THE PERFECT GIRL

THE PERFECT GIRL
TPG2_161



"Sayang, bangun Sayang. Kamu harus bersiap-siap, kita kan mau keluar hari ini. Jangan bilang, kamu lupa." Arion berusaha membangunkan Grace dengan lembut.


"Eengh?" gumam Grace sembari menerjab-nerjabkan matanya.


Arion menarik selimut yang membungkus tubuh istrinya dan menggendong sang Istri. Dia berjalan perlahan ke arah kamar mandi, lalu menurunkan Grace secara perlahan.


Dia berinisiatif mengisi bathup dengan air hangat. Setelah bathup terisi, dia menoleh ke arah Grace sambil berkata, "Mandilah, aku akan menunggumu. Jika kamu membutuhkan sesuatu, panggil saja aku. Mandi yang bersih ya, Sayang."


Arion pun meninggalkan Grace di dalam kamar mandi. Dia berjalan menuju closet dan memilih pakaian santai untuk dia kenakan. Ia juga mengambil setelan baju terusan untuk dikenakan oleh Grace.


Tak berapa lama, Grace berteriak dari dalam kamar mandi. "Ar, aku lupa dengan handukku. Kamu masih di sana kan?" tanya Grace di balik pintu kamar mandi.


"Iya, Sayang. Ini handuknya," ucap Arion sambil menyodorkan handuk pada Istrinya.


Grace pun mengenakan handuk dan berjalan ke arah closet. Saatnya dia bersiap.


"Sayang, aku sudah memilihkan pakaian untukmu. Kamu pakai itu saja ya," ujar Arion dari luar closet.


"Baiklah, Sayang. Terima kasih," jawab Grace sambil menyunggingkan senyumnya.


Setelah Grace selesai, Arion menyuruhnya untuk duduk di kursi roda yang sudah disediakan olehnya. Dia tidak ingin Grace kelelahan karena berjalan-jalan terlalu lama. Apalagi dengan kondisi kandungan Grace yang cukup rentan.


Mereka pun berangkat. Elvina dan Grace duduk di bangku penumpang belakang mobil. Arion mengemudi dan Ed duduk di sebelahnya dengan tertib.


"Uncle, where do you want to take us?" tanya Ed yang penasaran dengan kepergian mereka.


(Paman, kamu mau membawa kami ke mana?)


"Uncle will take us to the Mall. It's been a long time since Uncle went to the Mall. We will buy a present for baby sister," jawab Arion tanpa menoleh. Dia sedang fokus mengemudikan mobilnya dengan perlahan.


(Paman akan membawa kita ke Mall. Rasanya sudah sangat lama Paman tidak pergi ke Mall. Kita akan membeli kado untuk adik bayi.)


"Yeay! Nanti kita beli kado apa ya, Aunty?" Ed menoleh ke belakang bertanya pada Grace.


"Kita akan beli sesuatu yang bisa dipakai sama si kembar saja ya, Ed. Biar Mama Papanya gak perlu pusing mikirin pakaian si kembar. Gimana?" Grace balik bertanya pada Ed.


"Kenapa kita tidak belikan mainan saja, Aunty?" Ed menunjukkan ekspresi bingungnya.


"Bayi baru lahir itu belum bisa melihat dengan jelas dan memegang apa pun. Gimana dia bisa bermain, sedangkan dia belum bisa memegang mainan? Nanti jadi berbahaya untuk dia, Ed." Grace menjelaskan dengan perlahan pada Ed.


Ed mengangguk tanda sudah mengerti apa yang dikatakan oleh Grace. Dia pun menjawab singkat, "Okay, Aunty. We need to buy some clothes for them."


Elvina hanya bisa tersenyum mendengar percakapan Ed dengan Grace. Ed memang sedang menginjak usia di mana sang Anak akan kepo terhadap banyak hal. Maka dari itu, di usianya yang hampir 6 tahun, Ed butuh perhatian dan bimbingan lebih dari orang-orang di sekitarnya.


Sesampainya di Mall, Ed duduk di pangkuan Grace yang duduk di kursi roda. Arion mendorong kursi roda itu dengan perlahan, agar Elvina juga bisa menyeimbangkan langkah kakinya.


"Kita sudah sampai. Ini toko yang menjual peralatan dan perlengkapan bayi. Kita juga akan membeli sedikit keperluan bayi kita, Sayang." Arion memberhentikan langkah kakinya setelah memasuki salah satu toko di dalam Mall tersebut.


"Tapi, kita belum tau apa jenis kelamin bayi kita." Grace takut salah memilih untuk bayi mereka.


"Itu tidak masalah, Sayang. Mau dia perempuan atau laki-laki, tetap saja, kita harus membelikannya sesuatu. Kita bisa memilih warna netral yang bisa dipakai untuk bayi," tutur Arion sambil melirik ke arah Elvina.


Elvina yang paham dengan maksud Arion pun ikut menjelaskannya pada Grace. "Kalian bisa memilih warna putih atau biru. Warna itu kan netral, Grace. Tidak ada larangan utk dipakai oleh siapa pun."


"Iya juga ya," gumam Grace sambil melempar pandangannya ke seluruh area toko.


"Pak, Bu. Ada yang bisa saya bantu?" Seorang pelayan datang dan bertanya pada mereka.


Elvina langsung menjawab, "Kami ingin membeli perlengkapan bayi yang baru lahir sebagai kado dan untuk dia."


"Aunty, kita beli yang ini untuk kembar laki-laki dan ini untuk kembar perempuan. Mereka pasti suka dodot," ucap Ed yang sudah turun dari pangkuan Grace dan mengambil dua paket peralatan makan dan minum bayi.


Grace tersenyum dan menganggukkan kepalanya. "Pilihan yang bagus, Ed. Ambil juga untuk calon adek yang ini," ucapnya spontan.


"Dengan senang hati, Aunty." Ed langsung berjalan menuju ke arah stan peralatan makan dan minum bayi itu. Dia mengambil yang warna putih untuk adek bayi yang belum lahir.


"Mom, ayo, ikut Ed ke sana." Ed mengajak Elvina ke arah mainan bayi.


Elvina mengikuti langkah Ed yang pendek itu. Ed sudah tau tentang tata krama dalam berbelanja. Dia tidak akan berlari-lari seperti anak pada umumnya dan berusaha untuk tidak memegang barang yang tidak akan dibelinya. Itu ajaran keras dari Ricky. Ricky tidak suka jika anaknya dicap orang sebagai anak nakal.


Meskipun Ed menyukai semua barang yang ada di sana, ia akan berusaha untuk tidak asal memilih barang. Karena dia tidak ingin ada barang yang tidak dipakainya jika sudah sampai di rumah. Apalagi, dia akan mulai bersekolah tahun depan.


Usai berbelanja keperluan bayi, mereka sarapan bersama di salah satu restoran yang ada di dalam Mall tersebut. Arion juga membelanjakan beberapa mainan untuk Ed dan pakaian untuk mereka berempat. Setidaknya, itu yang bisa dilakukan untuk mengatasi kejenuhan mereka.


"Ed, apa kamu senang hari ini?" tanya Arion yang sedang mengemudikan mobilnya memasuki garasi.


Mereka sudah pulang, karena sebentar lagi jadwal kepulangan Silvia dari Rumah Sakit. Mereka harus bersiap-siap menyambut yang lainnya agar bisa bertemu dengan si kembar.


"Senang, Uncle. Senang banget. Ed punya baju baru dan mainan yang bagus. Thanks a lot, Uncle." Ed memeluk mainan barunya. Mobil remot kontrol miliknya.


"Sekarang kita bersiap untuk menyambut yang lainnya. Ed jangan nakal ya, saat mendekati adek bayi." Elvina mengingatkan Ed untuk tidak melakukan hal ceroboh saat berdekatan dengan si kembar.


"Siap laksanakan, Mommy!" tegas Ed sambil menegakkan tubuhnya dan menghormat menghadap Elvina. Mereka pun memasuki Mansion dan mempersiapkan semuanya.


Siang harinya..


"Selamat datang semuanya. Selamat ya, Kak. Kalian membawa pulang momongan sekaligus dua orang. Sini, aku gendong satu. Boleh ya?" pinta Grace pada Adam yang sedang menggendong salah satu bayinya.


Adam mengerucutkan bibirnya sambil berkata, "Nanti kamu iri. Gak boleh!"


"Yeay! Siapa pula yang iri? Aku kan punya adek kembar. Untuk apa aku iri lihat anak kembar Kakak?" balas Grace yang mencoba merebut si bayi lucu dari tangan Adam.


Adam menggeleng-gelengkan kepalanya dan memberikan kesempatan pada Grace untuk menggendong bayinya. "Hati-hati, jangan sembrono gendongnya. Belajar jadi lembut sedikit jadi perempuan," ejek Adam sambil melirik ke arah Arion.


"Dasar! Aku kan juga bakalan punya anak, Kak. Memanglah, Kak Adam ini menyebalkan!" Sanggah Grace yang tidak terima diejek oleh Adam.


Semua orang yang melihat kelakuan Adam dan Grace malah tertawa. Mereka seolah melihat perdebatan antara anak kecil yang tidak masuk akal.


"Aunty! Ed juga mau melihat adek bayi," ucap Ed yang datang mendekati Grace.


"Ini pasti Jovin. Dia sangat tampan. Sini, Ed. Ini Dd Jovin. Beri ciuman sayang padanya," pinta Grace pada Ed yang sedang mengelus-elus pipi Jovin.


Ed pun mencium pipi Jovin dengan lembut. Dia melompat kegirangan setelah mencium bayi mungil yang menggemaskan.


"Ed, jangan pilih kasih dong. Jevin gak dapat ciuman manis dari Kakaknya kah?" tanya Elvina yang sedang menggendong Jevin sambil membungkukkan badannya agar Ed bisa melihat Jevin dengan jelas.


Ed berjalan cepat ke arah Elvina. Dia mencium pipi Jevin dan malah pipinya yang memerah. Silvia terkekeh melihat ekspresi Ed yang sangat lucu itu.


"Kenapa Ed yang memerah?" tanya Silvia sambil mendekati Ed.


"Ed malu, Ed mencium adik perempuan." Ed langsung menempel pada Elvina dan memeluk erat kaki jenjang milik Elvina.


Semua orang tertawa terbahak-bahak mendengar penuturan Ed. "Ternyata Ed bisa malu juga?" seru Adam.


>>> Bersambung <<<


IG : friska_1609