
"Ed, look! They are looking at you. Don't you feel uncomfortable with their gazes?" tanya Grace sambil mengarahkan jari telunjuknya ke arah karyawan yang menatap Ed sedaritadi.
(Ed, lihatlah! mereka sedang melihat ke arahmu. Apa kamu tidak merasa risih dengan tatapan mereka?)
Ed hanya menggelengkan kepalanya dengan perlahan sambil berkata, "No, Aunty. Ed is happy that all of them know I'm a niece of Grace, a capable career woman."
(Tidak, Bibi. Ed malah senang kalau mereka semua tau aku ini keponakan dari Grace, seorang wanita karir yang handal.)
"Ed, you're so cute! It's not wrong for Aunty to choose to bring you here. Do you want something for your snack later?" tanya Grace pada Ed sambil menggandeng tangan Ed.
(Ed, kamu sungguh menggemaskan! Tidak salah pilihan Bibi untuk membawamu ke sini. Apa kamu mau sesuatu untuk ngemil nanti?)
Ed kembali menggelengkan kepalanya sambil berkata, "Ed will order it myself. The message is the same as the pretty sister whose desk is outside Aunt's room, right?"
(Nanti Ed akan pesan sendiri. Pesannya sama Kakak cantik yang meja kerjanya ada di luar ruangan Bibi kan?)
Ternyata Ed masih teringat dengan Shei yang hanya sekali dilihatnya. Ed memang memiliki daya pengingat yang baik.
"You're right, Ed. Her name is Sheilla. Just call her Ms. Shei. She will help you prepare what you needs when Aunty focus on Aunt's work." Grace merasa tenang mendengar ucapan Ed. Dia tidak akan bersusah payah lagi untuk menjaga Ed, karena Ed sendiri sudah bisa diandalkan.
(Kamu benar, Ed. Namanya Sheilla. Panggil saja dia Kak Shei. Dia akan membantumu menyiapkan apa yang Ed butuhkan saat Bibi fokus dengan pekerjaan Bibi.)
"All right, Aunty. Ed has promised not to disturb Aunty. So, don't worry. Aunt's bodyguards can also help Ed do a lot of things. Ed isn't alone, Aunty, because I brought lots of toys with me." Ed mengulang kembali janjinya pada Bibi kesayangannya itu.
(Baiklah, Aunty. Ed sudah berjanji tidak akan mengganggu Bibi. Jadi, jangan khawatir. Para Bodyguard Bibi juga bisa membantu Ed untuk melakukan banyak hal. Ed tidak sendirian Bibi, karena Ed membawa banyak mainan bersamaku.)
"Ed makes Aunt not willing to let you play with someone other than Aunty," ucap Grace sembari memanyunkan sedikit bibirnya dan ditujukannya pada Ed.
(Ed membuat Bibi tidak rela untuk membiarkanmu bermain dengan orang lain selain Bibi)
Ed menggelengkan kepalanya lagi dan lagi. Dia tidak mau Bibinya tidak fokus bekerja karena mengkhawatirkan dirinya.
Hingga pada akhirnya, membuka suaranya dengan tegas, "You have to focus on working. You can't think about anything else. If you need something, you just need to leave a message for me. So I can do more than play. For example, call Ms. Shei to meet with you. You don't need to call her again, Aunty."
(Bibi harus fokus bekerja. Tidak boleh memikirkan hal lain. Kalau Bibi butuh sesuatu, Bibi tinggal menitip pesan padaku. Jadi, aku bisa melakukan lebih banyak hal lagi selain bermain. Misalnya, memanggil Kak Shei untuk bertemu dengan Bibi. Bibi gak perlu menelepon dia lagi.)
Grace mengangguk perlahan setelah mendengar ocehan dari anak kecil kesayangannya. Seketika Grace memiliki ide cemerlang.
"All right, Ed. Aunty can teach you to be independent and to communicate properly with others." Grace mulai mengungkapkan ide yang terpikirkan olehnya. Agar Ed bisa belajar tata krama dengan bin
(Baiklah, Ed. Bibi bisa sekalian mengajarkanmu untuk bisa mandiri dan cara berkomunikasi yang benar dengan orang lain.)
"Good idea, Aunt. Aunty is indeed the best teacher!"
(Ide yang bagus, Bi. Bibi memang guru yang terbaik!)
Semua karyawan yang melihat keakraban antara Grace dengan Ed merasa iri. Mereka ingin sekali menghampiri Ed dan mencubit pipinya yang gembul itu.
Belum lagi, Ed yang sudah pandai berbahasa dengan sangat lancar tanpa ada sedikit pun kata yang kehilangan hurufnya saat dia mengucapkannya. Di antara beratus karyawan, banyak yang menginginkan Ed sebagai Anaknya.
Mereka mengagumi semua yang ada pada Ed. Baik dari segi wajah, penampilan hingga cara dia berkata - kata. Sungguh menggemaskan!
Sayangnya, itu semua adalah angan - angan semata. Ed adalah kenponakan Grace dan sangat sulit untuk menjangkaunya. Menghampirinya saja, tidak ada yang berani.
Tiba - tiba saja seluruh karyawan dimintai oleh Bodyguard Grace untuk berkumpul di lobi. Grace mulai menyuruh Ed untuk memperkenalkan dirinya pada semua orang.
"Saat ini, keponakan saya akan berada di sini selama dia liburan. Ed, let's introduce yourself to all of them." Pengumuman ini dilakukan oleh Grace untuk menjaga keamanan Ed selama berada di perusahaan."
"Good morning all. My name is Edzard. I'm a niece of Mrs. Melv you know now. I will come here every day to accompany my beloved Aunty. So, please advicefrom all off you during my visit to Melv. Corp. That's all and thank you for your time. See you later," ucap Ed mengakhiri sesi perkenalannya dengan banyak orang.
(Selamat pagi semuanya. Namaku Edzard. Aku keponakan dari Ny. Melv yang kalian kenal sekarang. Aku akan datang setiap hari ke sini untuk menemani Bibi kesayanganku. Jadi, mohon bimbingannya selama aku berkunjung di Melv. Corp. Sekian dan terima kasih atas waktunya. Sampai jumpa.)
"Baiklah. Dia adalah keponakan kesayanganku yang berasal dari London. Maka dari itu, jangan heran jika dia jago dalam berbahasa inggris. Bagi kalian yang ingin berkomunikasi dengan Ed, sebenanrnya kalian bisa menggunakan Bahasa Indonesia. Tapi, ingat! Secara perlahan. Karena Ed masih dalam proses mempelajari Bahasa Indonesia dengan baik dan benar. Ya sudah, kita akhiri pertemuan mendadak ini. Silahkan kembali bekerja," ucap Grace penuh dengan peringatan yang tersirat dari kata - katanya itu.
Ed berjalan sambil menggenggam jari telunjuk Grace dengan erat. Sesekali dia memperhatikan Grace yang sedang berdiskusi dengan seorang pekerja yang kira - kira sudah berusia 40 tahun.
Grace berusaha menjelaskan sesuatu yang masih terdengar asing di telinga Ed.
"Baiklah, Pak. Nanti kita akan bahas ini semua di jam meeting dadakan sebentar lagi. Aku akan memberikan beberapa metode untuk dilaksanakan sebelum kita kehabisan waktu," ujar Grace pada lelaki itu sambil mengakhiri percakapannya.
Lalu Grace melihat ke arah kiri bawahnya. Dia tersenyum pada Ed dan menarik tangannya sambil berkata, "Kita langsung ke ruangan Aunty ya? Sebentar lagi, Aunty harus langsung pergi ke ruang meeting. Ed tidak apa - apa jika Aunty tinggal sendirian di ruangan Aunty?"
Ed membalas senyuman Grace dan menjawab, "Ed tidak apa - apa, Aunty. Nanti Ed bermain dengan Bodyguard**Aunty yang mirip ini."
Ed menunjuk pada Bodyguard Grace yang kembar. Mereka terlihat lebih kurus dan tidak sesuai dengan pangkatnya sebagai Bodyguard.
"Lho? Kenapa harus dengan mereka, Honey? Yang dua lagi?" tanya Grace penasaran.
Ed mengayunkan telapak tangannya pertanda ingin Grace mendekat padanya. Saat Grace sudah berjongkok mendekatinya, Ed membisikkan sesuatu.
"Mereka seram, Aunty. Nanti Aunty bawa saja mereka pergi bersama Aunty. Ed lebih suka melihat yang wajahnya mirip itu," bisik Ed pada Grace yang membuat Grace tertawa terbahak - bahak.
"Jangan bilang yang mirip itu, Sayang. Panggil saja mereka Kak Kembar. Mereka itu terlahir kembar. Twin. You know?" tanya Grace sambil beranjak dari tempatnya.
Mereka pun memasuki ruang kerja Grace. Ed di tinggal bersama dengan si kembar dan Grace menyuruh dua Bodyguard lagi untuk mengikutinya ke ruang meeting.
"Oh iya, Shei. Tolong kamu perhatikan Ed untukku ya. Sediakan apa saja yang ingin dia makan dan minum. Aku serahkan dia pada kalian, kamu dan kedua Bodyguardku." Grace memberikan perintah kecil pada Shei saat melewati meja kerja Shei.
Saat Grace meeting, Ed berjalan ke arah meja kerja Grace. Dia memeriksa setiap sudut meja dan kursi yang ditempati Grace.
"Ada apa, Ed? Apa yang bisa kami bantu?" tanya Dhani pada Ed sambil menghampirinya.
Ed hanya menggelengkan kepalanya. Ed melanjutkan penelitiannya. Dia berjalan ke arah dinding dan berjalan menyusuri dinding seisi kantor itu.
Dhani yang penasaran pun mengikuti langkah kaki dan pandangan Ed. Ed memperhatikan setiap sudut dengan begitu rinci. Dia tidak berkata sepatah kata pun. Ed hanya fokus dengan sesuatu yang dicari olehnya.
"Ahaa.. I found it!" seru Ed dengan senyum sumringahnya.
Ed tidak menggubris pertanyaan Dhani. Dia mengeluarkan sebuah ponsel dan menekan tombol 1 lebih lama.
Tutt.. Tutt.. Tutt..
"Hallo, Son. How are you?" terdengar suara bas seorang lelaki dari seberang telepon.
Dhani mencoba untuk mendekati Ed untuk mendengar percakapan orang itu. Ed membiarkan Dhani mendengar semuanya.
"I am fine, Dad. How are you there, Dad?" tanya Ed pada Ricky.
"I am fine too, Son. Is there anything you want to say to Daddy?" Ricky kembali bertanya pada Anaknya. Dia sudah mencium bau - bau tak sedap saat menerima panggilan langsung dari Ed.
(Kabarku baik, Nak. Apa ada sesuatu yang ingin kamu katakan pada Papa?)
"Dad really understands me. Ed wanted to say something, Dad. Ed found a small CCTV camera that was placed between books displayed on the bookshelves. There was someone who was stalking Aunty. Only one was found by Ed. Nothing else was suspicious apart from this, Dad."
(Papa memang sangat mengerti diriku. Ed mau bilang sesuatu, Pa. Ed menemukan kamera CCTV kecil yang diletakkan di sela buku yang dipajang di rak buku. Ada seseorang yang sedang mengintai Bibi. Hanya satu yang Ed temukan. Tidak ada lagi yang mencurigakan selain ini, Pa.)
"Wow! You are very reliable, son. Quickly connect your cellphone cable to the CCTV camera. Ehh, has Ed already disconnected the CCTV camera with the owner?"
(Wah! kamu sangat bisa diandalkan, Nak. Cepat hubungkan kabel ponselmu ke kamera CCTV itu. Ehh, apakah Ed sudah memutuskan koneksi kamera CCTV itu dengan pemiliknya?)
"Already, Dad. Don't worry. Ed is already good at things like this. Ed has also connected the cable to the cellphone. Please set everything up. Ed wants to play first. See you Dad."
(Sudah, Pa. Papa jangan khawatir. Ed sudah mahir tentang yang beginian. Ed juga sudah menghubungkan kabelnya ke ponsel. Silahkan Papa atur semuanya. Ed mau bermain dulu. Sampai jumpa Papa.)
Ed pun meletakkan ponselmya di dekat kamera CCTV yang sedang bertengger ria di rak buku di dalam ruang kerja Grace. Ed bisa mengetahuinya dari aroma alami yang menuntunnya. Ed sudah mempelajarinya dari Ricky selama seharian penuh sebelum dia berlibur ke Indonesia.
Dhani yang mendengar percakapan antara Papa dan Anak itu membuatnya salut pada Ed. Sepertinya Ed bisa mempelajarinya dengan mudah. Padahal Dhani sendiri membutuhkan waktu hampir setahun untuk mempelajari seluk beluk mengenai kamera CCTV.
"Kak kembar. Ada yang ingin Ed katakan. Mari kita duduk terlebih dahulu," ucap Ed sambil berjalan menuju sofa dan duduk dengan posisi santainya.
Dhani mengikuti Ed dan Dhana menghampiri mreka. Si kembar berdiri tepat di hadapan Ed dan menunduk. Ed merasa heran melihat keduanya tak kunjung duduk di sofa.
"Kenapa Kak kembar tidak duduk juga? Duduklah! Ed capek melihat kalian berdiri terus. Ed mau bermain dengan Kak kembar. Cepat, duduklah di sana." Ed menunjuk ke arah sofa yang ada di seberangnya.
Dhana dan Dhani mulai merasa canggung dengan perintah yang diberikan Ed pada mereka. Hingga Dhana memberanikan diri untuk berkata, "Tapi, Ed.."
"Ed tidak mau tau, Kak. Kalian sudah disuruh Aunty untuk mengikutiku dan bermain bersamaku. Itu artinya, kalian harus mengikuti aturan mainnya." Ed memotong ucapan Dhana. Dia memasang wajah serius pada si Kembar.
Dhana dan Dhani pun duduk di sofa dan bertanya secara bersamaan, "Ed, ada apa sebenarnya?"
Mereka mengetahuinya. Ada suatu misi yang dikerjakan oleh Ed atas perintah Papanya. Mereka tidak bisa berbuat banyak selain menuruti permainan yang sudah dimulai oleh Ed.
"Ed mau kalian menutup mulut rapat - rapat. Ed sedang mencari seseorang yang menyelinap masuk ke sini dan memasang kamera CCTV kecil hanya untuk memantau Aunty kesayanganku. Ed harap Kakak kembar bisa bekerja sama dengan baik. Anggap saja, ini adalah permainan Ed bersama dengan Kakak kembar," tutur Ed dengan wajah datarnya.
Aura dingin yang muncul di sekitar Ed bisa membuat bulu kuduk kedua Bodyguard itu. Mereka memganggukkan kepalaanya dengan cepat tanpa henti. Mereka merasakan aura kegelapan yang siap menerkam mereka jika mereka tidak menyetujui permintaan Ed.
"Ed senang bermain dengan kalian. Ternyata Ed tidak salah memilih teman bermain." Ed tersenyum manis melihat Dhana dan Dhani yang sudah ketakutan melihat dirinya.
"Kak, siapa nama kalian? Ed tidak bisa untuk selalu memanggil kalian dengan sebutan Kakak kembar." Ed bertanha untuk mempermudah dirinya dalam menyapa, memanggil serta menyuruh kedua Bodyguard tersebut secara bergantian.
"Namaku Dhana dan dia adik kembarku, Dhani." Dhana menjawab dengan cepat dan singkat.
"Senang berkenalan dengan kalian, Kak. Oh ya, Kak Dhana. Tolong bilangkan sama Kak Shei untuk menyiapkan jus alpokat dan jus jeruk. Masing - masing dua gelas. Semuanya jangan pakai es batu. Dan ambillah air putih hangat beserta cemilannya. Ed sudah lapar, Kak." Ed meminta Dhana untuk melakukan hal itu.
Dhana pun beranjak dari tempat duduknya. Denagn langkah kaki panjang, dia keluar dari ruangan itu dan menyampaikan pesan Ed pada Shei.
Setelah Dhana tidak terlihat lagi, Ed berjalan mendekati Dhani. Dia duduk di sebelah Dhani yang masih mematung. Dhani itu penakut. Dia takut pada Ed yang hanya anak kecil berusia 5 tahun 5 bulan.
"Kak Dhani," sapa Ed pada lelaki yang sedaritadi terdiam seribu bahasa.
"Kak!" teriak Ed yang kesal melihat tingkah Dhani.
"Iya, Ed? Ada apa?" tanya Dhani.
Akhirnya, Dhani mau membuka siara setelah tersadar dari lamunannya. Teriakan Ed mampu membuatnya tak berkutik sedikit pun.
"Ed punya sesuatu untuk Kakak perankan. Kak Dhani lebih bisa kupercaya kan?" tanya Ed dengan hati - hati.
"Bisa, Ed. Ed bisa percaya padaku." jawab Dhani dengan tergesa - gesa.
"Permainan ini tidak boleh ada seorang pun yang tau kecuali kita berdua. Ingat! Kak Dhana juga tidak boleh diberitahu. Mengerti?" Ed mulai menyatakan syarat permainan yang akan dia sebutkan pada Dhani.
"I promise you, Ed!" seru Dhani dengan lantang sambil menatap Ed dengan penuh keyakinan.
"Baiklah, dengarkan baik - baik apa yang Ed katakan. Tidak ada sesi tanya jawab," ucap Ed dengan penuh penekanan.
Setelah Dhani menganggukkan kepalanya, Ed menjelaskan permainan yang ingin dia mainkan bersama dengan Dhani.
Permainan apa itu kira - kira ya?
Apakah itu sejenis permainan petak umpet?
Di tggu next chap nya ya, guys...
>> Bersambung <<<
Bagi yang ingin bincang - bincang dengan Author, join grup yag tertera di detail ya, guys..
Salam Kasih untuk Yg Terkasih
~~ Love You All ~~
IG : friska_1609