
"Aku pulang ya, sayang." Ucapku sambil mengambil bekal kosong yang terletak di atas meja.
"Tunggu, biar ku natar smpai depan pintu. Sekalian aku mau melihat bagaimana reaksi mereka yang sudah bertindak tidak sopan padamu setelah mereka melihat aku mengantarkanmu sampai ke mobil dan menegaskan bahwasannya kamu itu adalah Istriku. Jadi, mereka tidak akan berani melarangmu lagi untuk menemuiku." Ucapnya sambil mengeratkan pegangannya pada pinggangku.
Kami pun keluar dari ruangannya dan berjalan berdampingan menuju ke lift khusus yang memang diperuntukkan hanya untuk orang - orang tertentu saja. Semua mata tertuju padaku yang masih terasa asing bagi mereka. Setelah memasuki lift, Ar menarikku hingga tubuhku menempel pada tubuhnya. Dia tersenyum melihat ekspresi kagetku.
"Meskipun hanya sebentar, tapi aku bahagia dengan responmu yang sangat menggoda." Ucapnya sambil mendekatkan wajahnya padaku.
Aku mendorong tubuhnya agar terlepas dari posisi yang sangat awkward itu sambil berkata, "Sudahlah, Ar. Apa kamu tidak takut jika ada yang melihat posisi kita itu? Jangan berlebihan begitu, sayang. Aku kan juga tidak mau menjadi pusat perhatian dari pegawai yang ada di sini."
"Aku tidak peduli, sayang. Selama kamu aman, aku juga akan merasa aman." Ucapnya sambil menatap ke arahku.
Ting.. Tong..
Bunyi lift terbuka. Ar menggenggam tanganku dan menariknya perlahan. Dia membiarkan semua orang melihat kemesraan kami.
"Ar.." Panggilku dengan nada yang lembut.
"Yes, My Wife?" Tanyanya padaku dengan suara yang lantang.
Banyak pasang mata yang menatapku aneh. Aku gidak terbiasa dengan semua itu. Apa maksud tatapan mereka?
Setelah sampai di depan pintu utama, aku melihat mobil bersama supir yang tadinya mengantarku ke sini. Dia dengan sabar menungguku.
Ar menahan langkah kakiku ysaat aku sudah membuka pintu mobil.
"Ad.. da.. ap.. pa.." Ucapanku terbata karena dia menarikku tiba - tiba dan mendekapku dengan erat.
Ar mencium keningku, pipi kanan dan kiriku. Ehh, yang paling kagetnya, Ar mencium bibirku sedikit lebih lama di depan umum! Aku syok! Aku tidak percaya, dia akan melakukan hal seperti ini.
"Be careful on your way, My Wife. Let me know when you get home, Honey." Ucapnya mengeraskan sedikit suaranya agar semua orang mendengarnya.
(Hati - hati di jalan, Istriku. Kabari aku kalau sudah tiba di rumah ya, sayang.)
Aku hanya bisa mengangguk kecil dan tersenyum padanya. Akhirnya, dia melepaskan pelukannya dan membiarkanku masuk ke dalam mobil. Aku melambaikan tanganku dari dalam mobil melalui jendela mobil yang terbuka.
AUTHOR POV
"Sya, kamu sudah sarapankah?" Tanya Steve pada Lisya yang sedang duduk di sebelahnya.
Setiap pagi mereka akan berangkat bersama pergi ke tempat kerja masing - masing. Lisya tidak mau di atur - atur tentang urusan pekerjaannya. Dia begitu antusias dengan pekerjaannya sebagai seorang Dokter yang sudah susah payah diperolehnya selama mengejar Arion. Hanya jabatannya itulah satu - satunya kenangannya selama mengejar Arion, karena dia sudah kalah selangkah denga Grace.
"Sudah." Jawab Lisya singkat. Meskipun dia menerima pertunangan ini, dia tetap belum bisa mengendalikan perasaannya. Terkadang dia bisa begitu jutek pada Steve, tapi terkadang dia bisa begitu perhatian pada Steve. Dia masih bingung dengan perasaannya sendiri.
"Ya, sudah. Nanti siang, akan kujemput ya? Kita akan makan siang bersama." Ucap Steve dengan lembut pada calon tunangannya itu.
"Baiklah, akan aku tunggu." Lisya pun keluar dari dalam mobil saat Steve sudah memarkirkan mobilnya di depan pintu utama Rumah Sakit tempat dia bekerja.
"Sampai jumpa nanti siang, Sya." Ucap Steve dengan sedikit menguatkan suaranya agar dapat didengar oleh Lisya.
Steve pun berlalu menuju ke tempat kerjanya. Selama dua hari penuh, dia dan Lisya sudah mempersiapkan begitu banyak hal. Mereka tinggal melihat hasil akhir dekorasi dari tempat berlangsungnya acara Pertunangan mereka.
"Steve, ini bagian yang masih harus aku kerjakan? Bukannya masih bisa menunggu Ar pulang baru ini diselesaikan?" Tanya Silvia pada Steve yang menyodorkan beberapa map berkas yang harus dia kerjakan.
"Kemarin memang bisa ditunda. Tapi sekarang tidak lagi. Aku sudah mengubah tanggalnya. Mereka memerlukan data ini paling lama sore ini, Sil. Kamu harus segera mengerjakannya. Aku akan menjemput berkas ini selesai jam istirahat." Ucap Steve tegas pad Silvia.
"Ehh, kok malah mau pergi begitu saja sih?" Ucapan Silvia berhasil membuat Steve menghentikan langkah kakinya.
"Ada apa lagi, Sil?" Tanya Steve sambil membalikkan badannya dan menatap Silvia dengan penasaran.
"Kamu tidak menghubungi Ar? Tidak memberitahukannya tentang acara pertunanganmu?" Tanya Silvia sambil memutarkan bolpoin dengan perlahan di jari - jari kanannya.
"Dia sudah diberitahu oleh Dad. Mom juga bilang, kalau dia sudah memberitahukan Grace. Mereka akan segera pulang ke Indonesia dalam beberapa hari lagi." Jawab Steve dengan santainya.
"Kamu itu, selalu seperti itu. Sangat pintar menggali informasi dari orang lain." Ucap Steve sambil meninggalkan ruangan tersebut.
Dia sedang sibuk dengan beberapa laporan dari pihak produksi. Mereka membutuhkan sedikit pembenahan dalam waktu dekat ini. Apalagi dia akan bertunangan. Jadi, dia harus bisa menyelesaikan semuanya sampai Ar tiba. Steve pun kembali berkutat dengan berkas - berkas yang ada di atas meja kerjanya.
**********
"Sir, this is the file that you have to sign immediately." Ucap Ella yang sedaritadi berusaha mencari cara untuk menemui Bos nya ini.
(Pak, ini adalah berkas yang harus Bapak tanda tangan segera.)
"Yes, just put it on the table there. Then call Feli here." Perintah Ar dengan pandangan tetap pada berkas yang sedang dikerjakannya.
(Ya, letakkan saja di meja sana. Lalu panggil Feli ke sini.)
"Okay, Sir." Jawab Ella singkat sambil meletakkan berkas yang dibawanya di atas meja yang berada cukup jauh dari Meja Kerja Ar.
Ella pun keluar dari ruangan Bos nya itu dengan kesal. Dia tidak terima kalau dirinya dicuekin seperti itu. Setelah tiba di meja kerjanya, dia meneriakkan nama rekan kerjanya, "Feli..!!"
"What happen?" Tanya Feli singkat setelah mendengar namanya diteriakkan oleh Ella. Dia bisa merasakan ada hal yang mengganjal dari pandangan Ella.
"Mr. Arion needs you more than me. He told me to call you inside, even though I was the one who delivered the file to him to sign." Ucap Ella ketus. Dia membenci sikap Ar yang begitu jutek padanya sejak hari itu.
(Pak Arion lebih membutuhkanmu dibandingkan aku. Dia menyuruhku memanggilmu ke dalam, padahal aku yang mengantarkan berkas padanya untuk ditandatanganinya.)
"Okay, Ella. I'll be there." Dengan langkah cepat, Feli pergi menuju ke ruangan Ar.
Ar menyuruhnya mengambil berkas yang sudah di tandatanganinya itu lalu menyuruh Feli kembali ke tempatnya. Tapi, sebelum itu, Ar memberikan sedikit peringatan pada Feli.
"Fel, the next time there is a file that you want to be delivered to me, only you are allowed to deliver any file. Don't let Ella or anyone who enters my room just to deliver the file to me again, besides you." Perintah Ar yang mutlak ini tidak bisa terbantahkan lagi. Seketika Feli menganggukkan kepalanya dan membungkukkan sedikit badannya pertanda ia sedang berpamitan untuk meninggalkan ruangan tersebut.
(Fel, jika lain kali ada berkas yang ingin diantar padaku, hanya kamu yang diizinkan untuk mengantarkan berkas apa pun. Jangan sampai Ella atau siapa pun yang memasuki ruanganku hanya untuk mengantarkan berkas padaku lagi, selain kamu.)
"Okay, Sir. I'll do it. I will tell all the employees." Ucap Feli dengan hati - hati. Dia tidak mau membuat kesalahan dalam berbicara.
(Baik, Pak. Saya akan melakukannya. Saya akan memberitahukannya pada semua pegawai.)
Ar pun menganggukkan kepalanya dan membiarkan Feli untuk keluar dari ruang kerjanya. Begitu keluar dari ruangan Ar, Feli melebarkan senyumannya. Senyum sumringah dari wajahnya terpancar begitu jelas. Ella menatapnya dengan kesal, karena dia melihat berkas yang tadi diantar olehnya, malah ada di tangan Feli.
Feli pun duduk di meja kerjanya dan langsung menyerahkan berkas itu pada Ella. Tapi, Ella malah menerima berkas itu dengan sedikit kasar.
"What is wrong with you? Ella that I know, is not like this." Tanya Feli pada rekan kerjanya itu.
(Ada apa denganmu? Ella yang aku kenal, tidak seperti ini.)
Ella pun beranjak dari tempat duduknya dan berkata, "I have a lot of work. I will submit this file immediately. You just continue your work which was delayed."
(Aku punya banyak pekerjaan. Aku akan menyerahkan berkas ini dengan segera. Kamu lanjutkan saja pekerjaanmu yang sempat tertunda.)
Feli mengetahui ada yang mengganjal dari percakapan mereka. Dia tidak berniat untuk melanjutkan percakapan mereka. Yang ada di benaknya adalah saatnya dia menghubungi beberapa orang yang memiliki jabatan dan sering ala bagian perusahaan untuk memberitahukan apa yang sudah diperintahkan Ar padanya.
>>> Bersambung <<<
Sampai sini dulu ya..
Kita akan lanjut di next chap, Ingat untuk selalu kirim jempol nya yaa, Kakak2..
Terimakasih bagi yang sudah support Author selama ini..
Salam Kasih untuk Yg Terkasih
~~ Love You All ~~