
RICKY POV
Aku senang melihatnya bermain dengan jagoan kecil ku. Mereka terlihat begitu kompak. Saat ini, Grace terlihat lebih ceria dari sebelumnya.
"Suami ku, sudah seharusnya Grace mendapat kebebasannya kembali. Biarkan dia berkarir dan pergi bertemu dengan keluarganya."
Seorang perempuan datang mendekati aku yang sedang memandang ke arah taman belakang rumah melalui balkon dari kamar ku. Aku menoleh pada nya.
Ya! Dia adalah istri ku. Aku kenal dengan nya selama tinggal di Indonesia. Sebenarnya, dia adalah anak dari keluarga yang tergolong miskin di Indonesia. Aku mencintainya karena dia sangatlah mandiri dan pekerja keras.
"Semua keputusan itu ada di tangan Grace sendiri. Dia yang belum mau pulang, dengan alasan tidak mau membuat keluarga nya khawatir dengan kondisi nya itu. Dia ingin melakukan hal yang belum pernah ia lakukan di sini sebelum dia kembali ke sana."
Aku berbalik dan memeluk pinggang istri ku tercinta ini, "Apa yang kamu ada dalam pikiranmu itu, sayang? Katakanlah." Ucap ku dengan lembut.
"Kalau memang dia masih belum mau pulang ke Indonesia, kamu kan bisa memberikannya pekerjaan di perusahaan mu. Gimana menurut mu, suami ku?"
Aku terdiam sejenak, aku memikirkan hal yang dikatakannya pada ku. Ada benar nya juga, Grace sudah bisa bergerak aktif sekarang, jadi dia sudah bisa bekerja mulai besok.
"Baiklah, istri ku. Grace sudah boleh ikut dengan ku berangkat ke kantor besok pagi. Kamu yang sampaikan pada nya ya."
CUP...
Ku kecup kening nya dengan lembut. Ehh, dia malah blushing di pipi. Aku pun segera melepas pelukanku dari pinggangnya.
"Baiklah, Suamiku. Aku akan mengatakannya pada Grace sekarang juga. Tunggu saja di sini."
Setelah dia meninggalkanku sendirian di sini, aku mulai mengarahkan kembali pandanganku ke taman itu. Aku melihat mereka bertiga yang sedang bersendagurau.
'Grace...'
Aku sangat mengingat kejadian waktu itu. Kejadian yang hampir merenggut nyawa nya.
**********
Dua tahun yang lalu..
Aku menerima telepon dari seseorang yang selalu menghindar dari ku sejak semasa sekolah. Adam.
Dia memberitahukanku tentang penculikan Grace. Aku sempat emosi pada nya. Bukan. Aku emosi pada mereka yang berani menyentuh seorang yang sangat berharga bagi ku.
Aku sangat menyayangi Grace, tapi hanya sebatas seorang Kakak terhadap Adik nya. Dia adalah seorang malaikat bagi ku. Dia penolong ku di saat aku bukan lah apa-apa.
'Aku harus menolong nya!'
Asistenku yang sudah kuperintahkan melacak keberadaan Arion, sudah mendapat informasinya. Aku segera berangkat membawa sedikit pasuka Mafia yang sudah lama tidak beroperasi.
Aku sudah tidak mau menjadi Mafia, tapi kelompok ini harus tetap bertahan. Semua anggota Mafia sudah mulai bangkit dan bekerja selayaknya orang-orang biasa.
Kami memang di sebut sekelompok Mafia, tapi kami bukan lah Mafia yang membunuh tanpa alasan. Semua pembunuhan sadis dan tertutup kami lakukan karena adanya alasan tertentu yang membuat kami merenggut nyawa seseorang.
Saat ini, Grace berada di Moscow, tempat persembunyian para bandit. Kami harus segera tiba di sana. Kelompok Bandit itu di pimpin oleh Matvey. Sudah lama sekali aku tidak bertemu dengan nya.
Dia adalah penjahat kelas kakap. Aku tidak begitu menyukai sifat sombong nya itu.
Aku dan anak buahku yang hanya berjumlah 20 orang (tidak termasuk Pilot) pergi ke lokasi tersebut. Mereka adalah pasukan terbaik.
Setibanya kami di lokasi kejadian, kami banyak menjumpai mayat-mayat yang tergeletak begitu saja. Setelah memasuki gerbang utama nya, kami melihat para tentara yang berjuang menghadapi para bandit itu.
Semua anak buah ku mulai bergerak cepat, membunuh para bandit itu. Banyak juga di antara mereka yang masih berkeliaran di sekitar pintu utama.
Aku tidak peduli dengan mereka yang berdatangan mendekati kami. Aku hanya bergegas masuk ke dalam istana tempat persembunyian Matvey. Beberapa anak buah ku mulai bertarung dengan para bandit yang kami temui di dalam istana.
Aku tidak peduli. Aku hanya berjalan menuju sebuah ruangan dimana Cakra tergeletak. Aku melihat sesuatu yang membuat ku amat sangat marah.
Kemarahan ku ini sudah tidak terbendung lagi! Ku tembakkan peluru ke kepala perempuan laknat itu. Dia telah memukul Grace menggunakan kursi.
'Persetan dengan semua! Dia sudah berani melukai adik kesayanganku!'
Aku mendekati Grace. Ternyata dia sedang berada dalam pelukan Arion.
'Arion bodoh! Gara-gara dia yang tidak becus begini, Grace terluka parah!'
Langsung saja ku dorong tubuh nya ke samping dan mengambil alih Grace dari nya. Aku memarahinya, membentaknya, bahkan aku melampiaskan emosi ku pada nya.
Saat sedang di landa emosi yang begitu memuncak, aku mendengar lelaki yang lemah itu meminta maaf pada ku.
Aku ingin memberinya hukuman berat sampai tidak akan pernah bertemu dengan Grace lagi. Aku benci dengan para lelaki yang tidak bisa menjaga orang-orang terkasihnya.
Tapi, entah sejak kapan, aku mulai luluh dengan sebuah kata 'Maaf'. Mungkin karena pengaruh Grace selama tiga tahun bersama dengan nya.
Aku meringankan hukuman ku pada laki-laki itu. Dia harus membuktikan pada ku, seberapa besar kemampuannya untuk bertemu dan membuat Grace mau memihak pada nya.
Aku bisa saja memberinya uang untuk melunaskan hutang Papa nya, tapi aku yakin, dia pasti akan marah besar dengan hal itu. Bisa-bisa dia menjauhiku. Aku tidak mau itu terjadi.
Saat ini, aku membawanya ke Rumah Sakit terdekat dari lokasi persembunyian bandit itu. Aku harap Grace mendapat pertolongan pertama dengan cepat, agar tidak terjadi apa-apa padanya.
Para Dokter yang melihat kondisi menggenaskan yang dialami Grace langsung bergerak cekatan untuk menolongnya. Grace harus di operasi. Dia sudah kehilangan banyak darah. Dengan gerakan super cepat, mereka membawa Grace ke ruang UGD untuk ditangani lebih lanjut.
Selama menunggu Grace keluar dari ruang UGD itu aku pergi bersama dengan beberapa anak buah ku ke lokasi tadi.
Aku menghancurkan semuanya dengan merata. Temoat itu sudah rata dengan tanah karena bom dan dinamit yang ku lemparkan ke bawah sana.
Aku benar-benar melampiaskan amarah ku saat ini dengan mengebom tempat kejadian perkara tersebut. Terserah mereka mau berkata apa. Pemerintah Rusia pun tidak akan bisa melarangku saat ini.
Setelah seminggu keadaan Grace yang tetap kritis di sini, aku langsung memindahkannya ke London. Ke Rumah Sakit khusus yang sudah lama beroperasi untuk menangani anggota Mafia.
Aku juga ingin sekali memperkenalkan Grace dengan orang-orang yang aku cintai di sana.
'Grace, cepatlah sadar. Aku akan mempertemukanmu dengan mereka.'
Setibanya di ruang rawat khusus, aku meminta tiga Dokter ahli yang memiliki kemampuan yang berbeda-beda. Aku mau yang terbaik untuk perawatan Grace. Dia harus sembuh.
Beberapa hari aku tidak pulang ke rumah. Aku selalu ada untuk Grace dan sisa waktu ku ku pakai untuk ke kantor. Aku terbiasa membersihkan diri di kantor, karena dalam ruangan ku terdapat tempat beristirahat yang di lengkapi dengan kamar mandi dan lemari pakaian.
Tidak terasa, sudah 2 minggu aku tidak pulang ke rumah. Kondisi tubuh Grace pun sudah mem~~~~baik. Meskipun dia dalam keadaan koma, proses pemulihan luka-luka di tubuh nya berlangsung dengan sangat baik.
Aku merindukan baby boy ku. Malam ini aku pulang ke rumah. Tidak lupa, aku menyuruh beberapa anak buah ku untuk menjaga Grace. Mereka akan
bergantian menjaga pintu depan selama 24 jam. Aku hanya memperketat penjagaan selama masa perawatannya.
Aku pulang dan bertemu dengan buah hati ku, Edzard. Saat ini dia berusia 3 tahun, masih sangat menggemaskan.
"Ed, Where are you? Daddy sudah pulang, mana jagoan Daddy?"
Tiba-tiba saja ada yang menempel di kaki kanan ku. Aku menoleh ke bawah dan tersenyum pada nya. Ya! Dia ini anak ku. Anak kesayanganku, karena memang cuma dia anak ku satu-satu nya.
Aku dan istri ku tetap mengajari dia Bahasa Indonesia. Agar dia juga memahami Bahasa Ibu nya.
Aku pun menggendong anak ku dan berjalan mendekati istri ku.
"Suami ku, kamu sudah makan malam? Mau aku masakkan apa?"
Istri ku sangat lah perhatian dan pengertian. Dia tidak pernah menuntut apa-apa pada ku. Sikap nya ini yang membuat aku tidak bisa berpaling dari nya.
"Aku sudah makan tadi, istri ku. Selama dua minggu ini, aku tidak pulang ke rumah karena sibuk dengan pekerjaan kantor. Selain itu, aku juga sedang memantau perkembangan Grace, dia di rawat di Rumah Sakit Khusus. Besok aku akan membawa kalian menemuinya ya? Kamu mau kan?"
"Bagaimana bisa di sampai di rawat di sana, suami ku? Bukan nya dia sedang berada di Indonesia?"
Aku selalu mengatakan segala sesuatu nya pada istri ku ini. Karena dalam suatu hubungan itu harus dipondasikan dengan Kepercayaan dan Kejujuran antar pasagan. Aku lah yang menerapkan hal tersebut, jadi aku harus ikut mematuhi aturan yang berlaku.
"Iya, dia memang berada di Indonesia. Tetapi ada suatu peristiwa yang membuatnya sampai terluka parah dan harus mendapatkan perawatan intens."
Kami bertiga mulai duduk di sofa. Aku pun mulai menceritakan semua yang aku ketahui. Istri ku hanya mendengar sambil sesekali menganggukkan kepala nya.
"Saat ini, Grace butuh orang-orang yang peduli pada nya. Kamu kan tau, kalau aku sangat menyayanginya. Dia itu seperti malaikat bagi ku. Aku hanya ingin balas budi baik nya sejak dulu. Ini lah salah satu alasan mengapa aku membawanya bersama ku."
Aku menundukkan kepala ku dan merenung sesaat. Belaian tangan istri ku pada pipi ku membuatku menoleh pada nya.
"Kita ini keluarga. Kami akan ke sana setiap hari di saat kamu bekerja. Kami saja yang akan merawatnya. Kamu fokus dengan pekerjaan mu saja. Bagaimana sayang?"
CUP...
Aku mengecup puncak kepala nya. Dia memang sangat baik. Tidak ada tanda-tanda kecemburuan di wajahnya yang polos itu. Aku sangat mencintainya.
Sejak saat itu, mereka selalu membantu ku menjaga Grace. Selama setahun penuh, Grace tidak sadarkan diri. Ternyata dia cukup betah dengan masa koma nya itu.
Saat dia sadar, aku sangat bahagia. Karena dia sudah melewati masa kitisnya. Ed dan El juga merasa senang karen Grace yang berbaring begitu lama, akhirnya tersadar.
Awalnya, dia masih merasa heran melihat Ed. Tapi, setelah aku dan istri ku tiba di sana, dia mulai terbiasa dengan keberadaan Ed yang selalu bermanja-manja pada nya.
"Grace, dia ini Elvina Fidelya, istri ku. Yang memeluk mu itu adalah anak ku, Edzard Syahreza Yardies. Dia lebih aktif berbahasa Inggris, tapi dia juga bisa berbahasa Indonesia dengan baik."
Aku memperkenalkan kedua orang yang aku cintai pada nya. Mereka bertiga bisa berbaur dengan baik satu dengan lainnya.
Grace sudah diperbolehkan untuk pulang setelah sebulan dia tersadar. Aku pernah menanyakan pada nya, apakah dia mau pulang ke rumahnya atau tidak. Dia menjawab dengan gelengan kepala dan hanya memberikan jawaban yang singkat.
Sejak hari itu hingga hari ini, aku tidak pernah bertanya lagi pada nya. Dia sudah merasa nyaman bersama dengan kami selama setahun terakhir ini.
Sudah saat nya dia keluar dari zona aman. Aku tidak mau membiarkannya menjadi anak yang manja dan tidak mandiri. Dia sudah sehat dan bekas luka di tubuh nya juga sudah tidak terlihat lagi bekas nya.