
AUTHOR POV
'Ehh, dia malah bengong, ditarik ketaman dulu dehh, biar gak ngebangunin Grace yang sedang tidur' Seseorang yang mengagetkan Arion langsung meraih pergelangan tangan Arion ke arah taman.
"Mommy?" Itu kata pertama yang diucapkam Arion setelah dengan jelas melihat siapa orang yang membuatnya tak berkutik tadi.
"Hehehe.. Mom senang kamu sudah cukup dewasa sekarang. Untuk bisa lebih dekat dengan seorang gadis yang baik, kamu harus bertindak secara natural, sayang. Jangan terburu-buru, bisa-bisa dia berpikiran kamu itu menganggapnya seperti wanita jlang di luar sana." Si Mommy* menjelaskan pada anaknya tersayang apa yang ada dalam pikirannya.
"Aku tidak pernah menganggapnya seperti itu, Mom. Dia itu gadis yang sempurna bagiku, Mom. Selain cantik, baik, ramah, pengertian, pemaaf, dia juga periang." Jawab Arion yang tidak mengerti maksud dari si Mommy.
"Bukan itu maksud Mom. Sayang, Mom tadi melihat semuanya. Mommy hanya mengatakan apa yang ada dalam pikiran Mom, jika Mom diposisi dia. Kalau kamu ketahuan melakukan hal itu padanya saat tertidur begitu, kamu akan terlihat seperti laki-laki yang tidak menghormati seorang gadis." Arion mengangguk pertanda setuju pada Mom nya.
"Dan lagi, kamu gak mau di cap sebagai pria mesum kan? Hehehe.. Mom yakin, kalau anak Mom ini anak yang sangat menjunjung tinggi harga diri seorang perempuan. Mom hanya takut, kalau kamu melakukan hal itu dan bukan Mom yang melihatnya? Atau malah kamu langsung ketahuan oleh Grace gimana?"
"Iya, Mom. Lain kali Ar tidak akan melakukan hal yang sembrono lagi. Tapi Mom janji tidak akan bilang pada siapa pun kan?" Arion memandang Mommy nya dengan gaya puppy eyes nya.
"Iya, Mommy akan menjaga rahasia kita. Tapi kamu harus janji akan selalu menjaganya dengan baik. Meskipun
dia belum memiliki rasa cinta terhadapmu, kamu harus tetap memperjuangkannya. Karena jerih payah seseorang itu tidak akan sia-sia, pasti membuahkan hasil yang baik suatu saat."
Mom memeluk Arion yang sedang berpikir tentang kemungkinan yang kelak ada di depan matanya. Apalagi, Grace yang terbiasa berteman dengan laki-laki akan sulit membuatnya jatuh hati padanya.
"Baiklah, Mom. Ar, janji. Ar, pulang dulu ya, sudah larut nih. Bye Mom." Ar mencium puncak tangan Mom nya dan bergegas pergi dari rumah itu. Karena Adam dan Silvia sudah di dalam kamar, dia tidak berpamitan pada mereka lagi.
**********
"Grace, kenapa kamu sudah di dapur pagi-pagi begini? Tanya Mommy pada Grace.
"Ehh, iya Mom. Grace lapar. Hehehe.. Lagi nyari roti sama selai tapi gak ketemu-ketemu dimana diletak selainya." Kata Grace yang hanya menoleh sedikit padanya Mommy dan masih membuka-buka lemari di dapur.
"Sepertinya sudah habis, Grace. Makanya tidak ketemu. Nanti Mom masakkan nasi goreng saja ya, buat sarapan kita. Kamu duduk saja di meja makan." Mommy menunjuk ke arah meja makan dan tidak membiarkan Grace berada di dapur lebih lama lagi.
Grace hanya mengangguk setuju. Setelah sarapan, dia akan menelepon ke rumah. Dia kangen sama papa, mama, dan adik kembarnya. Dia memang sudah lama tidak menelepon mereka, mungkin Mama akan marah kalau dia tidak menelepon lebih lama lagi. Itulah yang dipikirkannya.
"Morning. Wow, siapa yang memasak pagi-pagi begini? Aromanya sangat menggiurkan." Sosok AdamĀ menuruni tangga dengan setelan jas lengkapnya dan menggandeng istrinya.
"Morning kak. Pagi ini Mom yang masak kak." Grace menjawab dengan suara lantangnya.
"Taraaa, nasi gorengnya sudah siap saji. Silahkan di makan." Kata Mom yang membawa nampan dari dapur.
Mereka sarapan bersama. Selesai makan, Adam berpamitan untuk pergi kerja, sedangkan Silvia mencuci piring. Grace diberi cuti oleh Adam, dia tidak diperbolehkan keluar rumah, apapun alasannya -Adam yang menegaskan hal
ini secara langsung padanya-.
Grace segera masuk ke dalam kamarnya dan membuka laptopnya. Dia ingin melakukan video call dengan adik kembarnya.
"Halo cici..!! Sudah lama kali cici gak telepon kami. Kan kami kangen banget sama cici..!!"
Mereka menyapa kakaknya dengan suara yang keras, mungkin karena sangat merindukan kakak nya yang baik itu.
"Dd, jangan jerit-jerit gitulah, kuping cici bisa tuli mendengarnya. Cici pun kangen sama kalian. Dd cici yang cantik-cantik lagi ngapain?" Grace memang di panggil Cici oleh adik-adiknya. Cici biasanya menjadi kata panggilan untuk kakak perempuan bagi suku Tionghoa.
"Cii, kami lagi belajar. Gak dikasih mama main-main untuk sementara, karena kami kan sebentar lagi UN -Ujian Nasional-. Oh iya, ci. Cici bisa ajari kami MTK -Matematika-? Nanti kalau ada yang kami tidak mengerti soal kisi-kisi dari gurunya, kami fotoin kasih cici ya, cici ajari kami." Kata adik kembarnya bergantian. Mereka memang suka berbicara pergantian dalam satu kalimat.
"Oke dd, belajar yang serius. Cici pun masih sibuk-sibuknya buat nyusun Skripsi. Oh iya, papa sama mama dimana?" Tanya Grace penasaran, karena dilihatnya rumah mereka sepi dan hanya tinggal adik kembarnya.
"Papa mama lagi keluar, cii. Beli pupuk. Mama sudah beli tanah yang di belakang rumah, mau buat nanam sayur."
'Mama memang orang yang rajin dan pekerja keras' Batin Grace memikirkan si mama.
"Ya sudah, nanti titip salam sama Papa Mama ya. Cici mau lanjutin tugas akhir cici dulu. Besok cici telepon lagi. Oke? Oh iya, kemungkinan selesai Sidang, cici usahakan pulang ke rumah ya. Kabari Papa sama Mama ya. Bye dd cici, ummah."
"Oke cici. Langsung kabari kami kalau sudah tau kapan pulang ya, ci. Bye cici. Ummah."
Mereka sangat manja pada cicinya. Mereka lebih patuh dan peduli pada cici nya di banding mama nya sendiri. Karena si mama galak-galak tak menentu pada mereka. Mereka jadi merasa lebih nyaman bersama cicinya untuk mencurahkan semua isi hatinya atau meminta sesuatu yang diinginkan mereka.
Begitu video call nya selesai, Grace fokus pada pengerjaan Skripsinya. Tinggal sedikit lagi, dia bisa ikut Sidang. Dia sudah mempersiapkan segala biayanya sampai Wisuda nanti.
Karena dia terlalu fokus pada laptopnya, dia tidak menyadari adanya kehadiran seseorang dibalik pintu kamarnya. Orang ini mendengar semua percakapannya Grace dengan adiknya.
'Dia mau pulang? Jangan bilang, dia gak akan kembali lagi kesini setelah pulang kesana. Nanti Arion jadi tidak punya kesempatan lagi dehh.' Batin seseorang dibalik pintu itu.
**********
GRACE POV
"Akhirnya, dapat juga teori yang diminta Bapak itu. Semoga saja, tidak banyak coretan lagi nanti kalau aku sudah bisa pergi bimbingan." Aku lelah, tiba-tiba aku dipanggil untuk makan siang bersama.
Ternyata sudah jam segini, aku saja yang terlalu fokus mengerjakan Skripsiku ini. Beginilah fokus seorang mahasiswa, tidak bisa diganggu saat sudah bersama dengan laptop dan buku-buku tebal.
Dengan segera, aku pergi ke ruang makan menggunakan tongkat. Aku lebih suka pakai tongkat ini untuk berjalan dibandingkan kursi roda. Kan lukanya sudah tidak terasa sakit lagi.
'Kok dia jadi rajin kali kesini? Mungkin karena ada Mommy, dia begitu.' Aku merasa bahwa aku dan dia sering bertemu akhir-akhir ini. Aku jadi merasa agak aneh dengan tatapan matanya padaku.
Selama makan, aku hanya diam. Terkadang aku tersenyum jika ada yang mengajakku berbicara. Seluruh badanku terasa pegal. Mungkin karena aku terlalu lama duduk di kamar mengerjakan Skripsi ku.
Selesai makan, aku langsung pamit ke kamar. Aku menutup dan mngunci pintu kamarku. Dengan segera, aku minum obat dan tertidur pulas. Inilah kebiasaanku selama obatnya belum habis.
TOK... TOK... TOK...
"Grace, bangun. Ini sudah waktunya makan malam. Kamu masih tidur ya?"
"Grace, kamu sudah bangunkah? Buka pintunya Grace. Semua sudah menunggumu daritadi."
Astaga..!! Itu suara Arion. Dia yang membangunkanku? Kenapa bukan kak Silvia?
"Iya, iya. Kamu duluan saja, aku menyusul saja."
Tidak ku dengar jawaban dari balik pintu. Dengan segera, aku mencuci muka dan merapikan rambutku. Aku tidak mau terlihat berantakan oleh mereka.
Begitu kubuka pintu, tepat di hadapanku saat ini, kulihat Arion yang masih mengenakan setelan jasnya yang sama dengan yang tadi siang ku lihat. Dia tersenyum padaku. Buat aku merinding saja.
"Kaget aku, ada orang ternyata di depan. Ku kira kamu udah duluan, karena tak terdengar lagi suaranya daritadi. Untung gak copot jantungku mendadak lihat penampakan seperti ini." Aku mengomel padanya yang tidak beranjak pergi dari hadapanku.
"Hei, jangan diam terus disitu, gimana aku bisa keluar dari pintu ini, kalau kamu disitu terus. Kamu bilang orang itu sudah menungguku daritadi, cepat minggir." Aku benar-benar tidak habis pikir dengan orang ini. Entah apa yang dilihatnya, hanya tersenyum macem orang gila.
"Mereka memang menunggu, tapi bukan disini. Mereka sudah terlebih dahulu ke Restoran ala Korea. Mommy pengen makan makanan seperri itu malam ini. Kamu mau kesana dengan pakaian begitu?" Kata-kata Arion masih saja membuatku bingung.
"Tuh kan, kenapa masih diam saja? Cepat ganti pakaianmu, aku tunggu disini. Kamu kira tidak capek berdiri begini menunggumu daritadi?"
Ahh, dia tersenyum lagi. Buat bulu kudukku semakin berdiri. Langsung saja ku tutup pintu kamarku dan ku kunci. Aku menuju lemari pakaianku dan memilih dress selutut berwarna maroon. Dandananku pun hanya sekadarnya saja.
"Sudah siap? Dimana kursi rodamu? Sini ku bawa. Kamu gak boleh keluar rimah tanpa kursi roda."
"Aduuuuhh, kalau pakai tongkat begini saja kan bisa, Ar. Terlalu berlebihan kalau menggunakan kursi roda." Aku mengeluh padanya.
"Atau kamu masih mau kigendong kemana-mana? Aku sih, mau-mau saja menggendongmu seperti kemarin." Dia tersenyum seperti iblis.
Tanpa basa-basi, aku langsung membuka lebar pintu kamarku, kubiarkan dia masuk mengambil kursi roda itu. Dan kami pun berangkat bersama, hanya berdua.
**********
Di Restoran...
"Hai Grace. Ar tidak berbuat macam-macam padamu kan? Mommy yakin, dia itu anak yang baik." Mommy menghampiriku dan bertanya padaku.
"Iya Mom, dia tidak berbuat macam-macam kok." Aku hanya menjawab singkat dan tersenyum.
Arion yang mendorong kursi roda yang kutempati saat ini. Dia bersikeras kalau aku harus masuk ke dalam Restoran menggunakan kursi roda ini.
Terkadang aku berpikir 'Cepatlah sembuh kau, wahai kakiku. Aku tidak mau terlalu lama bergantung pada orang-orang ini'.
Pesanannya sudah tiba. Aku merasa takjub dengan pesanan Mommy. Dia memesan banyak jenis makanan yang sepertinya menggiurkan. Aku sudah tidak sabar untuk memakannya.
Sebelum memulai ritual untuk makan, aku meminta seorang pelayan membawakanku jus alpokat. Jus ini memang sepertinya berlemak, tapi jus ini bagus untuk menurunkan stres ku pada saat ini.
Saat seorang pelayan mengantarkan jus pokat itu padaku, aku berencana mengambilnya sendiri dari nampan yang di pegangnya.
Ehh, tiba-tiba ada seorang wanita cantik menyelip diantara pelayan itu dengan kursi ku saat ini. Jus pokatnya tumpah mengenai gaun wanita itu. Gaun itu kelihatan sangat mahal.
'Aduuuhh, bagaimana ini? Mampus aku.' Aku merutuki diriku sendiri sambil melihat noda pada gaun yang mahal itu. Semua mata tertuju padaku dan padanya.
"Kurang ajar kamu..!! Kamu berani menumpahkan jus bau mu itu ke gaun kesayanganku ini..!! Dasar gembel..!!"
Aku menunduk dan menutup mataku. Dia marah-marah sampai mengangkat tangannya dan mau menamparku. Setelah beberapa menit, tak ada apapun yang terjadi. Ku buka mataku perlahan.
Arion menahan tangan wanita itu. Dan ya, perempuan itu kaget melihat wajah Arion. Sepertinya mereka memang saling mengenal.
"Arion?" Kata wanita itu dengan wajah kagetnya.
Arion hanya mencampakkan tangannya dan masih diam memandangnya tidak suka.
"Arion, kenapa kamu bisa bersama dengan gadis gembel ini? Apa kamu tidak malu duduk bersebelahan dengan perempuan jelek seperti dia? Kamu lihat, apa yang dia lakukan padaku? Dia menumpahkan jus bau nya itu padaku. Kamu tidak marah padanya?"
Hah? Sok manja dia nya. Dia yang salah, kok malah menyalahkanku. Lihatlah dia, meraih tangan Arion dan menempel padanya. Seperti wanita genit saja. Dia sudah merendahkan martabat perempuan baik-baik dengan bertingkah seperti itu.
Apa dia tidak malu di saat dadanya menempel pada tubuh seorang pria? Memang sudah semakin kacau saja dunia ini. Aku kesal melihat tingkah perempuan seperti itu, tapi hanya bisa mengumpatnya dalam hati.
BRUUKKK...!!!
Astaga..!!
Dia di dorong sampai terjatuh oleh Arion? Kulihat Arion menepuk-nepuk area lengan yang tadi disentuh wanita itu. Dia kelihatan jijik dan dari tatapannya itu terlihat sekali kalau dia membenci wanita itu.
"Sudah berapa kali ku bilang, jangan pernah menyentuh ataupun menempel padaku..!! Kamu itu tidak punya harga diri sedikitpun. Sudah jelas-jelas salah, malah tidak bertanggungjawab dengan melempar kesalahan pada orang lain. Berani kamu menyentuhnya lagi walau hanya sejengkal saja, kamu akan tau akibatnya. Sekarang juga pergi dari hadapanku..!!"
Wanita itu menangis dan menunduk. Dia dibantu berdiri oleh seorang asisten -menurutku- untuk berdiri dan keluar dari Restoran. Wajah tagisannya itu pasti karena dia merasa sangat malu mendapat perlakuan kasar di depan umum.
Arion duduk dan melihat ke arahku, "Kenapa kamu melihatku seperti itu?" Aku bertanya dengan heran padanya.
"Seharusnya aku yang bertanya padamu, apa kamu baik-baik saja? Ada yang terluka?" Tanyanya semakin membuatku heran.
"Kamu ini berlebihan sekali. Aku baik-baik saja seperti yang terlihat. Sebelum dia berhasil menamparku tadi, kamu sudah menangkis tangannya. Dan terimakasih karena sudah membantuku seperti tadi."
"Ekhmm.. Jangan lupakan kami disini. Sudah cukup semua kekacauan yang terjadi. Apa kita tidak jadi makan?"
Ampun dehh, sempat lupa kalau ini acara makan bersama. Aku langsung mengalihkan pandanganku ke mereka, "Kita makan saja yuk, nanti makanannya jadi tidak enak dimakan jika sudah tidak panas lagi."
Arion masih tetap diam di tempatnya saat ini. Entah apa yang dipikirkannya. Aku merasa bahwa Mommy memandangi kami berdua. Aku hanya bisa fokus untuk makan saat ini. Karena aku sudah merasa sangat LAPAR.