THE PERFECT GIRL

THE PERFECT GIRL
TPG2_142



"Ayo, Steve! Kita dobrak saja pintunya! Seluruh arena ini sudah terkepung, jadi mereka tidak akan bisa kabur melalui celah mana pun." Ricky mulai memberi usulan pada Steve.


Dengan kekuatan penuh, Steve menendang pintu yang ada di hadapannya. Pintu itu pun terlepas dari tempatnya. Beberapa anak buah Rixky langsung menembak anak buah Pak Wicaksana secara membabibuta. Mereka tidak berbelas kasih sedikit pun.


"Ar!" teriak Steve yang melihat kondisi Arion seperti tidak bernyawa lagi.


Arion tergeletak begitu saja sambil menutup matanya. Wajahnya yang terlihat begitu pucat pasih dan dengan luka lebam di sana sini.


"Bang, tolongin Ar. Tubuhnya terasa begitu digin. Tapi, dia masih bernafas, Bang." Steve meminta pertolongan secepatnya pada Ricky.


Ricky hanya menganggukkan kepalanya, lalu datanglah beberapa anak buahnya datang membawa tandu ambulans. Mereka mengambil alih tubuh Ar yang tadinya di topang oleh Steve dan dengan gerakan cepat membawanya pergi dari tempat itu.


"Biarkan saja mereka yang mengurusnya. Kita fokus mencari siapa dalang dari semua ini. Apa ada diantara mereka yang kamu kenal? Aku akan memberinya hukuman tanpa ampun!" Ricky mulai mengeram kesal pada pada anak buah Wicaksana dan menunjuk mereka secara bergantian.


Saat ini, Pak Wicaksana bersembunyi di balik sebuah ruangan kecil yang terletak tepat di bawah tangga. Dia berjalan merangkak melewati lorong ruangan kecil itu yang tembusannya menuju ke ruang bawah tanah.


Suara - suara tembakan yang tiada hentinya itu, membuat bulu kuduknya berdiri sepanjang perjalanan menuju ke lorong bawah tanah. Tubuhnya mulai bergetar karena rasa takutnya yang sudah melewati batas aman.


Sesampainya di lorong bawah tanah, dia melanjutkan perjalanannya hingga ia tiba di depan sebuah pintu papan kecil. Dia mengintip sedikit dari balik pintu kecil itu. Tapi..


"Mau kabur kemana lagi?" tanya Ricky dengan sangarnya.


Ricky berhasil membuat Pak Wicaksana merasakan kengerian yang begitu parah. Hingga dia tidak sanggup lagi untuk berdiri. Kakinya gemetaran dan hal itu membuatnya jatuh terduduk. Kakinya terlalu lemah untuk membantunya melarikan diri lagi.


Ricky mengarahkan jari telunjuknya ke arah Pak Wicaksana. Beberapa anak buahnya yang mengerti, langsung masuk melalui pintu kecil itu dan menyeret Pak Wicaksana keluar dari ruangan kecil itu.


STEVE POV


"Steve! Semuanya sudah tertangkap. Kamu mau aku apakan orang - orang ini?" tanya Bang Ricky padaku.


Aku menoleh ke arah Pak Wicaksana dengan geram. Aku tidak menyangka, bahwa dia adalah dalang dari semua ini.


Tanpa berbasa - basi lagi, aku memantapkan jawabanku dan berkata, "Habisi saja mereka, Bang! Jangan biarkan mereka menikmati nafas kehidupan lagi!"


Bang Ricky menganggukkan kepalanya dan membisikkan sesuatu pada salah satu anak buahnya. Aku melihat tatapan tajamnya pada Pak Wicaksana. Aku penasaran, apa yang akan dilakukannya kali ini.


Tak berapa lama, aku melihat Bang Ricky berjalan mendahuluiku. Aku pun mengikutinya dari belakang. Kami berdiri agak jauh dari rumah kecil itu.


Aku juga melihat, beberapa anak buah Bang Ricky keluar dan beberapa dari mereka menyirami sekeliling rumah itu menggunakan bensin yang aku pun tidak tau darimana asalnya.


"Bang." Aku memanggilnya. Tapi rasa penasaranku tertahan, karena Bang Ricky sudah mengangkat telapak tangan kanannya.


Aku tau itu. Dia ingin aku diam untuk sementara waktu. Aku hanya bisa menunggu sampai tindakan mereka menjawab rasa penasaranku.


Tiba - tiba saja mereka berlarian ke arah kami dengan sekencang - kencangnya.


DUAARR!


Rumah kecil itu meledak begitu saja. Tanpa sadar, aku menganga melihat kejadian yang ada di hadapanku. Mereka benar - benar menghancurkan segalanya hingga tidak menyisakan apa pun lagi.


"Ayo! Kita ke Rumah Sakit. Arion sudah mendapat penanganan pertama di sana," ucap Bang Ricky menyadarkan lamunanku.


"Jangan khawatir, dia akan baik - baik saja." Bang Ricky berusaha untuk menenangkanku.


Dia mengelus pundakku perlahan.


"Iya, Bang." Aku menjawab singkat.


Selama perjalanan, aku hanya menatap pohon - pohon yang terlintas di luar jendela. Aku baru menyadari bahwa ponselku hilang sejak hari pertamaku tiba di London. Aku mau menghubungi mereka, tapi..


"Oh iya, Bang. Steve boleh minta tolong sama Abang?" tanyaku langsung dengan gugup.


Bang Ricky menoleh padaku dan kembali bertanya, "Apa itu?"


Aku menundukkan kepalaku seraya berkata, "Bang, tolong rahasiakan hal ini pada Grace dan yang lainnya. Aku akan merawat Ar terlebih dahulu hingga dia kembali sehat. Aku juga ingin Abang membantuku dalam mengurus bisnis Melv.Corp. untuk sementara waktu."


"Loh? Kenapa jadi seperti ini? Ar sudah di rawat, kamu selamat dan dalangnya sudah tidak berjejak lagi. Kenapa semua ini harus dirahasiakan?" tanya Bang Ricky padaku dengan menatapku intens.


"Aku punya aladsan tersendiri, Bang. Yang pertama, Grace sedang hamil. Dia akan stres jika dia mengetahui bagaimana kondisi Suaminya. Abang tau kan, apa yang akan terjadi pada Grace?" tanyaku dengan penuh tekanan.


Aku sudah memikirkan semuanya. Aku tidak ingin mereka turut sedih melihat kondisi Arion saat ini. Aku berjanji pada diriku sendiri, aku akan menjaga Arion dengan segenap hatiku. Aku sudah menganggapnya seperti Adikku sendiri, meskipun dia selalu memanggilku dengan sebutan nama walau dia tau kalau aku ini lebih tua darinya. Tapi, hal itu tidak pernah membuat hubungan kami merenggang sedikitpun.


Bang Ricky masih mencerna perkataanku. Tak butuh waktu yang lama, aku pun melanjutkan ucapanku yang masih tergantung tadi.


"Aku ingin Abang membantu mengambil alih pekerjaan yang ada di London selama Arion dirawat, bukan berniat untuk membebanimu, Bang. Aku tidak ingin mereka menyusul kami ke London. Apalagi mereka saat ini meminta pertolongan padamu, Bang. Akan sangat mudah untuk meyakinkan mereka kalau kami berdua belum ditemukan. Biarlah mereka berpikiran bahwa kami masih dalam masa pencarian hingga Arion benar - benar pulih. Aku tidak ingin mereka merasa terpukul melihat keadaan Arion yang seperti ini."


Aku menatap serius pada Bang Ricky. Menunggu dia berpikir. Aku menjadi gugup seolah sedang menunggu hasil laporanku selesai diperiksa oleh Dosen Killer. Sungguh tidak mudah berhadapan langsung dengan seorang Yardies seperti dia. Dia selalu terlihat sangat mengerikan dengan raut wajahnya yang tanpa ekspresi itu.


"Apa kamu yakin?"


Ketiga kata itu membuatku membeku seketika. Tatapannya membuatku ragu untuk menjawabnya.


'Aku harus bagaimana? Kenapa aku jadi bimbang begini?'


>> Bersambung <<<


Sampai sini dulu ya..


Kita akan lanjut di next chap, Ingat untuk selalu beri like nya yaa, Kakak2..


Mohon bantu Author meningkatkan rating di TPG dan NARA yaa, guys..


Terimakasih bagi yang setia mengikuti kisah Arion dan Grace selama ini..


Salam Kasih untuk Yg Terkasih


~~ Love You All ~~


IG : friska_1609