleh Adam dan dua perawat untuk berdiri dan jongkok beberapa kali untuk mempercepat proses pembukaan serviks.
Setelah 3 jam lamanya, Dokter menyatakan bahwa Silvia sudah tahap pembukaan serviks yang kesepuluh, Silvia mulai diinstruksikan untuk mengejan. Dia sudah siap untuk ke tahap selanjutnya. Dan selama 2 jam penuh, Silvia mengejan untuk mengeluarkan bayi beserta plasentanya dari dalam rahim.
"Terima kasih Tuhan. Terima kasih, Dok." Adam langsung menggendong bayinya yang diserahkan oleh perawat padanya.
Adam pun mulai mendekatkan bibirnya di telinga sang Anak dan berdoa pada Tuhan agar anaknya tetap berada dalam perlindungan Tuhan. Setelah itu, dia menempelkan anaknya di dada bidangnya untuk memberikan kehangatan pada sang Anak. Dia yang baru lahir, membutuhkan kehangatan dari orang tuanya.
Dokter itu pun berpamitan dan perawat mulai membersihkan segala sesuatunya. Namun, pada saat Silvia akan dipindahkan ke ruang rawat inap, ia mulai merasakan kontraksi lagi.
"Sus, sepertinya, aku akan melahirkan lagi. Aku mulai merasakan rasa sakit yang seperti tadi lagi. Gimana ini, Sus?" tanya Silvia sambil mengerang menahan rasa sakit.
Salah satu perawat itu pun mulai berlari ke luar ruangan dan memanggil Dokter. Karena merasa kebingungan, sang Dokter pun berlari untuk kembali ke ruang bersalin. Keluarga Melviano yang melihat Dokter dan para perawat yang berlari masuk ke dalam ruang bersalin pun mulai menerka-nerka apa yang terjadi di dalam sana.
"Itu kenapa ya, Mom? Apa yang terjadi pada Silvia?" tanya Arion pada Mrs. Melv.
"Semoga dia baik-baik saja selama persalinan. Seharusnya, dia sudah dipindahkan ke ruang rawat inap. Tapi, kenapa malah Dokter itu kembali? Malahan dia ikut berlari masuk ke dalam ruang bersalin," ucap Steve yang mulai meneliti perkara yang sedang terjadi pada Silvia.
Semua orang yang menunggu, mulai memanjatkan doa mereka masing-masing untuk Silvia dan bayinya. Mereka mulai gelisah detelah melihat kejadian tadi.
Sedangkan di dalam ruang bersalin, sang Dokter mulai memeriksa kembali rahim Silvia. Ternyata masih ada seorang bayi lagi yang tertinggal di dalam rahim Silvia. Mereka merasa kagum dengan peristiwa langka seperti ini.
Tadinya, setelah bayi pertama lahir, plasentanya sudah keluar dengan benar dan sudah bersih. Akan tetapi, bayi yang tertinggal masih terbungkus rapi di rahim Silvia.
"Apa kalian tidak tau kalau anak kalian kembar?" tanya sang Dokter dengan ekspresi herannya.
"Tidak, Dok. Aku sangat sibuk. Kami sangat jarang melakukan pemeriksaan rutin belakangan ini, jadi kami tidak pernah tau kalau anak kami itu kembar." Adam menjelaskan kondisi mereka selama beberapa waktu ini.
Dokter itu pun menganggukkan kepalanya dan mulai memberi instruksi pada Silvia. Waktu yang dibutuhkan Silvia untuk melahirkan anak keduanya ini hanya memakan waktu selama sejam lebih. Tidak seperti yang pertama tadi.
"Selamat ya, Pak. Selamat, Bu. Anak kalian sepasang. Kembar laki-laki dan perempuan," ucap Dokter sambil menyalami Adam.
Adam pun menggendong bayi keduanya untuk berdoa seperti halnya yang ia lakukan pada anak pertamanya. Dia sangat bersyukur dua kali lipat, karena telah dikaruniai anak kembar.
Tak lupa, ia mencium sang Istri dan berterima kasih pada Silvia, "Makasih, Honey. Kamu sudah berjuang untuk anak kita dan untuk kita. Aku sangat bahagia."
>>> Bersambung <<<
IG : friska_1609