THE PERFECT GIRL

THE PERFECT GIRL
49



"Bang Ricky..!!" Grace berteriak dan bangkit dari tidurnya. Dia menghampiri kami berdua dan menarik tangan Bang Ricky dari leherku.


Aku terjatuh dalam pelukan Grace, karena dia sempat menari badanku yang lemas ke arahnya. Sekarang posisi kami sudah tidak berjarak lagi. Dia memelukku dengan tangan kirinya yang menepuk pelan pundakku.


"Uhuk.. huukk.. huukkk.." Aku terbatuk - batuk setelah terlepas dari cengkeraman Bang Ricky. Dia seperti monter ketika sedang marah. Sungguh menakutkan.


"Kalau ada masalah, bicarakan dengan kepala dingin, Bang. Jangan seperti ini." Ucap Grace lembut dengan membuka lebar telapak tangan kanannya yang diarahkannya pada Bang Ricky.


Aku merasa sangat senang, karena Grace membelaku saat ini. Dia masih saja tidak membenciku, padahal Mommy sudah melakukan hal buruk padanya. Melihat dia yang seperti ini membuatku semakin mencintainya.


"Grace, kamu ikut Abang pulang sekarang juga! Jangan membantah!" Ku lihat Bang Ricky pergi begitu saja meninggalkan kami.


"Kamu tidak apa - apa kan, Ar? Maafkan sikap kasar Bang Ricky. Dia itu sebenarnya orang yang baik. Mungkin masalah di antara kalian berdua sudah sangat menyinggungnya, hal itu membuatnya sangat marah padamu. Aku juga harus pergi sekarang juga. Takutnya Abang itu berbuat lebih dari ini padamu, jika aku tidak segera menyusulnya." Grace menarik kembali tangannya yang tadi menepuk pundakku.


Sebelum dia membalikkan badannya, aku menariknya dan memeluknya, "Grace, aku akan menyelesaikan semuanya hari ini. Besok aku akan datang ke sana untuk menjemputmu. Tunggu aku."


"Aku pergi, Bye Ar." Grace hanya tersenyum dan pergi begitu saja. Aku tau kalau dia masih bimbang. Tapi, aku tetap harus membawanya pulang ke rumah bersamaku.


"Ar, kamu sudah siap? Kita harus pergi sekarang." Steve muncul dari balik pintu.


"Belum. Aku akan mandi terlebih dahulu. Kita akan pergi sebentar lagi."


Aku pergi keluar dari kamar itu dan menuju ke kamar sebelah. Langsung saja aku berjalan menuju kamar mandi setelah mengambil setelan jas ku dari koper.


**********


Kami menyelesaikan meeting penting itu dengan membawa hasil yang memuaskan. Daddy sampai memuji - muji kekompakan antara aku dan Steve yang patut di contoh.


"Wahh, sungguh menakjubkan. Kerjasama kalian dalam memimpin rapat terlihat begitu kompak. Daddy salut melihat kekompakan kalian itu. Kalau kalian bisa terus kompak seperti itu, kalian akan selalu mendapat hasil yang memuaskan seperti hari ini."


Daddy tertawa puas mengingat hasil meeting hari ini. Steve pun terlihat senang mendapat pujian dari Daddy. Berbeda denganku, aku hanya memikirkan hal yang terjadi tadi pagi. Aku harus segera menyelesaikan semuanya.


Aku harus segera menemui Mommy. 'Apa Daddy tau tentang yang dilakukan Mommy? Apa selama ini mereka berdua sudah melakukan hal buruk terhadap Grace dibelakangku?'


"Dad, ada hal penting yang harus aku sampaikan pada kalian, termasuk Mommy. Apa nanti Mommy datang ke sini?" Aku bertanya sambil melihat ke arah Daddy dan Steve.


"Ya, sebentar lagi Mommy akan datang. Kenapa harus menunggu Mommy? Tumben - tumbenan kamu berpikiran untuk membicarakan hal penting pada kami bertiga. Ada hal penting apa sebenarnya, Ar? Kamu sudah berhasil membuat Daddy mu ini penasaran," ucap Daddy sambil merangkul pundakku.


"Begini saja, Dad. Kita pulang sekarang saja. Aku perlu waktu yang banyak untuk membahas hal ini. Ini sangat penting. Dan sebelum aku kembali besok, hal ini harus sudah kita bahas sampai tuntas." Aku menegaskan akhir kata yang kuucapkan itu.


"Baiklah, Ar. Kita pulang sekarang. Kamu sudah membuat Daddy mu ini hampir gila karna penasaran."


Daddy pun menyuruh supir untuk mempersiapkan mobil. Aku dan Daddy duduku di kursi penumpang, sedangkan Steve duduk di sebelah supir.


Setibanya di Mansion, kami langsung masuk dan berkumpul di ruang tamu. Mommy pun ikut bersama kami.


"Sekarang Ar ingin menunjukkan sesuatu sama Mommy." Aku mengambil amplop yang diberikan Bang Ricky padaku tadi pagi dan mengeluarkan isinya.


Kuletakkan semua foto - foto itu di atas meja secara acak dan setumpuk dokumen, "Lihat Mom! Lihat semua kelakuan Mom yang sudah membuatku menderita selama ini. Mom keterlaluan!"


Daddy terkejut mendengar perkataanku yang ketus itu. Selama ini, aku belum pernah berkata kasar pada siapa pun.


Mommy hanya bisa membelalakkan matanya tanda tak percaya. Ternyata selama ini, Mommy diam - diam menghentikan semua rencana ku mencari keberadaan Grace.


"Ini tidak benar, Ar. Dari mana kamu mendapatkan semua bukti itu?" Mommy menggeleng - geleng dengan wajah yang setengah pucat.


Sebenarnya, aku tidak tega melihat Mommy terpojokkan seperti ini. Tapi, aku juga tidak mau Mommy membuat semuanya menjadi semakin runyam.


"Grace tidak tau tentang hal ini. Aku mendapatkannya dari seseorang yang sudah merawat Grace selama ini. Kalau saja dia tidak datang dan memarahiku atas tindakan Mommy, Ar tidak akan pernah tau apa yang terjadi selama ini. Mom, jawab Ar dengan jujur. Kenapa Mom menampar Grace? Sebelumnya, Mom sangat menyayangi dia, Mom juga setuju dengan hubungan kami. Kenapa Mom malah kasar padanya? Mom harus jujur." Aku sedikit kesal mengingat betapa tega nya Mom menyakiti perempuan yang aku cintai.


"Mom hanya memberikan dia sedikit pelajaran, Ar. Kamu saja yang tidak tau apa - apa."


"Beberapa kali, Mom melihat dia berduaan dengan lelaki jangkung dan kelihatannya mereka begitu akrab. Dia itu tunanganmu, tapi dia sudah membuatmu sampai terluka dan tidak sadar selama seminggu penuh! Dia bahkan bersenang - senang dengan lelaki lain selama di London! Padahal kamu selalu mencari keberadaannya. Mommy gak suka!"


"Mom, anggapan Mommy selama ini sudah salah. Semuanya salah! Yang sebenarnya, Grace itu menolong Ar saat ini. Dia sudah menghalangi pukulan terakhir yang seharusnya aku terima dari Zesil. Mom lihat saja dokumen itu! Semuanya tertulis jelas di sana!"


Ku lihat Daddy menyambar dokumen itu dan melihat isinya. Dan benar saja, Daddy marah besar dengan Mommy.


"Mommy keterlaluan! Kenapa Mommy gak pernah bertanya lebih dulu pada yang bersangkutan? Main tangan dengan anak orang begitu saja. Sejak kapan Mommy jadi suka mengambil kesimpulan sendiri dan bertindak sesuka hati begitu?" Daddy memarahi Mommy dan berlanjut.


Aku hanya diam menunduk tidak tega melihat wajah Mommy yang sudah menitikkan airmatanya. Aku tidak bermaksud untuk membuat Mommy bersedih, tapi aku harus bisa meluruskan pemikiran Mommy yang salah tentang Grace.


"Mommy lihat saja sendiri. Dokumen - dokumen ini menunjukkan seberapa lama masa perawatan yang dilakukan pada Grace. Karena sudah menyelamatkan anak kita, dia harus berjuang sendiri dari keadaan vegetatifnya selama setahun penuh tanpa mendapatkan perhatian dari keluarga dan juga orang - orang dekatnya. Dia juga menjalani perawatan penuh setahun kemudian setelah keluar dari Rumah Sakit. Daddy gak habis pikir dengan apa yang Mommy pikirkan selama ini. Daddy kecewa dengan tindakan Mommy!"


Steven hanya bisa melihat bagaimana drama keluarga ini berlanjut. Dia memang sudah terbiasa menjadi pendengar yang baik saat ada kejadian seperti ini.


"Mommy lihat foto - foto ini. Ini saat Mommy berbicara dengan orang - orang suruhanku tanpa sepengetahuanku. Ini saat Mommy beberapa kali membuntuti Grace. Dan yang terakhir ini bukti bahwa Mommy sudah bertindak kasar pada Grace. Asal Mommy tau, lelaki yang bersama dengan Grace itu adalah anak pertama Papa nya dari isteri pertamanya di Jepang. Dia sedang cuti dan mencari keberadaan adik - adiknya. Apa salahnya jika Grace terlihat akrab dengan kakaknya sendiri? Apa salahnya dia menemui lelaki lain dibelakangku? Mommy sendiri yang menutup jalan buatku untuk menemukan Grace, tapi Mommy malah menyalahkan dia yang bertemu dengan lelaki lain di luar sana. Mommy benar - benar sudah membuatku kehabisan kata. Apa ini bukti rasa sayang seorang Ibu terhadap Anaknya?"


"Maafkan Mommy, Mommy gak bermaksud seperti itu. Hiks.. Maafkan Mommy. Mommy memang salah. Hiks.." Ucap Mommy dengan nada seraknya. Mommy menangis meratapi kesalahannya.


"Seharusnya Mommy tidak berbuat seperti itu. Aku hampir saja mati kalau bukan Grace yang menolongku. Tidak ada gunanya Mommy meminta maaf padaku, karena orang yang Mommy sakiti itu bukan aku. Melainkan Grace. Bagaimanapun juga, aku kecewa dengan sikap Mommy."


Aku pergi meninggalkan ruangan itu dan diikuti steve. Kami masuk ke dalam ruang baca. Aku tau kalau Steve menyimpan sejumlah kata tanya yang ingin dia sampaikan padaku.


"Sekarang kamu bisa bertanya apa saja padaku. Aku hanya akan menjawab yang aku tau saja." Aku pun duduk bersebelahan dengan Steve.


"Apa yang terjadi? Kapan kamu mendapatkan semua foto - foto dan dokumen penting itu? Apa Ricky yang memberikannya? Bagaimana bisa kamu bertemu dengan dia? Bukannya semalaman kamu hanya berduaan dengan Grace tadi malam?" Steve mulai meluncurkan pertanyaan demi pertanyaan padaku.


"Sebenarnya, tadi pagi dia datang dan memarahiku habis - habisan. Dia melemparkan amplop itu padaku dan mencekik leherku sampai aku terangkat. Kalau ssedikit saja Grace terlambat melerai kami, mungkin aku akan kehabisan napas saat itu juga. Semalaman Grace hanya menceritakan kisah hidupnya selama 2 tahun terakhir. Dia tidak mengucapkan sepatah katapun padaku mengenai perlakuan Mommy padanya."


Aku hanya bisa menundukkan kepalaku karena rasa bersalah. Seribu maaf pun kurasa tidak bisa mewakili rasa bersalahku padanya.


'Aku harus menemuinya, aku harus bisa membawanya pulang bersamaku. Aku tidak mau lagi berpisah dengannya.'


**********


Tidak terasa, besok sudah malming aja..


Tidak terasa, besok sudah eps 50 aja..


Gimana ceritanya?


Apakah semakin menarik atau malah sebaliknya?


Author bingung nih,,


Besok mau single up atau double up ya?


Karena Minggu Author gak bisa jamin untuk up eps nya..


😔😔😔


Jangan lupa kasih jempol dan beri komentar kalian di bawah ini yaa..


Bila perlu beri rating buat novel ini, biar Author tambah semangat melanjutkan ceritanya..


Salam Kasih untuk Yang Terkasih..


😘😘😘