
"Sayang.. Kamu sudah siap belum?" Tanya Ar dari luar pintu kamar mandi.
Grace tetap saja terdiam tak berkata apapun. Dia sibuk dengan kegiatannya di dalam kamar mandi.
Tokk.. Tokk.. Tokk..
"Sayang?" Panggil Ar untuk yang kesekian kalinya sambil mengetuk pintu kamar mandi.
"Iya! Iya! Sabar sayang, sebentar lagi aku keluar." Teriak Grace dari dalam kamar mandi.
Hari ini mereka akan kembali ke Indonesia. Dengan menempuh perjalanan lebih dari 12 jam, Grace merasa perlu melakukan persiapan yang matang. Padahal dia hanya akan duduk di dalam jet pribadi keluarganya.
"Kamu begitu lama, Sayang. Apa yang membuatmu bisa lama seperti ini? Tidak biasanya lho.. Apa kamu sudah siap? Ayo! Kita pamitan sekarang." Ajak Ar sambil menggenggam tangan Istrinya yang baru saja selesai dengan kegiatannya.
"Ayo!" Ucap Grace dengan penuh semangat.
Mereka pun menemui Ricky beserta keluarga kecilnya. Berpamitan dengan menyalami mereka satu per satu. Berbeda dengan Ed, dia hanya menatap sendu kepergian Aunty nya. Meskipun awalnya dia tersenyum dengan Aunty nya, dia tetap saja merasa begitu berat berpisah dengan sang Aunty.
Arion menurunkan sedikit posisi bangku mereka. Dia ingin sang Istri merasa nyaman dengan posisi duduknya.
"Apakah sudah cukup nyaman, Sayang?" Tanya Ar pada sang Istri.
"Sudah, Sayang. Makasih ya, Sayang." Ucap Grace dengan lembut pada Suaminya itu.
"Kita sarapan dulu ya, Sayang. Ini novel yang tadinya kamu titipkan padaku. Selesai sarapan, baru boleh baca yang begituan ya, Sayang." Bujuk Ar pada Istrinya.
Seorang Pramugari pun menghampiri mereka dengan membawakan menu sarapan mereka dengan menggunakan dua buah nampan. Ar pun menyerahkan sebuah nampan berisi makanan itu pada Grace.
Selang beberapa waktu, Ar merasa tidak ada yang beres dengan perutnya. Begitu sakit, hingga dia harus pergi ke toilet.
Tokk.. Tokk.. Tokk..
"Kamu kenapa, Sayang?" Tanya Grace dengan rasa khawatir yang cukup membludak, setelah melihat Suaminya dalam keadaan tidak sehat seperti itu.
"Hoekk.." Terdengar suara Ar yang memuntahkan isi perutnya dari dalam toilet.
"Sayang.. Buka pintunya dong." Grace begitu khawatir. Dia menggedor - gedor pintu toilet itu dengan cukup keras.
Dukk.. Dukk.. Dukk..
"Ar? Buka pintunya! Kamu gak tau betapa aku mengkhawatirkanmu? Arion!" Teriak Grace pada pintu toilet yang tak kunjung terbuka. Sudah 10 menit lamanya dia menanti pintu itu terbuka, tapi tidak terjadi apa - apa. Sehingga dia bertindak keras pada pintu itu. Yah, pintu itu menjadi korban kekhawatiran Grace pada Arion.
Ceklekk..
Pintu itu pun terbuka. Ar muncul dengan wajah yang tersenyum. Grace langsung menghambur ke pelukan sang Suami.
"Kenapa lama sekali hanya untuk membuka pintunya? Aku kan khawatir." Ucapnya sendu.
"Maafkan aku ya, Sayang. Aku tidak mau kamu melihatku dalam keadaan yang kacau seperti tadi." Ucap Ar sembari mengelus kepala Istrinya.
"Kamu sudah baikan? Perutmu masih sakit kah? Sesampainya di Jakarta, kita harus segera menghubungi Dokter untuk memeriksamu." Tegas Grace setelah melihat wajah pucat sang Suami.
Beberapa kali Ar selalu seperti itu. Dia baru teringat dengan ucapan Mrs.Melv., bahwasannya Ar itu sangat jarang sakit. Sekalinya sakit, akan lebih parah dari sakit biasa. Mungkin inilah saat - saat dimana kondisi tubuh Ar sedang tidak stabil.
"Iya, Sayang. Semuanya terserah padamu, Sayang. Aku nurut saja. Asal kamu tidak marah - marah lagi. Seram, tau? Sudah ya, Sayang." Bujuk Ar pada Istrinya sambil menariknya kembali ke bangku mereka.
Ar terlihat sangat kelelahan. Mungkin karena sudah berulang kali memuntahkan isi perutnya. Grace memegang kening Ar beberapa kali untuk memastikan suhu tubuh Ar selalu normal. Dia sungguh mengkhawatirkan Suaminya.
"Istirahatlah, Sayang. Aku akan tetap terjaga menjagamu." Perintah Grace pad Ar yang masih saja berusaha untuk menolak permintaan Grace.
"Tapi.. Kan, harusnya aku yang menjagamu, Sayang. Harus-nya.." Perkataan Ar terputus seketika karena Grace sudah meninggikan sedikit suaranya.
"Aku tidak terima penolakan, Sayang. Kamu tau itu. Kamu mau tidur sekarang atau tidak sama sekali, Sayang?" Ancaman yang dilontarkan oleh Grace berhasil membuat Ar tidak berkutik. Ar pun merebahkan badannya pada bangku yang bagian sandarannya sudah diturunkan sedemikian rupa oleh Grace.
"Baiklah, Sayang. Aku akan beristirahat sejenak. Jangan kemana - mana ya, Sayang. Tetaplah berada di sisiku." Pinta Ar pada Grace sambil menggenggam erat tangan Grace.
"Aku akan tetap di sini menjagamu, Sayang. Tidurlah. Aku akan tetap seperti ini sampai kamu terbangun. Jadi, jangan khawatir ya, Sayang." Ucap Grace sembari memiringkan posisi kepalanya ke dada bidang milik Ar. Dia berbaring sambil membaca buku novel yang sangat diminatinya.
"Kalau begini, aku akan semakin nyenyak tidurnya, Sayang. Aku istirahat dulu ya, Sayang. Cup!" Ucap Ar sambil mencium puncak kepala Ar dan mulai memejamkan matanya.
Setelah tertidur selama 5 jam penuh, Ar mulai terbangun dari tidurnya. Dia mencari keberadaan Grace yang sama sekali tidak terlihat di bangkunya.
"Sayang? Kamu dimana? Sayang? Grace?" Ar memanggil beberapa kali, Dia mencari ke setiap sudut ruangan di dalam jet pribadi tersebut. Sangkin besarnya rasa takut Ar akan kehilangan Istrinya, tubuhnya menggigil dengan suhu tubuh yang tidak beraturan. Keadaannya semakin kacau. Dia sendiri tidak tau kenapa dirinya bisa sampai seperti ini. Dia merasa tidak mampu untuk berjauh - jauhan dengan sang Istri.
"Lho? Ar! Kamu kenapa ada di sini?" Grace yang baru saja kembali dari dapur yang ada di dalam jet itu pun langsung berlari ke arah Suaminya dan membantunya berdiri.
"Sayang, kamu kemana saja? Aku takut banget, takut kehilanganmu." Ucap Ar tanpa berpikir panjang sambil mendekap erat sang Istri.
"Aku tadi memasak sedikit lauk untuk kamu makan siang ini, Sayang. Aku mengira bahwa masakan orang lain tidak sesuai dengan seleramu di saat kondisimu yang seperti ini. Sebentar lagi, mereka akan menghidangkannya, Sayang. Mari kita duduk di bangku kita, kamu harus makan yang banyak untuk memulihkan kondisi tubuhmu.
Mereka pun kembali ke bangku mereka dan Grace mulai menyeka keringat Ar yang tadinya bercucuran di wajah Ar menggunakan sapu tangan miliknya.
"Ayo! Dimakan, Sayang. Kamu harus baik - baik saja sampai kita bertemu dengan Dokter. Karena di sini tidak ada yang namanya obat untuk sakit perut atau masuk angin." Ucap Grace membujuk Ar.
Ar hanya tersenyum dan menganggukkan kepalanya untuk meyakinkan Grace bahwa dia akan menghabiskan makanan tersebut. Mereka pun makan dalam diam.
"Untuk menu makan malamnya, aku sudah menyediakannya juga tadi. Hanya saja, akan disajikan malam nanti. Biar kamu tidak bosan dengan lauk yang sama. Perutmu tidak bermasalah lagi kan, Sayang?" Grace penasaran dengan keadaan Suaminya yang baru saja menyelesaikan kegiatan makan siangnya.
"Aku sudah lebih baik sekarang, Sayang. Tapi, rasa makanannya agak sedikit berbeda dengan yang pernah kamu masak. Meskipun rasanya tetap bisa diterima perutku. Memangnya, apa yang berbeda dengan makanan ini dengan sebelumnya, Sayang?" Tanya Ar yang mulai mengingat bagaimana rasa masakan Grace bisa sedikit berbeda dari sebelumnya.
"Kamu ingat saat kamu mual - mual karena memakan sayur brokoli masakanku yang penuh dengan bawang putih?" Grace kembali bertanya membantu Ar mengingat kejadian itu.
"Sejak saat itu, aku tidak pernah lagi memasukkan bawang putih ke dalam masakanku, Sayang. Kemungkinan kamu memiliki alergi terhadap bawang putih?" Tutur Garce sambil memegang dagunya.
"Ohh, jadi masakanmu kali ini sedikit berbeda karena kamu tidak memasukkan bawang putih? Setauku, aku belum pernah alergi terhadap bawang putih. Kenapa kamu langsung mengambil kesimpulan seperti itu, Sayang?" Ar mulai bertanya kembali.
"Sama seperti saat kita makan bersama di Restoran malam itu, kamu memakan lauk dengan bawang putih yang berlebihan dan kamu muntah - muntah. Lalu kamu juga kembali muntah - muntah setelah memakan sarapan kita yang berbahan dasar bawang putih. Sayang, mulai sekarang kamu tidak boleh memakan makanan yang mengandung bawang putih sampai keadaan tubuhmu pulih kembali. Kamu harus menurut ya, Sayang." Ujar Grace dengan berbagai pertimbangan.
"Baiklah, Sayang. Apa pun itu, aku akan melakukannya." Jawab Ar dengan lembut.
Mereka pun melanjutkan kegiatan bersantainya dan Ar selalu menurut akan permintaan Istrinya. Bukan karena dia takut pada Istrinya, tapi ini demi dirinya juga. Dia tidak pernah berpikir bahwa apa yang dilakukan Grace itu adalah hal buruk, melainkan semuanya merupakan hal yang baik untuk mereka berdua.
**********
"Halo, Anak Mommy. Bagaimana keadaanmu sekarang? Perutmu masih bermasalah?" Tanya Mrs.Melv. pada Ar. Dia memeluk Anak dan Menantunya secara bersamaan melampiaskan kerinduannya pada kedua orang tersebut.
"Mom, malam ini kita akan memanggil Dokter untuk memeriksa Ar. Tadi dia muntah - muntah lagi, Mom. Meskipun sekarang dia sudah baikan, tapi untuk pencegahan ke depannya, dia harus diperiksa oleh Dokter, Mom." Ucap Grace yang membuat Mrs.Melv. merasa khawatir.
"Baiklah, nanti Dad akan memanggil Dokter terbaik untuk memeriksa keadaan Arion. Dia tidak bisa sakit terlalu lama, nanti siapa yang akan menjaga semua perusahaan dan kelurga Melviano?" Ucap Mr.Melv. yang datang sambil bergantian dengan Istrinya untuk memeluk kedua Anaknya itu.
"Hei, Bro. Kenapa kalian sangat sulit dihubungi? Aku sampai tidak bisa memberitahukanmu secara langsung tentang Acara Pertunanganku ini. Kalian sungguh kejam padaku." Ucap Steve yang begitu datang, langsung merangkul Ar.
"Aku terlalu sibuk dengan duniaku sekarang, Steve. Baguslah kalau kamu akan menyusulku dengan pertunanganmu ini. Agar kamu juga bisa merasakan kesibukan yang aku alami." Canda Ar pada Steve sambil berjalan memasuki Mansion dari pintu belakang. Tidak lupa, Ar senantiasa menggenggam tangan Istrinya meskipun dia sedang bercanda dengan Steve.
"Kak Adam dan Kak Silvia gak kemari ya, Mom?" Tanya Grace pada Mrs.Melv. yang sudah duduk di sebelahnya. Mereka sedang berkumpul di ruang keluarga.
"Mereka sangat sibuk, Sayang. Besok pagi mereka akan ke sini." Jawab Mrs.Melv. dengan singkatnya.
"Dalam waktu sejam lagi, Dokternya akan tiba ya, Ar. Kamu harus segera bersiap - siap." Ucap Mr.Melv. memberikan sedikit pengarahan pada Ar.
"Baiklah, Dad. Aku akan kembali ke kamar lebih dulu ya, Sayang." Ucap Ar sambil mengelus rambut Grace.
"Oke." Jawab Grace singkat sambil menganggukkan kepalanya.
"Kak Steve, coba ceritakan padaku, bagaimana Kakak bisa secepat ini bertunangan dengan Lisya?" Tanya Grace sambil menoleh ke arah Steve. Sedangkan Steve merasa bingung bagaimana menjelaskan semuanya pada Grace.
"Grace, ini dimakan ya. Buah - buahan bagus untuk tubuhmu." Ucap Mrs.Melv. yang menyodorkan sepiring buah yang sudah dipotong kecil - kecil oleh seorang pelayan.
"Iya, Mom." Jawab Grace sambil memasukkan potongan buah itu ke dalam mulutnya.
"Kak, gimana? Cerita dong." Bujuk Grace yang sudah sangat penasaran dengan kisah cinta Steve dengan Lisya.
"Ekhem!" Mr.Melv. mendeham keras untuk mengalihkan fokus Grace.
"Ada apa, Dad?" Tanya Grace pada Mr.Melv. dan dia masih saja melahap buah - buahan yang tersedia di hadapannya.
"Besok pagi, kamu harus pergi ke Butik bersama Silvia dan Mommy. Kamu masih belum memiliki pakaian untuk ke acara pertunangannya Steve dan Lisya bukan?" Tanya Mr.Melv. dengan memasang wajah yang cukup serius.
"Belum, Dad. Besok aku akan bersiap pagi - pagi sekali. aku akan bersiap sebelum Kak Sil datang. Mommy dan Kak Sil sudah memiliki pakaian untuk ke acara itu?" Tanya Grace pada Mrs.Melv.
"Belum, Sayang. Kami menunggumu pulang, supaya kita bisa mengenakan pakaian dengan gaya yang sama. Mommy ingin kita itu kompak dalam berpakaian nantinya. Gimana menurutmu, Sayang?" Jelas Mrs.Melv. sambil kembali menayakan pendapat Menantunya itu.
"Baiklah, buah itu pun sudah habis. Kembalilah ke kamar masing - masing. Besok akan menjadi hari yang melelahkan bagi kita semua." Perintah Mr.Melv. pada semua orang.
Steve lah orang pertama yang kembali ke kamarnya. Dia tidak bisa menceritakan apa yang terjadi di antara dia dan Lisya. Itu adalah pengalaman buruk sekaligus keberuntungan dalam hidupnya. Steve hanya bisa tersenyum membayangkan hari yang sudah ditunggu - tunggu olehnya.
Mr.Melv. dan Istrinya juga kembali ke kamar mereka. Grace yang sudah menghabiskan sepiring buah itu pun bergegas menuju ke kamar. Dia melihat Ar sudah berbaring di atas tempat tidur dengan mata tertutup.
Grace yang tidak ingin mengganggu Suaminya pun berjalan ke arah kamar mandi. Dia ingin membersihkan dirinya terlebih dahulu sebelum Dokter yang memeriksa Ar datang.
Selang beberapa waktu, Dokter yan dipanggil oleh Mr.Melv. Grace menjadi satu - satunya orang yang melihat Dokter itu memeriksa Ar. Mungkin saja, yang lainnya sudah terlelap dalam tidurnya masing - masing.
"Dok, Silahkan periksa keadaan Suami saya. Dia sudah tiga kali muntah - muntah begitu. Kami tidak bisa memastikan obat apa yang sesuai untuknya, karena kami belum mengetahui apa penyebabnya." Pinta Grace pada sang Dokter.
Dokter itu pun mengeluarkan Stetoskopnya dan segala peralatan yang akan digunakannya untuk memeriksa seorang Pasien pada umumnya.
Setelah selesai memeriksa, Dokter itu hanya mengatakan bahwa Ar sedang dalam kondisi yang paling lemah.
"Keadaan Tuan Arion sangat lemah. Sedikit masuk angin saja, dia akan mengalami mual dan kan muntah - muntah. Itu adalah hal yang lumrah bagi seseorang yang kondisi tubuhnya yang sedang lemah karena kelelahan atau pun stres berlebihan." Tutur sang Dokter pada Grace.
Grace yang mengerti sedikit banyaknya tentang ucapan sang Dokter pun mulai menganggukkan kepalanya. Dia menerima resep dari sang Dokter.
"Tolong segera ditebus. Ini adalah obat dan vitamin yang harus segera dikonsumsi untuk meningkatkan kestabilan tubuh Tuan Arion." Ucap sang Dokter sebelum dia berpamitan untuk pulang.
"Terimakasih, Dok." Ucap Grace singkat sambil berjalan mengantarkan sang Dokter ke depan pintu utama.
'Ternyata Ar memang terlalu stres dalam bekerja.' Gumam Grace dalam hatinya.
>>> Bersambung <<<
Sampai sini dulu ya..
Kita akan lanjut di next chap, Ingat untuk selalu kirim jempol nya yaa, Kakak2..
Terimakasih bagi yang sudah support Author selama ini..
Salam Kasih untuk Yg Terkasih
~~ Love You All ~~