THE PERFECT GIRL

THE PERFECT GIRL
88



Prokk.. Prokk.. Prokk..


"Bagus sekali permainan pianomu itu, sayang. Kok Mommy baru tau kalau kamu mahir berman piano dan pandai bernyanyi sih?" Ucap Mrs.Melv. yang mengagetkan Grace dan Arion yang terpaku di tempatnya masing - masing.


'Mom muncul darimana sih? Kenapa aku tidak melihat keberadaan Mom sejak tadi? Padahal aku sempat membayangkan kalau akulah orang pertama di keluarga ini yang mengetahui keahlian Grace yang langka itu. Tapi, apa daya? Mending aku pura - pura tidak tau saja.' Gumam Ar dalam hati.


Ar pun segera pergi dari ruangan itu dan bergegas menuju ke kamarnya. Dia ingin membasuh dirinya dan menahan segala gejolak dalam hatiku saat ini. Aku masih tidak bisa melupakan bagaimana Agung datang dan membuat hariku kacau. Untung saja aku bisa mengancamnya dan sempat menghajarnya demi melampiaskan amarahku padanya.


GRACE POV


"Mom? Bukannya Mom tadi pergi ke Restoran untuk bertemu dengan teman lama Mom ya?" Tanyaku yang heran melihat keberadaan Mommy yang mengejutkanku saat ini.


Kenapa aku jadi kesal sendiri dengan ide gilaku barusan ya? Saat melihat piano ini, aku tertarik untuk memainkannya. Apalagi saat ini hatiku sedang gundah dan satu - satunya cara untuk menghibur diriku sendiri di saat Rumah sedang sepi adalah memainkan piano yang diiringi nyanyian kesukaanku.


Aku tidak pernah memberitahukan pada siapapun mengenai kemampuanku dalam bermain piano. Keluargaku saja tidak pernah tau soal ini.


"Jadi, kalau Mom tidak pulang tiba - tiba karena teman Mom ada keperluan lain yang lebih mendesak, Mom tidak akan pernah mengetahui kemampuanmu ini? Apa Papa dan Mama mu tidak tau tentang kemampuanmu ini, sayang?" Mom sudah duduk di sebelahku dan menoleh padaku. Pertanyaan Mom membuatku ragu untuk menjawabnya.


"....."


Aku masih terdiam beberapa saat sampai Mom bertanya lagi padaku, "Kenapa kamu menyembunyikan kemampuanmu yang hebat ini dari semua orang? Apa yang kamu khawatirkan, sayang?"


"Mom, sebenarnya aku sudah lama bisa bermain piano. Aku suka sekali melihat orang yang mahir bermain piano, hingga akhirnya aku ingin menjadi salah satu dari mereka. Tapi, karena keadaan ekonomi keluarga yang tidak memadai saat itu untuk membuatku kursus piano seperti teman - temanku lainnya." Ucapku sambil menundukkan kepalaku.


Aku pun masih melanjutkan ucapanku yang terputus tadi, "Tanpa sepengetahuan Papa dan Mama, aku belajar secara sembunyi - sembunyi dengan sahabatku yang mahir bermain piano dan kursus gratis di rumahnya, Mom. Orangtuanya sangat baik padaku karena kami sahabatan sejak SD. Orangtuanya yang membiayai kursus piano ku dan disesuaikan dengan jadwal kosongku saat SMP. Tapi, karena aku pindah ke Siantar, aku hanya mampu belajar selama satu setengah tahun bersamanya."


"Wahh, berarti Mom bisa bertemu mereka dong? Kapan - kapan kita ke Medan mengunjungi mereka ya? Kamu mau kan? Sekalian kita berlibur, hanya kita berdua. Kalau kamu mau, kita ajak Silvia juga. Bagaimana?" Mom memang paling bisa membuatku tidak berkutik dengan pertanyaannya.


"Tapi, aku sudah tidak memiliki kontaknya lagi, Mom. Sejak peritiwa di Rusia itu." Jawabku dengan wajah kusutku. Aku merindukan sahabat masa kecilku itu. Dia dan orangtuanya sangat baik padaku. Sampai aku menitikkan airmataku.


"Ehh, kenapa kamu jadi bersedih, sayang? Kan Mom ajak kamu liburan, harusnya kamu merasa senang dong. Kan Mom ajak kamu liburan, harusnya kamumerasa senang dong." Mom membuatku tersadar dari lamunanku.


"Aku merindukannya Mom. Sudah hampir 10 tahun lamanya, kami tidak bertemu satu dengan lainnya dan sekarang kami sudah putus komunikasi. Aku tidak tau harus bagaimana menghadapinya kalau pada akhirnya kami bertemu, Mom." Jawabku dengan nada sendu. Aku sungguh tidak percaya kalau aku bisa sejujur ini pada Mommy.


"Ya sudah, kalau ada waktu yang pas, kita pergi ke sana, Hanya kita bertiga. Kamu jangan bersedih lagi ya, sayang." Kata - kata yang dilontarkan oleh Mom membuatku tenang. Dia adalah sosok Ibu yang pengertian dengan Anaknya.


"Wow! Ada apa ini? Kalian mau pergi kemana? Tidak ada niatan mengajak Ar ikutan dengan kalian?"


Tiba - tiba saja suara nyaring Ar terdengar dan orangnya muncul dari arah belakang kami. Dia mendekati kami dan berdiri di tengah kami sambil merangkul kami berdua. Aku sudah terbiasa dengan sikapnya ini, meskipun aku tau kalau dia masih belum mengingatku.


"Anaknya Mommy sudah mandi? Kapan pulangnya, Nak? Kenapa Mom tidak mengetahuinya?" Mom sudah mewakiliku untuk menanyakan hal itu.


Aku merasa Ar sedang menatapku sambil berkata, "Aku sangat lelah, Mom. Tapi aku bisa menenangkan rasa lelahku karenanya."


Perkataannya itu sangat jelas mengandung makna tersirat.


'Apa dia juga mendengar permainan piano ku?' Aku sungguh tidak tau harus bagaimana lagi menghadapi Ar.


Meskipun demikian, aku tetap saja menoleh padanya. Aku melihat ada luka di sudut bibir kirinya. Khawatir? Sudah pasti.


"Ar?" Ucapku singkat.


"Ya? Ada apa Grace?" Ar malah semakin mendekatkan wajahnya padaku. Di sini ada Mom! aku kesal dengan tingkahnya karena dia benar - benar tidak bisa melihat sekelilingnya.


Aku yang malu pada Mom dengan posisi kami saat ini, langsung saja menarik pergelangan tangan Ar menjauh dari Mom dan berjalan menuju ke ruang tamu. Aku mendudukkan dia dan pergi mengambil kotak obat untuk mengobati lukanya.


"Aku kenapa? Kenapa kamu bawa aku ke sini? Hei!"


Ar bertanya - tanya padaku tanpa bergerak sedikitpun dari tempat duduknya saat ini. Akhirnya dia terdiam setelah melihatku membawa kotak obat ini.


"Aku melihat ada luka di sudut bibirmu, Ar. Apa yang terjadi? Kamu berkelahi dengan siapa?" Aku menanyainya dengan beberapa pertanyaan sekaligus sembari mengoleskan obat merah di bagisn dudut bibirnya.


"Aku tidak berkelahi dengan siapa pun, Grace." Ar mulai menyembunyikan kebenaran dariku.


"Baiklah, kalau kamu tidak mau menceritakan apa pun padaku. Aku juga sudah selesai dengan semua ini dan sudah waktunya makan malam." Aku langsung menutupi kotak ibat itu dan bangkit dari tempatku duduk saat ini. Saat aku membalikkan badanku, Ar memegang tanganku dan tidak membiarkanku untuk pergi.


"Ada apa, Ar? Aku mau menyimpan kotak obat ini dan pergi ke ruang makan. Mom pasti sudah menunggu." Ucapku padanya dengan nada sedikit kesal. Akhirnya dia melepaskan tanganku ya ng digengggamnya tadi.


Kami pun melewati jam makan malam dengan santai. Dad juga sudah pulang bersama Steve. Kami berlima makan dalam suasana hening.


Selesai makan, aku berpamitan untuk masuk ke kamar lebih dulu. Aku akan minum obat dan mandi. Mulai malam ini akan tidur di sini dan tidak tau entah kapan akan kembali ke sana. Padahal aku merindukan suasana Rumah itu.


Tokk.. Tokk.. Tokk..


"Masuk." Ucapku pada orang yang mengetuk pintu kamarku.


Celekkk...


Ternyata orang itu adalah Mommy. Mom memasuki kamarku dan duduk disebelahku yang baru saja selesai meminum obat yang pahit ini.


"Ada apa, Mom?" Tanyaku pada Mom yang sedang tersenyum tipis melihatku saat ini.


"Ada yang mau Mom sampaikan. Kemungkinan, besok Mom akan ikut dengan Dad ke London. Kami akan menetap di sana lagi untuk beberapa saat. Mom ingin kamu menjaga dirimu dan juga Ar. Selama kamu bersedia, Mom ingin kamu memperhatikan pola makan dan asupan gizi yang dikonsumsi oleh Ar. Tadi saja, dia makan dengan porsi yang begitu sedikit. Mom takut dia akan jatuh sakit karena tidak makan dengan baik." Mom memberikan penjelasan padaku. Aku mengerti dengan kekhawatiran seorang Ibu pada Anaknya.


Aku tersenyum pada Mom dan mengatakan bahwa aku akan mengabulkan permintaannya.


"Mom tidak perlu khawatir. Grace akan memperhatikan kesehatan Ar jg aku sendiri." Aku pun mengusap bahu Mom untuk menyakinkannya.


"Baiklah, Mom percayakan semuanya sama mu ya, sayang. Kamu harus kuat. Meskipun Ar melupakanmu, kamu harus pegang janjimu itu. Kamu akan setia berada di sisinya. Mom hanya menginginkanmu sebagai Menantu Mom. Tidak dengan yang lain." Ucapan Mom menguatkan niatku akan hal itu.


"Iya, Mommy. Grace akan selalu berada di sisi Ar apapun yang terjadi. Mom tidak perlu khawatir. Ya sudah, Grace mau mandi dulu. Mom juga, istirahat sana. Sudah waktunya kembali ke kamar kan? Hehehe.."


Aku membujuk Mom agar dia mau beristirahat. Bagaimanapun, sekarang sudah waktunya untuk bersantai sebelum tidur.


Aku pun melakukan kegiatan memanjakan diriku di dalam kamar mandi dan segera tidur. Sebenarnya, aku sudah mengantuk. Mungkin karena pengaruh obat yang aku mminum tadi.


Keesokan paginya..


Aku bangun dari tidurku dan segera berganti pakaian. Aku akan bekerja mulai hari ini. AKu sudah tidak betah kalau harus berjamur di Rumah seharian.


Selesai bersiap, aku mulai memasuki dapur untuk menyediakan sarapan untuk kami semua. Para pelayan di dapur dengan sigap membantuku menyiapkan segala sesuatunya. Karena pagi ini aku tidak sempat memasak untuk bekal, aku akan mengajak Ar untuk pulang nanti siang agar aku bisa memasak di Rumah.


"Grace, kamu yakin mulai bekerja hari ini?" Tanya Ar padaku saat kami sudah berkumpul di ruang makan.


"Iya, aku sudah siap." Jawabku singkat.


"Kalau kamu merasa tidak enak badan, kamu langsung pulang saja ya, Nak. Jangan terlalu memaksakan dirimu untuk bekerja sampai sore." Ucap Dad yang sedang menatapku dengan penuh rasa khawatir.


"Aku sudah sehat, Dad. Aku baik - baik saja. Jangan khawatir." Aku pun menjawab dengan penuh semangat.


"Baiklah, kamu harus pandai menjaga kesehatanmu ya, sayang. Oh iya, jam 10 ini, Mom and Dad akan berangkat ke Bandara. Kami akan ke London. Ingat pesan Mom tadi malam ya, sayang." Ucap Mom yang diselingi dengan senyuman manisnya.


"Baik, Mom. Grace akan mengingat semuanya." Jawabku singkat.


Tiba - tiba saja pergelangan tanganku dipegang oleh Ar. Begitu selesai berpamitan dengan Mom and Dad, dia menarikku pelan menuju ke mobil dan menyuruhku untuk ikut bersamanya berangkat ke Kantor.


"Grace, kamu belum diperbolehkan untuk mengendarai mobil sendirian. Kamu berangkat bersamaku saja. Ada Pak Supir. Jadi, kalau kamu ingin pergi ke suatu tempat secara mendadak, Bapak ini yang akan mengantarkanmu." Tutur Ar memberiku sedikit kelonggaran dalam beraktivitas.


"Baiklah, kita akan berangkat bersama. Tapi, aku tidak mau ikut denganmu turun di depan pintu utama. Aku akan turun di parkiran. Aku tidak mau ada gosip tak sedap menyangkut kita berdua. Itu akan membahayakan posisimu dan aku." Ucapku memperingati Ar.


"Terserah padamu. Aku akan mengikuti semua keinginanmu selama kamu mau mendengarkanku." Ucapnya singkat, tapi kalimatnya itu membuatku teringat dan sampai aku merasa kalau dia adalah Ar yang dulu.


Sesampainya di Kantor, dia mengikuti perkataanku. Dia turun tepat di depan pintu utama perusahaan. Aku masih duduk di dalam mobil dan turun di parkiran. Supirnya sungguh mengerti keadaanku. Dia memarkirkan mobil ini di sudut yang tidak tertangkap CCTV dan sepi. Aku memang tidak mau seorang pun mengenali mobil yang aku tumpangi. Bisa diteror aku sama karyawan yang hobinya memantau gerakan Bos nya.


Rekan kerjaku sudah berbeda. Aku tidak tau pasti apa yang terjadi pada rekanku sebelumnya. Jika dilihat dari situasi pada waktu itu, aku yakin kalau Ar sudah memecatnya.


"Hai, kenalkan nama saya Grace. Aku Sekretarisnya Pak Arion. Senang berkenalan denganmu." Sapaku pada rekan kerja baruku yang duduk di sebelahku. Meja kerja kami sudah diganti dan dipindahkan agar bersebelahan. Hal ini dapat mempermudahku untuk mengajari dan memberikan pekerjaan padanya.


"Hai juga, nama saya Sheilla. Biasa dipanggil Shei. Salam kenal, Bu. Mohon bimbingannya." Sapanya padaku. Dia begitu ramah.


"Semoga betah kerja di sini ya. Kamu sudah mendapat pengarahan apa saja selama dua hari ini?" Tanyaku penasaran melihat dia yang sudah bisa melakukan beberapa hal yang menurutku cukup sulit untuk dikerjakan oleh pegawai baru sepertinya.


"Yang ini dan ini, Bu. Serta yang ini juga. Saya dibimbing oleh Pak Steve secara langsung selama dua hari ini, Bu." Dia sangat telaten. Pekerjaannya sangat rapi. Mungkin dia ini akan berbeda dengan rekan kerjaku sebelumnya.


"Nah, sekarang kamu coba baca ini dan ini terlebih dahulu. Setelah setengah jam, kamu buat laporannya seperti ini. Lalu serahkan pada saya. Kalau ada kendala, kamu bisa langsung bertanya pada saya." Kataku dengan ramah padanya. Dia pun menganggukkan kepalanya dan langsung mengerjakan hal yang sudah kuperintahkan padanya.


Kamipun bekerja dengan nyaman. Sesekali dia menemuiku menanyakan beberapa hal yang tidak di mengerti. Hingga akhirnya, jam istirahatpun tiba.


"Kamu bawa bekal?" tanyaku padanya yang tidak sadar denganjam kerjanya.


"Ehh, tidak Bu. Saya tidak bawa bekal." Dia masih saja dengan serius menatap komputernya dan mengetik dengan lincahnya.


"Ini sudah jam istirahat, Shei. Lepaskan pekerjaanmu. Nanti saja dilanjutkan lagi." Ucapku dengan tegas padanya, agar dia bisa pergi dan melupakan sesaat pekerjaannya itu.


"Baik, Bu. Saya permisi." Dia pun pergi begitu saja. Aku menghubungi supir pribadi Arion dan bergegas pulang ke rumah. Aku berencana untuk memasak dan membawanya pada Ar. Dia tidak boleh telat makan siang.


Saat aku berjalan melewati taman belakang perusahaan yang cukup sepi, aku melihat Ar sedang berduaan dengan seorang perempuan yang tidak ku kenal.


Ar memang sempat keluar dari ruangannya pukul 11 tadi dan belum kembali lagi. Mungkin dia punya urusan penting dengan perempuan itu. Aku pun menghiraukannya dan pergi menuju parkiran.


"Bu, ini ada kiriman dari Pak Agung. Katanya amplop ini sangat penting dan harus diserahkan secara langsung pada Ibu." Ucap seorang satpam padaku yang sedang terengah - engah karena lelah mengejarku.


"Terimakasih, Pak." Aku pun tersenyum padanya.


Setelah menerima amplop itu, aku masuk ke dalam mobil dan pulang ke Mansion Utama Keluarga Melv.


Aku menimbang - nimbang apa isis dari amplop kiriman si mesum itu? Apa dia ingin membodohiku?


Sangkin penasarannya, aku pun membuka amplop itu selama diperjalanan. Begitu terkejutnya aku melihat berbagai macam foto Ar bersama dengan perempuan yang tadi aku lihat di taman belakang perusahaan.


Foto romantis mereka yang begitu menyayat hatiku. Mataku berair, tapi tertahan karena aku tidak ingin lagi menangisi hal semacam ini. Ar ternyata memiliki hubungan dengan perempuan lain dibelakangku.


Aku pun segera meminta nomor ponsel Agung dari pihak berwenang di Kantor. Begitu aku mendapatkan nomornya, aku langsung menghubunginya.


Aku akan meminta penjelasan dari foto - foto yang dikirim olehnya. Aku hanya mau mencaritahu apa yang seharusnya aku tau.


Ar sudah keterlaluan! Dia begitu baik padaku selama beberapa hari ini dan dia melarangku untuk tinggal di Rumahku dengan alasan agar aku aman dari Agung. Tapi apa? Dia malah memiliki kekasih tanpa sepengetahuanku.


>>> Bersambung <<<


Sampai sini dulu ya..


Kita akan lanjut di eps selanjutnya..


Jangan lupa berikan supportnya untuk Author..


Thor tidak minta yang aneh - aneh lagi dehh, hanya like dari jempolnya..


Kalau komen, itu semua terserah readers saja..


Salam Kasih untuk Yg Terkasih


Love You All