
"Ar, kamu baik - baik sajakah?" Tanya Grace saat melihat Ar yang tengah duduk di sofa dengan wajah yang agak pucat.
"Ya, aku baik - baik saja." Jawab Ar singkat.
Grace tidak percaya dengan jawaban Ar barusan. Dia beranjak dari ranjangnya berjalan mendekati Ar sambil menggeser tiang infus miliknya.
"Kamu bohong, Ar. Wajahmu begitu pucat. Kamu sakit?" Tanya Grace sambil menempelkan punggung tangannya ke kening Ar. Tapi Ar tidaklah demam. Hanya saja, wajahnya yang pucat itu sangatlah terlihat jelas menandakan bahwa Ar sedang menahan rasa sakit yang teramat.
Ar yang tidak tega melihat wajah khawatirnya Grace terhadapnya, langsung menarik tangan Grace agar dia bisa duduk bersebelahan dengan Ar.
Ar pun menyandarkan kepalanya di bahu Grace sambil berkata, "Aku baik - baik saja, jangan khawatir. Ini hanya reaksi dari sakit di kepalaku akibat kecelakaan waktu itu. Aku hanya perlu beristirahat sejenak sampai sakit di kepalaku mereda."
"Oke, baiklah. Istirahatlah. Aku akan di sini menemanimu sampai sakitmu mereda." Grace hanya bisa duduk diam tidak melakukan apapun ketika dia membiarkan Ar bersandar di bahunya.
Selang setengah jam, terbukalah pintu ruangan itu. Mereka yang masuk, terheran - heran tidak melihat kedua pasien yang tadinya tidur berdua di atas ranjang yang sama. Begitu mereka masuk ke dalam, Silvia melihat ke arah Grace yang duduk diam menahan Ar yang sedang tertidur dengan kepalanya bersandar di bahu Grace.
"Sssttt.." Grace bersuara selembut mungkin agar Ar tidak terbangun sambil menempelkan jari telunjuknya ke bibirnya memberikan tanda pada orang - orang itu untuk tetap diam.
Semuanya diam, tapi Mrs.Melv. malah memotret kedua insan yang masih saja menempel sedaritadi.
"Ar, bangun Ar. Sudah waktunya makan siang." Grace memilih untuk membangunkan Ar daripada dia dipotret oleh si Mommy.
Ar pun bangun dan melihat ke sekelilingnya. Dia melihat ada begitu banyak orang yang sedang melihat dirinya kini.
"Kalian baru datang? Kenapa tidak langsung banguni Ar? Daddy kapan tiba di Indonesia?" Ar mulai melancarkan berbagai pertanyaan pada mereka yang masih saja terkekeh melihat tingkah Ar yang dinilai sudah kembali menjadi Ar yang baik setelah mengenal Grace.
"Kami hanya tidak mau mengganggu waktumu bermanja - manja dengan dia, Ar." Celetuk Adam yang sedaritadi menahan diri untuk menggoda Arion.
Ar hanya memelototi Abang Iparnya yang rese itu dan beralih melihat dan bertanya pada Orangtuanya, "Dad, Mom. Kapan Daddy tiba di sini? Apakah Dad sudah tau tentang kejadian yang terjadi pada kami tadi malam?"
"Yah, Daddy tibda tadi pagi di sini dan Dad sudah tau semuanya. Tidak ada yang bisa menutupi informasi sekecil apapun dari Dad. Kamu sudah berjanji pada Dad untuk tidak bertindak kasar padanya, tapi kamu melanggarnya. Dad akan membawa dia bersama Dad saat Dad kembali ke London. Dia memiliki hak untuk bebas, Ar. Kamu tidak bisa selalu memperlakukan Grace seperti itu. Ketika waktunya tiba, dia akan ikut dengan Dad apapun yang terjadi." Ucap Mr.Melv. yang berniat untuk menakut - nakuti Anaknya yang lupa ingatan itu.
"Aku tidak akan begitu lagi, Dad. Grace tidak akan kemanapu, Dad. Dia akan tetap di sini sebagai Sekretaris pribadiku. Aku tidak akan membiarkannya dibawa oleh siapapun, meskipun itu Daddy.
"Kita lihat saja nanti, Nak. Dad selalu memegang kata - kata Daddy." Mr.Melv. tersenyum sinis pada Anaknya yang amnesia itu.
"Sudah, sudah. Kasihani mereka. Mereka belum ada makan apapun daritadi. Biarkan mereka makan dan minum obat. Agar mereka bisa cepat keluar dari Rumah Sakit ini." Ucap Mrs.Melv. menengahi perdebatan Suami dan Anaknya.
"Nanti Ar dan Steve akan menemui Dokter untuk mengganti jadwal pemeriksaan yang tertunda kemarin ya, Mom. Jadi, Ar akan keluar dari sini sore ini juga." Ucap Ar sambil menyuapkan sesendok nasinya ke dalam mulutnya.
"Baiklah, Ar. Asal kamu selalu bersama Steve, Mom akan mengizinkanmu untuk keluar lebih cepat dari Rumah Sakit ini. Karena percuma saja kalau Mom melarangmu. Kamu akan tetap melakukan apa yang menurutmu benar." Ucap Mrs.Melv. pada Anaknya yang keras kepala itu.
Ar hanya tersenyum pada Mommy nya sambil melanjutkan kegiatan makannya. Dia ingin memberikan pergi melakukan pemeriksaan sekalian memberikan peringatan pada Dokter yang telah membuatnya salah paham kepada Grace.
"Steve, kabari Dokter itu untuk mengatur waktunya untuk jadwal pemeriksaanku sore ini." Ucap Ar pada Steve. Selama ini memang Steve lah yang menghubungi Dokter itu dengan nomor pribadinya. Ar tidak ingin memiliki hubungan apapun dengan Dokter itu selain hubungan seorang Dokter dengan Pasien.
Sore harinya..
"Hai, Ar. Bagaimana kabarmu selama seminggu lebih ini? Coba kamu katakan padaku sebagai seorang Pasien pada Dokternya, apakah ada sesuatu yang kamu ingat selama hampir 10 hari ini?" Tanya Lisya pada Ar yang sudah duduk dan Steve duduk disebelahnya.
Ar mulai berkonsentrasi untuk melakukan sharing antara Pasien dan Dokter. Dia mulai menceritakan kronologi dari ingatannya.
"Waktu itu aku ribut dengannya. Dia marah padaku dan karena amarahnya, ingatan - ingatanku muncul begitu saja. Sakit dikepalaku lebih parah dari sebelumnya. Sampai akhirnya aku pingsan karena tidak bisa menahan rasa sakitnya."
"Aku hanya mengingat tiga pertemuanku dengannya. Yang pertama, saat di sebuah ruangan aku melihatnya dari belakang. Yang kedua, saat dia meneriakkan namaku. Yang ketiga adalah saat pertama kali aku bertemu dengannya. Aku tidak mengenal wajahnya dalam ingatanku, tapi aku sangat mengenal suaranya. Suara perempuan yang datang bersama denganku minggu, dia perempuan yang sama dengan yang ada diingatanku."
"Aku memang belum sepenuhnya mengingat kenangan kami selama beberapa tahun terakhir. Tapi, tunangannya yang kamu maksud waktu itu adalah aku. Akulah tunangannya yang sudah melupakannya."
Ar sudah selesai dengan perkataannya. Lisya pun bertanya dengan hati bimbang, "Apa kamu yakin akan itu? Kamu yakin kalau dia adalah perempuan dalam ingatanmu? Kamu yakin kalau dia adalah tunanganmu? Kamu saja tidak memakai cincin apapun, bagaimana kamu bisa mengatakan bahwa kamu sudah bertunangan?"
Seperti yang terlihat, Lisya syok mendengar kalau Ar sudah bertunangan. Apalagi dengan perempuan yang biasa saja dan tidak sepadan dengan Ar.
Ar mengeluarkan kalung yang tersembunyi di dalam kemejanya, "Ini adalah cincin pertunangan kami. Aku juga bingung kenapa bisa sampai cincin ini di jadikan kalung seperti ini. Tapi, yang pasti bagiku untuk saat ini , aku mencintai tunanganku. Jadi, kamu sebagai Lisya, jangan sampai aku yang bertindak jika kamu masih berusaha untuk menggodaku. Terimakasih untuk hari ini, aku pergi dulu."
Steve tercengang mendengar omongan Ar mengenai pertunangannya dengan Grace. Dia benar - benar merasa kasihan melihat wajah sedih dari Lisya. Tapi dia tidak bisa berbuat apa - apa. Steve pun berpamitan dengan Lisya dan mengejar Ar yang sudah jauh meninggalkannya.
"Ar, kenapa kamu begitu keras pada Lisya? Dia sangat terpukul mendengar ucapanmu yang kejam itu." Tanya Steve yang geram melihat tingkah Ar yang menurutnya sudah keterlaluan pada Lisya.
"Kalau tidak begitu, aku yakin dia akan selalu mengejarku sampai akhir. Aku berkata dengan jujur. Aku kan memang seorang lelaki yang sudah bertunangan. Kamu saja yang terlalu lemah menghadapi seorang perempuan. Aku malah ingin bertanya padamu, kenapa kamu tidak mengatakan yang sebenarnya padaku waktu itu saat aku membahas tentang Grace yang sudah bertunangan? Kamu sudah tau kalau aku sudah salah paham seperti itu, tapi kamu malah diam."
Pertanyaan Ar membuat Steve merasa sesak. Dia tidak pernah menyangka bahwa Ar akan meminta pertanggungjawabannya untuk diamnya dia pada waktu itu.
"Katakan Steve. Kenapa kamu tidak jujur padaku waktu itu? Aku sampai mengira Grace adalah perempuan rendahan yang sudah bertunangan tapi mau - mau saja didekati oleh lelaki lainnya." Ar mulai kesal tidak mendapatkan jawaban apapun dari Steve.
"Aku hanya ragu untuk mengatakannya padamu. Karena kamu tidak akan mempercayaiku. Kamu kan tidak mengingat apapun tentang dia."
Alasan Steve sangat masuk akal. Jadi, Ar menerima dengan baik alasan tersebut.
"Kamu sudah mengumpulkan data yang aku minta kemarin? Aku ingin mencaritahu sesuatu yang benar - benar penting." Ucap Ar dengan tegas.
"Sudah, semua berkas itu ada di dalam amplop yang ada di bangku belakang." Steve sudah meletakkan dokumen yang dimintai Ar di bangku belakang.
Ar pun menoleh ke belakang dan mengambil amplop itu. Dibukanyalah amplop itu. Dia membaca dengan seksama semua dokumen itu. Dia memiliki 5 Apartemen atasnamaku dan 1 Mansion yang sudah dialihkan menjadi atasnama Grace.
'Benar dugaanku, Rumah yang dimaksud oleh Grace adalah Rumah yang berhubungan denganku. Ternyata Mansion ini yang menjadi Rumah dia selama ini. Aku memang sudab keterlaluan melakukan hal kejam padanya seperti itu.'Pikiran Ar melayang - layang menimang kesalahan yang sudah dilakukannya pada Grace.
Steve pun pulang ke Apartemennya. Dia mandi dan berganti pakaian. Malam ini dia berencana untuk makan di luar. Dia ingin menikmati masa jomblonya dengan berjalan santai dan makan di sebuah Cafe.
Masuklah dia ke dalam sebuah Cafe yang cukup terkenal. Dia mencari tempat duduk yang dekat dengan jendela. Tapi, dia malah melihat seseorang yang sangat dikenalnya.
"Lisya?" Panggil Steve pada perempuan yang sedang minum - minum sendirian di pojok Cafe.
Steve mendekati meja Lisya dsn duduk di depannya. Dia memesan makanan dan minuman untuknya.
"Ehh, kamu. Kenapa kamu ada di sini?" Tanya Lisya setelah dia menyadari keberadaan Steve di hadapannya.
"Aku ingin makan malam di sini. Kamu kenapa minum - minum yang berbau alkohol seperti itu di jam seperti ini? Kamu mabuk?" Tanya Steve penasaran melihat wajah Lisya yang sudah memerah.
"Aku tidak mabuk! Hehehe.." Lisya tertawa seperti orang yang sudah setengah mabuk.
"Kamu mabuk. Katakan padaku, kenapa kamu minum sebanyak ini?" Steve mulai menginterogasi perempuan yang ada di hadapannya kini.
"Aku tidak menyangka Arion sudah bertunangan. Selama ini aku berusaha dengan keras untuk bisa menyamakan statusku dengannya. Sekarang aku sudah menjadi Dokter yang terkenal, cantik dan perempuan itu tidak ada apa - apanya denganku! Aku benci mendengar itu!" Lisya mengoceh tiada henti sambil meminum alkoholnya sampai tetes terakhir.
"Kamu tidak boleh seperti ini, Sya. Kamu harus sadar kalau bukan hanya Arion lelaki di dunia ini." Steve menasihati Lisya sambil melahap makanannya.
"Aku mencintainya! Aku sudah mencintainya sejak SMP!Dialah lelaki pujaan hatiku satu - satunya. Hanya aku yang bisa memilikinya! Perempuan itu tidak sebanding denganku!" Teriak Lisya yang meluapkan isi hatinya pada Steve.
Steve hanya mendengar ocehan Lisya yang terus menerus mengatakan bahwa hanya dia yang pantas sebagai pasangan Arion. Setelah selesai makan, Steve pun mulai memberikan sedikit pencerahan pada Lisya.
"Sya, dengarkan aku. Aku yakin 100% kalau kamu itu hanya terobsesi dengan Arion. Kamu tidak mencintainya. Kalau kamu mencintainya, kamu tidak akan seperti ini. Sebagai seorang teman masa kecil, seharusnya kamu bahagia melihat Arion pada akhirnya menemukan pujaan hatinya." Steve memulai percakapannya dengan Lisya.
"Tidak! Aku tidak terima jika Arion menikah dengan perempuan lain selain aku! Hanya aku yang pantas bersanding di sampingnya! Kamu tidak tau bagaimana perjuanganku untuk memperoleh gelar Dokter dan menjadi Dokter terkenal di sini. Kamu tidak mengerti dengan apa yang aku rasakan!" Lisya mulai membentak Steve yang di anggapnya tidak berpihak padanya.
"Sya, dengarkan aku. Kalau kamu yang pantas untuknya, kamu coba pikirkan dengan baik apa yang aku katakan. Jika kamu menikah dengan Arion yang jelas - jelas tidak menyukaimu, apa kamu yakin pernikahan kalian akan bahagia? Jika kamu menyelip saat ini di antara Arion dengan perempuan itu, apa kamu mau dianggap sebagai perusak hubungan orang? Kamu itu seorang Dokter yang terkenal, jangan sampai kamu bertindak salah untuk menuntaskan ambisimu itu. Kamu terlalu terobsesi dengan sosok Arion yang menurutmu sempurna."
Steve tidak berhenti untuk terus menyadarkan Lisya dari jalan pikirannya yang salah. Diapun melanjutkan nasihatnya terhadap Lisya.
"Sya, kamu itu perempuan yang cantik dan baik. Kamu pasti bisa mendapatkan lelaki yang jauh lebih baik daripada Arion. Hapuskan obsesimu pada Arion, lupakan dia. Arion sudah menjadi milik orang lain, Sya. Dia sangat mencintai perempuan itu. Dia sudah melewati berbagai kesulitan untuk mendapatkan cinta dari perempuan yang dicintainya itu. Aku yakin, Arion tidak bisa hidup tanpa perempuan itu. Jika kamu berniat untuk menyingkirkan perempuan itu, aku minta kamu buang jauh - jauh pemikiranmu itu. Karena Ar pasti akan mengejar perempuan itu bahkan sampai ke alam baka sekalipun."
Lisya sangat sedih mendengar petuah dari Steve. Dia menangis sejadi - jadinya mengingat bagaimana usahanya selama ini hanya untuk mendekati Arion.
"Sya, jangan menangis. Sia - sia airmatamu itu. Aku tidak suka melihat perempuan bersedih hanya karena putus cinta. Sebenarnya, di dalam hatimu paling dalam, kamu itu sangat mengagumi sosok Arion yang memebuatmu menjadi terobsesi dengannya. Kamu tidak mencintainya. Kamu pikirkan baik - baik ucapanku ini, Sya." Steve mulai beranjak dari tempat duduknya dan berpindah ke sebelah Lisya.
Lisya hanya bisa menangis tersedu - sedu memikirkan kemungkinan yang ada. Dia tidak terima dengan apa yang akan terjadi padanya. Dia tidak ingin hubungannya dengan Ar kandas begitu saja.
Steve mengelus pundak Lisya dengan lembut. Hatinya terasa sakit dan dadanya terasa sesak karena melihat orang yang di sukainya menangisi lelaki lain di hadapannya.
Lisya yang memdapat perlakuan khusus seperti itupun langsung membalikkan tubuhnya dan memeluk Steve dengan erat. Kali ini, tagisannya tidak dapat terbendung lagi. Semua orang di Cafe itu melihat ke arah mereka. Tapi Steve malah dengan santainya mengabaikan mereka.
Steve sanagt kaget mendapat pelukan yang tiba - tiba seperti itu. Di satu sisi, dia juga merasa sangat senang karena pelukan ini pertanda baik baginya. Lisya sudah merasa nyaman dengan keberadaannya Sehingga. dia secara spontan memeluk Steve seperti sekarang ini.
Setelah lelah menangis, akhirnya Lisya sudah sadar dari mabuknya dan juga sadar akan kesalahannya. Meskipun berat baginya untuk melupakan Ar begitu saja. Karena dia sudah menyukainya sejak mereka duduk di bangku SD.
"Terimakasih Steve, kamu sudsh menemaniku sampai aku merasa tenang. Dan maafkan aku yang sudah merepotkanmu dan sudah dengan lancang memelukmu melamliaskan seluruh emosiku dengan menangis. Kamu pasti malu karena menjadi pusat perhatian orang - orang yang ada di sini." Ucap Lisya dengan sendu.
"Tidak masalah. Jangan sungkan begitu. Kamu bisa mengandalkanku kapan pun kamu mau. Kita kan teman. Jadi, kamu tidak perlu sesungkan itu padaku." Ucap Steve dengan antusias.
Lisya tersenyum mendengar jawaban Steve. Jarang sekali ada lelaki yang sopan begitu pada seorang perempuan yang sedang kacau pikirannya.
"Ya sudah, kita teman mulai saat ini." Ucap Lisya dengan senyum manisnya..
Steve tersenyum bahagia, dia sudah berhasil mendekati Lisya pada tahap pertama, yaitu menjadi teman perempuan yang akan digebet.
"Kalau begitu, aku pulang dulu. Kamu tidak apa - apa jika kutinggal begitu saja?" Tanya Lisya dengan ragu.
"Ayo! Aku juga sudah tidak ada urusan lagi dengan tempat ini. Aku akan pulang sendiri, Apartemenku ada di dekat sini."
Steve pun membayar tagihan mereka. Dia tidak memberikan bocoran sedikitpun pada Lisya mengenai harga minuman yang sudab dihabiskannya.
Merekapun berpisah di depan pintu masuk Cafe tersebut.
"Steve, sekali lagi, terimakasih banyak ya. Selain menemaniku hingga menjadi pusat perhatian, kamu malah membayar tagihanku. Maaf sudah merepotkanmu sampai 2 kali." Lisya pun melambaikan tangannya pada Steve dan melajukan mobilnya.
"Tidak masalah, sampai jumpa lagi, Sya." Steve melambaikan tangannya pada Lisya yang sudah menjauh.
Malam ini, Steve akan bermimpi indah seindah - indahnya. Dia telah berhasil mendekatkan diri dengan Lisya, perempuan pertama yang bisa membuat jantungnya berdetak tidak beraturan.
>>> Bersambung <<<
Sampai sini dulu ya..
Kita akan lanjut di eps selanjutnya..
Usai membaca, jangan lupa beri jempolnya dan sedikit komen2nya untuk mensupport Author, yaa..
Salam Kasih untuk Yg Terkasih
Love You All