
GRACE POV
Lima hari ini, kami di sibukkan dengan segala sesuatunya. Aku mendapat tugas mengirimkan kartu undangan pada orang-orang yang berada di luar kota melalui jasa antar barang.
"Ma, hari ini aku saja yang ke rumah Pak RT sekalian membeli gula di kedai sebelah rumahnya. Kan dekat tuh, jalan kaki saja sudah sampai."
"Kamu itu jangan kelelahan Grace. Kenapa tidak pakai sepeda motor saja?"
"Gak perlu, Ma. Biar nanti Papa bisa pergi ke Pabrik naik sepeda motor saja. Grace bisa sendiri kok. Bye, Ma."
Aku pun pergi membawa beberapa lembar kartu undangan dan dompet keluar rumah. Setelah memberikan kartu undangan tersebut pada Pak RT, dia langsung menuju ke kedai sebelah.
Saat perjalanan pulang, aku merasakan ada yang menusukkan suntikan sebuah jarum ke bahu kirinya.
Sangat gelap..
Aku tidak bisa melihat apa pun lagi.
Aku pingsan begitu saja.
Begitu aku membuka mata ku, aku melihat diriku yang sudah duduk di sebuah kursi dalam posisi terikat tali. Entah sudah berapa lama aku pingsan.
'Aku ada dimana?'
"Kamu sudah sadar gadis manis?" Ucap seseorang yang baru saja membuka pintu ruangan tempat aku di sekap.
"Siapa kamu?!! Apa mau mu?!!" Aku bertanya dengan suara lantang pada nya.
Aku tidak mengenalnya. Tapi dia malah berbuat seperti ini padaku.
"Aku lah orang yang menyuruh anak buah ku untuk mengejar mu dan menculik mama mu. Karena aku membutuhkanmu."
Ciiiihh, aku jijik mendengar ucapannya itu. Setelah dia masuk, aku melihat seseorang yang familiar bagiku.
'Zesil?'
"Halo, apa kabar Grace? Sudah lama aku tidak berbuat senekat ini. Karena sudah sejak lama pula tidak ada seorang perempuan pun yang berani mendekati Arion ku." Ucap Zesil yang membuatku membelalakkan mata melihatnya.
"Zes, aku itu tidak pernah menyinggung kamu, kenapa kamu bisa sejahat ini pada ku?"
"Aku tidak suka kau mengambil apa yang seharusnya menjadi milikku. Belum lagi, kamu itu sudah membuat ku menderita di dalam jeruji besi sebagai tahanan. Saat ini, kamu adalah tahananku, kamu tidak bisa kemana pun tanpa izin dariku! Dan itu tidak akan pernah terjadi!!"
"Sudahlah sayang, kamu jangan seperti itu. Nanti wajahmu keriput karena marah-marah padanya."
Suara itu berasal dari belakang Zesil. Dia lelaki yang cukup tampan dan bertato. Lelaki itu kini memeluk pinggang Zesil, dan...
'Astaga!! Apa yang salah dengan mataku?! Mereka berciuman di hadapan ku. Dasar tak tau malu.' Grace mengumpat dalam hati.
Mereka berciuman dengan sangat mesra dan panas, hingga terdengar oleh ku suara kecupan dari bibir kedua orang itu yang saling mengecap satu sama lain. Aku merasa mual melihat kelakuan mereka, jadi kupalingkan wajahku dari mereka. Begitu lamanya mereka berciuman, aku tidak bisa menahan rasa muak ku pada mereka berdua dan akhirnya aku memberanikan diri untuk menghentikan perbuatan mereka yang menjijikkan itu.
"Kau menginginkan Arion, tapi kau melakukan perbuatan menjijikkan seperti itu di hadapan ku. Kau benar-benar tidak pantas untuknya!!"
Begitu aku mengucapkan kata kasar itu padanya, Zesil langsung mendekatiku dan menamparku secara membabibuta hingga sudut bibirku mengeluarkan cairan kental berwarna merah.
Kepala ku pusing, mungkin akibat tamparannya yang begitu kuat. Semuanya terasa gelap. Aku pun tidak tau apa pun yang terjadi setelahnya.
ARION POV
'Entah mengapa, setelah seminggu lebih aku tidak berkomunikasi dengannya, aku merasa sangat gelisah. Ada apa sebenarnya?'
Beberapa hari ini, aku tidak bisa fokus dengan pekerjaanku. Aku memikirkan Grace terus menerus. Padahal di awal perpisahan kami, aku masih bisa melakukan semua kegiatanku dengan baik dan benar. Tapi saat ini, semuanya berantakan.
Aku sudah mencoba menghubungi ponselnya, tetapi Daddy yang selalu mengangkatnya.
"Dad biarkan aku sekali ini saja berbicara dengannya. Aku tidak tau mengapa, tapi aku merasa sangat gelisah memikirkannya." Pinta ku pada Dad yang keras kepala.
"Tidak akan ku izinkan. Dia baik-baik saja, Ar. Kamu fokus saja dengan pekerjaan mu di sana. Sudahlah, Daddy sibuk."
Panggilan itu pun di akhiri secara sepihak oleh Daddy. Dia memang orang yang keras. Tidak bisa di bantah.
Berulangkali Daddy mengatakan bahwa Grace baik-baik saja, aku tidak bisa mempercayainya begitu saja untuk beberapa hari ini. Aku sampai meragukan Daddy ku sendiri.
'Kenapa? Apa ada sesuatu yang terjadi?'
Dan setiap kali aku bertanya pada Silvia tentang keadaan Grace, dia selalu mengatakan bahwa dia tidak tau apa pun. Padahal aku yakin 100% bahwa dia masih sering chattingan dengan Grace.
Aku merasa frustasi. Sangat frustasi.
'Ada apa sebenarnya Grace?!!'
"Steve, aku ingin pekerjaanku untuk besok, kamu yang handle." Aku berbicara pada seseorang yang baru saja memasuki ruanganku.
"Ada apa ini, Ar? Kamu tidak berniat untuk pergi ke Siantar kan?"
"Yah, itulah maksudku, Steve. Entah mengapa, aku mengkhawatirkan keadaan Grace. Padahal Dad sudah memberitahukanku kalau dia baik-baik saja."
"Kalau Daddy bilang begitu, artinya dia memang baik-baik saja, Ar. Apa yang perlu kamu khawatirkan?"
"Pokoknya, sore ini juga aku akan berangkat ke sana. Aku tidak mau mendengar keluhan apa pun! Aturkan semuanya untuk ku Steve."
"Siap, komandan!"
Steve pun keluar dari ruangan ku. Aku akan pergi, apapun yang akan terjadi, aku harus pergi ke sana.
"Bagaimana ini? Kita masih belum menemukannya. Apa yang terjadi sebenarnya? Kenapa tidak ada tanda-tanda keberadaannya di kota ini? Kalau dia memang di culik, seharusnya pihak kepolisian sudah bisa menemukan keberadaannya selama 3 hari ini."
Aku mendengar kata-kata yang di ucapkan Daddy sebelum aku memasuki rumah. Ya! Aku sudah tiba di Siantar tanpa memberitahukan siapa pun.
'Tapi, apa yang mereka bahas? Polisi? Sudah 3 hari?'
Sepulang bekerja, aku langsung berangkat menggunakan jet pribadi. Jet pribadi ini di parkirkan di tanah lapang tempat kami parkir waktu itu di sekitar rumah Grace. secara tidak sengaja, aku mendengar percakapan mereka saat aku berada di ambang pintu masuk. Tidak ada satu pun dari mereka yang mengetahui keberadaan ku.
Aku terbelalak mendengar ucapan Papa. Ternyata hal ini yang membuatku resah beberapa hari ini? Grace telah di culik?
"Kenapa kalian tidak ada yang memberitahukan nya pada ku?!! Mau sampai kapan kalian merahasiakannya, Dad?!!"
Emosi ku meluap sampai ke ubun-ubun. Mereka tidak bisa berkata apa pun saat mendengar ucapan ku itu.
"Aku yang akan mencarinya!!"
Aku pun pergi setelah mengatakan hal itu pada mereka. Daddy berusaha mengejar ku, tapi terlambat. Aku sudah naik dan jet pribadi ku pun sudah berangkat.
Teringatnya, aku bisa melacak keberadaan Grace dari kalung pemberianku itu.
Lokasinya, di...
"Hah? Moscow?"
Aku begitu terkejut melihat keberadaannya. ‘Kenapa dia bisa di bawa sampai sana? Apakah dia baik-baik saja?’ Itulah yang selalu terpikirkan oleh ku.
"Steve, aku akan pergi ke Moscow sekarang juga. Kamu yang urus semuanya selama aku tidak ada di sana." Perintahku pada Steve dan langsung mengakhiri panggilan itu tanpa berniat mendengarkan ucapannya.
Aku segera berangkat ke tempat tujuan bersama dengan beberapa anak buah ku. Aku juga sudah menghubungi beberapa relasi ku yang ada di Rusia agar mereka bersedia membantu ku melawan musuh ku ini. Aku belum mengetahui siapa dia.
AUTHOR POV
"Tidak sia-sia selama ini aku memilikimu, Mat. Kamu memang sangat mengerti diriku." Ucap Zesil kepada lelaki yang saat ini memangkunya menghadap tempat di mana Grace di ikat.
"Apa pun akan aku lakukan untuk mu, Zes. Kamu sangat tau bahwa aku tidak akan pernah bisa menolak permintaanmu. Ini juga sebagai balas dendam ku pada nya, karena perempuan sialan ini telah berani memasukkan mu ke dalam jeruji besi."
Lelaki itu memandang sinis pada perempuan yang sudah di ikat menyatu kedua tangannya dengan kuat ke arah atas pada sebuah tiang besi.
"Kamu boleh melakukan apa pun padanya, Zes. Sekarang dia hanya lah boneka mu. Kamu boleh siksa dia sepuasnya. Aku harus pergi dulu, ada urusan penting. Nanti kamu ku jemput ya, sayang."
Lelaki itu memeluk pinggang Zesil dan mencium nya sekilas tepat di bibirnya, "Selamat bersenang-senang, sayang."
Zesil hanya tersenyum melihat kepergian lelaki itu. Saat ini dia sedang fokus melihat ke arah boneka nya. Ya! Grace sudah beberapa hari terkurung dengan kondisi yang menggenaskan.
"Aku sangat senang melihat mu tersiksa seperti ini, jalang. Tidak ada yang boleh memikiki Arion kecuali aku!"
Zesil pun tersenyum tipis mengingat bagaimana dia bisa masuk dan menderita selama terkurung di jeruji besi waktu itu, sampai lelaki itu datang untuk membantunya keluar dari sana.
Flashback On
"Ada apa ini? Kenapa kalian datang ke Apartemenku?" Zesil menganga melihat beberapa polisi yang menerobos masuk ke Apartemennya.
"Kami dari pihak kepolisian mendapat surat perintah penangkapan terhadap saudari bernama Zesil Carmella. Silahkan ikut dengan kami untuk melakukan penyelidikan lebih lanjut lagi." Kata salah satu polisi yang menyerahkan sebuah surat penangkapan ke arah Zesil.
Zesil melirik ke arah manajernya, tetapi orang tersebut malah menggelengkan kepalanya perlahan. Dia tau bahwa semuanya sudah berakhir saat itu juga.
Selama di interogasi, Zesil mengetahui bahwa dia telah di gugat oleh Grace atas percobaan pembunuhan.
'Dari mana dia tau kalau aku yang mencoba membunuhnya? Dia juga mendapat bukti dan saksi yang memberatkan hukuman ku. Awas saja kau Grace, akan ku balas semua perbuatan mu pada ku berkali-kali lipat!!'
Dendam nya Zesil terhadap Grace semakin membuncah setelah dia di usir secara tidak hormat dari dunia permodelan. Semua kontrak syuting film yang telah di tandatangani nya juga memutuskan kontrak secara sepihak.
Semua nya musnah dalam sekejap. Zesil merasa seperti seorang yang terhina. Baru kali pertama dia merasakan kesesakan dan terpuruknya hidupnya itu.
Seminggu setelah dia berada dalam sel, ada seorang tamu yang ingin mengunjunginya. Begitu melihat wajah orang itu, dia merasa takut.
Orang itu sudah mengejarnya sejak dulu. Dia adalah teman masa kecil Zesil, Matvey Gopnik. Saat ayah Zesil meninggal dunia, ibu nya membawa Zesil yang sudah menginjak usia 16 tahun bersamanya pulang ke kampung halaman Ibu nya di Yogyakarta.
Karena paras cantiknya, Zesil di tawari untuk bekerja sebagai model di sebuah Café saat sedang bertemu dengan teman-temannya. Dia pun menerima pekerjaan itu. Akan tetapi, ibu nya meninggal dunia setahun setelah dia bekerja.
Dia yang sebatangkara tertarik dengan seorang model tampan yang dingin terhadap perempuan. Ya, dia itu Arion. Dia merasa bahwa Arion adalah laki-laki yang berbeda. Dia akan melakukan segala cara untuk mendapatkan Arion seutuhnya.
Tapi, karena munculnya Grace sebagai penghalang terbesarnya untuk mendekati Arion, dia jadi semakin jauh dengan Arion. Disaat keterpurukannya ini, bahkan Arion tidak peduli padanya sedikit pun.
Sedangkan lelaki yang di hadapannya ini, sangat mencintainya. Dia bisa memanfaatkan cinta lelaki ini untuk membalaskan dendam nya. Dia akan bermain dengan mulus, meskipun dia harus mengorbankan segalanya, dia rela! Semua demi memiliki Arion seutuhnya.
"Hai, Mat. Apa kabar?" Kata Zesil sambil menunduk. Sebenarnya dia masih belum terbiasa dengan tatapan lelaki ini.
"Zes, siapa yang berani menjebloskanmu ke sini?!! Siapa yang berani mengganggu mu hingga membuat mu memderita seperti ini?!! Siapa?!!"
Kata-kata yang dilontarkan oleh lelaki itu penuh dengan tekanan. Dia tidak suka ada yang mengganggu ketentraman wanita kesayangannya itu. Dia akan membalasnya.
"Kenapa kami tau aku ada di sini, Mat? Bukannya kamu di Rusia?" Zesil kebingungan melihat sikap mengerikan yang dinampakkan oleh lelaki itu.
"Aku sudah lama mencarimu, Zes. Aku mengetahui semuanya. Apalagi di saat kamu menjadi seorang model. Aku selalu memperhatikan semuanya tentang mu. Tidak ada yang tidak ku ketahui tentangmu.
"Maaf, aku sangat lama menjemput mu. Aku mengalami sedikit kesulitan untuk ke sini menemui mu. Kamu mau kan, ikut dengan ku?"
"Aku akan bebas dari sini?" Zesil bertanya dengan penuh harap menatap lelaki yang memintanya untuk ikut dengan lelaki itu.
"Iya, kamu bisa bebas dari sini, asal kamu mau ikut dengan ku. Dan akan aku pastikan, siapa pun yang mengirim mu ke sini, akan menerima akibatnya."
Matvey adalah pemimpin kelompok bandit di Rusia. Dia adalah orang yang berbahaya. Zesil tau akan kekuatan dan kekuasaan yang di miliki oleh lelaki itu. Jadi, dia menyetujui permintaan lelaki itu.
Karena Mat sangat mencintai Zesil, dia tidak akan pernah menyakiti wanita nya seujung kuku pun. Sudah sejak lama sekali, dia menunggu saat-saat di mana Zesil mau ikut bersama nya kembali ke Rusia.
"Aku sudah tidak punya apa-apa lagi, Mat. Nama baik dan karir ku juga sudah hancur seketika saat aku berada di dalam sini. Kamu terlalu baik pada ku, Mat." Zesil menundukkan kepalanya, dia berusaha berakting sedih agar Mat mengasihaninya.
"Kamu itu segalanya bagi ku, Zes. Jangan katakan hal seperti itu. Kamu akan aman bersama ku. Aku akan membahagiakan mu, Zes. Kamu mau kan ikut dengan ku?" Mat menatap sendu ke arah wanita yang dikasihinya.
"Baiklah, Mat. Aku pegang janji mu padaku. Aku akan ikut bersama mu. Asal kamu membantu ku untuk membalaskan dendam ku pada Grace." Ucap Zesil sambil menatap benci ke arah yang tidak tentu.
"Baiklah, Zes. Aku akan mengurus semuanya. Percayalah pada ku." Mat pun pergi dari ruangan itu dan menghadap kepada polisi yang ada di sana. Dia pergi bersama polisi itu untuk mengurus semua berkas dan mengurus segala jenis denda yang harus di bayarkan untuk membebaskan Zesil.
Flashback Off
Zesil pun mengelilingi secara perlahan tempat di mana Grace tergantung. Dia senang melihat kondisi Grace saat ini.
Wajahnya lebam dan sudut bibirnya terdapat cairan kental bekas tamparan nya. Belum lagi tubuh nya, terutama punggung nya, yang sudah meneteskan darah akibat cambukan.
Pakaian Grace pun sudah tidak utuh lagi, karena terdapat bekas sobékan dari cambuk yang di pegang oleh Zesil. Zesil tersenyum puas melihat betapa tak berdaya nya Grace di tangan nya.