THE PERFECT GIRL

THE PERFECT GIRL
TPG2_113



Lisya memang sudah berusaha untuk membuka hatinya pada Steve, tapi dia belum bisa melupakan sosok Arion dalam hatinya. Apalagi saat ini, Lisya harus bertunangan dengan Steve dalam waktu dekat ini.


Pagi ini adalah hari yang berat baginya. Dia harus cuti bekerja dan pergi berduaan dengan Steve untuk mempersiapkan segala keperluan mereka. Selama ini, kedekatan dia dengan Steve sebagai kekasih tidak bisa dipungkiri. Tapi, itu hanya status semata bagi dirinya.


Dengan langkah gontai, Lisya bersiap - siap, karena dia harus pergi bersama dengan Steve untuk membeli cincin yang akan mereka pakai pada saat Acara Pertunangan.


Sebenarnya lisya masih tidak rela untuk menikah dengan steve karena hatinya masih sangat mengharapkan sosok Arion. Tapi Lisya juga menyadarinya karena Arion sudah bahagia dengan Istrinya yang sekarang, maka dia juga harus hidup bahagia dengan orang yang mencintainya.


Dengan menggunakan pakaian kasual yang secara acak aja dipilihkannya dari lemari pakaiannya. Lisya yang hanya memakai make up simple dan tidak ada tanda - tanda semangatnya untuk pergi. Langkah Lisya sangat berat untuk pergi dengan Steve. Tapi mau tidak mau karena demi nama baik keluarganya Lisya akhirnya menyerah juga.


Dengan berjalan malas dan sambil terus menunduk lesu, Lisya turun dari lantai dua, Lisya berjalan lambat menuruni anak tangga yang dilewatinya mulai dari atas sampai kebawah, wajah Lisya terus saja tidak ada tanda - tanda kebahagiaan sama sekali.


Dan sampai akhirnya Lisya sudah tiba di ruang tamu untuk menyambut calon tunangannya.


Lisya melihatnya Steve dengan senyuman yang penuh dengan paksaan. Steve bukannya tidak menyadari tatapan dari calon tunangannya itu, tapi Steve hanya ingin menutup matanya saja karena Steve sangat mencintai Lisya. Dia ingin membuktikan bahwa dirinya bisa dan mampu untuk membahagiakan Lisya, dia juga akan berusaha membuat Lisya secara perlahan untuk bisa mencintainya.


“Kita bisa langsung pergi?” tanya Steve dengan ragu kepada Lisya.


Lisya hanya tersenyum datar dan mengangguk pelan.


Steve berinisiatif untuk menggenggam tangan Lisya, sontak membuat Lisya sangat terkejut.


“apa yang kamu lakukan?” bisik Lisya tepat di dekat telinga Steve.


Tapi Steve tidak menjawab pertanyaan dari Lisya, Steve malah semakin erat menggenggam tangan Lisya.


Lisya sempat memberontak, akan tetapi karena gerak gerik mereka berdua sedang diawasi, akhirnya Lisya hanya mengikuti Steve hingga mereka sampai didepan mobil, dengan cekatan Steve langsung membukakan pintu untuk Lisya.


Lisya sudah melihat Steve dengan tatapan yang sangat tajam, kemudian dengan langkah cepat Lisya langsung masuk kedalam mobilnya Steve.


Dan tanpa menunggu lagi Steve juga masuk kedalam mobil.


Benar saja begitu mereka sudah di mobil, Lisya langsung menyerang Steve secara bertubi tubi dengan berbagai macam omelan yang sudah ditahan oleh Lisya sedari tadi.


“kenapa kamu menggenggam tanganku? Dengar, maaf sebelumnya kalau aku berkata kasar seperti ini, kita menikah bukan karena kita berdua menginginkannya dan saling mencintai satu sama lain, jadi kamu tidak berhak untuk menyentuhku seperti itu lagi. Aku peringatkan sekali lagi, ini kali pertama dan terakhir kamu berbuat begitu! Mengerti...!” omel Lisya tnapa henti selama dalam perjalanan.


“oke baiklah.” Jawab Steve singkat.


‘kenapa dia jadi begini sih? Kenapa juga dia bisa senekat itu! Dan ada apa dengan sikapnya yang sekarang ini? Aku semakin tidak mengerti, kenapa dia tidak marah dengan perkataan kasarku barusan?’ batin Lisya yang merasa sangat aneh dengan sikap Steve.


Setelah obrolan mereka itu, keduanya hanya terdiam satu sama lain. Tempat tujuan yang ingin mereka tuju terasa begitu jauh karena kecanggungan sikap dari keduanya.


Dan akhirnya tempat yang mereka tuju sampai juga.


Setelah Steve memarkirkan mobilnya, tanpa pikir panjang lagi Lisya langsung turun dari mobil. Dengan meninggalkan Steve, Lisya sudah berjalan sangat cepat untuk menuju toko perhiasaan yang bernama Gold Rose, tempat perhiasan yang sangat mewah dan berkelas, toko ini merupakan tempat langganan dari Lisya dan dirinya lah yang meganjurkan untuk membeli cincin pertunangan mereka disini.


Begitu sampai, Lisya langsung disambut ramah oleh pegawai di toko perhiasaan itu.


Lisya langsung duduk dan melihat lihat produk cincin pertunangan yang keluaran terbaru. Pegawai toko itu langsung mengeluarkan cincin edisi terbaru dan limited itu, merekalah pelanggan pertama yang melihat cincin itu.


Dan tanpa pikir panjang lagi Lisya langsung menyukai cincin itu. “duh bagus banget! Sangat pas dan cocok.” Kata pegawai toko itu ketika Lisya mencoba cincin tepat dijari manisnya.


Lisya pun tersenyum. “Terimakasih.” Kata Lisya dengan tersenyum simpul.


‘Andai saja ini pertunanganku dengan Ar, aku pasti akan menjadi perempuan paling bahagia.’ Pikir Lisya yang masih belum bisa melupakan sosok Arion di kehidupannya itu.


Kemudian Steve mencoba cincin untuk lelakinya. “gimana?” tanya Steve kepada Lisya dan spontan Lisya yang masih melihat muka Steve itu seperti Arion.


“Good! Sangat sempurna.” Jawab Lisya dengan cepat.


“Duh kakak berdua emang pasangan yang sangat serasi, selamat berbahagia ya, Kak!” puji pegawai toko itu dengan tulus dan jujur.


Sontak membuat Lisya tersadar dari lamunannya, kemudian menatap Steve yang tadinya Lisya melihat seperti Arion sudah berubah kembali menjadi sosok lelaki yang tidak dicintainya sama sekali.


Raut wajah Lisya mendadak berubah menjadi sedih, kecewa dan marah.


"Sya?" Panggil Steve yang sedari tadi menatap wajah Lisya yang sibuk dengan lamunannya sendiri.


Lisya tidak mendengar kalau sedang dipanggil oleh Steve, dan akhirnya Steve memegang kedua bahu Lisya lalu mengguncangkan bahunya dengan begitu cepat.


"Apaan sih Steve!" ucap Lisya yang begitu kesal.


"kamu lagi mikirin apa sih? daritadi aku panggilin, kamu tidak menyahut." tanya Steve.


"gak ada." jawab Lisya ketus.


"jadi mau ambil yang ini cincinnya?" tanya Steve untuk memastikan.


"Terserah kamu aja! aku ikut aja." jawab Lisya cuek.


"kamu suka gak?" tanya Steve lagi.


"kenapa sih? tinggal beli aja kok repot banget.aku bilang terserah ya terserah!" jawab Lisya ketus.


"oke!" jawab Steve tidak ingin memperpanjang perdebatannya lagi dengan Lisya.


"Mbak, kami ambil yang ini ya." Kata Steve kepada pegawai di toko itu.


"oke, Pak!"


kemudian setelah steve selesai membayar cincin itu, keduanya segera pergi dari toko perhiasan itu. rangkaian hal yang ingin dipersiapkan keduanya sangat banyak, ternyata mereka berdua baru mengetahui bila bertunangan itu tidak semudah seperti yang merek pikirkan, ini masih proses menuju pertunangan belum lagi kalau tiba saatnya mereka berdua akan menikah.


"setelah ini kita mau kemana?" tanya Lisya.


"Hmm... kita pergi ke butik, kita ada janji untuk memilih pakaian yang akan kita gunakan ketika bertunangan." jawab Steve.


"oke." Jawab Lisya.


kemudian mereka berdua berjalan secara beriringan untuk menuju ke parkiran dan akan menuju ketempat yang kedua untuk hari ini, Steve sebenarnya saat tidak suka suasana seperti ini, apalagi melihat Lisya yang begitu terpaksa untuk jalan bersama dengannya. akan tetapi Steve masih berusaha untuk menahan semuanya, dia tidak ingin melakukan kesalahan yang akan membuat Lisya marah.


setelah tiba ditempat yang kedua, butik yang sangat mewah yang dipenuhi oleh pakaian pakaian yang berkualitas tinggi, banyak pasangan selebriti tanah air yang suka kesini untuk membeli gaun - gaun yang sangat bagus, tentu saja dengan keunikan - keunikan yang berbeda - beda di setiap gaunnya yang tidak ditemukan ditempat lain.


Lisya yang sudah merasa begitu lelah akhirnya hanya memilih secara acak beberapa gaun untuk dicobanya, entah mengapa dia tidak terlalu memikirkan hal - hal yang seperti ini, ya mungkin benar kali ya kalau ada yang bilang, kalau kita bahagia pasti semuanya terasa begitu indah, apalagi kalau kita saling mencintai satu sama lain dengan pasangan kita.


Lisya sudah berada disebuah ruangan untuk mencoba gaun yang pertama, gaun simple yang berwarna cream dengan panjang sampai menjulang hingga kekakinya yang memiliki belahan dibagian belakangnya yang lumayan cukup lebar dengan dipenuhi mutiara mutiara diseluruh gaun yang menambah kesan mewahnya.


setelah memakai gaun itu, lisya langsung melihat dirinya didepan cermin besar yang berada dihadapnnya sambil memutarkan tubuhnya, ternyata gaun ini terasa begitu cocok untuk dirinya, Membuat aura yang sangat terpancar keluar ketika Lisya menggunakan gaun itu.


Lisya pun melangkah keluar untuk menunjukkan gaun itu kepada Steve yang menurutnya sebenarnya tidak perlu untuk melakukan hal itu, tapi Steve terus saja mengentuk pintu untuk bisa melihatnya, akhirnya dengan berat hati Lisya pun keluar dari persembunyiannya itu, dan ketika Lisya keluar mata Steve terus saja menatapnya tanpa berkedip sama sekali, Steve benar benar sangat terpukau melihat calon tunangannya itu.


"Gimana?" Tanya Lisya sambil berjalan dan berputar dihadapan Steve.


"Hah? cantik!" ucap Steve tanpa ingin memalingkan pandangannya.


"oke, kalau begitu aku ambil yang ini ya." ucap Lisya kemudian melangkah untuk berganti pakaiannya, tapi Steve memegangi tangan Lisya yang sontak membuat langkah kakinya terhenti seketika dan melihat kearah Steve.


"aku ingin kamu mencoba gaun yang ini." Ucap Steve lalu memberikan sebuah gaun yang memang sudah dipesannya secara khusus tanpa sepengetahuan Lisya.


"Sya...Please...!" Steve memohon kepada Lisya.


"Baiklah." Ucap Lisya akhirnya. kemudian Lisya mengambil gaun pemberian dari Steve itu lalu segera pergi ke ruang ganti lagi.


Lisya sempat merasa kesal sambil melihat secara menyeluruh gaun itu. "hmm...tidak buruk, aku baru mengetahui kalau dia bisa memilih gaun yang cantik dan unik seperti ini." Ucap Lisya dan segera berganti untuk gaun yang kedua.


Gaun yang dipilihkan oleh Steve itu begitu mewah, simple, unik dan yang pasti tidak akan ada dipasaran, karena itu gaun yang digambar khusus oleh Steve, ternyata Steve selama ini sudah memiliki gambar sketsa untuk gaun pertunangannya yang dia sendiri belum mengetahui siapa perempuan yang akan menggunakan rancangannya itu, pastinya dia adalah perempuan yang sangat beruntung.


Lisya pun begitu takjub melihat dirinya sendiri didepan cermin. "gaun ini, kenapa begitu pas ditubuhku?" pikir Lisya yang merasa begitu puas menemukan gaun yang sangat nyaman dan sangat cantik untuk dikenakannya.


Tanpa Lisya sadari dirinya kini sudah senyum senyum sendiri di depan cermin. Steve yang sedari tadi tidak sabar untuk melihat Lisya hanya mondar mandir tidak jelas didepan ruang ganti Lisya saat ini.


Tokk.. Tokk.. Tokk..


"Sya...gimana gaunnya?" tanya Steve dengan begitu penasaran.


"Sebentar..." Lisya keluar dengan lalu berjalan bagaikan seorang model dihadapan Steve. "Gimana?" tanya Lisya.


"Sumpah kamu cantik banget, Sya!" Ucap Steve memuji Lisya secara blak - blakkan.


"Thanks! aku rasa memang pilihan kamu tidak buruk." ucap Lisya tanpa ingin memuji lebih gaun pilihan Steve itu.


"jadi? kamu akan menggunakan gaun ini kan?" Tanya Steve.


"Menurut kamu?" Lisya malah balik bertanya.


"Menurut aku kedua gaunnya bagus dan emang cocok ditubuh kamu, ya keputusan ada pada kamu, kamu lebih nyaman dan suka memakai gaun yang mana?" Jawab Steve.


'Aku tidak akan memaksa kamu bila kamu tidak menyukai gaun ini. tapi aku benar benar berharap kamu akan memilih gaun rancanganku ini, Sya.' batin Steve.


"Hmmm....setelah aku pikir pikir, gaun ini lebih nyaman dan pas ditubuhku! jadi aku akan memilih gaun pilihan kamu ini." Ucap Lisya dengan jujur.


"BENERAN, SYA?!" ucap Steve yang begitu antusias ketika mendengarkan keputusan Lisya barusan. Steve pun memeluk Lisya dengan spontan sangkin kesenangannya.


"iya, gak usah peluk - peluk juga kali! ya udah aku ganti dulu." ucap Lisya yang begitu cuek kemudian melepaskan pelukan dari Steve.


"iya maaf." ucap Steve.


akhirnya setelah menunggu 10 menit, Lisya sudah kembali lagi dengan pakaiannya yang dikenakannya.


"Jadwal kita hari ini sudah selesai kan?' tanya Lisya yang ingin segera pulang karena sudah merasa begitu lelah.


"kenapa? masih ada lagi sih, kita kan belum ke hotel tempat acaranya nanti, kamu maunya di hotel mana?" Jawab Steve.


"duh! kenapa begitu ribet banget sih? aku udah capek banget nih. kalau masalah hotel dan dekorasi mendingan kamu aja deh yang pilih. aku ikut aja." ucap Lisya.


"loh loh! gak bisa begitu dong Sya? yang ingin bertunangan itu kan kita berdua?" tegas Steve dengan penuh penekanan.


"tapi aku udah capek dan lelah banget hari ini, kamu ngerti gak sih?" ucap Lisya yang sangat kesal.


"iya aku tau dan ngerti, kan aku juga sama, sya? kalau dibilang capek, aku juga, Sya! Hmmm... begini saja... besok kita lanjut lagi ya, sekarang aku antarin kamu pulang, gimana?" tawar Steve akhirnya.


"oke baiklah." Jawab Lisya setelah sebentar berpikir.


dan akhirnya Steve menepati janjinya dengan mengantar Lisya kembali kerumahnya, sesampainya didepan gerbang rumah Lisya, Lisya sudah bersiap untuk melepaskan sabuk pengamannya. "oke, thanks hari ini ya Steve! kalau begitu sampai bertemu besok lagi." ucap Lisya sambil tersenyum simpul.


"Iya, Sya! kalau begitu aku kembali sekarang ya, Titip salam sama Papa kamu dari aku ya!" Ucap Steve sambil membalaskan senyuman Lisya.


kemudian Lisya pun turun dari mobilnya Steve. dan Steve masih betah berada disana sampai sosok Lisya benar benar sudah menghilang dari pandangannya.


'Andai aja kamu tau, Sya, kalau aku itu senang banget kita bisa jalan seharian begini. aku adalah lelaki yang sangat beruntung bisa mendapatkan perempuan seperti kamu! aku tidak sabar untuk segera membuat kamu menjadi milikku selamanya, aku tidak menyesal sudah terjebak kejadian seperti itu, malahan aku saat bersyukur karenanya kalau saja aku tau kalau bisa menikah dengan kamu dengan cara seperti itu, aku sudah melakukannya sejak lama!' batin Steve.


kemudian Steve sudah bersiap untuk menyalakan mesin mobilnya dan bergegas pergi dari sana. disepanjang perjalanan Steve terus saja tersenyum sendiri, dia sangat bahagia dan tidak bisa melupakan sosok Lisya yang sangat cantik mempesona saat menggunakan gaun yang dipilihkan olehnya itu.


"Aku sangat tidak sabar untuk menantikan hari esok dan segera bertemu denganmu kembali Lisya!" ucap Steve pada dirinya sendiri.


**********


Dikediaman Lisya, tepatnya didalam kamarnya, Lisya yang sudah merasa begitu lelah sampai sampai kakinya terasa begitu pegal dan sakit, hanya bisa membaringkan tubuhnya untuk meluruskan kedua kakinya, "Akhirnya hari ini berlalu juga, huft." ucap Lisya kemudian memejamkan matanya.


baru saja Lisya memejamkan matanya, ponselnya kembali bergetar..


Drrttt.. Drrttt.. Drrttt..


Yang tadinya Lisya hanya mengabaikan ponselnya begitu saja, akhirnya dengan penuh dengan kekesalan Lisya melihat ponselnya.


"siapa sih malam malam begini?! mengganggu ketenangan orang aja!" ucap Lisya dengan kesal.


ketika melihat nama yang tertera disana. "STEVE? Mau apa lagi sih dia?" gerutu Lisya.


tanpa pikir panjang Lisya langsung membuka pesan singkat yang telah dikirimkan Steve untuk dirinya.


From Steve :


Aku baru sampai rumah nih, kamu sudah tidur?


Pasti kamu lelah banget ya hari ini?


Kalau begitu Good Nite, Sya!


Nice Dream ya!


Besok aku jemput kamu jam 9 pagi ya.


See you tomorrow, Syaaaa!


'Kenapa sih si Steve jadi seperti ini? lebay banget deh. udah ah....!"


Lisya tidak membalas pesan yang dikirimkan Steve kepadanya, Lisya hanya kembali meletakkan ponselnya begitu saja dan memejamkan matanya yang sudah sangat mengantuk dan lelah.


 


>>> Bersambung <<<


Sampai sini dulu ya..


Kita akan lanjut di next chap, Ingat untuk selalu kirim jempol nya yaa, Kakak2..


Salam Kasih untuk Yg Terkasih


 Love You All 


💞 💞 💞 💞 💞