THE PERFECT GIRL

THE PERFECT GIRL
TPG2_153



"Kak, Ed masuk ke dalam sana. Dan seakarang ruangan itu tidak bisa terbuka. Aku sudah mendobraknya, tapi tetap saja tidak terjadi apa - apa." Dhani mengatakan semuanya dengan wajah tertunduk.


Dhana mengangkat kerah baju Dhani dan dengan kesalnya, Dhana melemparkan tinjuannya ke arah pipi Dhani dengan sekuat tenaga. Seketika bibir Dhani meneteskan cairan kental berwarna merah.


"Sekarang kamu dobrak terus pintu itu bersama dengan penjaga keamanan. Aku akan mencari bala bantuan pada yang lainnya. Kita harus segera mencari Ed secepatnya!" teriak Dhana pada adik kembarannya itu dan langsung berlari ke arah pusat keamanan yang berada di lantai dasar.


Dhani mengabaikan tatapan aneh para pegawai dan berjalan dengan langkah oleng ke arah pos satpam. Dia meminta bantuan mereka untuk mendobrak pintu yang berada di pojok kanan kantin 03. Satpam yang berjumlah 5 orang itu dengan sigap mengikuti Dhani dan membantunya mendobrak pintu kayu yang sangat sulit dihancurkan.


Tak berapa lama, mereka dihampiri oleh pihak keamanan yang jabatannya lebih tinggi daripada sekuriti. Mereka membawa senjata laser untuk memotong bagian pintu.


Dugaan Dhana benar. Dia sudah menduga kalau dibalik pintu kayu itu terdapat pintu besi yang membuat Dhani kesulitan saat mendobraknya. Tidak ada yang tau, sejak kapan ruangan itu ada pintu besi yang seperti itu.


Setelah pintu terbuka, mereka masuk ke dalam dan berpencar mencari keberadaan Ed. Sedangkan sekuritinya hanya memblokir jalan menuju ke kantin 03. Kericuhan yang terjadi pun menyebar dengan sangat cepat. Seluruh pegawai di gedung Melv. Corp mengetahuinya, kecuali orang - orang yang sedang berada di dalam ruang rapat.


Dhani terus berdoa di dalam hatinya agar diberikan petunjuk oleh Yang Maha Kuasa untuk menemukan Ed. Sambil mencari, Dhani menangis tersedu - sedu mengingat peristiwa singkat yang membuatnya terpisah dari Ed.


"Dhani! Jangan seperti banci! Kamu itu tidak seharusnya menangis!" bentak Dhana pada Dhani yang sedang senggugukan karena lelah menangis.


Dhani mengelap air matanya dan hanya tertunduk lesu. Dia tidak ingin menambah beban pikiran sang Kakak. Dia menyesali perbuatannya karena terlalu membebaskan pergerakan Ed.


Semua orang berusaha keras untuk mencari Ed sampai ke setiap sudut ruangan. Tapi, mereka tetap tidak menemukan apa pun. Sedikit jejak pun tidak terlihat sama sekali. Ruangan itu kosong! Tidak ada apa - apa di sana.


"Dhani? Apa benar Ed masuk ke dalam ruangan ini?" tanya Dhana dengan kesalnya.


"Benar, Kak. Ed masuk ke dalam ruangan ini. Aku tidak pernah berbohong, Kak. Apalagi pada Kakak." Dhani menjawab dengan menunjukkan keyakinannya pada sang Kakak.


"Tidak ada apa pun di ruangan ini, Dhani. Apa kamu mempermainkan kami?" tanya Dhani dengan kesal pada Dhani.


Dhani menggelengkan kepalanya. Dia sangat yakin dengan apa yang dilihatnya. Ed memasuki ruangan ini dan dia terlambat untuk mengikuti Ed. Dia malah terjebak di luar pintu karena pintu itu ternyata tertutup oleh pintu besi sebagai pelapisnya.


Dengan emosi yang tidak teratur, Dhana memberikan perintah pada pihak keamanan untuk memeriksa CCTV seluruh gedung. Dia ingin memastikan apakah ada orang yang masuk dan keluar di Melv. Corp dengan cara yang mencurigakan pada saat dia sedang pergi membeli pesanan Ed.


Seluruh pegawai merasa was - was. Mereka jadi tidak bisa fokus pada pekerjaan mereka, karena peristiwa yang terjadi di kantin perusahaan. Mereka mengkhawatirkan akibat dari kelalaian Dhani.


Pastinya, Grace akan marah besar jika mengetahui keponakan kesayangannya menghilang di hari pertamanya membawanya ke perusahaan. Mereka semua menyalahkan Dhani akan masalah ini.


Setelah melalui proses yang cukup panjang dan memakan waktu yang lama, mereka pun menemukan titik terang. Ada sebuah mobil misterius yang keluar dari pekarangan luas yang berada tepat di belakang gedung Melv. Corp. Mereka yang bekerja di bagian keamanan saja, merasa heran dengan peristiwa penculikan itu. Sangat singkat dan teratur.


"Para penyusup itu pasti sudah merencanakannya jauh - jauh hari sebelumnya. Sedikit saja kita lengah, mereka langsung beraksi dengan cepat." Dhani meninjau kembali kejadian yang hanya sebagian kecil dari skenario para penyusup itu.


Drrttt.. Drrttt.. Drrttt..


Ponsel Dhana berdering. Dia sedikit takut untuk mengangkat panggilan dari atasnannya, Grace. Tapi, mau atau tidaknya, dia memang harus dan wajib untuk mengangkat panggilan tersebut. "Ya, Bu!" ucap Dhana singkat tanpa mau berbasa - basi.


"Dhan, sudah waktunya makan siang. Kalian ada di mana sekarang? Cepatlah kembali bersama dengan Ed dan Dhani." Grace sudah memberikan perintah pada si kembar.


Dhana tidak tau lagi, apa yang harus dikatakannya. Dia hanya bisa diam sampai panggilan itu berakhir. Dia pun berjalan menghampir Dhani dan mereka berdua menghadap pada Grace.


Grace merasa heram melihat si kembar datang dan tidak membawa Ed ke hadapannya. Dia pun bertanya dengan herannya, "Di mana Ed? Kenapa hanya kalian berdua yang datang?"


"Maaf, Bu." Jawaban singkat yang diberikan Dhana membuat Grace marah. Dia sudah bisa menduga, apa yang terjadi pada Ed.


Seketika Grace bangkit dari tempat duduknya sambil memukul meja kerjanya dengan kuat. Dia memelototi kedua Bodyguard yang sudah dipercayainya untuk menjaga Ed selama dia disibukkan dengan pekerjaannya.


"Katakan! Di mana Ed, keponakanku itu? Apa yang terjadi, Dhan? Jawab!" teriakan demi teriakan pun di arahkan Grace pada si kembar.


Dhani pun maju selangkah dari Dhana dan mulai menceritakan apa yang terjadi.


".... Jadi, Ed masuk ke pintu itu dan aku yang sedang mengejarnya pun tidak bisa mengikutinya lagi. Karena pintu itu tertutup dengan sangat cepat dan tidak bisa didobrak. Setelah Kak Dhana datang bersama dengan pihak keamanan, barulah pintu itu dilaser dan kami semua bisa masuk ke dalam. Kami sudah berusaha dengan baik untuk mencari keberadaan Ed, tapi maaf, Bu. Kami tidak bisa menemukan keberadaan Ed sampai saat ini."


Raut wajah Garce berubah menjadi lebih sangar dari sebelumnya. Dia begitu marah pada si kembar, tapi did sisi lain, dia begitu mengkhawatirkan keberadaan Ed.


"Kak, mari kita makan siang. Kak Elvina tidak bisa datang karena dia punya janji untuk menemani Mommy dan Kak Silvia untuk berbelanja keperluan rumah. Jadi, Supirlah yang mengantarkan bekal untuk kita."


Tiba - tiba saja Samuel datang dan memasuki ruangan yang penuh dengan hawa dingin. Dia mengabaikan tatapan aneh yang diarahkan padanya. Dengan santainya, dia duduk di sofa dan membuka bekal makanan yang sudah dibawanya.


"Aku tau apa yang Kakak pikirkan, tapi Kakak juga harus mengisi perut Kakak. Jangan sampai Kakak lupa dengan yang ada di dalam sana. Dia juga butuh nutrisi untuk tetap bertahan. Kemarilah, Kak." Sam melambaikan tangannya memanggil sang Kakak.


Dia menoleh sekilah ke arah si kembar dan berkata, "Pergilah! Carilah keberadaan Ed dengan cepat. Aku takut, kalian merasakan kemarahan Kakakku kalau kalian terlalu lama berdiri di sana. Kalian bukanlah tandingannya. Pergilah! Sebelum Dia berubah menjadi monster."


Dhana dan Dhani menundukkan kepalanya pada Grace dan Sam, lalu pergi meninggalkan ruangan itu. Meskipun mereka tidak mengerti dengan apa yang dikatakan oleh Sam, mereka tetap merasakan ketakutan yang besar setelah melihat ekspresi Grace yang menyeramkan itu.


Grace hanya diam. Namun ia berjalan ke arah Sam dan duduk di sebelah Sam. Dia terlalu mengkhawatirkan Ed. Hanya Ed lah yang memenuhi isi kepalanya.


"Ini Kak. Makan semuanya sampai habis. Kakak harus jaga kondisi tubuh Kakak, agar Kakak bisa membantu yang lain mencari keberadaan Ed. Kalau Kakak sendiri sajaj tidak makan, gimana bisa Kakak punya energi untuk mencari Ed?" Pertanyaan yang dilontarkan oleh Sam menyadarkan Grace dari lamunannya.


Tidak semua orang bisa dengan baik dan benar menasihati Grace. Sebab Grace adalah perempuan yang sangat keras kepala. Grace pun makan dengan lahap sembari  mengingat Ed.


'Apakah Ed sudah makan? Apakah Ed baik - baik saja di sana? Apakah Ed menangis?' Grace membatin pertanyaan itu berulang kali.


Usai makan, Grace langsung bangkit dari tempat duduknya dan berjalan menuju ke meja kerjanya. Dia mengambil ponselnya, mengetikkan sesuatu di layar ponselnya.


Grace merasa gelisah, karena tidak ada yang terjadi pada ponselnya. Tidak ada yang merespon pesannya. Padahal dia sudah mengirimkan sebuah pesan yang sama pada beberapa orang kepercayaannya termasuk si kembar.


Sesungguhnya sangat sulit bagi Sam untuk mengabaikan sang Kakak. Tapi, dia tidak bisa mengatakan kebenarannya. Sam sudah tau semua rencana Steve. Dia bisa melakukan semua pekerjaan Steve dengan baik pun karena arahan dari orangnya langsung.


Ya! Sam sendiri saja tidak menyangka kalau dia akan mengetahuinya lebih dulu daripada Kakaknya. Selama dua ini, Sam sudah berusaha keras untuk tidak membocorkan informasi sekecil apapun itu pada keluarganya. Dia menahan diri untuk tidak mengatakannya sampai hari itu tiba.


Sam hanya bisa berdoa untuk kesembuhan Kakak Iparnya dan membantu mereka untuk memperhatikan kondisi Grace selama Ar masih belum ada kabarnya sama sekali.


**********


"Steve! Lihatlah! Ada yang aneh dengan pergerakan GPS (Global Positioning System) milik Ed. Mungkin orang itu telah beraksi. Mereka sudah berhasil membawa Anakku ke markas mereka. Tolong kamu caritahu secepatnya. Aku akan melakukan sesuatu pada mereka," ucap Ricky sambil mengirimkan kode GPS ponsel milik Ed.


"Bang? Apa maksud dari semua ini? Apa Abang sengaja membuat Ed menjadi umpan untuk memancing penjahat itu? Abang sungguh tega!" Steve malah meneriaki Ricky sambil menggelengkan kepalanya. Dia merasa Ricky sudah tidak waras dengan melakukan hal konyol seperti itu.


"Sudah! Diamlah! Aku tau apa yang harus aku lakukan. Cepat bantu aku menemukan titik lokasi itu sesegera mungkin, sebelum mereka mengetahui kalau Ed membawa ponselnya bersamanya!" bentak Ricky dengan tegasnya.


Steve mengambil alih laptop yang dibawa oleh Ricky saat berkunjung. Dia memang tidak begitu suka melakukan hal seperti itu, tapi dia mampu melakukannya. Setelah dia menemukan lokasi para penculik Ed, dia langsung mengirimkannya pada Ricky.


Ricky tidak lagi menunda waktu. Dia menghubungi para anggotanya yang memang sudah disiapkannya untuk mengikuti Ed kemana pun dia pergi. Mereka tidak bisa sembarangan masuk ke dalam gedung Melv. Corp. Tapi, mereka selalu sedia menjaga sekeliling gedung Melv. Corp.


"Posisi?" tanya Ricky singkat.


"Bos, kami sudah mengikuti mobil yang membawa Ed keluar dari Melv. Corp. Tapi, kami kehilangan jejak. Bagaimana ini, Bos?" anggotanya kembali bertanya.


Ricky tersenyum dan berkata, "Aku sudah mengirimkan alamat lengkap lokasinya. Aku ingin kalian bersabar dan ikuti rencana awal kita. Aku yakin, mereka tidak akan berani melukai Anakku. Kalau mereka berani melukai setitik saja kulit Anak kesayanganku, akan aku pastikan mereka akan mengalami penderitaan yang lebih berat di bandingkan siksaan Neraka! Kalian harus selalu sedia untuk melakukan apa pun, jika Ed mengalami sesuatu di sana. Mengerti?"


"Siap, Bos!"


Setelah mendengar jawaban yang diinginkannya, Ricky langsung mengadakan rapat mendadak yang akan dilaksanakannya saat itu juga. Dia menghubungi Asistennya selama memimpin di Melv. Corp dan pergi begitu saja meninggalkan Steve.


Rapat itu dilaksanakan di Aula khusus yang bia menampung beratus karyawan. Disanalah Ricky mengeluarkan peraturan baru dan memecat sebanyak 50 karyawan dengan alasan yang masuk akal dan tidak akan ada yang berani untuk melawannya.


Aura gelap yang terpancar selama rapat berlangsung, membuat setiap orang yang melihatnya menjadi bungkam. Mereka yang dipecat secara mendadak oleh pimpinan baru mereaka pun tidak bisa melakukan banyak hal. Lebih baik menerima kenyataan pahit daripada berurusan dengan orang seperti Ricky yang sudah terkenal kegilaannya di London.


"Alright, thank you for your cooperation so far in this company. This decision has gone through a long process and has received official permission from Mr. Melv as the founder of Melv. Corp. I hope that in the future, our performance can be further improved after this meeting is over. That is all and thank you," ucap Ricky mengakhiri rapat itu.


(Baiklah, terimakasih atas kerjasama kalian selama ini di perusahaan ini. Keputusan ini sudah melalui proses yang panjang dan telah mendapatkan izin resmi dari Mr. Melv sebagai pendiri dari Melv. Corp. Saya harap ke depannya, kinerja kita bisa lebih meningkat lagi setelah rapat ini usai. Sekian dan terima kasih.)


Begitu Ricky keluar dari ruangan yang ramai itu, banyak sekali orang - orang yang tidak menyangka dengan keputusan Ricky. Apalagi Ricky memecat orang - orang yang memiliki maksud tertentu pada perusahaan Melv. Corp.


Setelah mendapatkan informasi yang buruk mengenai perihal pemecatan besar - besaran yang dilakukan oleh Ricky, seseorang yang jauh dan tidak dapat dijangkau keberadaannya pun mengumpat kesal dalam kesendiriannya.


"SI*LAN..!! Berani - beraninya dia mengeluarkan semua anak buahku dengan mudahnya! Mereka semua memang orang - orang yang tidak berguna! Tidak bisa berlaku selayaknya seorang karyawan yang baik hanya selama bekerja di sana. Lihat saja, kamu akan menyesalinya. Aku sudah mempunyai umpan yang lebih baik daripada berpuluh - puluh orang yang tidak berguna itu. Ricky, kamu salah besar karena sudah menantangku secara tidak langsung."


>> Bersambung <<<


Siapa sebenarnya dalang di balik semua ini dan telah menjadikan Ed sebagai umpan semata?


Just wait for the next chap, guys ..


Bagi yang ingin bincang - bincang dengan Author, join grup yang tertera di detail ya, guys..


Jangan lupa supportnya melalui vote dan like  ya, Kakak²..


Salam Kasih untuk Yg Terkasih


~~ Love You All ~~


IG : friska_1609