
GRACE POV
Padahal baru saja tadi siang aku berbincang ria dengan Kak Silvia. Sorenya aku dilarang berangkat kerja oleh Mama. Katanya ada tamu yang akan makan malam bersama keluarga.
Oh iya, adik aku si Sam, juga sudah di Siantar. Rencananya, waktu acara Wisuda ku, dia ikut ke Jakarta dan langsung balik ke Bandung.
Aku tidak tau siapa yang bakalan jadi tamunya. Papa sama Mama masak berdua. Mereka menyiapkan segala sesuatunya. Bahkan mereka membelikanku gaun cantik. Aneh tapi nyata..!!
"Grace, kamu harus tampil secantik mungkin hari ini ya. Ini tamu spesial. Jadi, jangan sampai kelihatan jelek. Kamu juga bantu adik kembarmu memilih pakaian yang cantik ya. Sam juga jangan tampil sembarangan, harus yang cakep."
Mama memperingatkan kami untuk menjaga penampilan kami. 'Ada acara apa sih, sebenarnya?' Aku penasaran.
Aku dan adik-adikku sedang bersiap-siap untuk pertemuan ini. Kulihat Papa dan Mama juga sudah siap menghidangkan semua menu makanan di atas meja makan. Mereka pun dengan terburu-buru masuk ke kamar untuk mempersiapkan diri.
Tiba-tiba ada suara orang memanggil. Maklum saja, rumah kami tidak menggunakan bel listrik atau sejenisnya. Jadi, tamu yang datang biasanya akan memanggil dari luar pagar.
Dengan tergesa-gesa, Mama keluar dan mempersilahkan orang itu masuk. Dia sebenarnya senior Mama di kampus dulu. 'Om Cakra?'
Mama pernah kuliah tapi tidak sampai Wisuda, karena Opung Boru (Nenek kami dari pihak Mama dalam logat Batak) sempat terkena stroke dan butuh biaya yang banyak untuk penyembuhannya. Jadi, Mama lebih memilih untuk putus kuliah untuk membantu biaya rumah sakitnya Opung.
"Selamat datang, Cakra Wijaya." Papa dan Mama menyambutnya dengan penuh senyuman manis.
"Selamat datang Om." Kata kami berempat secara serentak.
"Yah, kamu makin cantik saja Grace." Dia hanya tersenyum pada orangtuaku tadi, tapi dia malah bisa berkata seperti itu padaku.
Aku hanya tersenyum tak menjawab apapun. Kami memang sudah lama mengenalnya. Dia sering berkunjung ke rumah. Dan juga sering mengantar dan menjemputku ke/dari sekolah sewaktu SMP sampai lulus SMA.
Aku sudah merinding melihat tatapannya. 'Apa ini suatu kebetulan atau memang semuanya sudah direncanakan?'
Setelah si Om masuk ke dalam rumah, kami langsung menuju meja makan dan makan malam bersama. Si Om lalap (terus-menerus dalam logat Batak) melirik ke arahku. Entah apa yang akan terjadi malam ini, aku sudah merasa ini seperti suatu perjodohan.
Si Om adalah seorang Dokter Bedah yang juga membuka beberapa usaha toko handphone di Siantar dan Medan. Karena kesibukannya sebagai Dokter itu lah yang membuat sampai sekarang tidak memiliki istri. Dia itu jomblo selama 40an tahun.
Setelah selesai makan, kami semua berkumpul di ruang tamu. Semuanya penuh dengan wajah serius menatap diriku.
"Grace, kamu kan sudah lulus Sarjana, sudah saatnya memikirkan masa depan. Papa dan Mama sudah memikirkannya. Kamu akan kami jodohkan dengan Cakra." Papa membuka suara menjelaskan sedikit tentang pertemuan malam ini.
"Kenapa harus dijodohkan segala, Pa? Apa Grace tidak sebegitu lakunya, hingga harus dijodohkan segala?" Aku sangat kesal dengan keputusan mereka yang mendadak ini.
"Bukan begitu Grace. Kamu itu harus tau diri. Kamu itu juga harus mengerti posisi kita saat ini. Kita ini sedang dililit banyak hutang dan jujur saja, semua uang tabungan kita itu sudah dibawa kabur oleh teman Papa mu yang katanya mau ikutan berinvestasi membuka usaha bersama dengan Papamu."
Mama menjelaskan dengan panjang lebar dan tidak memberiku sedikit celah untuk menentangnya.
"Kamu itu jangan cuma mementingkan kebebasan dan kesenanganmu saja, Grace.Selama ini kan Mama tidak pernah menuntut apa pun darimu. Mama juga tidak pernah meminta sepeserpun dari gajimu selama kamu kerja. Mama pun tidak permah meminta kembali segala biaya hidup yang sudah diberikan padamu."
"Kamu itu tidak boleh egois, Grace. Toh juga kamu sudah kenal dekat dengan Cakra. Dia itu sudah menyukaimu sejak lama. Dia hanya menunggu waktu yang pas untuk melamarmu. Lihatlah, dia itu tampan dan mapan." Mama melanjutkan ucapannya.
"Hanya ini permintaan Mama padamu Grace. Kamu itu harus bersedia dijodohkan dengannya. Dia akan melunaskan semua hutang Papamu dan membantu kita untuk menangkap pelakunya. Jangan menolaknya Grace. Hanya ini jalan satu-satunya bagimu untuk menolong keluarga kita dari keterpurukan."
Adik-adikku hanya diam menatap kedua orangtuaku dengan tatapan tidak percaya. Mereka ini tidak pernah
memikirkanku. Padahal aku tidak pernah melawan. Meskipun aku di posisi benar sekalipun, aku akan tetap salah di mata mereka.
'Apa aku selama ini egois? Aku juga tidak pernah menuntut apa pun. Aku tidak pernah mengeluh selama ini. Aku sudah bekerja sejak usia 15 tahun sebagai pelayan di sebuah Rumah Makan. Itupun karena ide gila Mama yang tidak mau jika aku membebaninya dengan biaya keperluan sekolahku.'
Aku hanya menunduk dalam diam. Aku kecewa dengan keputusan sepihak mereka. Aku tidak tau apa yang harus aku lakukan.
Jika aku menjawabnya pun, aku hanya akan semakin disudutkan oleh Mama. Itulah kemenangan Mama. Mama punya sifat bisa membalikkan semuanya agar semuanya itu berada dipihaknya.
"Bapak sama Ibu dan adik-adik bisa meninggalkan kami hanya berdua saja disini? Ada hal yang ingin saya sampaikan padanya."
Si Om itu sudah berbicara dengan nada lembutnya. Dia memang lembut sih, tapi dia juga keterlaluan. Selama ini dia mendekatiku dan keluargaku dengan maksud ingin menjadikanku sebagai istrinya? Yang benar saja.
"Baiklah, kalian berdua memang butuh privasi." Papa membawa yang lainnya ke kamar. Mereka meninggalkanku hanya berdua dengan lelaki ini.
"Grace. Jangan menunduk begitu dong. Kan Om tidak marah padamu. Mau tidak mau, kamu memang harus bisa mengambil keputusan yang bijak, Grace. Papa dan Mama mu sedang mengalami kesulitan. Tabungannya dari hasil Pabrik Bihun nya sudah ludes dan mereka juga punya hutang Bank."
"Om bisa membantu, tapi kan Om juga tidak bisa membantu secara cuma-cuma. Om memang sudah sejak lama menyukaimu, Grace. Bahkan Om sudah mencintaimu, Grace. Om akan memberikan apapun yang kamu inginkan, jika kamu bersedia menikah dengan Om."
"Om, usia kita ini terpaut begitu jauh. 20 tahun itu tidaklah normal untuk menjalin sebuah hubungan. Aku tidak
pernah memikirkan hal seperti ini akan terjadi padaku, Om." Aku menyela perkataannya tanpa menatapnya.
"Usia yang berbeda 17 tahun juga tidak normal? Buktinya Papa dan Mama mu langgeng-langgeng saja, Grace. Itu tidak ada bedanya dengan kita. Kalau kamu mau, aku tidak memerlukan balasan cinta darimu. Hanya aku yang mencintaimu saja, itu sudah cukup Grace."
"Aku akan membuatmu bahagia dengan memberikan apapun yang kamu inginkan. Semua yang kamu mau, akan aku kabulkan. Percaya padaku Grace. Aku benar-benar mencintaimu Grace. Hanya denganmu saja, aku bisa tertawa. Aku tidak pernah bisa seperti itu dengan wanita lainnya, Grace."
Kelihatannya dia sudah kesal padaku. Kata-katanya yang aku-kamu itu penuh dengan penekanan. Dia tidak suka penolakan. Aku tau itu maksud tersirat dari perkataannya.
"Aku tidak bisa menolak perjodohan ini?" Aku bertanya dengan gugup padanya.
"Kalau kamu menolak, berarti kamu tega membiarkan keluargamu terpuruk Grace. Aku beritahu kamu ya, Grace. Hutang Bank Papa mu itu sekitar 2Miliyar. Apa kamu sanggup melunaskannya? Hutang ini sudah nunggak selama sebulan, Grace. Karena mereka sudah putua asa makanya meminta bantuan padaku."
"Aku tidak akan memaksa, jika kamu tidak mau. Aku hanya bilang kalau kamu itu tidak punya pilihan lain lagi, Grace. Ya sudah, Aku pulang dulu. Kamu pikirkan baik-baik sebelum mengambil keputusan."
Dia pergi begitu saja tanpa pamitan dengan orangtuaku. Dia itu memang bukan orang baik. Lihat saja, untuk pergi dari rumah orang saja tidak punya sopan santun.
'Kenapa dulu aku mau-mau saja jika dia yang menjemputku? Bodohnya aku.' Aku merutuki diriku sendiri.
"Aku tidak mau menikah dengan Om-Om. Kalau memang butuh uang, aku bisa mencari solusinya. Asal Mama dan Papa mau membatalkan perjodohan ini." Aku sudah kesal, kali ini aku harus melawannya.
"Kamu tidak bisa begitu Grace. Kan Mama sudah bilang, ini permintaan Mama padamu dan tidak akan ada yang lainnya. Sebelum semuanya semakin rumit, kamu harus menikah dengannya."
"Itu sama saja dengan kalian menjualku padanya, Ma. Aku tidak mau menerima perjodohan ini."
"Kamu jangan membantah lagi..!! Asal kamu tau ya, aku itu sudah bersabar kali membesarkan kalian. Kalian sudah menikmati apa yang seharusnya aku nikmati. Mama kalian itu tidak ada meninggalkan apapun kecuali hutang
ratusan juta."
"Itukan karena Mama sakit parah, jadi harus cuci darah setiap minggunya. Pembahasan ini tidak ada hubungannya dengan perjodohan ini, Ma." Aku semakin kesal pada Mama.
Kalau ada yang melawan Mama, pasti pembahasannya akan ditarik panjang entah dari mana sampai mana. Inilah yang membuatku agak menjaga jarak dengan Mama.
"Itulah sebabnya, karena hutang yang ditinggalkan Mama mu itu, aku juga harus banting tulang melunaskan hutangnya. Dulu pun usaha Papa mu masih usaha kecil dan semakin maju setelah menikah dengan aku."
"Lebih baik kamu menikah dengannya daripada kamu mengikuti jejak Mama kamu yang tidak baik. Kamu belum tau saja kedok Mama mu yang sebenarnya, karena waktu itu kamu masih kelas VI SD dan belum tau apa-apa."
"Ma, jangan ungkit permasalahan orang yang sudah tiada. Sekarang itu kita sedang membahas tentang perjodohan ini." Mataku mulai panas dan berair. Aku menahan airmataku agar tidak terlihat lemah di hadapan Mama.
"Aku ini sudah begitu baik padamu, Grace. Membantumu mencari jodoh yang baik. Dia itu orang yang setia. Aku tidak mau kamu itu menjadi pelakor seperti Mama mu. Kamu itu anak perempuan yang sudah ku didik dan ku
besarkan. Jangan sampai aib Mama mu itu diketahui orang."
"Aib apalagi, Ma? Apa Mama punya buktinya?" Aku mulai geram dengan ocehannya.
"Asal kamu tau ya, Papa itu dulunya memiliki istri di Jepang dan masih ada hubungan seperti keluarga sendiri dan memiliki seorang anak lelaki. Tapi karena Papa mu merantau ke Medan, Papa mu bertemu dengan Mama mu. Mama mu menggodanya karena tergiur dengan wajah tampan dan gaji Papa mu yang saat itu tidaklah sedikit sebagai seorang teknisi mesin."
"Mama mu hamil di luar nikah dan keluarganya menuntut pertanggungjawaban pada Papa mu. Istri Papa mu mendengar kabar pernikahan Papa mu di indonesia dan memutuskan untuk bercerai dengan Papa mu. Sekarang dia sedang di rawat di Rumah Sakit karena sakit keras. Dia itu sudah terlalu banyak mabuk-mabukan karena bercerai dengan Papa mu."
"Aku tidak percaya dengan semua itu. Mama pasti hanya ingin memojokkan ku kan?" Aku terduduk lesu mendengar ucapan Mama.
"Kalau kamu tidak percaya, tanyakan saja pada Papa mu. Aku juga sebenarnya kecewa karena yang ku tau hanya Mama mu mantan istrinya. Tapi ternyata? Ini fakta, Grace. Kalau bukan karena sikembar, Mama juga sudah lama
ingin menceraikan Papa mu."
"Ini semua demi kamu dan keluarga kita, Grace. Kamu tidak punya pilihan lain lagi, Grace. Kamu harus menjadi anak yang penurut kali ini saja. Mama hanya tidak mau kamu bernasib sama dengan mama mu itu. Sekarang kamu sudah cukup umur untuk menikah, Grace."
Aku tidak bisa lagi menahan airmataku. Mama sudah membuatku tidak bisa berkata apa-apa lagi. 'Sekarang aku harus bagaimana Tuhan? Kenapa semuanya jadi seperti ini?'
Mama meninggalkanku sambil berkata, "Pokoknya seminggu setelah Wisuda, kamu akan bertunangan dengannya. Kita akan menggunakan Adat Batak dan tidak akan ku izinkan kamu menggunakan Adat Chinese. Itupun kalau kamu masih mau mendapatkan restu dariku."
Aku memasuki kamar dan mengganti pakaianku. Hatiku hancur dan pikiranku pun berantakan. Saat ini aku hanya ingin menagis melampiaskan semua emosiku di atas tempat tidur.
Tidak terasa sudah sejam penuh aku mengurung diri dikamar. Adik kembarku tidur berempat bareng orangtuaku. Mereka sama sekali tidak menemuiku.
Aku berpikiran untuk menelepon Kak Silvia. Aku benar-benar membutuhkan seseorang untuk menjadi tempat curhatku. Hanya dia yang bisa memberiku kenyamanan.
"Halo Kak Sil." Ucapku sendu.
"Kamu kenapa Grace? Kamu sedang sedih? Cerita sama Kakak. Kakak siap mendengarkan." Kata Kak Silvi yang menenangkan bagiku.
"Kak, sebenarnya, malam ini aku dijodohkan dengan Om-Om yang usianya berjarak 20 tahun lebih tua dariku. Aku tidak punya pilihan lain lagi, Kak. Mama menuntut agar aku menerima perjodohan ini."
"Apa alasan mereka Grace? Pastinya ada alasan di balik semua itu."
"Pertama, karena orangtuaku sedang terlilit hutang Bank dan uang tabungannya dari hasil Pabrik Bihun sudah dibawa kabur oleh teman Papa yang ingin berinvestasi bareng Papa di Medan."
"Trus?"
"Kedua, Si Om adalah teman baik Mama. Senior Mama saat kuliah dulu. Dia itu Dokter bedah dan pemilik beberap
toko handphone di Siantar dan Medan. Dia sudah dekat dengan aku sejak usia 15 tahun. Dia bahkan menyukaiku, ehh, bukan. Dia bahkan mencintaiku saat aku masih belia hingga sekarang."
"Lalu?"
"Ketiga, si Om akan melunaskan hutang Papa dan membantu menangkap pelaku penipuan setelah menikah denganku. Mama juga sudah berhasil memojokkanku setelah mengungkit masa lalu alm.Mama ku, Kak."
"Yang sabar ya, Grace. Nanti aku bantu kamu cari solusi yang tepat ya? Kamu jangan bersedih lagi. Kan aku juga ikutan sedih jadinya."
"Iya, Kak. Memang Kakak yang terbaik. Aku menjadi lebih tenang setelah mengatakannya pada Kakak. Kemungkinan saat acara Wisuda ku nanti, dia akan ikut denganku, Kak. Dia itu jomblo 40tahunan Kak. Jadi, dia tidak berniat untuk melepasku, karena dia sudah sejak lama menargetkanku untuk menjadi istrinya."
"Ya sudah, kamu istirahat dulu ya. Kamu kan habis nangis, jangan sampai kamu drop. Besok kan kamu masih haru mengantar-jemput adik kembarmu dan sorenya kerja lagi. Apa pun itu, jangan sampai kamu sakit ya, Grace. Kan kita masih harus ketemuan di acara Wisudamu nanti."
"Baik Kak. Aku rindu banget sama Kak Silvi. Hanya Kak Silvi yang mengerti aku."
"Selamat malam Grace, istirahat yang cukup ya. Bye."
"Selamat malam juga, Kak. Terimakasih sudah mau mendengarkan curahan hatiku malam ini ya, Kak. Bye."
Aku mengakhiri panggilan ini. Sebenarnya, malam ini aku tidak akan bisa tertidur. Aku merasa tidak bertenaga lagi setelah menangis tadi.
'Apa aku harus pasrah dengan keputusan Papa dan Mama? Apa Tuhan masih memberikanku pilihan lain yang lebih baik daripada menikah dengannya?'
Aku hanya bisa terduduk lesu di atas tempat tidurku. Malam ini sungguh malam yang panjang.