THE PERFECT GIRL

THE PERFECT GIRL
77



Hari ini adalah hari yang ku tunggu - tunggu. Grace akan tiba di Bandara sekitar jam 9 pagi. Dengan langkah yang panjang, aku langsung membasuh diriku dan bergegas mengahabiskan sarapanku. Aku tidak ingin terlambat menjemputnya, perempuan yang sudah membuatku kacau setelah aku mengusirnya dengan kasar.


Aku pergi ke Bandara bersama Steve. Karena aku belum diperbolehkan untuk mengemudi sendiri. Steve dengan setia menemaniku kemana pun aku pergi.


Sesampainya di Bandara, aku langsung berjalan dengan tergesa - gesa mencari sosok yang sudah lama tidak kulihat. Entah perasaanku saja atau memang ada yang merasukiku saat ini, aku juga tidak tau. Yang aku inginkan saat ini adalah melihat wajahnya yang beberapa hari ini bisa membuatku tertidur lelap.


Setelah beberapa saat mencari keberadaannya, ternyata dia sedang berbincang dengan seseorang. Seseorang yang sepertinya kukenal. Tapi, aku tidak ingat siapa namanya dan dimana aku pernah bertemu dengannya.


"Hey, aku mencarimu kemana - mana. Kamu terlalu cepat melangkah." Ucapan Steve membuatku tersadar dari lamunanku.


Tapi, aku tetap tidak bisa melepaskan pandanganku pada kedua orang itu. Mereka sedang berpelukan. Aku juga melihat senyumannya yang ditujukan pada lelaki asing itu.


"Ohh, mereka sudah biasa seperti itu. Jangan diam saja. Yuk! Hampiri mereka." Ajak Steve. Aku hanya diam tak ingin bergerak dari tempatku berdiri.


'Kenapa rasanya sakit sekali, melihatnya berpelukan dan bisa tersenyum dengan lelaki lain?' Gumamku dalam hati. Aku masih tak yakin dengan pikiranku saat ini.


Steve menarik tanganku untuk mendekati mereka. Dia menyalam lelaki itu.


"Hei, Jeff. Apa kabar Bro? Sudah lama tidak bertemu, kamu kelihatannya semakin makmur sejak saat itu." Steve menyapanya dengan penuh senyuman.


Aku hanya tersenyum kecil saat lelaki bernama Jeff itu melirik ke arahku. Dan aku hanya diam tidak berkata apa - apa setelah berdiri di samping Grace. Aku jadi ragu untuk memulai percakapan dengannya, sejak aku mengusirnya.


"Kamu juga tidak ingat padaku, Ar?" Tanya si Jeff itu padaku dengan ekspresi wajahnya yang terheran - heran. Aku hanya bisa menggelengkan kepalaku padanya.


"Ya sudahlah, aku tidak bisa berkata apa - apa lagi. Aku hanya ingin bilang, kalau suatu saat nanti kamu sudah ingat padaku, kamu harus langsung memberitahuku secepatnya. Oke?" Katanya padaku tanpa merasa segan sedikit pun.


"Baiklah." Hanya itu yang bisa aku katakan padanya.


Tiba - tiba saja Grace mendekatiku dan menarik tanganku diikuti oleh Steve dan Jeff. Aku sama sekali tidak merasa risih dengan genggaman tangannya.


"Ayo! Kita pergi dari sini. Aku ingin segera beristirahat di atas tempat tidur yang empuk," kata Grace sambil tersenyum padaku.


Hatiku terasa damai melihat senyumannya, meskipun itu hanya sesaat. Setibanya di mobil, Grace langsung duduk di kursi penumpang bagian belakang dan tanpa sadar, aku bergerak dengan sendirinya langsung duduk tepat di sebelahnya.


“Bye Jeff, kamu hati - hati ya. Kalau kamu sudah sampai di Hotel, kabari aku ya.” Grace masih menyempatkan


dirinya untuk mengucapkan kata perpisahan pada Jeff.


“Kamu juga ya, Sweety. Kutunggu kabarmu.” Jeff menjawab dengan singkat, tapi aku malah merasa risih mendengarnya memanggil Grace dengan sebutan Sweety.


‘Apa mereka menjalin hubungan seperti sepasang kekasih?’ Aku bertanya - tanya dalam hati.


Steve pun akhirnya mengemudikan mobil ini. Kulihat Grace melambaikan tangannya dengan penuh semangat pada Jeff. Entah ada setan apa yang merasukiku hingga aku seperti orang yang sedang kasmaran atau itu hanya perasaan bersalahku padanya.


Perjalanan kami cukup lama, karena kami terjebak macet di sepanjang jalan. Grace kelihatan sangat kelelahan itu malah tertidur di pundak kananku. Aku tidak tega menggeserkan kepalanya. Aku takut membangunkannya. Tapi, ada sesuatu hal yang membuat jantungku berdebar tidak karuan. Aroma yang terhirup dari rambutnya secara tidak sengaja, membuatku merasakan sesuatu yang sudah lama kurindukan. Sama seperti aroma yang kucari sejak malam itu, malam dimana aku mengemas semua foto yang terpajang di kamarku.


Sesampainya di Mansion, Grace masih tertidur pulas di pundakku. Steve melihat ke arahku dan berkata, "Ar, kita bangunkan saja dia? Atau kita bopong dia ke kamarnya?"


Cukup lama aku memikirkan apa yang harus diperbuat dengan perempuan ini. Untuk membangunkannya, aku secara pribadi tidak tega setelah beberapa kali melihat wajah polosnya yang sedang terlelap itu. Tapi, aku juga tidak rela kalau dia di bopong oleh Steve ke kamarnya.


Setelah menimbang beberapa kali, aku pun memutuskan untuk menggendongnya ala bridal style secara perlahan agar dia tidak terbangun. Perasaanku saat menggendongnya seperti ini terasa sangat familiar.


Tiba - tiba saja kepalaku terasa berdenyut hebat setelah aku merebahkan tubuh Grace di atas tempat tidurnya di kamar tamu. Aku menahan rasa sakit itu dengan memegang kepalaku menggunakan kedua tanganku.


Ada saja potongan - potongan ingatan yang aku yakini bahwa aku sudah berulang kali menggendong Grace yang sedang tertidur. Aku merasakan perasaan yang beebeda pada setiap kepingan ingatan tersebut, seperti senang, sedih, khawatir dan bahagia.


Aku berusaha bangkit dan langsung pergi dari ruangan itu menuju ke kamarku. Aku mengunci pintu kamarku, takut jika ada orang yang mengetahui keadaanku saat ini. Akhirnya, aku bterbaring lemah di atas tempat tidurku dan terlelap dengan sendirinya. Kepingan ingatan itu mulai bermunculan di dalam mimpiku.


GRACE POV


Aku terbangun dari tidurku. Yang ku ingat, aku sedang berada di dalam mobil dan akhirnya aku terlelap karena kelelahan dengan perjalananku yang cukup panjang. Sekarang aku berada di kamar tamu di Mansion Utama keluarga Melv.


Aku harus mandi dan bersiap, karena sebentar lagi seharusnya jam makan malam.


'Hah? Makan malam? Aku pasti tertidur begitu lama. Padahal tadinya masih pagi jam 9, sekarang sudah jam 4 sore. Pantas saja perutku keroncongan.' Ujarku dalam hati melihat ke arah jam dinding yang ada di kamar itu.


Sekarang aku harus bergegas untuk mandi dan langsung keluar untuk menyapa Mommy. Selesai dengan kegiatanku di kamar, aku pun menghampiri Mommy yang sedang duduk bersama Tante Zio. Kalau tidak salah mengingat, dia adalah pemilik salon kecantikan yang terakhir kali kami kunjungi.


"Selamat sore, Mom. Selamat sore Tante Zio." Sapaku pada mereka berdua sambil memeluk Mommy dan bersalaman dengan Tante Zio.


"Maaf ya, sayang. Mom tidak tega membangunkanmu dan Ar tadi. Jadi, Mom hanya makan siang berdua dengan Steve.Oh iya, Mom punya permintaan padamu, Nak." Mom berkata dengan ragu - ragu.


"Masakkanlah bubur untuk Ar. Selama seminggu ini dia tidak berselera makan karena bukan masakanmu. Dia sudah tau kalau bubur itu kamu yang memasaknya. Kamu mau kan, sayang?" Tanya Mom dengan penuh kehati - hatian padaku.


Aku hanya bisa tersneyum sambil mengatakan, "Dengan senanghati Mom. Ya sudah, Grace ke dapur dulu."


Sesampainya di dapur, semua pelayan termasuk Koki yang ada di sana semuanya mengelilingiku dan menyalamiku. Mereka senang melihat aku sudah kembali. Aku mengatakan pada mereka maksud dan tujuanku masuk ke dapur. Mereka pun membantuku menyediakan bahan yang akan kugunakan untuk meresep bubur buatanku itu.


Setelah selesai memasak, bubur itu ku tinggal untuk mereka hidangkan bersama dengan masakan lainnya dan aku berpesan bahwa bubur itu hanya untuk Ar. Mereka pun mengangguk pertanda setuju.


Aku pun langsung keluar dari dapur menuju ke kamar Ar. Pintu kamar Ar terkunci, jadi jalan satu - satunya untuk membangunkannya adalah dengan mengetuk pintu kamarnya.


"Ar, bangun! Sudah waktunya jam makan malam. Kami tunggu di ruang makan ya." Aku mengetuk pintu dan mengatakan hal yang sama.


Setelah sekitar 5 menit memanggilnya, akhirnya aku mendengar jawaban dari dalam, "Iya, sebentar lagi aku akan turun. Berisik amet sih?"


"Baiklah." Aku pun meninggalkan Ar yang masih di dalam kamarnya.


Saat makan malam tiba, kami semua berkumpul di sini. Tante Zio sudah pulang, karena dia masih ingin mengurus anaknya yang masih berusia 15 tahun.


Kelihatan sekali dari ekspresinya, Ar terkejut melihat adanya semangkuk bubur di hadapannya kini. Awalnya Ar hanya mencicipi sesendok bubur itu. Pada akhirnya, dia makan bubur itu dengan lahap. Malah dia minta tambahan bubur dari para pelayan. Aku senang dia bernafsu makan bubur masakanku.


Ar melirik ke arahku dan tersenyum. Sudah lama sekali aku tidak melihatnya tersenyum padaku. Spontan aku pun tersenyum manis padanya.


"Wah! Begini dong Ar. Kamu lahap begitu makannya kan kamu bisa lebih cepat sembuh," kata Mom sambil menoleh ke arah Ar. Sebelum Ar menjawab perkataan Mom, tiba - tiba saja ponsel Mom berbunyi dan Mom langsung pergi meninggalkan kami berdua.


"Grace, aku mintaa maaf. Aku sudah bertindak kasar sampai mengusirmu. Saat itu aku tidak menyangka bahwa kamu akan pergi meninggalkanku begitu saja. Dan terimakasih karena sudah mau kembali dan bahkan kamu memasakkan bubur itu untukku." Ar menatapku seolah dia tulus pada ucapannya.


Aku berpikir keras, apa maksud dari ucapannya? Apa yang mereka rencanakan hingga Ar menyangka aku marah padanya dan bahkan dia mengira bahwa aku pergi karena dia mengusirku. Ini pasti ulah Dad, makanya aku di tahan di USA lebih lama 2 hari setelah rapat selesai.


"Iya, aku sudah memaafkanmu sebelum kamu meminta maaf padaku. Jadi, sebenarnya kamu tidak perlu meminta maaf seperti ini padaku." Aku pun berdir dan berniat untuk kembali ke kamarku. Tapi, aku malah mendengar suara lantang yang datang mengahampiriku.


"Kak..!! Aku sangat merindukanmu. Kenapa Kakak tidak pernah bisa dihubungi? Apa semua ini ada kaitannya dengan Kak Ar? Makanya ponsel Kakak tidak pernah aktif selama seminggu ini?" Sam mengomel panjang kali lebar padaku sambil memelukku begitu erat. Dia juga sedikit menatap tajam pada Ar.


Ar hanya diam melihat tingkah Sam. Mungkin dia juga tidak mengenal Sam. Tatapannya saat ini sungguh tidak bersahabat. Aku langsung melepaskan pelukan Sam.


Di balik hilangnya ingatan Ar, aku tau bahwa perasaan Ar tidak pernah berubah padaku. Lihat saja, tatapan yang memberikan peringatan keras pada kami. Dia memang sudah melupakan segala hal yang berkaitan dengan diriku.


"Kamu adalah pegawai di Melv. Corp. kah?" Arion bertanya seolah sedang meraba sesuatu.


"Iya. Kakak tidak ingat denganku?" Tanya Sam pada Ar dengan nada kecewanya. Sam sudah mengetahui keadaan Ar, meskipun baru kali ini mereka bertemu.


"Sudahlah Sam, jangan begitu padanya. Dia itu tidak ingat apapun lagi, jadi jangan terlalu memaksanya. Dd nya Cici tidak boleh tidak sopan gitu sama orang yang lebih tua. Ingat itu, Sam." Aku mulai menasihati Sam dengan nada seolah sedang mengancam dirinya.


"Baiklah, Kak." Kata Sam padaku dan berbalik menoleh pada Ar, "Maafkan Sam yang sudah tidak sopan ini ya, Kak Ar."


Ar hanya mengangguk dan tersenyum pada Sam. Dia pun pergi melewati kami berdua. Aku langsung menyuruh Sam pulang. Dia sungguh tidak sabaran untuk menemuiku, padahal dia bisa menemuiku besok di Kantor. Akhirnya, Sam pulang dengan terpaksa.


>>> Bersambung <<<


 


Sampai sini dulu ya..


Lanjut di eps selanjutnya..


**********


Suka dengan ceritanya?


Beri jempol dan komen seputar ceritanya..


Terima kasih bagi yang sudah setia membaca dan menanti kelanjutan kisah Arion dan Grace.


Ingat untuk singgah ke karya terbaru Author yang berjudul “NARA” yaa..


Salam Kasih untuk Yang Terkasih


Love You All