
"Bu, Shei duluan ya." lagi -ย lagi aku yang terakhir siapnya. Pekerjaanku sempat tertunda gegara Suamiku yang tidak bisa diam. Sedikit - sedikit meneleponku hanya menanyakan apakah aku sudah minum banyak atau belum.ย Dia tidak mau aku dehidrasi karena bekerja terlalu serius dan melupakan semuanya.
"Baiklah, pulanglah duluan. Hati - hati di jalan ya, Shei." Ucapku padanya sambil melambaikan tanganku.
Aku masih berkutat pada layar monitor dan keyboard yang ada di hadapanku. Aku harus menyelesaikan bagian ini. Besok pagi akan dipergunakan oleh pihak pemasaran. Beginilah kegiatanku, sebelum aku melaporkannya pada Arion, aku harus mengecek ulang dan memperbaiki kesalahan kata ataupun yang mengganjal.
"Sayang, kenapa kamu belum juga selesai dengan pekerjaanmu? Ayo! Kita kan masih mau pergi berbelanja." Dia datang, tapi tidak sabaran begitu menunggu pekerjaanku selesai.
"Sebentar lagi, Ar." Jawabku singkat.
Tidak ada lagi kata - kata yang terucap olehnya. Kini dia duduk di bangku Shei dan bertopang dagu melihat ke arahku. Aku tau kalau aku ini sudah memikat hatinya. Tapi tidak baik jika dia sampai harus memperhatikanku seperti itu. Kan risih.
"Ar, jangan melihatku seperti itu." Ucapku singkat tanpa menoleh ke arahnya.
"Sayang?" Arion memanggilku dengan nada yang lembut yang membuatku tidak bisa fokus mengetik lagi. Akhirnya kuputuskan untuk menutup semua perangkat komputerku dan menoleh ke arahnya.
"Hmm? Ada apa, Ar?" Tanyaku dengan nada yang tak kalah lembutnya.
Saat ini, di tempat ini, hanya ada kami berdua. Semua karyawan sudah pulang, begitu juga Steve dan Sam. Mereka berangkat dan pulang bareng sejak aku menikah dengan Arion.
"Aku boleh minta sesuatu?" Pertanyaannya itu membuatku semakin bingung dengannya.
"Boleh, asal tidak yang macam - macam. Apa itu?" Tanyaku penasaran.
"Aku mau kamu memanggilku dengan sebutan sayang. Bukan dengan panggilan nama, sayang. Mau yah?"
Manjanya Suamiku ini. Aku hanya bisa tersenyum mendengar permintaannya.
"Aku masih belum terbiasa, Ar." Jawabku singkat.
"Kamu bukan gak terbiasa, sayang. Istriku bisa memanggil Ed dengan sebutan sayang. Tapi dia tidak bisa memanggil Suaminya dengan sebutan sayang." Ucapnya dengan nada kesal.
Aku tertawa terbahak - bahak melihatnya bertingkah seperti itu. Siapa sangka, dia bisa cemburu pada Anak kecil seperti Ed. Dia hanya merengut terdiam memperhatikan aku yang sedang tertawa ini.
"Oke, oke, oke. Demi Suamiku, aku akan memanggilnya dengan sebutan sayang. Ternyata hanya karena cemburu dengan seorang Anak kecil, kamu minta di panggil sayang, gitu?" Goda ku padanya. Dia tersenyum manis melihat ke arahku.
"Coba katakan, sayang. Aku ingin mendengarnya sekarang juga." Dia memang tidak sabaran.
"Ayo! Kita berangkat, sayang. Sudah waktunya berbelanja, bukan?" Ucapku sambil berjalan melewatinya menuju ke lift.
Dia terlihat begitu senang dan berusaha menyamakan langkah kaki kami. Aku mencoba untuk senyaman mungkin berjalan berduaan seperti ini dengannya. Aku menggandeng tangannya yang berada di sebelah kananku. Dia terlihat begitu senang, padahal aku hanya melakukan apa yang dilakukan oleh pasangan pada umumnya seperti yang aku lihat di tempat umum.
"Aku sangat bahagia, sayang." Ucapnya singkat sambil mengelus kepalaku dengan lembut.
"Hmm? Kenapa sayang?" Tanyaku dengan menatap wajahnya yang berseri itu. Pesonanya sungguh berkali - kali lipat di saat tersenyum indah seperti itu.
"Karena hari ini kamu mau memanggilku dengan sebutan sayang, menggandeng tanganku seperti ini, dan..." Omongannya terputus. Dia membuatku penasaran sampai aku bertanya, "Dan apa?"
"Dan untuk pertama kalinya kamu berinisiatif untuk menciumku, meskipun hanya sekilas di bagian pipi. Kamu membuatku merasakan bagaimana rasanya dicintai." Ucapnya sambil mencium puncak kepalaku.
Sesampainya di Supermarket, kami pun berbelanja semua keperluan Rumah dengan menggunakan dua troli belanjaan. Ar senantiasa mendorong troli yang isinya belanjaan dapur, sedangkan troli yang aku sorong isinya adalah keperluan lainnya seperti sabun dan cemilan.
Setelah berbelanja begitu banyak barang, Kami pun pulang ke Rumah kami. Mansion pribadi yang sudah dengan susah payah dipersiapkan Arion sebagai hadiah pernikahan kami untukku.
Aku pun mulai memasak menggunakan bahan - bahan yang sudah kami beli. Belanjaan ini palingan hanya bisa bertahan selama 3 hari penuh. Karena aku memang tidak begitu suka menyetok barang di kulkas dalam jangka waktu yang lama.
Semua belanjaan disusun oleh seorang pelayan dan beberapa pelayan membantuku mengiris bawang, menggiling cabai dan ada juga yang mengaduk - aduk kuali agar makanan yang ku masak tidak gosong. Malam ini aku memasak sambal terasi. Sudah lama aku tidak makan makanan yang cocok dicolek dengan sambal terasi.
Selesai memasak, aku memerintahkan mereka untuk menghidangkannya dengan rapi, karena aku sudah harus mandi. Sungguh lengket kulitku akibat keringat di badanku saat ini.
Saat masuk ke dalam kamar, tanpa sengaja aku melihat Arion yang sedang bertelanjang dada memilih pakaian yang akan dikenakannya. Aku menunduk dan langsung mengambil pakaian ganti beserta handukku ke dalam kamar mandi.
"Sayang, kenapa terburu - buru begitu? Apa jangan - jangan kamu masih belum terbiasa dengan pemandangan yang indah ini?" Arion malah tertawa riang dengan menunjukkan bahwasannya dirinya itu indah untuk dipandang mata.
Meskipun badannya tergolong normal jika dilihat saat dia mengenakan jas, bentuk tubuhnya itu masih bisa dikatakan cukup menggoda, menurutku.
'Ahh..!! Apa yang telah aku pikirkan?' Umpatku mengingat apa saja yang sempat aku pikirkan tentang bentuk tubuhnya Arion.
**********
"Hmmm.. Masakanmu memang yang terbaik, sayang. Aku memang sangat beruntung bisa menikahimu, sayang." Ucap Arion sambil melahap makanan yang ada di atas piringnya. Dia makan dengan penuh semangat sampai aku tidak tega untuk memakan lauk yang bsia membuatnya makan dengan lahapnya.
Usai makan malam, kami akan duduk di sofa d ruang TV yang ada di sudut ruangan bagian barat Mansion ini. Aku duduk bersandar pada sofa. Sedangkan Ar? Dia sedang foku dengan laptop yang ada di pangkuannya.
"Ya?" Tanyaku singkat yang masih saja menutup mataku yang lelah ini dengan kepala masih tersandar.
"Kira - kira kamu maunya kita punya berapa Anak?" Tanyanya padaku yang membuat aku membuka mataku dan langsung menatapnya dengan tajam.
"Maksudmu? Kamu mau kita cepat punya Anak?" Tanyaku yang masih setengah sadar.
"Hehehehehe.. Kamu tau aja. Padahal aku hanya sekedar bertanya. Tapi kamu sudah mengerti diriku dengan baik, sayang" Ucapnya dengan penuh senyuman.
Dia pun meletakkan laptopnya dan mulai fokus padaku. Dia mendekatkan wajahnya padaku. Spontan aku memundurkan posisi dudukku.
"Tuh, kan. Kamu menghindariku lagi, sayang. Apa yang membuatmu risih padaku , sayang? Coba katakanlah. Ungkapkan semuanya, karena aku akan memperbaiki sikapku yang bisa membuatmu risih padaku."
Kelihatannya dia tersinggung dengan gerakan spontanku tadi. Aku jadi bingung mau menjawab apa padanya.
"Aku tidak bermaksud menghindarimu, sayang. Beneran. Tadi itu hanya gerakan spontan tubuhku saja. Aku kan masih harus membiasakan diri dengan segala sentuhan sampai aku juga harus belajar untuk menghadapi sikapmu yang manja itu, sayang." Ucapku sambil memeluk lengan tangan kirinya.
Aku tidak ingin dia berpikiran bahwa aku menghindarinya. Aku tidak akan tega melakukan hal tersebut, kecuali dia terbukti melakukan kesalahan yang fatal.
"Jadi, bagaimana dengan jumlah Anak kita? Apa kamu punya rencana tentang hal itu, sayang?" Tanyanya sambil mendekap tubuhku.
Aku menggelengkan kepalaku dan berkata, "Tidak, aku tidak punya rencana apa pun. Memangnya kamu punya keinginan?"
"Aku ingin Anak pertama kita adalah Laki - laki. Jika diberi rezeki lebih, aku ingin kita punya 3 Anak paling sedikit, agar ada yang membantuku mengontrol ketiga perusahaan Melv.Corp." Ucapnya sambil menarik tanganku berjalan menyusuri tangga menuju ke dalam kamar.
"Anak pertama laki - laki? Kenapa harus laki - laki?" Tanyaku heran mendengar penuturannya tadi.
"Biar ada yang membantuku menjagamu, sayang. Kalau di Kantor, aku bisa menjagamu. Kalau di Rumah, kamu bisa dijaga sama Anak kita, sayang." Ucapannya membuatku terkekeh geli. Pikirannya itu selalu membuatku tidak bisa berkata - kata lagi.
Saat ini kami sudah berada di dalam kamar. Arion menutup dan mengunci pintu kamar. Dia tersenyum terus sedaritadi. Aneh banget.
"Sayang?" Dia memanggilku untuk yang kesekian kalinya.
"Ya? Ada apa, sayang?" Jawabku tak kalah mesranya.
"Mendengarmu memanggilku dengan sebutan sayang begitu membuatku ingin menerkammu sekarang juga."
Dia memojokkanku hingga punggung ku bersentuhan dengan dinding kamar. Aku merasa dia akan melakukan hal itu lagi. Tapi, dia tidak mengucapkan apa pun lagi selain menciumku. Ya! Dia mencium bibirku. Sejak menikah, Suamiku ini kesukaannya adalah menciumku tepat di bibirku.
"Ayo! Kita tidur. Aku tau kalau kamu itu sudah lelah." Dia merangkulku dan membawaku ke arah tempat tidur. Membiarkanku membaringkan tubuhku.
Dia pun berbaring di sampingku. Memberiku ruang untuk bernafas. Menyelimutiku dengan selimut dan pelukannya. Dia memelukku dari belakang dengan posisi wajahny dibenamkan di tengkuk leherku. Inilah kebiasaannya sejak lama. Entah apa yang dicarinya dari bagian itu. Selalu saja membuatku sedikit risih.
Grace, kamu mau kemana untuk bulan madu kita nanti? Maaf ya, kalau aku belum bisa membawamu ke tempat yang romantis yang sesuai dengan pengantin baru seperti kita." Ucapnya lirih dengan wajahnya yang masih dengan tenang menempel di tengkuk leherku.
"Tidak apa - apa, Ar. Aku saja tidak kepikiran sampai sana." Ucapku sembari menenangkannya. Entah apa yang membuatnya sampai harus meminta maaf seperti itu.
"Tidak pergi berbulan madu juga, tidak masalah bagiku. Kalau hanya untuk mendapatkan momongan semata, di Rumah juga bisa, tidak perlu pergi sejauh itu, sayang." Ucapku sambil mengelus kedua tangannya yang masih dengna rajinnya melingkar di perutku.
"Baiklah, sudah kuputuskan, besok kita akan pergi berbulan madu menggunakan Jet Pribadi yang ada di Mansion Utama. Aku akan membawamu berbulan madu di beberapa tempat. Kita akan menghabiskan waktu selama seminggu untuk menikmati liburan kita, sayang. Sebelum nantinya aku akan sibuk dengan pekerjaanku." Tuturnya padaku dengan kalimat yang begitu panjang.
"Hah? Besok?" Tanyaku dengan nada sedikit nyaring.
"Iya, sayang. Besok kita akn pergi. Tadi aku sudah mengatur semuanya. Pekerjaanku akan di handle oleh Silvia untuk sementara waktu." Jawabnya dengan santai. Ekspresinya selalu datar - datar saja sejak tadi.
"Terserah padamulah, Ar. Aku tidak berani berkomentar lagi." Ucapku tak kalah santainya dengan Arion.
"Gitu dong, sayang. Nurut sama Suami. Ayo! Tidur. Besok aku akan membangunkanmu jika diperlukan."
Aku sudah tidak ingin membalas perkataannya itu lagi, selain menutup mataku. Hanya dengan memejamkan mata saja, aku akhirnya tertidur lelap. Begitu juga dengannya. Dia tertidur dengan gaya tidur yang sama dengan sebelumnya.
>>> Bersambung <<<
Sampai sini dulu ya..
Kita akan lanjut diย next chap, jangan lupa beri like nya yaa,ย guys..
Salam Kasih untuk Yg Terkasih
~~ Love You All ~~
๐ ๐ ๐ ๐ ๐