
AUTHOR POV
Steve berjalan menyusuri setiap sudut dari Bangunan yang 3/4 sudah siap dibangun. Ya! Inilah proyek yang ditanganinya bersama Lisya. Karena Lisya masih harus bekerja setiap pukul 7 pagi sampai 11 siang dan harus lanjut lagi jam 2 siang sampai jam 6 sore di Rumah Sakit, Steve harus lebih sering turun ke lapangan sendirian. Sekitar 3 kali dalam sehari. Padahal dia masih harus mengurus pekerjaannya yang ada di Melv.Corp.
Belum lagi, mulai hari ini dia harus lebih ekstra memperhatikan pekerjaannya sekaligus pekerjaan Grace yang memang tidak bisa ditunda. Arion dan Grace sedang menikmati masa cutinya khusus untuk berbulan madu. Hanya Steve lah yang bisa lebih diandalkan untuk saat ini.
Sejak hari itu, hari dimana dia pergi berkencan dengan Lisya, sebenarnya dia sudah memiliki seorang kekasih. Hanya saja, dia masih belum mau mengumbarnya pada orang - orang. Lisya itu orang yang tertutup dengan orang sekitarnya, jadi mereka sudah sepakat dari awal hubungan mereka, tidak akan mengatakannya pada semua orang.
Lisya masih harus belajar untuk melupakan obsesinya terhadap Arion. Sudah terlalu lama memendam perasaannya pada Arion, hal inilah yang membuatnya sulit untuk berpaling dari Arion. Meskipun begitu, pikirannya sudah cukup terbuka melihat kenyataan yang lumayan pahit menyangkut hubungannya dengan Arion.
Berbeda dengan Lisya, Steve selalu setia memberikan pengarahan padanya, meskipun Steve merasa sakit ketika mendengar keluhan dari sang kekasih mengenai perasaan yang tak terbalaskan itu. Tapi, perasaannya yang tulus itu membuatnya bisa bertahan akan hubungan mereka sampai saat ini.
"Steve, sudah lama menunggu? Maaf ya, tadi ada pasien yang keras kepala dan selalu membuang obat yang diberikan Suster. Sebagai Dokter penanggungjawab pasien itu, aku harus memberikan pengarahan dengan sedikit ancaman agar dia mau mengonsumsi obatnya." Lisya memberikan penjelasan pada Steve yang sudah menunggunya sekitar setengah jam yang lalu.
"Aku juga baru sampai, jangan khawatir. Tuh, dimakan ya, Sya. Aku sudah memesannya sesuai seleramu." Ucap Steve sambil menyodorkan sepiring Spaghetti yang baru saja diantar oleh seorang pelayan. Selama mereka makan bersama, Steve mencatat segala jenis makanan dengan beberapa bahan yang tidak pernah disentuh oleh Lisya di dalam otaknya. Dia sangat hapal dengan semua kebiasaan Lisya dalam memesan makanan.
"Wahh, kamu sungguh baik, Steve. Ternyata kamu sudah begitu mengenalku. Padahal kedekatan kita ini belum ada sebulan lho." Ucap Lisya sambil memegang sumpit bersiap menyantap makanan yang ada di depannya kini.
"Itu harus, Sya. Kamu itu kekasihku. Sebagai seorang lelaki dewasa, aku haruslebih memperhatikan keseluruhan dari dirimu, Sya. Cepat di makan, keburu dingin nanti." Ucap Steve yang saat ini hanya memandangi Lisya yang sedang menyantap menu makan siangnya.
"Kamu gak makan, Steve?" Tanya Lisya yang baru sadar kalau Steve sedang tidak makan apa pun saat ini.
"Aku sudah makan tadi. Makanlah." Jawab Steve singkat sambil tersenyum melihat raut wajah khawatir dari Lisya. Kelihatannya, Lisya sudah mulai memperhatikannya sedikit demi sedikit. Begitu saja, sudah cukup bagi Steve.
Lisya pun menganggukkan kepalanya. Dia tau kalau dirinyalah yang terlalu lama datang, pastinya Steve akan makan duluan. Toh juga, Steve yang akan lebih dulu kembali bekerja. Steve sudah memberitahukannya, selama seminggu ini Arion akan berbulan madu dengan Grace. Jadi, pekerjaannya sangat menumpuk.
"Sya, ini sedikit data mengenai pembelian bahan bangunan yang tadi dibeli tapi belum dicairkan dari pihak kalian. Aku hanya bisa kasih info segini saja hari ini. Sebentar lagi, aku mau pamitan. Kamu kan sudah tau seberapa sibuknya aku. Maafin aku yang tidak bisa menemanimu lebih lama lagi." Ucap Steve dengan wajah sendunya sambil menggenggam tangan kiri Lisya yang bebas.
Lisya tersenyum manis melihat ekspresi Steve yang begitu sendu. Dia hanya bisa mengangguk dan berkata, "Tidak apa - apa, Steve. Kamu kan juga punya tanggung jawab dengan pekerjaanmu. Jangan khawatirkan aku. Aku akan langsung pulang setelah menyelesaikan transaksi ini."
Steve pun berdiri dan mengelus kepala Lisya dengan lembut. "Aku akan kembali ke Kantor. Ingat untuk mengabariku saat kamu sudah sampai di Rumah."
"Baiklah. Hati - hati di jalan ya, Steve." Ucap Lisya sambil melambaikan tangannya.
"Aku pergi." Ucap Steve singkat sebelum dia benar - benar meninggalkan Lisya.
Lisya pun segera menghabiskan makanannya dan pergi berkunjung ke lokasi proyek. Dia ingin menemui Mandornya. Untuk menyerahkan sejumlah nominal yang dimaksud oleh Steve. Setelah itu, dia akan pulang ke Rumah dan beristirahat sejenak sebelum kembali bekerja.
Sesampainya di Melv.Corp., Steve memasuki ruang kerjanya. Hari ini dia akan dihadapkan pada beberapa meeting yang harus dihadirinya bersama dengan Silvia.
"Sil, 10 menit lagi aku akan ke ruanganmu. Kita akan mengahadiri meeting yang pertama. Kali ini, Investor dari L.A. yang akan secara langsung berhadapan dengan kita. Kamu sudah tau apa yang kita bahas nanti kan? Jangan sampai kamu salah mengenali orang." Ucap Steve melalui interkom. Dia mengingatkan Silvia akan pekerjaan selanjutnya.
"Stelah kita meeting dengan dia, siapa lagi yang harus kita temui. Meeting hari ini kan ada 3 kali. Tapi kamu malah belum memberitahukan padaku urutan dan waktunya. Kamu memang tegaan, Steve. Aku kan juga harus tau lebih banyak sebelum bertemu dengan mereka." Umpat Silvia yang kesal mengingat bahwasannya Steve belum memberitahukan padanya secara detail mengenai meeting hari ini.
"Setelah kita menyelesaikan meeting yang satu ini, Aku akan memberitahumu secara langsung di ruanganmu. Jangan khawatir, aku ini mahir dalam mengajari orang." Ucap Steve membanggakan dirinya. Dia pun memutuskan sambungan interkom itu.
Steve ingin menenangkan ototnya terlebih dahulu sebelum dia menjemput Silvia untuk menghadiri meeting yang cukup penting ini. Di sisi lain, Silvia malah mengumpat kesal karena Steve seenaknya saja berkata seperti itu. Kalau orangnya Steve, akan mudah baginya mengenali orang. Karena memang itulah kegiatannya setiap hati.
Saat waktunya tiba, Steve menemui Silvia di ruangannya. Mereka pun menghadiri meeting bersama. Steve banyak mengajari Silvia dari posisinya untuk bisa berkomunikasi dengan para Investor terutama yang datang langsung dari L.A. Beginilah kegiatan Steve selama dia bekerjasama dengan Silvia. Banyak hal yang tidak diketahui oleh Silvia, tapi dia terbantu oleh Steve yang selalu memberikannya kode yang dimengerti olehnya.
"Hari ini sungguh melelahkan, tapi juga menyenangkan. Ehh! Aku harus bersiap - siap. Sebentar lagi Lisya akan pulang." Ucap Steve sembari melihat jarum yang ada pada arlojinya.
Steve pun bergegas merapikan semua dokumennya dan membawa beberapa berkas yang harus dikerjakannya malam ini juga. Semenjak mereka memiliki hubungan resmi, Steve akan menjemput Lisya dan mengantarnya dengan selamat. Karena mereka akan pulang dengan mengendarai mobilnya masing - masing, Steve hanya akank mengikuti mobil yang dikendarai Lisya.
"Steve, aku akan melakukan operasi pada seseorang sekarang. Nanti kamu langsung pulang saja, kemungkinan operasi ini akan memakan waktu hingga 8 jam lamanya. Kamu tidak perlu menjemputku, beristirahatlah lebih awal." Ucap Steve yang sedang mengendarai mobil sambil mendengarkan pesan suara yang ditinggalkan oleh Lisya.
'8 jam? Pesan suaranya sekitar jam 2 siang. Berarti tadi dia meneleponku di saat jam meeting yang kedua. Sekarang sudah hampir jam 7 malam. Sekitar 2 jam lagi operasinya selesai. Aku akan pulang lebih dulu dan menjemputnya nanti.' Ucap Steve dalam hati. Dia menimbang semuanya dengan pemikiran yang matang.
Steve pun membelokkan arah mobilnya menuju ke Apartemennya. Dia akan membersihkan diri terlebih dahulu. Tidak ada seorang pun yang bisa melarangnya untuk menemui Lisya, termasuk oerang itu sendiri. Setelag membasuh diri, dia berencana membeli makanan untuk dibawa ke Rumah Sakit agar dia bisa langsung makan malam bersama Lisya.
Steve pun mulai mengendarai mobilnya menuju ke sebuah Restoran yang tidak begitu jauh dari Apartemennya. Dia membeli nasi kotak agar lebih komplit isinya dan tempatnya juga bisa langsung dipakai sebagai wadah pengganti piring. Setelah menerima pesanan, Steve pun melajukan mobilnya menuju ke Rumah Sakit.
Sesampainya di Rumah Sakit..
"Heii..!! Steve..!!" Teriak seseorang yang sepertinya mengenal dirinya. Dia pun langsung menoleh mencari sosok yang meneriakkan namanya itu.
"Ternyata aku tidak salah mengenalimu. Kamu sedang apa di sini?" Tanya orang itu pada Steve setelah jarak mereka lebih dekat saat ini.
"Agung? Kamu di rawat di Rumah Sakit ini ya? Aku sedang mengunjungi seorang teman." Ucap Steve dengan ragu. Agung adalah orang yang berbahaya. Dia takut jika Agung mengetahui tentang hubungannya dengan Lisya akan menjadi tameng untuk Agung mengancamnya demi mendapatkan Grace.
"Sandra." Ucapnya singkat.
"Steve." Mereka pun bersalaman sebentar.
Agung tersenyum melihat kecangggungan Steve dan berkata, "Jangan bilang, kamu masih belum memiliki kekasih? Kamu terlalu canggung padanya."
"Ehh, iya. Kamu tau aku orangnya bagaimana. Kalau tidak kenal dekat, aku memang agak canggung." Jawab Steve singkat.
"Ya sudah, ini sudah waktunya aku kembali ke ruang rawatku. Jangan lupa sesekali datang mengunjungiku di kamar VIP-3 bersama dengan Arion dan Grace. Aku tau kalau untuk saat ini mereka tidak akan bisa mengunjungiku. Selamat malam dan sampai jumpa, Bro." Ucap Agung sambil menyuruh Sandra untuk mendorong kursi rodanya ke arah kamarnya.
Agung belum bisa banyak bergerak, karena begitu banyak bagian vital tubuhnya terkena pukulan maut dari Arion. Kekasihnya, Sandra, adalah orang yang menyenggol Grace saat perjamuan makan malam itu. Tapi, perbuatannya tidak ada yang mengetahuinya sampai saat ini, termasuk orang yang sedang dirawatnya itu.
Sandra sangat mencintai Agung. Dengan berbagai cara, ia rela melakukannya hanya untuk bisa bersama dengan Agung. Namun cintanya hanya bertepuk sebelah tangan. Kisah cintanya memiliki sedikit persamaan dengan kisah cinta Steve. Hanya sedikit.
"Sayang, yang tadi itu siapa ya?" Tanya Sandra penasaran dengan orang yang baru saja dikenalnya. Dia ingin tau bukan karena suka, melainkan karena Agung menyebut nama Grace. Dia tidak menyangka akan mendengar nama menjijikkan itu lagi.
"Dia adalah orang kepercayaan Arion yang menghajarku sampai keadaanku bisa seperti ini." Ucap Agung dengan nada penuh amarah. Dia masih memendam rasa benci dan dendam terhadap Arion yang sekarang sudah memiliki perempuan yang sangat dicintainya.
"Dia jugalah orang yang sudah menjebloskan semua anggotaku ke dalam jeruji besi. Aku akan membalasnya suatu saat nanti. Lihatlah apa yang akan aku lakukan setelah aku keluar dari Rumah Sakit yang menyebalkan ini." Seringaian tersungging di wajah Agung sambil menatap ke luar jendela.
"Ohh, jadi dia itu sudah seperti tangan kanannya Arion." Ucap Sandra sekilas. Dia membenci orang yang dibenci oleh Agung dan dia lebih membenci perempuan lain yang disukai oleh Agung selain dirinya.
Agung mulai memikirkan berbagai cara untuk membalaskan dendamnya. Tapi, dia harus bermain cantik kali ini. Biar dia bisa melakukan semua rencananya dengan lancar dan mulus.
BRUKK..!!
"Sorry, aku tidak sengaja. Aku sedang buru - buru." Ucap seoarang lelaki yang bertabrakan dengan Steve. Nasi kotak yang dia bawa sudah terjatuh dan berantakan di dalam bungkusan nya.
"Ahh, iya. Tidak apa - apa. Santai saja." Steve hanya bisa tersenyum kecut pada lelaki itu.
"Sekali lagi, aku minta maaf ya. Aku harus segera pergi." Ucapnya dengan wajah yang dipenuhi raut cemas dan khawatir.
"Sudahlah, tidak perlu meminta maaf lagi. Aku juga salah. Jadi, pergilah. Kelihatannya kamu sedang mengkhawatirkan sesuatu." Ucap Steve sambil menyunggingkan senyuman pada lelaki itu.
"Baiklah. Terimakasih ya, Bro." Ucap lelaki itu sambil menepuk bahu Steve dan pergi meninggalkannya d tempat kejadian perkara.
Steve hanya bisa menyesali kesialan yang terjadi padanya hari ini. Dia harus bekerja ektra pada ketiga meeting, meninggalkan Lisya yang sedang makan di hadapannya, bertemu dengan Agung dan yang terakhir nasi kotak yang dibelinya juga sudah berantakan.
'Sial!' Umpatnya dalam hati.
Sebenarnya dia kesal, tapi apa daya? Dia tidak pernah bisa marah pada siapa pun juga. Untuk menegur saja, dia berpikir berulangkali untuk menyampaikan isi tegurannya.
"Steve? Kenapa kamu ada di sini? Bukannya aku sudah menyuruhmu untuk pulang dan beristirahat?" Tanya Lisya pada Steve yang sedang termenung di tengah - tengab koridor Rumah Sakit.
"Ehh, operasinya sudah selesai? Maaf, tadi aku hanya ingin menemuimu seperti biasa. Tapi, aku tidak membawa apa - apa untuk makan malam kita." Ucap Steve dengan ragu dan terbata - bata. Dengan cepat, dia membuang bungkusan itu ke dalam tempat sampah yang ada di sebelahnya.
"Tidak apa - apa. Kita kan bisa makan malam di luar." Lisya hanya tersenyum pada Steve. Dia tidak bertanya tentang barang bawaan Steve yang baru saja dibuangnya. Tapi, dia tau kalau itu sebenarnya adalah nasi kotak untuk menu makan malam mereka.
Perhatian Steve padanyalah yang membuatnya semakin berusaha untuk melupakan Arion. Meskipun sulit.
"Tunggu aku di sini, aku akan kembali dan kita bisa pergi ke Restoran yang ada di dekat sini. Baru kita pulang." Ucap Lisya sambil lalu mengambil perkakasnya dari dalam ruangannya.
Lisya pun bergegas menghampiri Steve dan menggandengnya sampai mereka tiba di Restoran. Tindakan kecil seperti ini bisa membuat Steve merasa senang dan melupakan semua masalah yang mengganggu pikirannya. Pikiran mengenai Agung yang secara tiba - tiba muncul dengan keramahtamahan yang dipenuhi oleh sejuta makna tersembunyi.
>>> Bersambung <<<
Sampai sini dulu ya..
Kita akan lanjut di next chap, jangan lupa beri like nya yaa, guys..
Salam Kasih untuk Yg Terkasih
Love You All
💞 💞 💞 💞 💞