
"How was the movie theater, Ed? Is it exciting? Aunty really likes the fat one. He is very funny." Ucapku pada Ed setelah kami keluar dari ruang bioskop yang ada di Mall yang kami kunjungi.
(Bagaimana film bioskop nya tadi, Ed? Apakah seru? Aunty sangat suka dengan si gembul. Dia sangat lucu.)
"Ed likes to watch it, Aunty. They are funny, but Ed can be funnier than them. So, Aunty doesn't need to like them. Ed didn't like it when Aunty liked the fat one." Ucap Ed yang akhirnya membuatku dan Mommy nya tertawa mendengarnya.
(Ed senang menontonnya, Aunty. Mereka memang lucu, tapi Ed bisa lebih lucu dari mereka. Jadi, Aunty tidak perlu suka dengan mereka. Ed tidak suka kalau Aunty suka sama si gembul itu.)
Ed cemburu ketika aku bilang menyukai anak lainnya. Sungguh menggemaskan. Aku pun langsung menggendongnya dan menciummi pipinya yang membulat itu.
"Aunty only likes that child. Not looking for another Niece, Baby. Ed is Aunty's most adorable Niece." Ucapku menghiburnya.
(Aunty hanya suka dengan anak itu. Bukan mau cari ponakan lain lagi, sayang. Ed adalah ponakan Aunty yang paling menggemaskan.)
"Ed sayang Aunty." Jawabnya dengan gaya imutnya.
Aku hanya menbanjiri pipinya dengan beberapa ciuman. Kak El hanya tersenyum melihat tingkah kami.
"Ayo! Kita belanja sepuasnya!" Teriakku bersamaan dengan teriakan Ed.
Kami memang sehati.
AUTHOR POV
Ar melihat seseorang yang sedang berjalan ke arahnya. Ya! Perempuan itu adalah Sekretaris kepercayaan Papanya. Dia masuk dengan menunjukkan senyumannya yang merekah yang tidak disukai oleh Ar.
"What are you doing here?" Tanya Ar pada Ella tanpa menoleh sedikitpun ke arah Sekretarisnya.
(Ada perlu apa ke sini?)
"I just want to submit this file directly to you. This file complements the previous report, Sir." Ucap Ella sambil menyodorkan berkas ke atas meja Arion.
(Aku hanya ingin menyerahkan berkas ini secara langsung pada Bapak. Ini berkas yang melengkapi laporan sebelumnya, Pak.)
"Why didn't you leave it with my wife earlier?" Tanya Ar melihat berkas yang begitu penting untuk dijadikan sebagi pondasi kerangka laporan yang sedang dia kerjakan.
(Kenapa kamu tidak menitipnya pada Istriku tadi?)
"I know that this report is very important, Sir. So, I have to hand it directly to you, Sir." Ella berusaha untuk membela dirinya.
(Aku tau kalau laporan ini sangat penting, Pak. Jadi, aku harus menyerahkannya secara langsung pada Bapak.)
"Don't you know that she's the one who really needs this report? She can deliver it to me. You have no right to limit her authority in this office. Remember, Ella. She is my wife, the wife of a CEO of Melv.Corp. You can leave now." Ucap Ar dengan ketus padanya.
(Apa kamu itu tidak tau kalau dialah yang sebenarnya sangat membutuhkan laporan ini? Dia bisa menyampaikannya padaku. Kamu tidak berhak membatasi wewenangnya di Kantor ini. Ingat, Ella. Dia itu Istriku, Istri seorang CEO Melv.Corp. Sekarang kamu sudah boleh keluar.)
Ella pun keluar dari ruangan itu. Dia merasa sangat kesal. Padahal dia hanya bermaksud untuk melindungi informasi yang sangat penting itu dari pihak luar. Menurutnya, Bagaimanapun Grace hanyalah seseorang dari pihak luar yang beruntung bisa mendekat dengan Atasannya.
Ar mulai melakukan pekerjaannya. Dia benar - benar salut pada Istrinya. Berkas yang baru saja diantarkan padanya termasuk berkas penting yang memamng harus dimasukan ke dalam laporannya. Tapi, Grace bisa memprediksikannya tanpa mwlihat hasil akhir dari laporan tersebut.
Begitu laporannya selesai pada tahap akhir, yaitu perbaikan kecil darinya, Ar langung menghjbungi Daddy nya. Tapi, sebelum panggilan keluarnya terlaksanakan, tiba - tiba dia menerima panggilan dari seseorang yang pernah dihubunginya.
"Halo." Sapanya singkat.
"Tuan Arion, saya sudah menirimkan info beserta foto dari seseorang bernama Yoru. Dia seorang Anak ynga diadopsi oleh keluarga berdarah Jepang - Melayu. Latar belakangnya masih kurang jelas, tapi saya masih memperoleh sedikit info tentangnya." Tutur seseorang dari seberang telepon.
"Oke, baiklah. Terimakasih atas kerjasamanya. Aku akan langsung mentransferkan upahmu sesuai dengan perjanjian kita sebelumnya." Ar pun mengakhiri panggilan itu dan membaca sekilas info tentang Yoru.
Ar pun melakukan apa yang dikatakannya pada lelaki itu dan dia menghubungi Mr.Melv.
"Halo, Dad. Dad sibukkah?" Tanya Ar pada Mr.Melv.
"Ohh, tidak Nak. Dad pun sedang melakukan hal kecil di ruang kerja. Ada apa Nak?" Tanya Mr.Melv. pada Anaknya.
"Aku baru saja mengirimkan laporan itu melalui email, Dad. Jadi, Dad sudah bisa mengeceknya terlebih dahulu sebelum melihat isi emailku yang kedua ya, Dad." Ucap Ar yang membuat Mr.Melv. merasa penasaran.
"Memangnya, apa yang kamu kirimkan, Ar?" Tanya Mr.Melv. pada Anaknya sambil menunggu komputernya menyala.
"Ar mengirimkan sedikit info mengenai orang yang bernama Yoru itu, Dad. Tapi, ada info masa lalunya yang belum bisa diketahui dengan jelas. Aku akan berusaha mencaritahu tentang hal itu ya, Dad." Ucap Ar menuturkan isi dari email yang kedua.
"Wahh, ternyata kamu sudah mendapatkan info tentangnya? Terimakasih, Ar. Karena sudah membantu Dad untuk mencaritahu info tentangnya." Ucap Mr.Melv. yang sedang berusaha login ke emailnya.
"Okelah, Dad. Silahkan membaca isi kedua emailku. Ar mau melakukan pengecekan terlebih dahulu sebelum pulang ke Rumah. Malam ini kami dan keluarga Yardies akan makan malam di Restoran. Kabari Ar ketika Dad sudah selesai mengamati laporanku ya, Dad. Ar tutup dulu teleponnya." Ucap Ar sambil mengakhiri panggilan tersebut.
Dia pun beranjak dari tempat duduknya. Saat dia akan melewati meja Sekretarisnya, Ar memanggil seseorang untuk mengikutinya ke tempat yang ingin ditujunya.
"Felicia,come with me. Bring your notebook and ballpoint pen. We will go monitor the Western building before it's time to go home. There is something I want to know personally." Perintah Ar pada rekan Ella.
(Felicia, ikut dengan saya. Bawa buku catatan dan bolpoin. Kita akan pergi memantau gedung bagian Barat sebelum waktunya untuk pulang. Ada hal yang ingin aku ketahui secara pribadi.)
"Yes, Sir. Just call me Feli, Sir." Ucap Feli sambil berjalan mengikuti langkah Ar.
(Baik, Pak. Panggilnya Feli saja, Pak.)
**********
"Ed, kamu coba yang ini, sayang. Aunty mau lihat seberapa cakep Ed jika memakai pakaian seperti ini." Ucap Grace sambil menyodorkan tiga pasang setelan pakaian pada Ed. Ed hanya mengangguk sambil menerima setelan pakaian yang diterimanya dari Aunty nya.
Ed pun menarik tangan Mommy nya untuk membantunya menggantikan pakaiannya dengan pakaian pilihan Aunty nya. El hanya bisa mengikuti keinginan kedua orang yang bertingkah seperti pasangan pada umumnya.
Tidak hanya membeli pakaian untuk Ed, mereka juga berbelanja pakaian untuk El dan Grace. Meski tidak sebanyak yang dibelikan untuk Ed. Mereka, para Istri juga membelikan setelan pakaian untuk Suami mereka. Tidak lupa mereka juga membeli bahan makanan dan jajanan sebelum mereka benar - benar selesai dengan kegiatan menggesek kartu kredit Arion.
Setelah lelah berbelanja, mereka menitipkan barang - barangnya untuk dibawakan oleh para bodyguard ke dalam mobil. Mereka mencari stand es krim untuk beristirahat sejenak dari lelahnya mengelilingi seisi Mall.
"Grace, ini sudah jam lima sore. Kita pulang saja setelah ini ya? Kita kan harus bersiap - siap untuk pergi ke Restoran." Pinta El pada Grace.
Grace hanya mengangguk sambil memasukkan sesendok es krim ke dalam mulutnya, "Iya Kak."
Tak berapa lama, ponsel El berdering dan itu adalah panggilan dari sang Suami.
"Halo, Honey. Kalian masih di Mall? Aku sudah di Rumah, tapi tidak ada satu orang pun di Rumah. Ar juga baru saja tiba di Rumah. Kalian masih lama di sana?" Tanya Ricky pada sang Istri.
"Kami baru saja mau pulang, Honey. Tunggu saja kami di Rumah bersama Ar ya, Hon. Tidak akan lama kok." Jawab El singkat.
"Ya, kami akan bersiap - siap. Hati - hati di jalan ya, Hon." Ucap Ricky sambil mengakhiri panggilan teleponnya.
"Tuh, kan. Mereka sudah tiba di Rumah, Grace. Mereka sedang menunggu kita pulang. Ayo! Kita pulang Ed. Daddy dan Uncle mu sudah bersiap - siap." Ucap El pada Grace dan Ed.
Mereka pun berangkat ke Rumah dengan dikawal oleh bodyguard yang membawakan barang belanjaan Mereka. Ricky dan Ar yan gmelihat hal itu hanya bisa menggelengkan kepalanya. Hanya saja, Ar tersenyum puas melihat semua bawaan Grace. Semua tagihan belanjaan Grace hari ini adalah yang paling besar selama Grace bersama dengannya. Baru kali ini Grace begitu royal.
"Aku senang melihatmu menggunakan kartu itu dengan belanjaan sebanyak ini, sayang." Bisik Ar sambil memeluk sang Istri. Dia sudah merindukan Istrinya, padahal mereka sudah bertemu tadi siang.
"Ini, aku belikan setelan baju kasual untukmu. Kamu sudah memiliki banyak setelan Jas, hanya inilah yang menjadi pilihanku untukmu, sayang." Ucap Grace sambil mendorong tubuh Ar dan memberikan handbag berisi setelan yang dimaksud oleh Grace. Dia merasa tidak enak dilihat oleh Ed saat Ar memeluknya secara intens di depan seorang Anak kecil.
"Kami juga membelikan setelan pakaian untukmu, Honey." El dan Ed mendekati Ricky sambil menyodorkan handbag pada Ricky.
"Sekarang, kalian bersiap - siaplah. Ini sudah waktunya makan malam. Nanti kita kemaleman lho." Ucap Ricky lembut tapi cukup tegas pada ketiga orang yang baru saja pulang dari Mall.
Ketiga orang ini pun memulai kegiatan sibuk sendirinya dengan cepat. Setelah mereka siap dengan penampilan yang rapi, semuanya berangkat ke sebuah Restoran terkenal di London.
Sesampainya di Restoran..
Grace membuka menu makanan dan dia memilih begitu banyak jenis lauk. El hanya membantu Ricky dan Ed dalam memilih minuman. Sedangkan Ar, dia duduk santai sambil memandang ke arah Grace. Sepertinya Ar melihat sesuatu yang aneh pada Grace. Keceriaan Grace yang begitu jarang dilihatnya selama ini, sedang berlangsung dihadapannya.
"Grace, jangan sampai ada makanan yang tersisa karena tidak termakan ya. Abang mengajak semua makan di sini bukan untuk menyiksa perut kalian dengan jenis makanan yang kamu sebutkan tadi. Melainkan hanya untuk mengenyangkan perut kalian malam ini." Ucap Ricky setelah pelayan yang mencatat pesanan mereka pergi.
"Bang, tenang saja. Semuanya pasti habis tak bersisa. Kalau mengenyangkan saja belum cukup, jika tidak berhasil memuaskan hasrat perut ini, Bang. Gimana Ed? Yang Aunty bilang itu benar kan?" Tanya Grace pada Ed yang sedang memperhatikan dirinya berdebat dengan sang Ayah.
"Ya, Dad. Aunty sangat benar dan benar sekali. Kenyang dengan puas itu lebih baik daripada hanya kenyang saja." Jawab Ed singkat. Ed selalu berhasil membuat orang terkekeh mendengar jawabannya yang begitu polos.
"Halaaahh.. Kalian itu memang selalu bersatu melawan Daddy. Ed selalu berpihak pada Aunty nya. Selalu." Ucap Ricky dengan gaya tangannya yang dilipat di dadanya.
Ed tertawa melihat aksi ngambek sang Ayah. Dia hanya bisa mengatakan, "Ed sayang semua!"
Semua orang pun tertawa mendengar ucapan Ed yang begitu manis di dengar. Tanpa disadari, mereka sudah menghabiskan banyak waktu untuk bercanda. Buktinya, para pelayan sudah berdatangan untuk menghidangkan makanan yang sudah dipesan tadi.
Mereka pun makan malam dengan damai. Hanya saja, Ar memberhentikan aksi makannya secara tiba - tiba dan berlari secepat mungkin ke kamar kecil. Dia memuntahkan sebagian makanan yang tadinya sudah ditelannya.
Tokk.. Tokk.. Tokk..
"Ar, kamu tidak apa - apa?" Tanya Ricky yang mengikuti Ar sampai ke kamar kecil. Dia tau kalau Grace akan sangat mengkhawatirkan Suaminya, tapi dia tidak mungkin masuk ke dalam toilet pria. Jadi, Ricky berinisiatif untuk mengikuti Ar dari belakang.
Ar yang sudah selesai membersihkan mulutnya pun keluar dari toilet tersebut.
"Aku tidak apa - apa, Bang. Mungkin hanya masuk angin. Aku memuntahkan sebagian dari makanan yang sudah kumakan tadi." Jawab Ar sambil berjalan mendekati wastafel untuk mencuci tangannya sekali lagi menggunakan sabun.
"Baiklah, kita kembali ke meja dan kita akan pulang cepat setelah mereka menyelesaikan makan malamnya." Ucap Ricky dengan wajah datarnya. Mereka pun kembali ke meja.
"Kamu kenapa, sayang? Kok jadi pucat begini?" tanya Grace sambil mengelus pipi Suaminya.
"Aku senang kamu mengkhawatirkan ku, sayang. Aku baik - baik saja. Ini hanya sekedar masuk angin, mungkin karena pengaruh aku kurang tidur saat kita pergi bulan madu kemarin itu." Jawab Ar dengan santainya.
"Ya sudah. Nanti di Rumah, aku buatkan teh jahe ya?" Ucap Grace sambil mengelus bahu Suaminya.
"Ayo! Kita pulang saja. Makanannya juga sudah habis. Kalian masuk mobil duluan, Abang akan membayar tagihannya." Ajak Ricky pada semuanya. Dia menggendong Ed dan membawanya bersamanya menuju ke kasir.
Setelah membayar tagihan, Ricky dan Ed masuk ke dalam mobil. Mereka pulang untuk beristirahat.
Grace yang sudah menyiapkan teh jahe untuk Ar pun langsung menyikat giginya dan mencuci wajahnya, lalu dia berbaring merebahkan tubuhnya yang kelelahan itu.
Ar masih sibuk dengan telepon dan emailnya. Dia sedang berkomunikasi dengan Mr.Melv. merundingkan hasil laporan Ar yang masih harus dibenahi di beberapa bagiannya. Ar langsung mengoreksi bagian itu sambil meneguk teh jahe buatan Istrinya sampai habis.
Setelahnya, dia pun ikut tertidur di sebelah Grace. Dia membalikkan tubuh Grace agar menghadap padanya dan tidur dengan membenamkan wajahnya di leher sang Istri. Dia hanya bisa tertidur pulas dengan membaui aroma tubuh orang yang dicintainya ini.
>>> Bersambung <<<
Sampai sini dulu ya..
Kita akan lanjut di next chap, Ingat untuk selalu kirim jempol nya yaa, Kakak2..
Terimakasih bagi yang sudah support Author selama ini..
Salam Kasih untuk Yg Terkasih
Love You All
💞💞💞