THE PERFECT GIRL

THE PERFECT GIRL
56



"Bagaimana hubungan kalian? Apakah kalian sudah berbaikan?" Tanya Ricky setelah melihat siapa yang datang mendekatinya.


"Hubungan kami selalu baik - baik saja, Bang. Terima kasih banyak ya, Bang. Berkat Abnag, Grace bisa merasakan kebahagiaan lagi dan lagi. Abang memang yang terbaik!" Ucap Grace dengan antusias sambil memeluk Ricky yang sedang menggendong Ed.


"Iya, ini tidak sebanding dengan kebahagiaan yang sudah aku terima sejak bertemu denganmu. Kamu harus bahagia ya, Grace. Harus!" Kata Ricky sambil mengelus puncak kepala Grace dengan sebelah tangannya.


"Terima kasih ya, Mr.Yardies. Aku merasa seperti sedang berhutang budi padamu. Kamu sudah membuatku bisa melihat orang seperti apa Grace itu. Aku merasa sangat menyesal karena sebelumnya sudah bertindak kasar begitu padanya." Ucap Mrs.Melv. dengan sopan pada Ricky.


"Tidak perlu sekaku itu denganku, Mrs. Karena Mrs. sudah berbaikan dengan Grace, panggil saja aku dengan namaku, Ricky." Ricky pun tersenyum ramah pada Mrs.Melv.


"Baiklah, Ricky. Sekarang kamu juga boleh memanggilku sama seperti yang lainnya. Panggil saja Mommy." Mrs.Melv. membalas senyuman Ricky.


"Oke, Mom. Hahahaha. Terasa kaku lidahku mengucapnya," candaan Ricky membuat smeua orang tertawa terbahak - bahak.


"Tidak apa - apa. Biasakan saja, Bang. Kan lumayan dapat Mommy setelah sekian lama belum pernah mengucapkan kata itu," ucap Grace dengan mengeratkan pelukannya pada Ricky. Dia tau bahwa Ricky merasa kaku begitu karena memang sudah lama sekali dia hidup sebatangkara tanpa orangtua di sisinya.


"Iya, iya, iya. Grace memang yang paling mengerti Abang. Sudah akh, peluk - peluknya. Nanti gak enak di lihat si Ar. Abang kan bukan siapa - siapa lagi." Ricky pun berusaha melepaskan pelukan Grace dari dirinya.


"Ikh, Abang.. Abang Ricky itu Abang favorit aku. Jadi, gak masalah dong, kalau aku memeluk Abang?" Grace pun melepaskan pelukannya dari Ricky.


"Eehhh, ingat Grace, dia itu tunanganmu. Meskipun kalian berpisah selama 2 tahun lebih, statusmu itu adalah tunangan Arion. Harusnya yang kamu peluk itu dia, bukan Abang." Ricky langsung melangkah mundur menjauh dari Grace. Dia tau kalau Grace tidak suka di goda seperti itu.


"BANG RICKY..!!" Grace berniat melayangkan pukulannya pada Ricky. Tapi itu sia - sia. Ricky sudah pergi menjauh darinya. Grace kesal setengah mati dan membalikkan badannya. Dia sudah tidak peduli dengan orang - orang yang sedang menertawainya.


Malam ini terasa begitu membahagiakan. Suara tawa yang bergema mengelilingi taman itu terasa begitu menghidupkan suasana.


**********


"Bang, jadi siapa yang akan memberitahukan Grace mengenai kesepakatan kita tadi?" Tanya Arion pada Ricky setelah melihat jam tangannya sudah menunjukkan pukul 11 malam.


"Oh iya, aku sempat lupa." Ricky menepuk jidatnya. Dia langsung menyerahkan Ed pada istrinya. Ed yang hampir saja tertidur dalam gendongan Daddy nya pun langsung terbangun mengucek - ngucek matanya melihat Daddy nya berjalan mendekati Aunty kesayangannya.


"Grace, malam ini kamu dan Ichi akan ikut dengan mereka ke Mansion keluarga Melv. Kalian akan berangkat ke Indonesia besok malam ini juga setelah pulang dari sini. Aku juga sudah menyuruh pelayan untuk menyiapkan seluruh barang bawaanmu. Barang - barang Ichi juga sudah di jemput oleh orang suruhanku. Kamu tidak keberatan dengan keputusan kami yang mendadak ini bukan?" Tutur Ricky pada adik kesayangannya itu.


Ed yang mendengar kalau Aunty nya akan berangkat ke Indonesia langsung memberontak dalam pelukan Mommy nya, "Mom, lepaskan Ed. Ed mau sama Aunty. Aunty gak boleh ke mana - mana."


Elvina hanya bisa melepaskan Ed dari gendongannya dan membiarkan Ed berlari ke arah Grace. Ed memeluk erat kaki Grace dan menangis.


Grace hanya bisa menunduk dan menggendong Ed. Grace memeluk erat Ed yang menangis tersendu - sendu padanya.


"Hiks.. Aunty jangan pergi! Hiks.. Aunty don't leave me! Hiks.. Don't go! Nanti Ed sedih. Hiks.." Rengek Ed pada Grace.


"Bang, apa gak bisa di tunda dulu jadwal keberangkatanku ya? Lihatlah, Ed sampai sebegitunya setelah mendengar kabar dadakan ini. Kasihan dia, Bang." Ucap Grace yang tidak tega melihat kesedihan Ed.


"Ed tidak akan begitu jika kamu sejak awal tidak memanjakannya, Grace. Kamu tidak bisa lagi menunda jadwal keberangkatanmu. Kamu harus ikut dengan mereka malam ini juga." Ricky menjawab acuh tak acuh pada Grace. Sebenarnya dia sedih melihat tangisan anaknya yang begitu mengharukan.


"No! No Dad! Hiks.. Aunty will stay with me! Hiks.. Aunty will never go anywhere! Hiks.." Ed tetap dalam posisi meringkuk memeluk leher Grace dengar erat. Dia tidak rela melepaakan pelukannya pada Grace.


(Tidak! Tidak Ayah! Hiks.. Bibi akan tetap bersamaku! Hiks.. Bibi tidak akan pernah pergi kemanapun! Hiks..)


Semua orang yang melihat tagisan si kecil Ed ikut merasakan kesedihannya. Mereka sebenarnya tidak tega berbuat seperti itu. Tapi keberangkatan ini tidak bisa di tunda lagi.


Ichi mendekat pada Grace dan berkata, "We really have to leave tonight, Grace. I don't have much time left. I also want to attend my sister's wedding. If I get back to work, I won't be able to do what I want anymore."


(Kita memang harus berangkat malam ini juga, Grace. Waktu cutiku sudah tidak banyak lagi. Aku juga ingin menghadiri acara pernikahan adikku. Kalau aku sudah kembali bekerja, aku tidak akan bisa lagi untuk melakukan keinginanku itu.)


'Ini gila! Hanya karena Kak Ichi ingin melihat aku menikah, aku harus cepat - cepat kembali ke Indonesia dan membbiarkan Ed menangis seperti ini? Luar biasa sekali. Sebenarnya ini mau kembali ke Indonesia karena memang Kak Ichi yang ingin atau malah Arionlah dalang dari semuanya?' Grace mengumpat dalam hati. Dia merasa kesal mendengar perkataan Ichi.


"You're not lying to me right? When will you start working again?" Kataku padanya dengan mengerutkan kedua alis mataku.


(Kamu tidak berbohong padaku kan? Kapan kamu mulai bekerja lagi?)


“I've been here for almost 2 weeks. I will start working right in the middle of next month.” Ichi berusaha meyakinkan Grace.


(Aku kan sudah hampir 2 minggu di sini. Aku akan mulai bekerja tepat di pertengahan bulan depan.)


“So are you saying that I have to get married in 2 weeks? Do you think getting married is as easy as turning the palm of the hand?” Tanya Grace dengan nada suara yang meninggi.


(Jadi maksudmu aku harus menikah dalam kurun waktu 2 minggu? Apa kalian pikir menikah itu semudah membalikkan telapak tangan?)


Grace kesal dengan mereka semua. Dia pergi menjauh membawa Ed yang sudah berhenti menangis.


Arion yang melihat hal itu langsung mengikuti Grace dari belakang. Tidak ada satupun dari mereka yang berani menemui Grace setelah perempuan itu meninggikan suaranya, kecuali Arion.


Sesampainya mereka di kamar Ed, Grace merebahkan badan Ed di atas ranjangnya. Dia duduk di tepi tempat tidur Ed. Dia tidak menyadari bahwa Arion berada tepat di sampingnya.


“Ed, kamu jangan sedih lagi. Nanti Aunty ikut bersedih,” ucap Grace pada Ed sambil mencium kening Ed. Ed memeluk erat pinggang Grace.


“Aunty mau pergi? Nanti Ed bermain dengan siapa kalau Aunty pergi?” Tanya Ed dengan puppy eyes nya.


“Kamu bisa bermain dengan Mommy mu, sayang. Ed juga sudah waktunya untuk belajar menulis dan membaca. Masih banyak hal yang bisa Ed lakukan di saat Aunty tidak ada di sini.” Perkataan Grace tidak mendapat jawaban apa pun dari Ed. Ed masih merasa berat hati untuk melepas Aunty kesayangannya itu.


“Ed sayang Aunty. Aunty jangan pergi.” Ed kembali menagis. Grace sampai bingung mau berkata apa lagi untuk bisa membujuk anak kecil yang sangat dia sayangi itu.


“You don't need to be afraid to part with your Aunty. She will always be near you. You can call even make video calls with your Aunty. You can see her every day.” Arion mulai mengatakan sesuatu yang menurutnya akan sangat membantu untuk membujuk anak kecil seperti Ed.


(Kamu tidak perlu takut untuk berpisah dengan bibimu. Dia akan selalu berada di dekatmu. Kamu kan bisa menelepon bahkan melakukan panggilan vidio dengan bibimu. Kamu bisa melihatnya setiap hari.)


Grace memang terkejut saat melihat keberadaan Arion, tapi dia lebih terkesan pada ucapan Arion yang menurutnya sudah membuat Ed berhenti menangis.


Ed yang mendengar perkataan Arion langsung mengubah posisi manjanya menjadi duduk sambil menatap Arion.


“Who are you?” Itulah pertanyaan pertama yang dilontarkan oleh Ed. Dia merasa asing dengan keberadaan Arion.


“Uncle? Are you…” Ed hanya melirikkan matanya ke arah Grace.


“Yes, I am. She is my wife. So I have to take her home with me. Do you mind if I take your Aunty with me? We have been separated for a long time. Even though she is with me, believe that she loves you very much and will always be like that, she will never forget you.” Arion memaparkan semuanya secara perlahan agar Ed bisa mengerti maksud dari perkataannya.


(Jadi aku harus membawanya pulang bersamaku. Apakah kamu tidak keberatan jika aku membawanya bersamaku? Kami sudah lama berpisah. Meskipun dia bersamaku, percayalah bahwa dia sangat menyayangimu dan akan selalu seperti itu, dia tidak akan melupakanmu.)


Arion berjalan menuju tepi ranjang yang kosong dan duduk di sana. Sekarang mereka lebih kelihatan seperti keluarga kecil yang sedang berbincang di dalam kamar.


Ed memperhatikan setiap gerakan dari lelaki yang mengaku sebagai Pamannya itu. Dia tidak percaya pada Arion karena dia masih belum mendengarkan apa - apa dari Grace.


Arion mengangkat tubuh kecil Ed dan mendudukkan Ed di atas pangkuannya. Ed hanya melihat ke arah Grace dengan rasa takut yang terlihat jelas di pupil matanya. Dia takut pada Arion.


Grace yang melihat ekspresi takut Ed langsung mendekatkan dirinya ke sebelah Arion.


“Jangan takut, Ed. Dia memang Uncle mu. Dia tidak akan berani melukaimu, ka nada Aunty di sini.” Grace tersenyum manis melihat ekspresi Ed yang berubah dari takut menjadi raut wajah heran.


“We will get married soon. You must attend our wedding. Later we will also give you a special gift.” Arion menunjukkan senyuman khasnya pada Ed dan itu berhasil membuat Ed luluh padanya.


(Kami akan segera menikah. Kamu harus menghadiri pesta pernikahan kami. Nanti kami juga akan memberikan kado istimewa padamu.)


“Are you serious about what you said, Uncle? I want lots of presents from Uncle in exchange for taking my beloved Aunty away.” Ed menunjukkan wajah berserinya pada  Arion.


(Apa paman serius dengan perkataan paman tadi? Aku mau banyak hadiah dari Paman sebagai ganti Paman membawa Bibi kesayanganku pergi.)


“Yes, dear. I promise you.” Arion mengelus puncak kepala Ed.


(Iya, sayang. Paman janji padamu.)


Ed sudah bisa bermanja - manja denga Arion. Sekarang Ed sudah bisa merelakan Aunty kesayangannya di bawa pergi oleh Paman yang baru saja di kenalnya.


“Kami akan pergi. Sekarang sudah larut. Ed tidak sedih lagi kan?” Tanya Arion dengan ragu - ragu pada Ed.


“No Uncle! Ed sudah tidak sedih lagi. Asal Aunty janji akan selalu sayang sama Ed, karena Ed sangat sayang sama Aunty.” Ucapan Ed membuat Grace terharu dan langsung memeluk Ed.


“Ed sayang, Ed akan selalu ada di dalam hati Aunty. Ed akan selalu menjadi bayi kecil Aunty. Kamu jangan sedih - sedih lagi ya? Janji sama Aunty.” Grace mulai menunjuk jari kelingkingnya pada Ed. Hal ini sering di lakukan oleh mereka berdua, mengikat kedua jari kelingking mereka untuk menyatukan kesepakatan.


“Ed janji,” Ed pun mengikat  jari mungilnya dengan jari Grace. Mereka bertiga pun beranjak dari  tempat tidur dan keluar dari kamar Ed.


Semuanya sudah menunggu di depan pintu utama. Mereka tau kalau Arion akan membawa Grace dan Ed keluar dan memang sudah waktunya untuk mereka berangkat.


Arion yang menggendong Ed pun menyerahkan Ed pada Ricky. Ricky menatap aneh pada wajah berseri Anak sematawayangnya itu.


“Ed, kamu sudah tidak bersedih lagi?” Ricky bertanya karena penasaran dengan ekspresi Anaknya yang 3600 dari yang sebelumnya.


“Ed tidak sedih lagi, Dad. Ed sudah janji sama Aunty. Kita akan pergi ke pesta Aunty kan, Dad?” Ed berbicara dengan menunjukkan sikap manjanya pada Daddy nya.


“Pesta? Hmm.. Iya, nanti kita akan ke sana. Kenapa kamu bertanya seperti itu?” Ricky melanjutkan pembicaraannnya dengan Ed yang menurutnya semakin membuat dirinya penasaran melihat reaksi Ed yang aneh saat ini.


“Kalau Ed ke sana, Ed bisa menagih janji Uncle di sana,” Ed menunjukkan wajah bahagianya dengan menatap Arion yang sedang tersenyum melihat tingkah laku Ed yang imut itu.


“Uncle?” Tanya Ricky dengan raut wajah bingung. Ed hanya menganggukkan kepalanya menatap mata Daddy nya


dengan tatapan penuh keyakinan.


“Okelah, asal Ed senang, Daddy juga ikut senang. Sekarang beri salam perpisahan pada mereka semua.” Ricky menurunkan Ed untuk memberikan ruang bagi dirinya memberikan salam perpisahan pada semuanya.


“Be careful. See you again. I will always remember you all.” Ed mulai membungkukkan badannya.


(Hati-hati dijalan. Sampai ketemu lagi. Aku akan selalu mengingat kalian semua.)


Mr. dan Mrs.Melv. tersenyum geli melihat cara Ed memberikan salam perpisahan pada mereka.


“Kamu harus jadi anak yang baik dan nurut sama orangtua,” ucap Mr.Melv. pada Ed.


“Okey,Grandpa.” Kata - kata Ed yang baru saja diucapkannya berhasil membuat semuanya tertawa.


“Kamu sungguh bijak, Nak. Kami pasti akan merindukanmu,” ucap Mrs.Melv. pada Ed sambil mencubit pipi tembem Ed.


Ed berlari memeluk kaki Arion dan berkata, “Uncle, take care of my lovely Aunty there. Don't make my Aunty sad. If Uncle make my Aunty sad, Ed will get mad at you! Promise me, Uncle!"


(Paman, jaga bibi kesayanganku disana. Jangan buat bibi bersedih. Kalau Paman membuat Bibi bersedih, Ed akan marah padamu! Janji padaku, Paman!)


Steve dan Ichi hanya bisa ikut bahagia melihat interaksi yang baik di antara Ed dengan Arion. Mereka semua tidak menyangka kalau Arion bisa secepat itu mendekatkan dirinya pada Ed.


“I promise you. You also have to be a good kid here. Don't be whiny anymore,” Arion pun jongkok untuk menyeimbangkan tinggi tubuhnya dengan Ed.


(Paman janji padamu. Kamu juga harus jadi anak baik di sini.Jangan cengeng lagi.)


Ed mengangguk sambil berkata, “I promise you, Uncle.”


“Kami berangkat dulu ya, Ed. Kamu baik - baik di sini sama Daddy dan Mommy mu ya.” Grace ikut berjongkok dan memeluk Ed.


Ed pun kembali pada Daddy nya. Ricky menggendong anaknya dan melambaikan tangannya pada orang - orang yang memasuki mobil. Setelah melihat kepergian mereka, Ricky bersama istri dan anaknya masuk ke dalam rumah.


Akhirnya, rumah yang tadinya ramai, sekarang sudah terasa sepi.