
AUTHOR POV
Pagi ini, semua orang sangat sibuk. Arion dan Steve sudah berangkat ke Bandung pukul 6 pagi. Grace dan Anne sudah berada di Bandara pukul 8 pagi bersama dengan teman-temannya yang lainnya. Sedangkan Adam dan Silvia datang menemui Grace dan temannya di bandara pukul 9 pagi.
"Grace, jaga kesehatanmu disana ya. Jangan lupa kabari aku kapan acara Wisudanya. Kalau kamu ada masalah, apapun itu, aku bersedia menjadi pendengar yang baik. Jangan sungkan menceritakan hal yang tidak bisa kamu ceritakan pada siapa pun padaku ya, Grace. Aku tau bagaimana kamu dan kamu juga tau bagaimana aku. Aku akan merindukanmu, Grace."
"Benar kata Silvia, Grace. Jaga kesehatanmu disana ya, Grace. Kita ini udah seperti keluarga sendiri, jadi jangan sungkan kalau kamu mau menceritakan apa pun pada kami. Kabari aku secepatnya jika kamu masih kerja atau tidaknya ya, Grace. Agar posisimu tidak selamanya kosong. Hehehehe.."
Silvia dan Adam memeluk dan mengucapkan kata perpisahan pada Grace secara bergantian. Mereka tidak bisa berlama-lama menemui Grace, karena mereka harus ke kantor masing-masing.
"Baiklah, Kak Sil, Kak Adam. Terimakasih banyak untuk kebaikannya selama ini ya, Kak. Grace sayang banget pada kalian."
Grace mengucapkan kata-kata itu sambil memegang tangan kiri Silvia dan tangan kanan Adam secara bersamaan.
Silvia dan Adam pun berpamitan pada semua yang ada disana, termasuk Anne.
"Anne juga baik-baik disana ya. Kalau kamu berkunjung kesini, jangan lupa singgah ke Restoran ya." Ucap Adam sambil melambaikan tangannya pada Anne.
"Pastinya Kak Adam yang résé." Anne tersenyum pada pasangan yang sedang menjauh itu.
Keempat lelaki itu juga memeluk kedua temannya secara bergantian. Sudah saatnya kedua temannya ini pergi. Dua perempuan yang selalu bersama mereka, kini harus pergi jauh.
Anne memang merasa canggung dengan Wilsen, tapi dia menutupi sikap canggungnya dengan senyuman. Dia juga tidak banyak berbicara saat ini.
"Semoga lain kali, kalau kita bertemu lagi, aku harap kita semua sudah menjadi orang sukses. Jangan ada yang putus komunikasinya ya, Grace, Anne." Kata Ahza sambil memeluk kedua temannya.
"Jangan lupa kabari aku, jika diantara kalian ada yang duluan married. Dijamin aku pasti hadir." Canda Nayaka sambil memeluk temannya itu.
"Jaga diri baik-baik dimanapun kalian berada. Kita harus ketemuan lagi suatu hari nanti. Jadi, kalau ada yang mengganti nomornya, langsung kabari yang lainnya. Biar kita tetap utuh komunikasinya." Iwan menambahkan perkataaan Ahza dan Nayaka sambil memeluk kedua perempuan itu.
"Janga lupakan semua kenangan kita. Kalau kalian dalam kesusahan, jangan sungkan untuk mengatakannya pada kami. Kami akan siap sedia membantu." Wilsen mulai memeluk kedua perempuan di hadapannya ini.
Dia begitu sedih dengan perpisahan ini. Tapi apa daya? Mereka berenam memiliki kehidupan masing-masing yang harus dihadapi.
Kedua perempuan itu juga saling berpelukan dan saling tersenyum satu sama lainnya. Tidak ada kata yang bisa mengungkapkan isi hatinya saat ini kecuali senyuman.
"Aku akan merindukan kalian semua." Hanya lima kata inilah yang dilontarkan oleh kedua perempuan ini kepada keempat teman lelakinya itu. Mereka harus berangkat sekarang juga, jika mereka tidak mau ketinggalan penerbangan.
Setiap pertemuan pasti ada perpisahan, tetapi hal itu tidak akan menjadi penghalang suatu hubungan jika komunikasi tetap terjaga dengan baik.
**********
Arion mulai fokus dengan kegiatan syutingnya. Film yang dibintanginya ini terdiri dari 16 episode. Dia akan menghabiskan sekitar sebulan lebih untuk syuting kali ini.
Oh ya, Zesil sudah tidak lagi menjadi pemeran utama wanita dalam Film ini. Dia sudah disérét Arion ke pengadilan atas kasus percobaan pembunuhan terhadap Grace. Meskipun Grace tidak hadir sebagai korban, cukup mudah bagi Arion menjerumuskan Zesil ke dalam jeruji besi itu.
Arion tidak peduli dengan jatuhnya karir Zesil atau semacamnya. Yang terpenting baginya, dia sudah memberi Zesil hukuman yang menurutnya sangat pantas sebagi konsekuensi mengabaikan peringatan darinya.
Para preman dan penjaga kuda di arena Equetrian juga berpartisipasi sebagai saksi. Sehingga hukuman Zesil dapat lebih cepat di proses oleh pihak pengadilan. Semua bukti juga sudah diserahkan untuk memberatkan hukuman Zesil.
Bukannya bertobat, Zesil malah semakin dendam terhadap Grace. Hubungannya dengan Arion semakin tidak mungkin dan karirnya juga sudah hancur. 'Semua ini gara-gara Grace'. Dia menyusun rencana untuk membalaskan kekesalannya itu pada Grace secepatnya.
GRACE POV
Bandara Kualanamu, Medan...
Sebenarnya kangen dengan keluarga di Medan, tapi kapan-kapan saja singgahnya. Aku harus bisa sampai di rumah sebelum malam tiba. Karena aku juga sudah memesan taksi menuju ke Siantar.
Sesampainya dirumah, aku disambut baik oleh adik kembarku. Papa sama mama masih belum pulang juga. Karena sudah merasa gerah, aku langsung mandi dan menyusun barang bawaanku.
"Cici..!! Kenapa cici gak pulang bareng koko?" Adikku ini mulai bertanya padaku. Mereka ini kebiasaan mengucapkan sesuatu secara bersamaan. Jika pertanyaannya sama, itu akan mudah. Tapi, jika pertanyaannya berbeda akan membuatku bingung menjawabnya.
"Yah, dék. Koko mu itu masih Ujian Tengah Semester. Nanti kalau dia sudah libur kuliah, dia pulang kok." Aku memberitahukan pada mereka, "Nah, ini ada oleh-oleh yang cici bawa dari Jakarta untuk kalian berdua. Besok saja makannya ya, dd. Ini sudah malam, gak baik makan yang manis-manis di malam hari."
Tak berapa lama, Papa dan Mama pulang. Aku memeluk mereka berdua. Dan kami pun makan malam bersama.
Selesai makan malam, sikembar yang mengambil alih piring kotor yang ada untuk di cuci. Mereka sudah bisa mandiri. Semua ini karena ajaran Mama yang tegas.
"Mulai lusa, kamu yang mengantarkan adikmu ke sekolah dan mengurus semuanya. Papa sama Mama ada urusan di Medan selama seminggu lebih. Kamu masih lama liburannya kan? Besok kamu bisa urus SIM." Kata Papa sambil menyodorkan beberapa lembar uang seratus ribuan.
"Baik, Pa. Tapi, Grace bisa urus sendiri semua biaya. Papa simpan saja uang ini." Aku tidak menerima uang tersebut.
"Ya sudah, kamu besok bisa pakai kereta Papa untuk pergi mengurus SIM."
"Oke Pa."
Papa dan Mama juga sebebarnya sudah tau kalau aku bisa mengendarai mobil dan sepeda motor. Terkadang kalau kami pulang ke kampung halaman Mama, aku akan meminjam kunci mobil dan membawa anak-anak kecil raun-raun keliling daerah kampung itu.
Aku tidur bersama dengan adik kembarku. Kami terbiasa tidur bertiga dalam satu springbed yang berukuran enam kaki. Tubuh kami termasuk kecil, meskipun adik-adikku lebih tinggi dan lebih gemuk dari aku. Tapi kami masih muat tidur bertiga dalam satu springbed.
Aku kelupaan dengan handphone ku yang sedaritadi ku mode pesawat kan. Setelah ku aktifkan data selulernya, aku mendapatkan banyak notif.
From Arion :
Grace sudah sampai tujuan kah?
From Silvia :
Bagaimana perjalanannya Grace?
Grup Chat :
Ahza : Grace? Anne? Sudah tiba di rumah?
Iwan : Dicuekin :P
Nayaka : Kacang.. Kacang..
Wilsen : Berisik..
Ahza : Bagus-bagus. Si Anne sudah berbicara. Di mana kamu, Grace?
Nayaka : Mungkin sibuk. Gak kayak kau yang kerjanya tidur saja.
Ahza : Ngajak ribut ya?
Wilsen : Berisik..
Iwan : Loe yang berisik Wil..
Aku tersenyum membaca chat yang masuk. Aku mulai membalas semua chat itu sekaligus.
To Arion :
Sudah.
To Kak Silvia :
Aku sudah di rumah Kak, sangat melelahkan.
Grup Chat :
Grace : Aku juga sudah sampai di rumah.
Selesai membalas semua chat yang masuk, aku langsung meletakkan ponselku di meja kamar. Aku dan adik kembarku sudah masuk kamar, karena sudah waktunya tidur.
Kalau di rumah, setiap pukul 9 malam, kami akan masuk ke dalam kamar masing-masing. Jam segini kami sudah bersiap-siap untuk tidur. Agar besok pagi pukul 5 kami sudah bangun dan melakukan ksgiatan masing-masing.
Peraturan di rumah itu cukup ketat, jadi tidak ada yang tidak memiliki tugasnya jika sudah di rumah. Mama tidak lagi mengurus rumah karena dia memiliki anak yang bisa diandalkannya, kecuali memasak.
Pagi-pagi sekali, Mama akan memasak dan aku membantunya menyediakan bumbu masakannya. Adik kembarku akan sibuk menyuci piring setelah selesai sarapan. Pagi ini, Mama yang mengantarkan mereka ke sekolah mengendarai mobil.
Ya! Mama pandai menyetir sedangkan Papa tidak pandai dalam hal itu. Papa sudah trauma dengan menyetir mobil karena pernah mengalami kecelakaan. Maklum saja, usia Papa dan Mama terpaut jauh yakni 17 tahun. Jadi, nyali Mama cukup bagus untuk belajar mengemudi.
Setelah urusan di rumah selesai, aku bersiap-siap ke tempat pengurusan kartu SIM. Aku akan mengurus SIM A dan C. Sekalian saja mengurus kedua SIM itu. Toh juga pasti akan terpakai nantinya.
**********
"Grace, jaga diri kalian ya, kalau tidak ada kendala, Papa sama Mama akan kembali dalam seminggu." Papa memeluk kami bertiga secara bergantian.
"Ingat, hati-hati mengemudi, jangan balap-balap." Mama juga berpesan padaku.
"Iya, Pa, Ma. Hati-hati di jalan ya, Papa, Mama. Semoga cepat selesai urusannya di Medan." Kataku sambil memeluk mereka.
Malam ini, kami hanya tinggal bertiga di rumah. Papa dan Mama sudah berangkat. Sebelum mereka pergi, mereka sudah mengisi kulkas dengan bahan makanan, sehingga aku bisa memasak tanpa kendala apa pun.
Beginilah kegiatanku selama seminggu lebih. Papa dan Mama pilang setelah 10 hari keberangkatannya. Mereka tidak ingin mengatakan apa yang menjadi urusan mereka. Padahal mereka pulang dengan wajah lesu.
Aku tak berani untuk bertanya, namun aku hanya bisa melakukan tugasku dirumah dengan baik. Setiap pagi dan siang, aku mengantar-jemput adik kembarku. Sorenya aku mengajarkan mereka tentang pelajaran yang tidak diketahuinya. Begitu terus selama dua minggu penuh.
Aku tidak betah jika dirumah terus. Jadi, aku menemui Toké rumah makan tempat ku bekerja dulu. Aku meminta untuk membiarkanku bekerja di sana pada shift malam. Dari pukul 5 sore sampai rumah makan itu tutup. Dia bersedia mempekerjakanku selama masa liburanku ini.
Selama dua minggu ini, aku selalu mendapat telepon dari Arion dan Kak Silvia setiap hari. Tapi, Arionlah yang rutin meneleponku di jam malam. Kalau Kak Silvi, terkadang hanya bisa memberi pesan singkat padaku. Gak tau kenapa, terkadang aku merasa risih jika dia terus-terusan meneleponku begitu. Padahal kami tidaklah dekat seperti aku dengan yang lainnya.
Aku juga masih sering chattingan dengan teman-temanku di grup chat. Kabarnya, Wilsen sudah berada di London mengurus keperluannya untuk kuliah disana. Iwan berada di Surabaya dan Nayaka balik ke Yogyakarta.
Yah, mereka adalah penerus usaha orangtuanya. Sedangkan aku? Aku tidak mengharapkan apa pun dari orangtuaku. Karena pendidikanku yang sampai Sarjana ini saja sudah lebih dari cukup untuk membantuku memperoleh pekerjaan yang lebih layak.
Dan itu memang pesan Papa kepada setiap anaknya, "Papa tidak punya banyak harta untuk dibagikan kepada setiap anak. Papa hanya sanggup memberikan pendidikan yang tinggi kepada kalian. Jadi, belajarlah dari guru dan pengalaman hidup kalian masing-masing. Itu akan menjadi modal yang lebih baik untuk menempuh masa depan kalian dibandingkan harta yang akan habis jika terus digunakan."
Aku bangga punya orangtua yang Bijak seperti Papa. Meskipun Papa itu terkadang bisa menjadi sangat kejam, dia tetap Papa yang baik bagi anaknya.
Beberapa hari lagi, adikku yang dari Bandung akan pulang. Aku sudah menyediakan semua keperluannya untuk terbang ke Medan. Tiket dan semua biayanya, aku yang handle dari sini melalui situs tertentu. Karena aku ingin menjadi seorang kakak yang bertanggungjawab atas adiknya.
"Halo Ar, aku sedang sibuk. Jadi tidak bisa berbicara banyak di telepon. Kalau mau bertanya, lewat chat saja ya. Bye Ar."
Aku menolak panggilan dari Arion dengan selembut mungkin. Aku memang tidak tega jika mengakhiri begitu saja panggilan darinya. Tapi aku cukup risih dengannya. Setiap hari menelepon, tapi banyakan diam nya, tidak tau apa yang mau dibahasnya.
Saat ini aku sedang sibuk banget. Karena sedang Malming -Malam Mingguan/Hari Sabtu- Rumah makan tempat aku bekerja sedang ramai oleh pelanggan.
Orangtuaku tidak lagi melarangku untuk melakukan hal yang ingin kulakukan. Hanya satu pesan Papa padaku "Pandai-pandai bawa diri dalam bersosialisasi."
ARION POV
Sudah seminggu ini, aku berusaha mendekatkan diri dengannya. Aku meneleponnya setiap malam. Rutin untuk menanyakan kabarnya. Tapi, aku masih bingung bagaimana memperpanjang percakapan kami. Maklum saja, aku tidak pandai mencari topik pembahasan.
Dari beberapa kali kami berteleponan, dia tidak begitu ramah menjawab semua pertanyaan dariku dan hanya menjawab sekedarnya saja. Tapi, jika dia sedang berbicara dengan orang lain, dia itu sangat ramah.
Kejadian itu ku alami dua hari yang lalu. Disaat dia sedang mengajari adik kembarnya, dia menjawab panggilanku menggunakan earphone. Tiba-tiba ada seseorang yang menelepon dari ponsel yang lain. Dia menjawab telepon itu dan mengabaikanku begitu lama.
Dari percakapan mereka, aku merasa keduanya sangat akrab, padahal aku yakin bahwa orang di seberang sana bukanlah saudaranya karena dia memanggilnya dengan sebutan "Om".
Orang itu juga sempat menanyakan tentang pacar dan tipe orang yang disukai Grace. Karena Grace memang tidak ingin membahasnya, jadi mereka membahas hal lainnya.
'Apa dia sebegitu tidak nyamankah berbicara denganku?'
Hari ini, dia seperti menghindariku. Dia menolak telepon dariku dengan alasan dia sedang sibuk. Dia malah menyuruhku bertanya lewat aplikasi chattingan. Perasaanku sungguh terabaikan olehnya.
'Mungkin saja dia memang terganggu oleh keberadaanku.' Aku sampai berpikiran kalau aku itu sudah tidak memiliki celah sedikitpun untuk mendekatinya.
Daripada nantinya aku merasa lebih kecewa setelah perasaanku semakin dalam, kuputuskan untuk tidak menghubunginya lagi. Memang ini keputusan yang berat bagiku, tapi kemungkinan ini keputusan yang terbaik baginya.