THE PERFECT GIRL

THE PERFECT GIRL
76



“Steve. Coba kamu carikan informasi kapan penerbangan atasnama Grace tiba di Bandara.” Ucap Ar pada Steve melalui interkom dari ruangannya. Pagi ini dia ingin mengetahui kapan pastinya dia bisa menjemput Grace.


“Darimana kamu tau Grace akan pulang ke Indonesia? Bukannya Daddy yang membawanya pergi ya?” Tanya Steve dengan pura - pura bodoh.


“Aku sudah menelepon Dad sesuai keinginannya. Aku meminta maaf dan ingin Dad untuk memberikanku kesempatan untuk meminta maaf padanya. Aku juga akan bertanggungjawab atas tindakan kasarku.


“Oke, baiklah. Akan aku kabari dirimu secepatnya.” Jawab Steve sambil mengakhiri panggilan interkom itu.


Ar kembali mengingat dan mengambil foto Grace yang disimpannya di dalam lemari kecilnya. Dia meletakkan kembali foto itu di dekat komputernya. Pikirannya menjadi lebih tenang dengan adanya foto itu di sana.


‘Ternyata foto ini memang sangat cocok jika diletak di sana. Mood ku pun seketika menjadi lebih baik.’ Ar membatin sambil tersenyum melihat foto itu.


Sekarang Ar sudah bisa lebih berkonsentrasi dengan pekerjaannya. Dia merasa lebih bersemangat dalam bekerja. Meskipun hari senin itu masih dua hari lagi, dia akan menunggu waktu yang tepat untuk bisa meminta maaf pada Grace.


Tak berapa lama, dia mendapatkan pesan dari Steve tentang jadwal penerbangan Grace.


From Steve :


Jadwal penerbangan Grace


USA (Senin, 10 pagi) - Jakarta (Selasa, 9 pagi)


Ar kembali mengeluh, ‘Berarti 3 hari lagi? Kenapa begitu lama? Tapi, ya sudahlah. Aku masih bisa mempersiapkan diriku untuk meminta maaf padanya.’


Akhirnya, Ar melanjutkan pekerjaannya. Dia dengan serius melakukan pekerjaannya dengan baik.


**********


“Steve, bagaimana dengan pekerjaanmu yang Daddy percayakan padamu? Apakah sudah menemukan titik terang?” Tanya Mr.Melv. pada Steve yang diteleponnya barusan.


“Sudah Dad, kita sudah menemukan dalangnya. Tapi, bukti yang kita kumpulkan masih sedikit. Kita tidak bisa menjebloskannya jika buktinya hanya segini. Banyak hal yang harus diperhitungkan, Dad.” Jawab Steve dengan hati - hati. Dia takut untuk melontarkan kata - kata yang mungkin akan menjadi boomerang baginya.


“Katakan pada Daddy, siapa pelakunya? Katakana semuanya! Dad tidak ingin ada hal yang  tertinggal.” Ucap Mr.Melv. dengan penuh rasa penasaran.


“Dalang dari semua ini adalah Pak Budianto Wicaksana, Dad. Sejujurnya, dia pernah sekali ingin menculik Ar dari Apartemennya. Selama ini kami menyembunyikannya dari Daddy karena kami sudah membalasnya waktu itu. Mungkin dia mengetahui pembalasan kami dan malah ingin berbuat lebih kejam lagi daripada sebelumnya.” Tutur Steve dengan penuh keragu  - raguan.


“Apa?!! Hal ini pernah terjadi? Bagaimana kejadiannya, Steve? Katakan semuanya!” Teriak Mr.Melv. dari ujung telepon.


“Malam itu, Ar sedang berada di kamarnya untuk beristirahat. Dia mendengar suara hentakan kaki di dalam Apartemennya. Dengan cara yang bijak, dia berhasil melewati pintu utama Apartemennya dan kabur tanpa diketahui oleh orang - orang suruhan Pak Wicaksana. Lebih dari 5 orang berbadan tegap dan membawa senjata tersadar kalau Ar kabur dan mereka mengejar Ar. Ar berlari sampai dia bertemu dengan Grace di taman waktu itu.”


“Ar bercerita padaku bahwa dia memohon bantuan Grace saat itu. Tanpa menaruh rasa curiga padanya, Grace malah menyuruh Ar untuk tidur dipangkuannya dan dia menyelimuti Ar menggunakan jaket panjangnya. Ar tertidur selama setengah jam penuh tanpa menyadari apa yang sudah terjadi.” Steve pun berhenti sejenak untuk menarik nafas mengatur pernafasannya.


“Saat itu saat dimana Ar bertemu dengan Grace pertama kalinya? Sejak saat itu Ar sudah menyukainya?” Fokus Mr.Melv. mulai melenceng ke arah kisah percintaan Arion dengan Grace.


“Iya, Dad. Ar sudah menyukai Grace sejak saat itu.” Jawab Steve sambil terkekeh kecil mengingat bagaimana Ar mulai kelabakan setiap kali bertemu dengan Grace.


“Wahh! Berarti Cinta pada pandangan pertama dong? Hahaha.. Biasa juga Ar merasakan hal seperti itu. Ekhm.. Ayo kita lanjut lagi topic utama kita. Jadi, bagaimana cara kalian membalas di Wicak itu?” Tanya Dad melanjutkan rasa penasarannya.


“Waktu itu kami menyuruh anak buah kami untuk menguntitnya hingga dia merasakan ketakutan yang sangat parah waktu itu, Dad. Dia sampai trauma untuk keluar dari Rumah jika dia sendirian. Setelah 2 tahun ini, dia sudah pulih kembali dan mengetahui tentang penguntit yang membuat dirinya hampir masuk Rumah Sakit Jiwa. Dia kan pastinya sudah mengetahui tentang pernikahan Ar dan semuanya, apalagi saat semua undangan dan berita tentang itu tersebar luas. Pada saat yang tepat pula, dia merencanakan semuanya dengan sedemikian rupa.”


Penjelasan dari Steve membuat Mr.Melv. tercengang. Sesaat dia tidak menyangka dengan cara mereka membalas perbuatan musuhnya akan seperti itu. Sungguh mengerikan. Diikuti penguntut sampai dirinya hampir masuk Rumah Sakit Jiwa karena tekanan psikologis yang diberikan padanya.


“Baiklah, Steve. Dad percayakan semuanya padamu. Cari dengan segera bukti - bukti yang dapat memberatkan hukumannya. Dad percayakan semuanya padamu ya, Steve.” Mr.Melv. mengatakannya dengan tegas pada Steve.


“Siap Dad..!!” Jawab Steve dengan penuh semangat.


ARION POV


Sepulang kantor, aku malah tidak bisa tenang dibuat teman Mommy yang ganjen ini. dia selalu menempel padaku layaknya perangko. Aku mau marah, tapi tidak bisa. Aku mau bertindak kasar tapi tidak boleh. Bagaimana ini?


“Mom, Ar langsung ke kamar aja ya? Ar sudah lelah karena kerja seharian.” Kataku pada Mom yang hanya diam melihat Tante Zio menempel padaku.


‘Kenapa sih, ini Tante - Tante ganjen datang terus ke sini? Gak suka aku lihatnya!’ Gerutu Ar dalam hati.


“Jang dong, Ar. Kan Tante masih pengen lihat kamu. Jangan pergi dong. Nanti Tante jadi sia - sia datang ke sini.” Ucap Tante Zio dengan nada yang dibuat - buatnya.


“Iya, Ar. Kamu jangan pergi dulu. Kan kalian sudah dekat sejak kecil.” Ucapan Mom yang gamblang itu sukses membuat aku pusing 7 keliling.


“Ar pusing, Mom. Mau istirahat. Bye Mom. Bye Tante.”


Aku pun beranjak pergi secepat kilat dari sana. Aku tidak suka dengan Tante Zio. Apa maksudnya mendekatiku seperti itu? Aku tidak pernah tau sejak kapan aku dekat dengannya. Yang aku tau adalah aku tidak pernah suka dengan tingkah sok manjanya itu.


Kalau saja ada Grace di sini, pasti aku bisa berlindung padanya agar si Tante genjen itu tidak berani lagi mendekatiku. Ehh, kenapa aku bisa kepikiran padanya lagi dan lagi? Akh! Entahlah! Aku mau mandi saja.


Setelah kegiatanku di kamar mandi selesai, aku pun berbaring di atas tempat tidur.


‘Kenapa terasa hampa begini ya? Aku merasa ada yang kurang dari ruangan ini, tapi apa?’ Semakin aku memikirkannya, kepalaku terasa berat dan berdenyut. Ya! Setiap kali aku ingin mengingat tentangnya, aku pasti merasa kesakitan ini.


Akhirnya, aku berhenti memikirkannya. Aku berusaha untuk tidur, tapi tetap tidak bisa. Dan aku teringat akan sesuatu. Aku mengambil poselku dan melihat foto yang sama dengan yang kuletakkan di atas meja kerjaku di Kantor. Aku memandanginya hingga akhirnya aku tertidur pulas.


Keesokan harinya…


Hari ini, lagi - lagi jadwalku untuk menemui Dokter aneh itu.


‘Kenapa sih, aku selalu dikelilingi oleh perempuan - perempuan yang tingkahnya menyebalkan semua?’ Aku terus menerus mengumpat dalam hati.


Hari ini, jadwalnya pukul 10 pagi. Jadi, aku harus cepat bangun juga, padahal ini adalah Hari Minggu. Sungguh menyebalkan!


"Ar, Steve sudah datang, kamu cepat siap - siapnya. Tidak bagus kalau kalian datang terlambat saat perawatan yang sudah dijadwalkan." Ucap Mommy dari luar pintu kamarku sambil mengetuk pintu kamarku.


"Iya, Mom. 10 menit lagi Ar turun. Ar masih mau mandi." Kataku pada Mom yang langsung pergi setelah mendengar aku menyebutkan kata 10 menit.


Selesai makan, aku beranjak dari kursiku dan pergi menuju mobil yang sudah disediakan oleh supir. Supirnya hanya menyediakan mobilnya saja, Steve yang akan mengemudikannya. Dan kami pun berangkat ke Rumah Sakit itu.


Setibanya di ruangan Dokter itu, aku pun berbaring dan diperiksa lagi olehnya, kali ini aku tidak akan mengatakan apa pun sebelum aku naik pitam seperti biasa.


"Ar, kamu pernah merasakan sakit kepala selama dua hari inikah?" Tanyanya padaku yang mendapat respon negatif dariku. Aku hanya menggelengkan kepala tanpa berniat menatapnya.


Aku tau, kalau Steve yang sudah lama menjomblo itu sedang mendambakan gadis yang ada di hadapanku ini. Padahal jelas banget terlihat kalau Dokter ini menyukaiku.


"Ya sudah, kalau memang tidak ada. Berarti, mulai minggu depan, jadwal perawatannya akan dilakukan seminggu sekali tepat di hari rabu saja. Aku juga akan memberikanmu resep obat dan vitamin yang dapat membantu penyembuhan retakan di bagian dinding otakmu," katanya sambil membalikkan tubuhnya dan berjalan menuju meja kerjanya.


Dokter itu menuliskan resep obat dan vitamin yang harus ditebus untuk kukonsumsi. Betapa ribetnya kita dibuatnya, gara - gara kecelakaan yang tidak diinginkan terjadi padaku.


Aku memang sudah tau kalau aku mengalami kecelakaan sampai terkena amnesia sementara. Dari yang aku perhatikan, aku hanya melupakan Grace, seorang perempuan misterius yang mampu mengaduk emosiku dalam waktu yang singkat.


Saat aku merasa sudah tidak diperlukan lagi, aku langsung keluar dari ruangan itu. Aku ingin memberikan waktu dan ruang untuk Steve agar dia bisa lebih leluasa mendekatkan diri pada Dokter aneh itu.


Aku menunggunya di dalam mobil. Itu akan lebih aman jika aku berada di sana daripada menjadi pusat perhatian para pasien yang ada di Rumah Sakit itu.


Setelah beberapa saat, Steve pun muncul dengan wajah yang berbinar - binar. Aku sangat yakin kalau dia sedang dalam suasana hati yang bahagia.


"Wahh, kelihatannya sukses pendekatannya dengan Dokter itu. Makan - makanlah kita. Hahaha.." Candaku setelah Steve duduk di sebelahku dan mengemudikan mobilnya dengan perlahan.


"Tebakanmu benar, Ar! Doakan saja, dia mau menerimaku dan bisa melupakanmu. Kamu tau sendiri kan, bagaimana perasaannya terhadapmu?" Kulihat Steve mulai menggaruk kepalanya yang tidak gatal itu.


Dia gugup! Hahaha.. Sangat lucu.


Baru kali ini aku melihatnya salah tingkah begitu.


Sekarang kami akan kembali ke Mansion. Akan sangat membosankan jika harus berdiam diri di dalam kamar dan mengerjakan pekerjaanku melalui laptop dan tabletku.


Di saat sudah tiba di Mansion, aku berencana untuk langsung masuk ke kamar. Tapi diriku malah di hadang oleh Tante Zio. Hari ini tante Zio membawa anaknya untuk diperkenalkan padaku dan Steve.


"Ar, Steve. Perkenalkan ini anak nya Tante Zio kalian. Dia lucu banget kan?" Mom memperkenalkan kami dengan Zio.


"Steve, tolong main sama Zio sebentar ya? Tante ada sedikit urusan dengan Arion. Boleh kan Steve?" Tanya Tante ganjen itu.


Setelah Steve pergi membawa pergi Zio, tangan Tante Zio malah dengan rakusnya menggenggam lenganku. Aku merasa sangat risih, tapi apa dayaku? Aku tidak bisa bertindak kasar padanya.


'Kenapa harus setiap hari, Tante ganjen ini datang ke rumah dan selalu menempel padaku. Apa yang diinginkannya sebenarnya?' Aku pun bertanya - tanya dalam hati.


"Tante mau Ar mencicipi masakan Tante. Ini khusus buat Ar lho. Jangan gak di makan ya? Habiskan semuanya ya, Ar." Tante Zio membuka semua rantang makanan yang dibawanya dihadapanku.


"Kenapa harus aku yang memakannya sampai habis, Tan? Kan ada Zio dan yang lainnya juga." Tanyaku dengan ragu.


"Tante kan sudah bilang, kalau ini khusus Tante masak untukmu. Siapapun itu tidak boleh menyentuhnya, apalagi mereka sampai memakannya. Termasuk Zio."


Perkataan si Tante ganjen berhasil membuatku merinding tujuh keliling.


Oh iya! Mom pergi entah kemana meninggalkanku hanya berduaan dengan Tante ini. Mom tega banget melakukan hal ini padaku.


'Gimana caranya aku kabur dari Tante ini?' Gerutuku yang hanya aku sendiri yang mengetahuinya.


Aku terus mencaritahu cara untuk lepas dari Tante Zio ini. Aku benar - benar tidak menyukai jika dia menempel terus seperti ini padaku.


Drrttt... Drrttt... Drrttt...


Akhirnya, ada yang meneleponku. Dan ini saat yang tepat untuk menjauh darinya. Aku pun berusaha beranjak dari tempat dudukku.


"Maaf, Tan. Ar ke sana sebentar mau menerima telepon terlebih dahulu. Jadi, tolong lepaskan tangan Tante dari lenganku." Ucapku yang cukup tegas untuk membuatnya lepas dariku.


"Tante masih mau begini, Ar. Kamu kan bisa menjawab teleponmu di sini. Tidak perlu sampai keluar dari ruangan ini."


Tante ganjen ini tetap kekeuh memeluk erat lenganku saat ini. Aku memang harus sedikit lebih kasar padanya.


"Aku akan menjawab telepon dari client penting, Tan. Ini gak ada hubungannya dengan Tante. Aku sudah cukup bersabar dengan sikap aneh Tante sejak tadi, karena Aku masih memandang Tante itu sebagai teman baik Mom. Jadi, jangan melewati batasan Tante. Kesabaranku juga terbatas, Tan. Aku pergi dulu!" Jawab Ar dengan tegas.


Ar benar - benar pergi dari ruang makan itu langsung menuju ke kamarnya dan aku tidak kembali lagi ke sana.


>>> Bersambung <<<


Sampai sini dulu ya..


Lanjut di eps selanjutnya..


**********


Selesai membaca, jangan lupa klik tanda jempol sebagai apresiasi kalian terhadap Author ^.^


Dan beri komentar seputar ceritanya ya,, agar Author tau bagaimana respon pembaca pada cerita ini..


Apakah banyak yang suka? Atau malah banyak yang tidak suka?


'Terima kasih bagi yang sudah setia membaca dan menanti kelanjutan kisah Arion dan Grace.


 Ingat untuk singgah ke karya terbaru Author yang berjudul “NARA” yaa..


Salam Kasih untuk Yang Terkasih


Love You All