THE PERFECT GIRL

THE PERFECT GIRL
32



GRACE POV


Sabtu pagi...


Semua orang mulai sibuk dengan kegiatannya masing-masing. Mommy menemaniku ke salon untuk memanjakan diri. Dia tidak ingin menantunya ini terlihat kusam saat acara nanti siang.


Daddy dan Papa bergotong royong dengan beberapa tetangga dan anggota keluarga dari pihak Mama untuk mempersiapkan menu makanan. Maklum saja, hal ini seperti ini sudah kewajiban.


Apalagi bagi para tetangga, ini adalah kebiasaan untuk saling membantu. Biasanya kami sebut Manikkir (dalam logat Batak). Pagi-pagi buta sudah berdatangan para ibu-ibu dan bapak-bapak yang diundang.


Mereka bukannya tidak punya kerjaan, tapi diantara tamu undangan, pasti ada beberapa dari mereka yang paling dekat dengan Mama yang merasa dia itu wajib datang Manikkir ke rumah kami. Begitulah rasa toleransi sesama suku Batak.


Mama dan adik kembarku mengurus keperluan rumah. Mereka membantu membersihkan seisi rumah. Karena aku sedang di rawat di salon oleh Mommy, aku tidak bisa membantu mereka.


Sungguh bosan berada di salon ini. Entah cream apa yang mereka oles ke seluruh tubuh ku. Aku merasa sangat lengket. Aku tidak suka dengan ini semua.


Tapi, Mommy malahan senang diperlakukan seperti itu. Gak pernah aku di beginiin laa, puyeng dehh..


**********


"Wahh, kamu cantik hari ini Grace. Pakai tidak pakai make up, kamu tetap cantik, Grace." Mommy memuji ku.


 Aku tidak begitu suka memakai baju kebaya, tapi apa daya ku, harus memakainya untuk beberapa kali lagi. Aku sudah siap untuk acara Marhata Sinamot siang ini. ‘Apa Arion sudah sampai di rumah?’


Aku pun berangkat bersama Mommy ke rumah. Kami di jemput Daddy dari salon. Sekitar setengah jam lagi, acaranya akan dimulai.


Semua keluarga dari pihak Mama yang banyakan datang dan beberapa dari pihak Papa, karena memang yang hadir itu yang memiliki posisi penting dalam acara ini. Yah, sulit menjelaskannya disini. Nanti bisa jadi penjelasannya lebih panjang dibandingkan cerita ku di epsisode ini.


Sesampainya dirumah, aku melihat beberapa orang yang sudah duduk dengan rapi. Mereka berdiri dan memeluk ku sambil memuji ku.


 “Hai, Grace. Kamu cantik deh, hari ini.” Ucap Kak Adam.


 “Cuma hari ini aja kan kak? Berarti selama ini tidak. Makasih Kak.” Begitulah jawabanku yang membuat orang-orang seisi ruangan terkekeh mendengarnya.


 “Halo, Grace. Kamu cantik sekali. Ternyata tidak salah Mommy membawamu begitu lama ke salon.” Ucap Kak Silvia.


“Tidak salah sih, Kak Sil. Tapi aku bosen banget di sana. Mau tidak mau, harus beberapa kali lagi aku ke sana.” Jawab ku manyun pada Kak Silvia.


Arion terlihat masih memandangi ku tanpa berkedip. Dia itu tidak bisa melihat yang lain selain aku ya? Bikin orang di sekitar jadi memandangi kami berdua. Aku jadi risih sendiri.


Aku pun duduk diseberang Arion bersama kedua orangtua ku. Aku tidak begitu mengerti tentang Adat ini. Maklum saja, untuk berbahasa Batak saja, aku masih nilai 20 diantara 1 sampai 100. Jadi kita hanya ikuti apa kata pembawa acara saja.


**********


Kita persingkat saja yaa..


Selesai Acara, aku langsung di antar ke rumah Inanguda ku. Aku masih harus beristirahat, karena besok sudah acara Martuppol di Gereja. Tidak begitu melelahkan sih, tapi akan memakan banyak waktu, karena pagi-pagi sekali, aku juga harus di dandani dengan memakai pakaian kebaya lagi.


Hari ini, banyak hal yang dibahas. Kami akan mengadakan pernikahan Adat Batak dua minggu lagi. Tepatnya hari Minggu. Sekalian Pemberkatan dan acara utama nya. Jadi, Senin nya kami bisa langsung berangkat ke Jakarta.


Besok acara Martuppol nya, lusa mau foto Prewed nya. Keesokan harinya, Arion sudah harus balik ke Jakarta. Kami memang di larang bertemu sampai hari H.


 Aku sih, biasa saja. Tapi, Arion malah terkejut mendengar hal itu. Daripada dia membuat rusuh, Daddy langsung memulangkan dia ke Jakarta secepatnya.


 Arion yang semula diam, jadi mengeluh karena aku harus pergi dan dia tetap di rumah.


“Dad, kenapa Grace harus ke sana secepat ini sih? Bukannya ini masih jam tujuh? Kan masih bisa entah sejam lagi baru di bawa Grace nya ke sana.” Arion sungguh seperti anak balita yang kehilangan permennya.


“Besok kita ketemu lagi kok, Ar. Bye.” Aku tersenyum padanya dan pergi begitu saja. Aku ikut rombongan bus yang isinya beberapa anggota keluarga yang juga akan menginap di rumah Inanguda ku. Karena rumah kami tidak bisa menampung begitu banyak orang.


“Grace, kamu beruntung banget lho, bisa menikah dengan orang yang tampan dan kaya seperti Arion. Tulang (Abang nya Mama dalam logat Batak) lihat dia itu sangat mencintaimu. Kenapa sepertinya kamu itu biasa saja dengannya?”


“Tulang ini bisa saja. Aku kan sudah capek dari pagi. Jadi maklum saja kalau aku tidak begitu fokus dengannya. Toh juga dia kan sudah dewasa, tidak perlu berlebihan gitu.”


“Kamu kenal dia darimana sih, Grace? Tulang masih tidak menyangka kamu akan menikah dengan orang yang baik seperti dia dan memiliki orangtua yang pengertian. Kalian terlihat sangat cocok.”


“Sudah lah, Tulang. Saatnya istirahat. Kita sudah sampai di rumah Inanguda. Jangan ribut-ribut ya, Tulang. Biar aku bisa istirahat dengan tenang.”


“Yah, beristirahatlah dengan baik ya, Bere nya Tulang (Keponakan Paman dalam logat Batak). Besok pagi-pagi sekali kamu harus bersiap.”


“Wokeh Tulang. Selamat malam semuanya. Grace tidur duluan ya.”


Aku pun langsung masuk kamar mengambil beberapa pakaian dan pergi mandi. Badan ku terasa sangat lengket. Dan juga, baju kebaya ini sangat menyesakkan. Aku jarang memakai kebaya, karena modelnya yang selalu ngepas ke badan.


Setelah selesai dengan ritual bersih-bersihnya, aku langsung berbaring di atas tempat tidur dan langsung terlelap dalam mimpi. Aku benar-benar merasa sangat lelah.


Keesokan paginya, aku sudah bangunkarena alarm ku jam empat subuh. Maklum saja, aku harus mandi terlebih dahulu agar bisa sedikit di dandan oleh Tante ku (Bibi ku yang buka salon di Medan -baca eps 01-). Dia lah yang menjadi tukang salon ku pagi ini.


Kami pun selesai pada pukul 6. Saat nya berangkat bersama rombongan menuju ke Gereja. Sebelum acara Gereja di mulai, kami harus berkumpul di ruang khusus bersama pendeta dan beberapa anggota Gereja nya. Kami memberikan informasi seputar hal-hal yang di bahas di acara semalam.


Karena Gerja juga akan mengumumkan kepada Para Jemaat Gereja tentang hari Pemberkatan dan Pernikahan kami. Agar mereka yang hadir dapat turut meramaikan acara tersebut.


Arion terus saja melirik ke arah ku. ‘Apa dia tidak tau kalau aku sangat risih jika diperhatikan seperti itu?’ Batinku.


Kami akhirnya memulai acara kebaktian di Gereja. Kebaktiannya selesai sekitar dua jam lebih. Setelah selesai kebaktian, aku dan Arion disuruh ke depan dan duduk dengan posisi lutut menyentuh Altar Gereja menghadap pada Pendeta. Beginilah kelanjutan acaranya hingga diumumkannya Acara Pemberkatan dan Acara Adat yang akan dilaksanakan tepat dua minggu lagi.


Kami berdua mengucapkan beberapa kata yang memang sudah diharuskan untuk kami hapal tadi pagi. Maklum saja, ini semua terjadi karena acaranya yang terlalu terburu-buru.


Entah untuk apa secapat ini proses pernikahan kami. Padahal kan keluarga kami baru pertama kali bertemu saat itu.


Setelah acara Martuppolnya selesai, kami masih menerima berbagai ucapan selamat dari beberapa jemaat, termasuk dari rombongan orang-orang yang ku kenal.


“Ricky? Kamu ngapain di sini?” Ucap Kak Adam padanya.


“Ehh, Adam. Kamu masih ingat sama aku ternyata ya. Aku senang mendengarmu memanggil namaku.”


“Abang kenal dengan Kak Adam? Kok bisa?” Aku bertanya langsung pada Bang Ricky.


“Yah, aku tuh dulu pernah sekolah di SMP dan SMA yang sama dengannya, Grace. Kami memang saling kenal, tapi tidak begitu dekat.” Ucapnya acuh tak acuh.


“Oh iya, Bang. Kenalin ini calon suami aku, dia adik ipar Kak Adam. Ini Daddy, Mommy, Papa dan Mama. Yang ini istrinya Kak Adam.”


“Wah, Adam sudah menikah toh? Aku ketinggalan berita dong. Salam kenal semuanya. Namaku Ricky Yardies, aku ini teman dekat Grace. Senang berkenalan dengan kalian semua.”


“Keluargamu berasal dari Inggris bukan?” Tanya Daddy padanya.


“Ya, Tuan memang sungguh memiliki banyak koneksi hingga mengetahui hal tersebut dengan mudah.”


“Itu karena aku mengenal Paman mu.”


“Oh ya? Baiklah Tuan, kami pulang terlebih dahulu, Selamat ya, Grace. Jangan lupa kirim undangannya ke tempat biasa. Ajak juga Adam dan Arion ke sana. Bye semuanya.”


“Selamat ya, Grace. Kami tunggu undangannya.” Serentak beberapa orang pengikut Abang Ricky menunduk secara bersamaan dan mengikuti langkah Bang Ricky.


Semuanya memandangiku dengan wajah heran, termasuk Arion. Mereka mungkin tidak menyangka aku memliki teman seperti mereka.


“Baiklah, nanti akan ku antar jika sudah siap undangannya.”


Tiba-tiba ada seseorang mengetuk pintu kamarku, “Siapa ya?”


Dia tidak menjawabku. Jadi ku buka pintu kamar ku untuk melihat siapa orang itu. Ternyata dia Arion. Dia langsung menarik ku masuk ke dalam kamar.


“Kenapa lagi sih, Ar? Kebiasaan dehh, main Tarik tangan orang tiba-tiba gitu.” Kesal banget lihat tingkah nih anak.


“Grace, aku mau kasih ini.” Ucapnya dengan menunjukkan sesuatu yang berkilau.


“Tapi kan, Ar. Aku udah punya ini, untuk apa lagi itu?” Aku melihat dengan jelas, itu adalah kalung berlian dengan rantai emas putih. Sangat cantik.


“Aku mau menukarnya dengan itu, Grace. Kalung ini tempahan dan tidak ada duanya. Aku juga sudah mengukir nama kita di balik mata berliannya. Sini, ku bantu melepas yang lama dan memasang yang baru.”


Arion pun mendekat padaku dan membalikkan tubuh ku. Dia melepas kalung yang bertengger di leher ku dan memasangkan yang baru. Kalau boleh pilih, aku memang menyukai yang baru ini.


“Makasih banyak ya, Ar.” Ucapku padanya tanpa berbalik dan hanya memandangi kalung yang sedang ku pegang ini.


Tiba-tiba dia memelukku dari belakang, “Iya, sama-sama sayang.”


“Hey, sejak kapan kamu memanggilku begitu? Aneh banget langsung mendengarnya dari mu.” Aku terkejut dengan nama panggilan yang dia bisikkan padaku tadi.


“Sejak saat ini. Aku akan terus memanggilmu dengan sebutan sayang, honey, ataupu beibh. Tergantung mood dan keinginan ku. Kamu harus membiasakan diri mu dengan sebutan sayang ku pada mu ya, Grace.” Arion melepas pelukannya dan keluar dari kamar membawa kembali kalung lama itu.


“Ya ampun, baru kali ini aku merasakan bahwa dia bisa seromantis ini pada ku. Memang di luar dugaan.” Ucapku dengan suara yang hanya bisa di dengar oleh ku sendiri.


“Grace, besok kalian berdua harus pergi ke tempat yang kemarin Mommy tunjukkan pada mu ya, nak. Kalian akan foto Prewed di sana. Mereka memiliki fasilitas yang sangat lengkap. Mommy tidak mau ada kekurangan sedikit pun dari acara bahagia ini. Mengerti?”


Tiba-tiba saja Mommy nyelonong masuk ke dalam kamar ku dan mengomel panjang lebar. Aku pun hanya menganggukkan kepala ku dan tetap berada di kamar. Aku berbaring dan langsung terlelap.


ARION POV


Aku merasa lelah, tapi semua nya hilang setelah aku melihat wajahnya. Dua hari ini dia terlihat begitu mempesona. Aku selalu memperhatikannya. Mata ku tidak tahan untuk tidak menatapnya.


Saat ini, aku melihatnya sedang tertidur lelap. Caranya tertidur itu sungguh aneh. Dia tidak memakai bantal tidur di kepalanya, tapi dia menutup seluruh bagian tubuh nya menggunakan selimut tebal. Posisi tidurnya pun terlalu menepi ke pinggiran tempat tidur.


‘Apa dia tidak pernah terjatuh dengan posisi tidurnya saat ini? Bagaimana bisa dia tertidur lelap tanpa bantal tidur menyangga kepalanya.’ Aku sempat berpikiran hal-hal aneh karena melihat caranya tertidur itu.


Aku melihat kembali kalung yang ku ganti dengan yang baru. Sebenarnya, aku ada memasang alat pelacak GPS mini pada bagian dalam mata berlian itu.


Flashback On


“Ar, Bantuin Daddy laa..”


“Ada apa Dad? Apa yang bisa Ar bantu?”


Daddy meneleponku dengan nada khawatir yang tidak bisa diungkapkannya. Aku merasakan ada hal yang tidak beres disana.


“Bantu Dad melacak lokasi nomor ponsel Grace laa..”


“Kenapa Dad? Apa yang terjadi pada Grace? Dia dalam bahaya ya, Dad?”


“Bukan Grace, tapi Mama nya.”


“Kenapa harus melacak nomor ponsel Grace? Bukannya Mama yang di culik?”


“Bukan gitu, nak. Sebenarnya, kami sedang mencari keberadaan calon mertuamu, Mama nya Grace. Dia sudah pergi mulai pagi tadi dan belum pulang sampai sekarang. Ponsel Mama nya lowbat, jadi Grace menyuruh Mama nya membawa ponsel nya untuk berjaga-jaga jika ingin dihubungi.”


“Jadi, bukan Grace yang mendapat masalah? Dad jangan bohong pada Ar.”


“Bukan, Ar. Grace sedang menelepon nomor ponsel nya dengan ponsel Papa nya. Dia sangat khawatir dengan keberadaan Mama nya, jadi tidak bisa di ganggu. Bantuin Daddy ya, nak?”


“Baiklah Dad, Sebentar lagi Ar kirim lokasi nya. Ar lacak dulu dari sini. Bye Dad.”


Aku melacak keberadaan nomor ponsel Grace. Ternyata titik lokasinya berada di sudut kota. Aku tidak tau mengapa aku tidak bisa begitu saja percaya pada Daddy.


Setelah aku mengirim titik lokasi itu pada Daddy, aku langsung kepikiran sesuatu.


‘Ya! Aku harus membuat sesuatu yang bisa ku gunakan untuk melacak keberadaan Grace di mana pun dia berada.’


Aku menimbang-nimbang segala sesuatu yang bisa kujadikan alat pelacak, tapi tidak di ketahui oleh Grace. Untuk berjaga-jaga jika suatu saat ada kejadian yang tidak diinginkan terjadi pada saat dia tidak membawa ponsel.


“Ahh, kalung saja. Tapi harus lebih mewah daripada yang pertama. Agar dia tidak curiga. Sepertinya, dia menyukai kalung pemberian dari ku.”


Aku langsung menelepon seorang pemilik toko berlian. Dia teman seangkatanku saat SMA. Aku memang tidak begitu dekat dengannya, tetapi dia adalah orang yang ramah dan selalu menawarkan barang jualannya.


“Halo, ini dengan Derry kan? Ini aku, Arion.”


“Wow, Arion. Tumben sekali kamu menelepon ku, biasanya juga, di saat aku menelepon mu, kamu tidak mau mendengarkanku berbicara sampai tuntas. Ada apa nih?”


“Aku mau pesan sebuah kalung berlian dengan rantai kalung dari emas putih. Aku boleh request sesuatu gak?”


“Wow, wow, wow. Kamu memesan kalung berlian? Kamu mengagetkanku kawan. Apa kamu sudah menemukan tambatan hatimu, kawan?”


“Yah, ini untuk calon istriku. Aku ingin di dalam mata kalung itu di selipkan alat pelacak GPS mini dan harus selesai dalam 2 hari. Sabtu pagi akan ku ambil.”


“Gila kau, Ar. Kau pikir aku robot apa? Sabtu pagi pula mau di ambil. Gak ada 48 jam itu namanya, Ar. Memangnya untuk apa kau mau pasang alat pelacak seperti itu? Kenapa tidak langsung kamu memintaku memasangkan kamera mini saja?”


“Wah, otak mu memang mesum ya, Der. Aku bukan lelaki seperti itu. Kamu ikuti saja apa permintaanku. Ini yang pertama kalinya aku memesan pada mu, Der. Jangan kecewakan aku ya. Oh iya, aku minta ukirkan juga singkatan namaku di kalung itu, nanti ku kirim pesan singkat padamu.”


“Hahaha.. Oke baiklah, Ar. Aku senang kamu akhirnya memberli barang daganganku ini. Kalau kamu puas dan calon istri mu suka, kamu harus belanja di sini lagi, yaa..”


“Ya, pasti.”


Langsung saja ku akhiri panggilan itu dan mengirimkan pesan singkat padanya.


To Derry :


AR♡GR


From Derry :


Siip..


Kamu memang sungguh pelit kata.


Pesan mu benar-benar singkat.


Syukur aku paham.


Aku hanya membaca pesan darinya dan sama sekali tidak berniat untuk membalasnya.


Flashback Off


Karena sudah tidak bisa menahan rasa kantuk ku ini, aku langsung merebahkan diri di samping Grace. Aku pun tertidur lelap bersama dengan dia.