THE PERFECT GIRL

THE PERFECT GIRL
TPG2_126



"Semuanya.. Sudah saatnya makan siang." Ucap Mom yang sudah datang dari arah dapur.


"Baik, Mom." Jawab kami serentak.


"Ya sudah, Mom panggil Daddy kalian dan Yoru dulu yaa. Ajaklah Adam. Kalian tunggulah kami di sana." Ucap Mom sambil lalu meninggalkan kami.


Kak Silvia pun langsung mengambil ponselnya dan menghubungi Suaminya. Sedangkan Ar dan Grace, mereka berjalan berdampingan menuju ke ruang makan.


Setelah semuanya berkumpul, mereka pun makan tanpa ada yang berniat untuk berkata apa - apa. Mereka memiliki kebiasaan untuk makan dalam keadaan damai seperti ini.


Usai makan, Mr.Melv. mengumpulkan semua orang di ruang TV. Dia ingin membahas sesuatu yang pastinya berhubungan dengan kedua perempuan yang sedang hamil itu.


"Sekarang Dad ingin bertanya sesuatu pada Silvia dan Grace secara bergantian. Kalian itu masih bebas memilih kegiatan kalian masing - masing, tapi semuanya ada batasannya. Sil, apa yang ingin kamu lakukan hingga 3 bulan pertama masa kehamilanmu?" Tutur Mr.Melv. sambil bertanya pada Silvia.


Silvia yang merasa terpanggil pun menoleh dan menjawab dengan mantap, " Aku hanya ingin berada di Rumah, Dad. Ditemani Mommy. Kemungkinan Sil akan tetap berdiam diri di Rumah sambil melakukan olahraga yang aman untuk Ibu hamil. Sil tidak berniat untuk berkerja atau melakukan pekerjaan di luar rumah."


"Baiklah, itu ide yang bagus juga. Mommy mu juga tidak akan kesepian lagi di saat Dad sibuk dengan proyek baru Dad bersama Papanya Lisya. Apa Grace juga mau tinggal di Rumah seperti yang diinginkan Silvia?" Mr.Melv. kembali bertanya. Tapi kali ini dia bertanya pada Grace.


"Grace akan tetap ikut dengan Ar ke kantor, Dad. Grace gak mau tinggal diam di rumah. Inginnya banyak membaca dan melakukan hal - hal yang biasa dilakukan oleh Papa dan Ar. Boleh kan, Dad?" Jawab Grace dengan wajah memelasnya.


"Apa kamu yakin, Grace? Kamu itu sedang hamil muda, jangan membuat dirimu sendiri jadi kewalahan. Dad tidak mau kamu salah dalam mengambil keputusan, Grace." Mr.Melv. mulai menuturkan nasehatnya pada Menantu kesayangannya itu.


"Dad, percayalah padaku. Aku tidak pernah melakukan hal yang berlebihan seperti yang Daddy pikirkan selama ini." Ucap Grace guna memberikan pembelaan pada dirinya sendiri.


"Dad, biarkan Grace melakukan hal yang dia inginkan. Aku khawatir, itu yang diinginkan oleh calon Anak kami, Dad. Dia tidak pernah mengidam hal - hal aneh selama ini. Selama dia hamil, dia juga lebih banyak membantuku menganalisis berkas yang harus segera ku tandatangani." Ar mulai angkat bicara mengenai keinginan sang Istri.


"Iya, Sayang. Biarkan Grace pergi ke Kantor. Kan dia hanya berdiam diri di Kantor saja selama jam kerja berlangsung. Tidak akan terjadi apa - apa padanya selama dia berada di samping Ar. Percayalah padanya, Sayang." Bujuk Mrs.Melv. pada suaminya.


Dia tidak ingin sang Suami malah mempersulit keinginan Grace. Dia sempat memikirkan perkataan Ar tadi. Benar adanya kemungkinan itu adalah keinginan dari calon Cucunya.


Setelah memikirkan sejenak perkataan Istri dan Anaknya, akhirnya Mr.Melv. memberikan keputusannya. "Baiklah, kamu boleh bekerja di Kantor dengan pengawasan tambahan dari Dad. Dad akan menambah jumlah Bodyguard untuk mu. Mereka akan berada pada posisi yang Dad perintahkan. Saat Ar pergi rapat atau sedang tidak berada di sisimu, kamu akan diawasi ketat oleh mereka. Bagaimana? Kamu bersedia, Grace."


"Dad bisa melakukan semua yang Dad rasa perlu untuk dilakukan. Grace akan bersedia menerima semua keputusan dari Dad. Asalkan Dad memberikan izin padaku untuk bekerja." Ucap Grace yang tidak ingin berdebat lagi dengan Mr.Melv.


"Baiklah. Dad akan menyiapkan semuanya. Kamu sudah akan ikut dengan Ar berangkat ke Kantor mulai besok pagi. Nah, sekarang mengenai kamu, Yoru. Apa yang ingin kamu lakukan?" Jelas Mr.Melv dengan menutup pembahasannya pada kedua Ibu hamil itu. Sekarang dia fokus pada Yoru.


Yoru terkaget mendengar pertanyaan yang dilontarkan oleh Mr.Melv. padanya. Dia tidak langsung menjawab pertanyaan itu. Dia hanya menjawab singkat, "Aku sedang fokus kuliah, Dad."


"Baiklah, Yoru. Dad akan mempersiapkan segala sesuatunya untukmu ya, Nak? Kamu akan mulai belajar di Melv.Corp. dan belajar pada Steve sedikit mengenai bisnis mulai lusa. Bagaimana menurutmu? Apakah kamu setuju dengan ini, Ar?" Ucap Mr.Melv. panjang lebar pada Yoru sembari menanyakan pendapat dari Ar.


Ar sempat melirik sebentar ke arah Yoru dan tidak melihat adanya hal yang harus dicurigai pada Yoru. Sehingga dia menyetujui keputusan Mr.Melv.


"Ya, Dad. Aku setuju saja. Nanti aku akan memantau bagaimana perkembangannya dalam belajar bisnis di Melv.Corp." Jawab Ar dengan tegas.


Mr.Melv. sudah cukup puas dengan pernyataan dari Ar. Dia menatap ke arah Yoru. Dia belum mendapatkan jawaban apa pun dari Anak Muda itu.


"Kalau Kak Ar sudah mengatakan demikian, aku akan menuruti apa kemauan Dad. Tapi sebelumnya, aku harus menyesuaikan jadwal kuliahku dengan jadwalku bekerja." Jawab Yoru dengan ragu - ragu. Dia takut tidak bisa terbiasa bekerja di bidang bisnis besar seperti Melv.Corp.


"Nah, gitu dong. Kamu bisa mengirimkan jadwal kuliahmu pada Steve. Nanti Dad berikan padamu alamat emailnya padamu. Dia akan membantumu menyesuaikan jadwal kerjamu dengan jadawal kuliahmu." Mr.Melv. merasa sangat senang dengan jawaban yang diberikan oleh Yoru.


Semua keputusannya itu sudah dipikirkan olehnya secara matang. Mr.Melv. mau semua generasinya bisa belajar tentang bisnis dan hal ini juga yang akan bisa membantu para generasi muda untuk membuka usaha suatu saat nanti. Dia tidak ingin usahanya selama ini sia - sia.


"Dad, sebentar lagi jadwal kuliahku. Aku akan berangkat sekarang ya, Dad. Mom, aku pergi." Yoru berpamitan pada kedua Orangtua yang sedang tersenyum melihatnya.


"Ehh, Yoru! Kamu berangkat bareng aku saja. Aku juga harus berangkat ke Kantor. Aku bisa mengantarmu lebih dulu sebelum aku pergi ke Kantor. Kita akan berangkat bersama. Kami pamit ya, Mom, Dad. Aku pergi dulu ya, Sayang." Ucap Ar sembari beranjak dari posisi duduknya setelah mencium kening Istrinya.


"Hati - hati di jalan ya." Ucap semua orang yang ada di ruangan itu pada Ar dan Yoru.


Ar dan Yoru pun menuju ke mobil. Mereka sempat berbincang sedikit selama perjalanan.


Ar merasa sedikit penasaran dengan kisah hidup Yoru yang dulunya dikenal dengan nama Charles selama dia tinggal jauh dari keluarganya.


"Yo, apa kamu selama ini pernah terjun ke dunia kerja?" Tanya Ar dengan ragu - ragu.


Yoru menoleh ke arah Ar yang duduk di kursi pengemudi. Dia terlihat seperti orang yang sedang berpikir dan menjawab dengan santai, "Tidak, Kak. Aku hanya disuruh untuk serius belajar dan belajar. Orangtua angkatku itu sangat baik. Meskipun mereka orang yang bekerja dengan penghasilan yang pas - pasan, mereka selalu mengutamakan sekolahku. Padahal aku ini bukan Anak kandungnya."


"Ohh, ternyata kamu selama ini hanya difokuskan untuk belajar dan belajar saja selama ini? Apa mereka tidak punya Anak?" Tanya Ar setelah mendengar kisah Yoru yang sebenarnya.


"Memang mereka ingin aku fokus dengan sekolahku, Kak. Dan mereka itu pasangan yang tidak memiliki Anak selama 20 tahun pernikahannya, Kak." Jawab Yoru sambil mengalihkan arah pandangnya dari Ar ke arah depan.


"Mereka pasti sangat sulit untuk melepasmu. Kalau boleh tau, apa selama ini kamu sudah tau kalau kamu bukan Anak mereka? Atau mereka dengan sengaja menjauhkanmu dari keluargamu? Kamu pasti sudah tau dari Dad, kalau selama ini, Dad sudah mencarimu dengan memanfaatkan semua media sosial." Ar mulai bertanya ke arah yang lebih privasi. Dia melirik sedikit ke arah Yoru yang masih terdiam.


"Aku memang sudah tau kalau mereka bukan Orangtuaku. Tapi, setelah melihat kebaikan mereka yang merawatku dengan penuh kasih sayang, aku jadi tidak berniat untuk meninggalkan mereka. Mereka sudah menganggapku seperti Anak kandungnya, begitu juga denganku. Tapi, setelah Ibu meninggal karena penyakitnya beberapa bulan lalu, Ayah jadi sering sakit - sakitan. Tapi dia tetap berusaha untuk mencari nafkah untuk menguliahkanku. Sampai suatu saat, dia terserang stroke ringan. Dia membujukku untuk mencari keluargaku dengan modal secarik koran yang menceritakan kecelakaan beberapa tahun yang lalu. Begitulah, Kak." Tutur Yoru menceritakan detail kehidupannya setelah kecelakaan itu terjadi.


"Ada bagusnya, jika sejak dulu kamu kembali dengan membawa mereka. Mungkin saja, keluarga kita akan lebih ramai lagi." Ucap Ar pada Yoru sambil menimbang keputusan Yoru yang tidak mau kembali sejak awal.


"Sudahlah, Kak. Toh juga, semuanya sudah berlalu. Tidak ada yangperlu disesalkan jugan, bukan? Saat ini semuanya hanya tinggal kenangan, Kak. Aku juga harus berusaha hidup dengan baik. Karena aku yakin, mereka juga mau aku bisa hidup lebih baik lagi mulai sekarang." Ucap Yoru tanpa ada penyesalan.


Ar yang mendengar ucapan Yoru pun menyadari ketegaran Yoru yang tidak diketahuinya. Setelah memarkirkan mobilnya, Ar pun berkata, "Kamu memang Anak yang Tegar. Tapi, baguslah kalau kamu berpikiran seperti itu. Sekarang kamu punya kami. Kamu itu bagian dari keluarga Melviano. Jadi, mulai sekarang kamu harus belajar bisnis seperti yang Dad inginkan. Aku yakin kalau kamu pasti bisa jadi orang sukses suatu saat nanti. Sekarang kita sudah sampai." Tutur Ar sambil menoleh ke arah Yoru.


"Baiklah, Kak. Terima kasih atas tumpangannya, Kak. Terima kasih juga atas perhatiannya. Yoru kuliah dulu. Sampai jumpa malam nanti ya, Kak." Pamit Yoru pada Ar. Dia pun keluar dari mobil Ar dan berjalan memasuki gerbang kampusnya.


Setelah melihat Yoru pergi, Ar pun melajukan mobilnya menuju ke Kantornya. Dia bekerja sampai lembur hari ini. Dia harus menyelesaikan laporan yang sempat tertunda karena dia tidak masuk kerja semalam.


GRACE POV


Hari ini adalah hari yang menyenangkan bagiku. Karena semalam aku sudah mendapat izin mertuaku untuk ikut bekerja dengan Ar. Aku juga tidak mengerti, kenapa aku bisa bersikeras untuk ikut bekerja bersama Ar? Mungkin perkataan Ar ada benarnya juga. Bisa saja ini adalah keinginan calon buah hati kami.


Selesai membersihkan wajah, aku langsung menuju ke dapur. Aku tidak diperbolehkan Suamiku untuk memasak. Tapi, aku masih bisa mengatur dan memantau apa yang akan menjadi sarapan dan bekal kami siang ini.


Oh iya, mulai hari ini aku dikawal oleh dua Bodyguard suruhan Papa sampai ke dapur. Mereka memang dikhususkan untuk terus menempel padaku. Yang satu bernama Dhana dan yang lainnya bernama Dhani. Ya! Mereka kembar identik.


Jangan salah mengira, aku tidak hanya akan dikawal oleh dua orang saja. Masih ada 3 orang lagi yang selalu berjaga di depan pintu yang masih ada di sekitarku. Dad memang sangat ketat dalam melindungi anggota keluarganya.


Apalagi Dad sangat tau kalau dalam persaingan dunia bisnis, Ar pasti memiliki banyak musuh. Baik itu yang dikenal ataupun yang sama sekali tidak dikenal.


Selesai dengan kegiatanku di dapur, aku kembali ke kamar dan langsung mandi. Bersiap - siap dahulu sebelum membangunkan Suamiku. Kegiatan yang seperti ini akan menjadi rutinitasku ke depannya.


"Sayang, bangun dan siap - siap gih. Aku akan menyiapkan pakaianmu." Ucapku pada Suamiku yang masih saja bergolek manja di atas ranjang.


Aku yang sudah mengenakan setelan pakaian kerja pun mendekatinya dan mengelus pipinya. "Sayang, bangun dong. Nanti kita jadi terlambat berangkat ke Kantor." Ucapku dengan lembut padanya.


Ar terlihat membuka matanya dan bangkit membenarkan posisi duduknya saat ini. Dia menarikku ke dalam pelukannya dan mencium puncak kepalaku serta mengelus perutku yang masih rata sambil menyapa kami berdua, "Selamat pagi, Sayang. Selamat pagi Anak Papa."


"Baiklah, aku akan bersiap - siap dulu. Kamu tunggu aku di sini. Kita akan turun bersama." Katanya sambil lalu.


Setelah dia siap dengan segalanya, kami pun menuruni tangga diikuti oleh Dhana dan Dhani. Kedua orang ini ternyata sangat setia mengikutiku kemana pun aku melangkah kecuali itu tempat privasi bagiku.


"Sayang, sepagi ini saja, kamu sudah membuatku merasa cemburu. Kamu sudah memiliki bodyguard yang sangat setia mengikuti langkahmu. Apa kamu bisa memilih diantara kami?" Tanyanya padaku dengan menunjukkan sedikit ukiran senyuman khasnya padaku.


"Bisalah. Aku pasti memilih kamu, Sayang. Kamu ini mikirnya yang aneh - aneh saja. Aku sungguh tidak habis pikir, kamu cemburu dengan Bodyguard yang Daddy suruh untuk jagain aku. Kalau kamu tidak ada, bagaimana nasibku dan Anak kita? Hayoo.." Ucapku dengan santainya.


Aku tau dia sedang menatapku heran. Dia tidak percaya bahwa aku akan mengatakan hal itu padanya. Tiba - tiba tangan kirinya menarik pinggangku dan memelukku erat.


"Aku sangat bahagia mendengar jawabamu ini, Sayang." Bisiknya padaku dengan senyum sumringahnya.


Kami pun sarapan dengan yang lainnya. Tidak ada hal penting yang kami bicarakan. Aku hanya mendapat sedikit nasihat dari Daddy. Dad menyuruhku untuk rajin minum air hangat agar aku tidak kekurangan cairan dalam tubuhku selama berada di dalam ruangan ber-AC.


Selesai makan, kami berpamitan pada yang lainnya dan berangkat bersama dengan Yoru. Hari ini kami menggunakan jasa Supir dan Yoru duduk di sebelah Supir. Dia memiliki jadwal kuliah di pagi hari. Jadi, lebih baik dia berangkat bersama dengan kami.


"Yo, Nanti kamu telepon saja Bapak ini untuk menjemputmu sepulang kuliah. Jangan sampai kamu pulang sendirian lagi seperti tadi malam ya, Yo. Kakak tidak suka kamu yang masih muda tidak memperhatikan keselamatanmu." Ucapku penuh peringatan pada Yoru.


Aku kasihan melihatnya pulang hanya dengan menggunakan jasa ojek online dalam keadaan basah kuyub sesampainya di Rumah. Dia itu bagian dari keluarga Melviano. Jadi, dia berhak untuk menikmati fasilitas yang ada di sekitarnya.


"Iya, Kak. Jangan marah - marah lagi dong, Kak. Aku juga sudah punya nomor ponsel Bapak ini. Tadi pagi kami sudah bertukar nomor ponsel. Jadi, Kakak jangan mengomel lagi. Kalau tidak percaya, Kakak bisa menanyakannya langsung pada Bapak ini. Benar yang saya bilang kan, Pak? Saya tidak mengada - ada kan, Pak?" Jawab Yoru panjang kali lebar dengan meminta bantuan dari Pak Supir.


"Iya, Nyonya. Tuan Yoru berkata yang sebenarnya. Kami sudah bertukar nomor [onsel tadi pagi." Lanjut Pak Supir yang membenarkan ucapan Yoru.


Aku melirik keduanya secara bergantian dan berkata tegas, "Aku akan menghukum siapa pun yang ketahuan berbohong padaku. Pak, kabari aku jika Bapak mau menjemputnya nanti. Aku juga harus tau apakah dia mau mendengarkanku atau tidak."


"Baik, Nyonya." Jawab Pak Supir dengan singkatnya.


Akhirnya, kami berpisah dengan Yoru dan tiba di Kantor. Aku memiliki keingintahuan pada sebuah lemari berisikan begitu banyak buku yang di susun dengan rapi. Kudekati lemari buku yang ada di bagian kanan pintu masuk ruangan Ar.


"Kamu mencari buku apa, Sayang?" Tanyanya yang kelihatan penasaran dengan pandanganku yang tak kunjung lepas dari buku - buku itu.


"Aku masih melihat - lihat sampai ketemu dengan buku yang aku inginkan, Sayang." Jawabku tanpa menoleh ke arahnya sambil terus meraba buku - buku yang terpajang di depan ku saat ini.


"Baiklah, kamu bisa membaca semua buku yang ingin kamu baca. Asal kamu tidak bosan membacanya, Sayang. Semua itu adalah buku mengenai Bisnis, baik itu yang asli bahasa Indonesia, terjemahan maupun bahasa Asing. Aku akan pergi rapat bersama Steve. Sekitar sejam lagi, Shei akan membawa masuk berkas yang bisa kamu kerjakan. Aku pergi ya, Sayang. Cup!" Tutur Ar sembari mendekatiku dan mencium keningku.


"Semoga lancar meetingnya ya, Sayang." Jawabku singkat sambil memberikan senyum manisku padanya.


Begitu dia pergi, kedua Bodyguard kembar itu pun masuk dan berdiri di kanan dan kiri sofa tempat aku meletakkan tas ku. Tak berapa lama, akhirnya aku menemukan buku kamus lengkap bahasa Jepang - Indonesia.


Aku tertarik untuk mempelajarinya dan ingin mencoba mengirimkan pesan pada Kak Ichi dalam bahasa Jepang. Aku mengambil buku itu dan meminta seorang dari Bodyguard itu meminta buku tulis pada Shei.


Selama sejam penuh, aku fokus dengan belajar penulisan aksara Jepang secara autodidak. Belajar seperti ini tidak membuatku bosan. Aku merasa senang dan apa yang aku pelajari di awal cukup banyak ku kuasai.


Tokk.. Tokk.. Tokk..


"Masuk!" Teriakku setelah mendengar ketukan pintu.


"Bu, ini berkas yang harus diselesaikan oleh Pak Arion siang ini juga. Karena berkas ini masih harus dikirim ke Amerika, Bu." Ucap Shei yang baru saja memasuki ruangan dan meletakkan berkas - berkas itu di atas meja yang ada di hadapanku.


"Baiklah, aku akan memeriksanya dengan cepat. Setelah Pak Ar selesai rapar, aku pastikan dia bisa langsung menyelesaikannya dengan cepat." Jawabku sambil menoleh ke arahnya.


"Ehh, Shei. Tolong ambilkan aku air hangat. Aku haus nih." Ucapku pada Shei yang sedang berjalan menuju ke luar ruangan.


Saat dia mengantarkan sir hangat untukku, aku mencoba bertanya padanya, "Shei, lihatlah. Bagaimana dengan tulisanku? Apakah sudah mirip dengan yang ada di kamus ini?"


Shei mendekatiku dan duduk di sebelahku melihat buku tulis yang tadinya diberikannya melalui Bodyguardku tadi. Buku tulis yang masih kosong itupun berisi banyak coretan tulisanku yang memperlajari aksara Jepang dari sebuah kamus.


"Iya, Bu. Tulisan Ibu sungguh rapi. Apakah Ibu sudah pernah belajar aksara Jepang seperti ini sebelumnya?" Tanya nya penasaran padaku.


"Tidak. Baru kali ini. Aku hanya sedang ingin mempelajarinya." Jawabku sambil membaca sebuah berkas yang tadi diantar olehnya.


"Oh iya, selamat ya, Bu. Atas kehamilan pertamanya. Aku sempat bingung dengan perubahan sikap dan kebiasaan Ibu selama hamil ini. Sepertinya, kegiatan Ibu dalam bekerja sampai belajar seperti ini adalah keinginan dari jabang bayi nya, Bu. Kalau diperhatikan ulang dari sebelumnya, Ibu sering pusing sendiri dengan berbagai berkas yang Ibu kerjakan. Tapi semenjak hamil, Ibu jadi semakin rajin memeriksa berkas." Ucap Shei sambil mengangguk - anggukkan kepalanya dengan perlahan.


"Suamiku juga berpikiran seperti itu, Shei. Makanya, dia tidak melarangku untuk datang ke KAntor dan mengerjakan apa yang aku inginkan selama masih dalam batas kewajaran dan aman bagiku dan buah hati kami." Ucapku tanpa menoleh ke arahnya.


"Berarti prediksi ku benar adanya, Bu Baiklah, Bu. Saya mohon diri dulu. Masih banyak pekerjaan yang harus saya lakukan sebelum saya mengantarkan ke sini berkas yang harus diperiksa dan ditanda tangani oleh Pak Ar lagi." Ucap Shei sambil lalu.


Tak terasa waktu berlalu begitu cepat. Keempat berkas yang akan dikirim ke Amerika pun sudah selesai kuperiksa dan kutandai dengan catatan kecil seperti biasanya.


Tiba - tiba saja, Ar datang menghampiriku dan memelukku dari belakang sambil berkata, "Sayang, maafkan aku karena terlalu lama membiarkanmu terlalu lama sendirian. Apa kamu merasa bosan?"


Bodyguard kembar itu pun pergi begitu saja meninggalkan kami berdua. Beginilah yang dimaksud oleh Daddy. Dia ingin aku dijaga seperti itu. Meskipun ada sedikit rasa risih, aku tetap akan menerimanya dengan baik. Karena semua yang dilakukan oleh Dad adalah bentuk rasa kasih sayangnya padaku. Aku sangat bersyukur memiliki Mertua yang begitu perhatian pada keselamatanku.


"Aku tidak merasa bosan sama sekali, Sayang. Lihatlah! Tadi aku menemukan buku kamus ini. Di sini ada kamus bahasa Jepang, tapi mengapa kamui tidak bisa berkomunikasi dalam bahasa Jepang? Jadi, buku ini milik siapa, Sayang?" Aku melontarkan berbagai pertanyaan pada Suamiku.


"Ini adalah kamus peninggalan Paman, Papanya Silvia, Sayang. Paman dan Daddy sama - sama hebat dalam berbahasa Asing. Tapi, Paman lebih unggul dalam berbahasa Jepang. Kamu mempelajarinya dengan baik, Sayang. Apa kamu memang sedang ngidam bekerja dan belajar, Sayang?" Setelah memberikan sekilas mengenai kamus ini, Ar malah memberikan pertanyaan yang cukup aneh.


"Aku rasa juga begitu." Jawabku sambil terkekeh garing. Dia pun ikut tertawa bersamaku.


"Kalau begitu, berarti buah hati kita ini pasti sepintar Papanya." Ucapnya singkat padaku untuk membanggakan dirinya sendiri.


"Dan kecerdasan dari Mamanya." Lanjutku sekilas. Dia pun tertawa lepas mendengar perkataanku yang juga membanggakan diriku sendiri.


 


 


 


 


>>> Bersambung <<<


Sampai sini dulu ya..


Kita akan lanjut di next chap, Ingat untuk selalu beri like nya yaa, Kakak2..


Author mohon maaf, jika tidak bisa up TPG selama seminggu penuh karena suatu alasan..


Terimakasih bagi yang sudah support Author selama ini..


Salam Kasih untuk Yg Terkasih


~~ Love You All ~~