
"Kak, kenapa lama sekali? Bukankah Kakak yang mengatakan pada kami untuk tidak terlambat? Tapi kenapa Kakak sendiri yang telat?" tanya Sam sambil mengekori Grace yang baru saja masuk ke ruangannya dan berjalan menuju meja kerjanya.
"Sekarang kita sudah bisa berangkat?" Grace tidak menjawab pertanyaan Sam. Dia malah balik bertanya pada kedua Adiknya itu.
Yoru langsung menggandeng sebelah tangan Grace dan sebelah lainnya digandeng oleh Sam.
"Kita berangkat!" sorak kedua lelaki itu sambil berjalan mengikuti langkah kaki sang Kak.
Setibanya di Rumah Sakit, mereka langsung menunjukkan kartu identitas. Secara mereka adalah pelanggan VIP di Rumah Sakit tersebut, mereka langsung diantar ke ruangan Dokter spesialis kandungan.
Setelah melalui beberapa tes dan pengecekan, kini mereka pun mendengar dengan seksama apa yang akan disampaikan oleh sang Dokter.
"Bu, apakah sebelumnya Ibu pernah mengalami pendaharan?" tanya Dokter yang cantik jelita itu. Dia adalah Dokter spesialis kandungan yang satu - satunya adalah seorang perempuan di Rumah Sakit tersebut.
"Pernah, Dok. Saat itu, saya sedang terdesak untuk membantu Suami saya. Kenapa Dok?" jawab Grace dengan rasa cemas yang cukup berlebihan.
"Kemana Suami Ibu?" tanya Dokter itu dengan penuh keraguan.
"Kakak Ipar saya sedang berada di London, Dok. Ada pekerjaan mendadak yang harus diselesaikan di sana. Jadi, kami yang menemani Kakak di sini." Sam menyambar pertanyaan sang Dokter agar Kakaknya tidak merasa sedih saat mengatakan hal yang mengingatkannya pada Arion.
Dokter itu tersenyum tipis dan dia memberikan sedikit penjelasan pada ketiga orang yang sedang ada di hadapannya itu.
"Setelah Ibu melakukan pemeriksaan fisik dan tes urine, kita dapat menyimpulkan bahwasannya kondisi janin Ibu termasuk kuat, jika dibandingkan dengan janin seusianya. Hari ini tepat sebulan usia janin Ibu. Saya hanya akan memberikan beberapa saran pada Ibu. Jadi, dengarkanlah baik - baik." Raut wajah sang Dokter mulai terlihat serius dan itu terpancar dari tatapan matanya pada Grace.
"Ibu harus mengonsumsi susu Ibu hamil. Saya melihat kurangnya nutrisi yang dibutuhkan oleh janin. Apakah Ibu tidak pernah minum susu khusus untuk Ibu hamil?" tanya sang Dokter pada Grace.
Grace menjawab dengan perlahan, "Saya tidak suka dengan susu, Dok. Apalagi susu Ibu hamil. Rasanya membuatku mual, Dok."
"Baiklah, Saya tidak akan menyuruh Ibu untuk minum susu Ibu hamil. Kita bisa menggantinya dengan sayur dan buah - buahan. Ibu harus memperhatikan kandungan gizi yang Ibu makan, karena gizi itulah yang akan diserap oleh janin Ibu selama bertahan di dalam sana." Dokter itu melirik ke arah perut Grace yang belum terlihat.
"Baiklah, Dok. Saya akan mengingat dan melaksanakannya," jawab Grace dengan singkat.
Dokter itu tersenyum pada Grace dan melanjutkan perbincangan mereka.
"Ibu jangan terlalu memikirkan pekerjaan. Janin juga ikut merasa lelah jika Ibunya merasa lelah. Baik itu jasmani, rohani maupun pikiran. Apalgi, janin Ibu sudah pernah mengalami pendarahan. Hal ini menyebabkan janin Ibu lebih spesial dan harus dijaga lebih ekstra. Jika janin Ibu merasa lelah, dia akan merasa kesakitan."
"Pantas saja, saya merasa nyeri di bagian bawah perut saya jika saya terlalu banyak pikiran. Apa yang harus saya lakukan, Dok? Agar saya bisa menjaga stabilitas jasmani, rohani dan pikiran saya?" tanya Grace dengan penuh pertimbangan.
"Berikan waktu santai setengah jam setiap enam jam sekali. Berhenti dari semua aktivitas dan dengarkan lagu - lagu dengan ditemani buah - buahan segar. Ibu harus memberikan kesempatan pada janin untuk bertumbuh - kembang di dalam sana dengan baik dan benar. Sesekali Ibu juga butuh liburan. Yang paling dekat saja, misalnya : taman rumah."
Penjelasan sang Dokter cukup spesifik. Dia memberikan saran yang kira - kira mudah untuk dilakukan oleh seorang pekerja seperti Grace. Ketiga orang yang mendengar penjelasan itu pun mulai serentak menganggukkan kepalanya.
"Bagaimana? Apakah ada yang kurang dimengerti, Bu?" tanya Dokternya pada Grace.
"Oh iya, Dok. Kapan sekiranya, Kakak kami ini kembali untuk memeriksakan keadaan kandungannya, Dok?" tanya Sam dengan perlahan.
"Ahh, iya! Saya akan memberikan ini. Ini adalah buku yang berisikan jadwal untuk memeriksa kandungan Ibu ke depannya. Agar kita bisa mengetahui perkembangan janin Ibu. Jangan sampai ada yang terlewati ya, Bu." Sang Dokter pun menyerahkan sebuah buku kecil nan tipis yang hanya berisi tabel yang sudah terisi dengan tanggal dan tulisan mengenai hasil pemeriksaan.
Grace menerima buku itu dan berterimakasih pada Dokter itu. Mereka juga berpamitan dengan Dokter itu dan pulang ke Mansion Utama.
"Kak, Sam boleh kembali ke Apartemen?" tanya Sam dengan ragu.
Dia sudah begitu lama meninggalkan Apartemennya. Sudah hampir seminggu dia tidak pernah menginjakkan kakinya ke tempat tinggalnya itu. Sam harus pulang, setidaknya seminggu sekali untuk membersihkan Apartemen kesayangannya itu.
"Sam? Kamu mau meninggalkan Kakakmu ini? Tapi, Kakak masih mau kamu mengelus rambut Kakak saat tidur nanti. Kamu tega?" tanya Grace dengan mengubah raut wajahnya menjadi ekspresi cemberut.
Sam menggaruk tengguk lehernya yang tidak gatal sama sekali. Dia pusing menghadapi Kakaknya itu.
'Aduh,, kenapa Kak Ar lama ketemunya sih? Kan harusnya Kak Ar yang melakukan itu pada Kakak. Aku jadi gak bisa keluar bareng teman - temanku kalau setiap hari harus begini,' gerutu Sam dalam hati.
Yoru mengetahui situasi ini cukup berat bagi Sam. Belum lagi, kalau Grace bisa begitu lama dielus baru bisa tertidur nyenyak. Jika dia tidak benar - benar tertidur lelap, Kakak mereka itu pasti akan tersadar dan mengomel saat tau Sam menyudahi elusan di rambutnya. Setidaknya, Sam harus bersabar setidaknya hampir satu jam hingga 2 jam jika ingin sang Kakak pulas tidurnya.
"Begini saja Kak. Yoru akan menggantikan Kak Sam hanya pada saat Kak Sam pulang ke Apartemennya. Tidak mungkin Kak Sam tidak membersihkan Apartemennya. Bagaimana Kak?" tanya Yoru dengan ragu.
Grace langsung menatap tajam ke arah Yoru. Dia tidak suka ada yang menggantikan posisi Sam.
"Oh ya, anggap saja aku tidak mengatakan apa pun, Kakak boleh menlanjutkan perdebatan Kakak dengan Kak Sam. Aku akan diam saja."
Yoru menyadari kesalahannya dan langsung mencoba untuk mendiamkan singa yang mulai mengamuk. Dia pun hanya menghadap ke depan dan tidak lagi bersuara.
"Begini saja, Kak. Aku akan menemani Kakak setiap malamnya sampai Kakak tertidur. Dan setelahnya, aku akan pulang diantar oleh Pak Supir. Bagaimana? Aku kan harus pulang, Kak. Aku sudah sangat merindukan suasana kamarku yang ada di Apartemen itu, Kak. Mengertilah, Kak. Aku mohon padamu, Kak."
Sam menyatukan kedua tangannya dan memasang ekspresi memelas pada Kakaknya. Dia tidak ingin berlama - lama tinggal di Mansion Utama. Yang dia inginkan adalah tempat dimana hanya dialah satu - satunya orang yang ada di sana. Dia bebas melakukan kegiatannya di saat sedang senggang.
Tidak seperti di Mansion, dia merasa canggung jika ingin melakukan segala sesuatunya. Karena ada orang tua yang harus dijaga kenyamanannya.
"Oke sajalah, Kak. Sama saja, aku pun tidak bisa menolaknya. Hanya oke, jawaban yang tepat untuk saat ini." Sam pun tersenyum tipis pada Kakaknya.
Setibanya di Rumah, semua orang menghampiri Grace. Mereka menanyakan hasil pemeriksaan kandungannya Grace.
"Bagaimana hasilnya, Sayang? Apakah ada yang dikatakan oleh Dokter itu?" tanya Mr. Melv pada Grace sambil merangkul pundak Menantunya itu.
Mereka tengah duduk di sofa yang tersedia di ruang tamu. Mrs. Melv meletakkan sepiring buah semangka yang sudah di potong dadu oleh para pelayan dan air putih hangat untuk disantap oleh Garce.
"Ini dimakan, Sayang." Mr. Melv mengambil piring berisi potongan semangka itu dan menyodorkannya pada Grace. Dia tidak ingin Grace kelaparan setelah perjalanannya.
"Dad, kata Dokter, Kak Grace masih harus banyak makan sayuran dan buah. Soalnya, dia tidak mau minum susu Ibu Hamil. Tidak seperti Kak Silvia yang rutin minum susu Ibu hamil." Yoru memberikan penjelasan pada semua orang yang sedang menunggu jawaban dari Grace.
"Jadi, susu Ibu hamil yang selama ini aku berikan padamu, kamu kemanakan? Jangan bilang, kalau kamu membuangnya, Grace." Silvia mulai mendekati Grace dan menatapnya dengan serius.
Grace spontan menggelengkan kepalanya dan dengan cepat menjawab, "Tidak, Kak. Aku tidak pernah membuangnya."
"Jadi, kamu apakan? Kan susu itu tidak kamu minum." Lagi - lagi Silvia bertanya sambil menyudutkan Grace.
Grace tersenyum simpul sambil mengatakan bahwa dia memang tidak membuangnya sembari memberikan jawaban pastinya.
"Bukan, Kak. Grace tidak pernah membuangnya. Susu itu kutitipkan pada Kepala Pelayan. Susu itu sudah disatukan dengan susu milik Kakak. Label susu kita berdua kan sama, Kak. Jadi, aku menyuruhnya untuk tidak memberitahukan hal ini pada kalian. Maafkan Grace."
Grace pun menundukkan kepalanya. Semuanya terdiam, hanya Silvialah yang berani mengangkat suara dan berkata, "Tidak ada yang perlu dimaafkan. Kamu tidak salah, Grace. Seharusnya kau mengatakannya sejak awal, jika kamu tidak suka meminumnya. Jadi, kami juga tidak akan memaksamu."
"Jadi, mulai besok, Mom akan menyediakan buah - buahan segar dan sayuran yang berbeda setiap harinya untuk kamu makan. Kamu tidak boleh sampai kekurangan nutrisi," ucap Mrs. Melv sambil menoleh kearah Grace.
Mereka pun berbincang - bincang seputar kebutuhan Ibu hamil dan apa yang harus dilakukan seorang Ibu hamil. Setelah menghabiskan sekitar setengah jam berbincang, mereka makan malam bersama. Grace senang melihat kebahagiaan yang ada di hadapannya saat ini, tapi semuanya menjadi sia - sia saat dia teringat dengan Suaminya.
Bagaimanapun caranya, Grace tetap tidak bisa tidak mengkhawatirkan keadaan Ar yang masih belum diketahui. Meskipun demikian, dia tetap berusaha keras untuk tidak selalu bersedih saat merindukan sang Suami. Hanya itu yang bisa dia lakukan di saat seperti ini agar dia dan kandunganya terbebas dari kondisi stres berlebihan.
Usai makan malam, seperti apa yang telah dijanjikan, Grace ditemani oleh Sam untuk bisa tertidur lelap. Elusan demi elusan tangan Sam di rambut Grace bisa membuat Grace merasa damai dan merasakan elusan dari sang Suami. Itulah yang membuatnya nyaman selama beberapa saat ini saat menjelang tidur.
"Sam pergi ya, Kak." Sam berbisik selembut mungkin saat berpamitan pada Grace yang sudah lelap tidurnya.
"Akhirnya, aku bisa tidur di atas kasurku lagi. Yes! Yes! Yes!" Sam bersorak - sorai mengingat bahwa dirinya sudah diberikan izin oleh Grace untuk kembali ke Apartemennya setelah tinggal begitu lama di Mansion Utama.
"Seneng amet. Kenapa harus sesenang itu, Kak?" tanya Yoru yang sedaritadi memperhatikan gelagat Sam yang tidak menyadari keberadaannya itu.
"Kamu tidak tau bagaimana rasanya kalau kita tidak tidur di atas kasur kita sendiri." Sam menepuk bahu Yoru dengan pelan sambil tersenyum tipis.
"Aku tau gimana rasanya, Kak." Yoru menjawabnya dengan cepat dan singkat.
Sam tidak menggubris perkataan Yoru. Dia tidak ingin terlalu lama menunda keberangkatannya.
"Baiklah, Kakak pergi dulu ya, Yoru. Jaga Kak Grace. Jika ada apa - apa, kabari Kakak."
Setelah mengatakan hal itu, Sam berlari menuruni anak tangga dan menghampiri Mr. Melv dan Adam yang sedang berbincang di ruang tamu yang harus dilewatinya sebelum dia menuju ke pintu depan.
"Dad, Kak Adam, Sam balik ke Apartemen ya? Sam akan pergi diantar oleh Pak Supir dan Robert. Tadi Sam juga sudah izin dengan Kak Grace," tutur Sam pada kedua lelaki itu.
"Baiklah, Hati - hati di jalan ya, Sam." Mr. Melv memberikan ucapan yang cukup singkat.
"Jangan lupa memberiku kabar jika kalian sudah tiba. Aku akan pusing jika Grace bertanya - tanya tentangmu saat di terbangun nanti." Adam mulai memberikan sedikit peringatan pada Sam.
"Siap, Kak! Sam pergi."
Akhirnya, Sam pergi sambil melambaikan tangan kanannya. Dia akan selalu pulang setelah melakukan tugas utamanya di Mansion Utama selesai.
>> Bersambung <<<
Sampai sini dulu ya..
Kita akan lanjut di next chap, Ingat untuk selalu beri like nya yaa, Kakak2..
Mohon bantu Author meningkatkan rating di TPG yaa, guys..
Bagi yang punya aplikasi NovelToon, sudah bisa bergabung dengan grup chat yang tersedia di bagian detail novel ini yaa..
Salam Kasih untuk Yg Terkasih
~~ Love You All ~~
IG : friska_1609