
"Ar, bangun. Kamu kerja hari ini? Atau gimana?" Suara samar - samar yang ku dengar sekilas. Aku masih mengantuk dan tidak ingin melakukan apa pun selain tidur.
"Ar! Aku tau kalau kamu sudah bangun, cepat bangkit! Atau aku pergi sendirian saja ke Kantor?" Grace sangat mudah mengamuk. Lihatlah! Dia sudah mengomel sepagi ini.
"Iya, iya. Aku sudah bangun." Jawabku singkat.
"Ya sudah, aku tinggal dulu ya. Aku mau melihat apa yang bisa dijadikan menu sarapan kita." Ucapnya sambil beranjak dari tepi ranjang.
"Kamu lupa sesuatu, sayang." Ucapku singkat. Dia menoleh ke arahku yang sudah terbangun dalam posisi duduk.
"Maksudnya?" Tanyanya dengan wajah polosnya. Dia memang tidak bisa melakukan hal yang romantis sedikit pun.
Aku pun bangkit dari tempatku terduduk dan berjalan ke arahnya. "Cup! Morning kiss, sayang. Kamu melupakannya." Jawabku singkat sambil mengecup singkat bibirnya yang ranum itu.
"Ya ampun, Ar! Aku kirain entah apa. Ada - ada saja kelakuan mu itu. Cepatlah bersiap - siap. Tadi pagi aku menerima telepon di ponselmu dari Kepala Bagian HRD. Dia menitipkan pesan untukmu, jangan lupa bawa berkas itu. Karena hari ini harus segera di proses olehnya." Dia mengingatkanku tentang pekerjaan, lagi dan lagi.
"Iya, aku tau itu." Jawabku singkat sambil mengambil handuk dan masuk ke dalam kamar mandi. Aku pun mandi dan selesai dengan cepat. Maklum saja, laki - laki tidak memerlukan banyak waktu untuk bersiap karena kami tidak seribet perempuan.
Setelah keluar dari kamar mandi, aku melihat tempat tidur kami sudah rapi dan pakaianku sudah terletak di atasnya. Dia sudah mempersiapkan keperluanku. Aku langsung menuju ke ruang makan setelah mengenakan pakaianku.
"Sayang, kita sarapan apa pagi ini?" Tanyaku dengan riang. Aku sangat senang karena mulai saat ini, aku akan mendapatkan perhatian khusus dari Istriku.
"Aku memasakkan nasi goreng, Ar. Tidak ada bahan makanan lagi di kulkas. Kita harus belanja nih, Ar." Istriku memang sangat memperhatikan segalanya. Dia sungguh Istri idaman. Padahal pekerjaan semacam itu, bisa saja dilakukan oleh para pelayan.
"Nanti sore saja kita belanja ya, sayang." Jawabku singkat sambil duduk manis dan bersiap untuk menyantap sarapanku.
"Baiklah, Ar." Jawabnya sesingkat mungkin.
"Kamu masih mau bekerja atau mau di Rumah saja sebagai Ibu Rumah Tangga yang baik saja, sayang?" Tanyaku dengan hati - hati padanya. Meskipun aku sudah tau jawaban apa yang akan dia berikan padaku.
"Aku tidak mau berdiam diri di Rumah, Ar. Kamu tidak lihat bagaimana penampilanku saat ini?" Tanyanya padaku sambil menyantap nasi gorengnya.
"Iya, aku sudah melihatnya. Kamu juga harus tau kalau aku itu sangat peduli padamu, sayang. Aku tidak mau kesehatanmu terganggu karena kamu bekerja terlalu keras. Tapi, aku juga tidak mau melarangmu melakukan hal yang ingin kamu lakukan. Jika memang kamu masih ingin bekerja, kamu harus bersedia melakukan satu hal sebagai syarat dariku." Tuturku padanya.
"Apa itu?" Tanyanya singkat sambil menoleh ke arahku.
Aku menatapnya intens dan berkata, "Aku ingin mengumumkan kepada karyawan Melv.Corp. mengenai statusmu itu. Karena masih banyak karyawan Melv.Corp. yang tidak mengetahui tentang pernikahan kita."
Jawabanku membuatnya tersendak. Aku tau apa yang ada di dalam pikirannya. Sejak awal dia memang tidak suka dengan status yang tinggi. Tapi ini demi keamanannya. Aku tau seberapa banyak karyawan yang tidak menyukainya karena dia sebagai karyawan baru bisa dengan berani mengantarkan berkas secara langsung padaku tanpa melalui Steve sejak pertama kalinya dia bekerja. Mereka tidak akan berani melakukan hal tidak terpuji seperti itu jika mereka mengetahui status Grace yang sebenarnya.
"Kalau aku menolaknya?" Tanyanya singkat.
"Aku akan mengurungmu di Rumah, sayang. Aku tidak akan mengizinkanmu untuk bekerja. Cukup simple bukan?" Jawabku dengan santainya.
"Ya sudahlah. Aku hanya bisa menuruti kemauanmu itu. Tidak ada hal yang baik terjadi jika aku sebagai Istri tidak menuruti perkataan Suamiku. Asal aku diizinkan untuk bekerja." Ucapnya dengan sikap yang acuh tak acuh.
"Kamu memang tidak suka berdiam diri ya, sayang. Padahal aku sangat menginginkanmu untuk bersantai di Rumah saja dan menikmati hasil keringatku setiap harinya. Bukan malah ikut bekerja seolah aku tidak sanggup memenuhi kebutuhanmu." Ucapanku memang sedikit aneh, tapi begitulah pandangan orang pada umumnya.
Grace malah menertawakanku. Dia sungguh tega menertawaiku. "Kamu itu jangan berpikiran sempit begitu dong, Ar. Semua orang juga tau kalau kamu itu begitu kaya dan dengan mudahnya memberikanku kemewahan yang aku inginkan dalam sekejab. Tapi, aku tidak butuh itu semua. Aku ini tidak ingin menjadi seorang Istri yang hanya berdiam diri di Rumah menunggu Suaminya pulang. Meskipun kodratnya, sebagai seorang Istri memang seharusnya seperti itu. Aku hanya ingin lebih lama menghabiskan masa mudaku dengan melakukan berbagai hal."
Penjelasan yang masuk akal. Aku hanya bisa tersenyum dan mengangguk menyetujui perkataannya. Kami pun berangkat ke Kantor bersama. Mulai sekarang, kami akan selalu berangkat dan pulang bersama.
Sesampainya di Kantor, aku bertemu dengan Kepala Bagian HRD di depan pintu masuk. Aku menyerahkan berkas yang dibutuhkan dan juga menyuruhnya untuk mengumpulkan seluruh karyawan di lobi. Mereka sibuk dengan alat komunikasinya untuk mengumpulkan seluruh karyawan Melv.Corp. secepat mungkin.
Aku hanya berdiri tegap bersama dengan Grace yang dengan setia berdiri di sebelah kiriku dan juga Steve yang sudah bersedia di sebelah kananku. Sam berada tepat di samping Kakaknya. Aku memang sengaja menyuruhnya untuk ikut dalam barisan, karena ini juga menyangkut tentang dirinya sebagai Adik Iparku.
Setelah semuanya berkumpul, aku menjelaskan maksud dan tunjuanku mengumpulkan mereka di sini.
"Selamat pagi semuanya." Sapaku pada beratus karyawan yang sudah berbaris dengan rapi di lobi ini.
"Selamat pagi, Pak Arion." Mereka kembali menyapaku.
"Baiklah, aku akan memberikan sedikit pengumuman. Kalian sudah pasti mengenalnya bukan? Pastinya, kalian mengenalnya hanya sebatas sebagai Sekretaris Pribadiku. Aku ingin menegaskan kepada kalian semua, bahwasannya Grace adalah Istriku. Sebelumnya, dia tidak ingin kami mengumumkan dirinya sebagaimana mestinya. Aku sempat kecewa dengan sikap beberapa karyawan yang pernah melakukan hal buruk terhadap Istriku. Mulai saat ini, aku hanya ingin kalian berlaku sopan terhadapnya dan juga Adiknya, Sam. Hanya itu yang ingin aku sampaikan pada kalian semua. Silahkan kembali bekerja!" Perintahku pada mereka.
"Siap, Pak Arion!" Jawab mereka serempak.
Sesampainya di ruanganku..
"Kak, apa Kakak tidak berlebihan mengumumkan tentangku pada semua orang? Nanti mereka mengira aku tidak Profesional mendapatkan jabatanku yang sekarang. Kenapa Kakak tidak memberitahu ku dulu sebelumnya?" Tanya Sam yang sedaritadi mengekoriku sampai ke ruanganku. Steve juga ikut - ikutan mengikutiku. Hanya Grace lah yang sudah bergerak aktif mengerjakan pekerjaannya.
"Tidak akan ada yang berani berpikiran seperti itu, Sam. Mereka juga tau kalau kamu melakukan tugasmu dengan baik selama ini. Dan kamu mendapatkan promosi jabatan dari Atasanmu, bukan dariku. Kamu jangan khawatir. Mereka yang berpendidikan tidak akan memikirkan hal buruk mengenai orang lain. Karena akan jauh lebih penting jika dia fokus untuk mengembangkan dirinya dalam pekerjaannya." Aku memberikannya sedikit pencerahan melalui pandanganku.
Gak Kakak, gak Adik, sama - sama keras kepala. Memang bagus kalau mereka bekerja dengan status seperti pegawai biasa. Tapi lebih bagus lagi jika mereka memiliki status yang lebih tinggi, agar mereka bisa terhindar dari pegawai lain yang berusaha untuk menyingkirkan mereka. Apa mereka tidak bisa berpikiran seperti itu ya?
"Sudahlah, Sam. Semuanya sudah terlanjur. Kerja gih. Nanti ada pula yang mengadu kalau kamu bolos kerja di pagi hari." Steve mulai bersuara untuk menenangkannya.
Sam pun pergi begitu saja. Dia sedang bad mood saat ini, biarlah. Aku memang salah karena tidak mengatakannya terlebih dahulu, tapi ini yang demi kebaikannya. Dia pasti bisa menerima keputusanku secara perlahan.
"Ar, aku sudah mengatur semuanya. Sekitar sejam lagi, kita akan berangkat ke Bandara. Mereka sudah di sana sejak pagi tadi. Karena takut ketinggalan jadwal terbangnya." Steve mengingatkanku akan jadwalku yang sempat terlupakan.
"Baiklah, nanti beritahu Grace tentang hal itu. Begitu juga dengan Sam." Ucapku singkat memberikannya perintah.
Steve pun mengangguk dan keluar dari ruanganku. Aku tau, dia akan membantuku untuk berbicara dengan Sam. Dia pasti bisa meredakan pemikiran Sam yang berlebihan mengenai keputusanku yang memperkenalkannya sebagai Adik Iparku.
AUTHOR POV
"Pagi, Bu." Sapa Shei pada Atasan sekaligus Istri dari CEO Melv.Corp.
"Pagi juga, Shei. Kamu kenapa berekspresi seperti itu? Apa ini karena pengumuman tadi pagi?" Tanya Grace pada Shei yang terlihat gugup berada di dekatnya.
"Mmm.. Tidak, bu, bukan begitu, Bu." Jawab Shei dengan terbata - bata.
"Kamu tidak perlu gugup begitu. Bersikaplah seperti biasa. Saya tidak suka melihat orang menjauhiku hanya karena status. Saya akan berlaku Profesional selama bekerja. Tenang saja, saya bukan tipe orang yang menggunakan status untuk mengambil keuntungan dari orang lain." Tutur Grace pada Shei yang tadinya begitu gugup melihatnya.
"Baik, Bu." Jawab Shei singkat.
Shei pun duduk di kursinya yang bersebelahan dengan tempat duduk Grace. Mereka bekerja dalam diam selama hampir sejam.
"Shei, buatkan kopi manis untukku lah." Ucap Grace meminta Shei membuat kopi untuknya.
"Panas atau dingin, Bu?" Tanya Shei dengan ragu.
"Yg panas, Shei. Nanti sekalian bawakan cemilan ya. Aku lagi pengen ngemil nih." Pinta Grace pada Shei. Shei hanya mengangguk sambil tersenyum.
Drrttt.. Drrttt.. Drrttt..
Ponsel Grace berbunyi. Ada panggilan masuk dari Sam, Adiknya.
"Halo, Sam? Ada apa Sam?" Tanya Grace setelah menerima panggilan tersebut.
"Sekitar setengah jam lagi, jangan lupa ke parkiran ya, Kak. Kita akan ke Bandara bersama Kak Ar dan Kak Steve." Ucap Sam dengan terburu - buru. Dia sedang berada di dalam ruang kerja Steve. Mereka banyak membahas mengenai keputusan Arion yang mendadak itu. Sam akhirnya mengerti jalan pikiran Arion.
"Baiklah." Jawab Grace singkat dan langsung mengakhiri panggilan tersebut.
"Bu, ini kopi dan cemilannya. Masih ada yang Ibu inginkan lagi?" Tanya Shei dengan senyuman ramahnya.
"Tidak ada lagi, terimakasih ya, Shei." Ucap Grace sambil membalas senyuman Shei.
"Ehh, Shei. Sekitar setengah jam lagi, aku akan pergi keluar sebentar. Nanti kamu saja yang antarkan dan urus dokumen ini ke bagian produksi ya, Shei. Jangan sampai salah. Aku butuh siang ini laporannya disesuaikan dengan data yang ada pada mereka." Jelas Grace pada Shei yang sedang serius memperhatikannya.
"Oke, Bu. Dimengerti!" Ucap Shei dengan tegas.
Mereka pun kembali sibuk dengan kegiatan masing - masing. Tak terasa waktu sudah menunjukkan pukul 9 pagi. Sudah waktunya mereka berangkat.
Grace berpamitan dengan Shei. Sebelum dia melangkahkan kakinya pergi, Arion yang berada tepat di belakangnya memanggil namanya. "Grace."
Dia hanya menoleh sebentar dan terus berjalan menuju lift. Arion hanya mengikuti langkah kaki Istrinya dan sesampainya di dalam lift, Arion menangkap pinggang sang Istri dan menariknya agar dia tidak jauh - jauh adrik
"Kenapa tadi kamu seperti menghindariku, sayang? Hah?" Arion tidak suka jika Grace tidak membalas sapaan darinya.
"Tidak. Aku tidak ada niatan untuk menghindar darimu. Kamu saja yang terlalu sensitif." Jawab Grace dengan senyuman yang dipaksakan. Dia merasa risih dengan rangkulan tangan Arion yang melingkar di pinggangnya.
"Benarkah?" Tanya Arion dengan alis yang dinaikkan sebelah.
"Yepp! Aku memang gak ada niatan untuk menghindarimu, Ar. Kalau gak percaya, ya sudahlah. Tapi, lepaskan dulu tanganmu ini. Aku tidak mau jadi pusat perhatian karena ulahmu ini." Ucap Grace sambil menggeserkan tangan Arion yang melingkar di pinggangnya. Tapi tangan Arion tidak bergeser sedikit pun dari pinggangnya. Padahal sebentar lagi mereka akan tiba di lantai dasar dan pintu lift akan terbuka.
"Grace?" Ucap Arion dengan lembut.
Grace yang merasa terpanggil, menoleh sekilas ke arah Arion dengan kepalanya yang sedikit mendongak ke arah atas untuk melihat wajah Arion.
"Cup!" Arion mengecup bibir Grace secepat kilat. Dia pun melepaskan pegangannya pada pinggang Grace. Dia senang karena bisa melakukan hal itu. Sangat ampuh untuk menghibur hatinya yang sedang gundah.
"Ar! Selalu saja begitu!" Bentak Grace pada Suaminya. Dia geram mendapatkan perlakuan semena - mena dari Suaminya itu..
Arion terkekeh melihat Istrinya yang sedang cemberut sambil berkata, "Kamu lucu saat cemberut begitu, sayang. Sungguh menggemaskan. Mau nambah lagi? Aku akan melakukannya dengan senang hati, sayang."
"Menyebalkan!" Umpat Grace sambil membuang tatapannya ke arah lift yang sudah terbuka. Dengan langkah panjang, dia pergi ke parkiran dan meninggalkan Arion jauh di belakangnya.
Sang suami hanya berjalan pelan mengikuti arah yang di tuju oleh Istrinya sambil terkekeh geli mengingat reaksi Istrinya yang sangat menggemaskan itu.
'Tidak salah aku memilihnya sebagai Istriku.' Kata - kata ini mampir begitu saja dalam benaknya.
>>> Bersambung <<<
Sampai sini dulu ya..
Kita akan lanjut di next chap, jangan lupa beri like nya yaa, guys..
Salam Kasih untuk Yg Terkasih
~~ Love You All ~~
💞 💞 💞 💞 💞