THE PERFECT GIRL

THE PERFECT GIRL
TPG2_111



ARION POV


"Sayang, bangunlah. Jangan sampai aku menggendongmu ke kamar mandi ya. Nanti kita tidak jadi berangkat lho.." Ucapku lembut pada Istriku yang masih pulas dengan selimutnya. Dia sangat menggemaskan dengan posisi tidurnya yang terbalut selimut tebal itu.


"Ukh, kenapa harus bangun sepagi ini sih? Kita kan baru tidur jam 2 tadi, masa cuma tidur selama 2 jam saja? Aku kan masih mengantuk." Jawabnya polos padaku.


Aku hanya tersenyum dan menarik selimut yang membalut tubuhnya itu. Aku langsung mencium bibirnya yang sedikit manyun itu. Kalau sudah cemberut seperti ini, dia terlihat lucu dan menggoda.


"Mau mandi sekarang atau tidak sama sekali, sayang?" Tanyaku dengan senyuman yang kutunjukkan hanya padanya.


"Iya, iya, iya. Aku mandi sekarang. Tunggu aku di sini, jangan ganggu aku." Jawabnya sambil mendorongku menjauh darinya.


"Baiklah, aku akan menunggumu, sayang." Aku pun hanya bisa memandangi punggungnya sampai hilang di balik pintu kamar mandi. Aku menunggunya di sebuah kursi yang berada di dekat tempat tidur.


Setelah menunggu kurang lebih 15 menit, aku melihatnya keluar dari kamar mandi. Aroma lavender yang menempel pada tubuhnya, tidak dapat kuacuhkan. Aku mendekatinya, memeluk dan menghirup aroma itu dari tengkuk lehernya. Aroma tubuhnya yang seperti inilah yang membuatku menjadi ingin menempel padanya terus - menerus.


"Sayang, ayo kita berangkat. Nanti mood ku jadi hilang lho.." Ancamnya padaku. Aku tau kaua dia masih mengantuk. Tapi, kami memang harus berangkat sepagi ini. Kami akan ke Bandara, tempat kami menitipkan Jet Pribadi kami di sana.


"Ayo, kita berangkat." Aku menggenggam tangannya dan menariknya menuju ke mobil. Kami akan berangkat ke tempat romantis lainnya. Aku akan membawanya ke Paris. Kami akan berlibur di sana selama satu hari satu malam lagi. Karena masih ada dua tempat lagi yang harus kamu kunjungi. Seminggu itu waktu yang cukup, meskipun akan melelahkan. Tapi, aku tetap ingin menyenangkan hati Istri tercintaku.


Saat berada di dalam Jet Pribadi, aku menurunkan sedikit sandaran bangku kami agar Grace bisa nyaman dengan posisi tidurnya kini. Dia terlihat sangat kelelahan. Aku terlalu bersemangat untuk menyiksanya setiap malam. Kasihan juga sih, tapi hanya seminggu ini kesempatanku untuk bermanja - manja dengannya. Karena setelah ini, aku akan sering meninggalkannya di Rumah sendirian karena aku harus pergi ke London dan NYC untuk memantau kegiatan perusahaan di sana.


Sesampainya di Paris,  Aku tidak tega untuk membangunkan Istriku yang masih terlelap dalam tidur. Aku menggendongnya dengan perlahan turun dari Jet Pribadi kami. Kali ini, Aku menyewa sebuah Wisma yang cukup luas untuk memarkirkan Jet Pribadi kami ini. Jadi, aku bisa langsung membawa Grace ke dalam kamar.


Sekarang masih sore. Sebelum malam tiba, aku mencoba untuk merileksasikan badanku dengan mengguyur tubuhku dengan air hangat. Aku merasa tubuhku sangat lengket karena seharian ini bepergian.


Setelah selesai mandi, aku merebahkan tubuhku hingga tertidur lelap. Aku juga merasa lelah selama perjalanan tidak tidur sama sekali untuk memperhatikan keadaan selama penerbangan.


**********


"Sayang, bangun. Sudah waktunya makan malam. Kamu sudah mandi tadi kan? Kenapa tidak mengeringkan rambutmu lebih dulu sebelum tidur? Lihatlah, jadi basah bantal tidurnya."


Suara lembut Grace terdengar meskipun jarak kami cukup jauh. Aku senang dengan perhatiannya. Aku pun bangkit dari tempat tidurku dan mendekatinya. Aku membalikkan badannya dan mencium bibir mungilnya sejenak.


"Ayo! Kita makan. Aku sudah mencium aroma makan malam yang lezat malam ini, sayang." Ucapku dengan maksud menggoda Istriku yang sudah bersusah payah memasakkan lauk untukku.


Aku tau aroma masakan ini. Makanan yang dimasak oleh Istri sendiri memiliki kepuasan sendiri untuk melahapnya. Aku merasa dia sudah lebih perhatian padaku. Aku senang dengan usahaku yang tidak sia - sia mengejarnya selama ini.


"Kamu bisa aja. Kenapa kamu bisa tau kalau aku yang memasak malam ini, sayang?" Tanyanya penasaran dengan ucapanku.


"Aku tidak ada bilang kalau kamu yang memasak, sayang. Kamu yang mengakuinya sendiri, sayangku." Ucapku sambil tertawa melihat pipi gembungnya yang dibuat - buat itu. Sungguh menggemaskan.


"Ya sudah, kita makan yuk? Aku sudah lapar. Biar kita bisa jalan - jalan malam ini. Aku juga sudah lapar banget nih, sayang." Ucapku dengan manja.


Kulihat Grace mulai tersenyum dan dia memeluk lenganku, menarikku menuju ke meja makan. Aku kagum melihat kemampuan memasaknya. Sebenarnya msakannya sangat sederhana, tapi aku sangat tertarik untuk melahap semuanya.


Selesai makan malam, aku mengajaknya berganti pakaian. Dia masih saja malu - malu, padahal kami sudah berulang kali melakukannya.


"Oke, begini saja, aku akan berganti pakaian terlebih dahulu. Setelah aku selesai barulah kamu masuk ke dalam. Bagaimana sayang?" Tanyaku padanya yang dari tadi menolak ajakanku. Dia menarik tangannya yang aku pegang.


"Iya, begitu lebih baik, sayang," Ucapnya sambil cengigiran / cengengesan. Entah apa yang dipikirkannya sampai dia tidak ingin masuk ke dalam bersama denganku.


Kami pun bergantian masuk ke dalam kamar untuk mengubah penampilan kami. Aku hanya bisa menuruti permintaannya yang konyol itu.


Selang beberapa menit, akhirnya kami berangkat ke Sungai Seine. Aku sudah menyewa sebuah perahu untuk kami tumpangi mengelilingi kota Paris dengan ditemani cahaya malam yang indah menemani perjalanan kami sehingga terasa begitu romantis.



"Gimana sayang? Apa kamu menyukai pemandangannya, sayang?" Tanyaku sambil memeluknya dari belakang. Aku sangat menyukai posisi seperti ini. Aku bisa menghirup aroma tubuhnya yang khas itu dari tengkuk lehernya.


"Iya, sayang. Aku sangat menyukainya. Kita foto di sini juga, yuk? Mana ponselmu, sayang?" Grace memang tidak begitu suka dipotret. Tapi ini untuk arsip kehidupannya bersama dengan Suaminya. Meskipun melelahkan, semua kenangan ini harus diabadikan.


Akhirnya mereka pun mengambil foto secara bergantian dan aku memilih salah satu dari foto - foto yang sudah memenuhi galeri di ponselku untuk ku jadikan sebagai gambar latar di ponselku.


"Kenapa malah milih foto yang ini sih? Kan aku jelek saat itu." Ucapnya dengan nada kesalnya padaku. Aku tau ini hanya candaan. Tapi kelihatannya, sia memang tidak suka jika yang aku pajang adalah foto dimana dia sedang cemberut padaku dan menggembungkan pipinya.


"Ini adalah foto terbaik yang aku miliki, sayang. Kamu sangat menggemaskan. Dan itu sangat ampuh untuk mengembalikan mood baikku di saat aku sedang banyak pikiran. Hal yang bisa menghiburku dari keterpurukan adalah dengan melihat wajahmu, apalagi ekspresimu sangat mendukungku, sayang." Ucapku sambil memasukkan kembali ponselku ke dalam saku.


Setelah selsesai mengelilingi kota Paris di atas Sungai Siene, Aku mengajak Istriku ke tempat yang katanya paling romantis di Paris. Aku juga ingin menikmati malam yang romantis seperti kata kebanyakan orang yang sudah pernah ke sana.



"Wahh!! Kita ke Menara Eiffel? Aku tidak bermimpi kan, sayang?" Tanya Grace padaku setelah kami hampir tiba di lokasi yang ku maksud. Aku tersenyum bahagia melihat wajah berserinya yang sangat antusias dengan tempat yang kami kunjungi ini.


"Iya sayang, kita memang akan mendekati Menara Eiffel itu, tapi kita harus tetap bersama. Malam ini ternyata sangat banyak pengunjung." Ucapku sambil memegang erat telapak tangan Grace.


Kami pun mulai berjalan menerobos kerumunan orang yang sedang sibuk dengan pemandangan Menara Eiffel itu. Di tengah perjalanan, aku merasakan tangan kiriku ada yang menahan tanganku dan tanpa sengaja aku melepaskan genggaman tanganku pada Grace.


Saat aku melihat orang yang menahan tanganku itu, ternyata adalah seorang perempuan yang sepertinya pernah aku lihat. Ya! Dia adalah perempuan yang mendampingi Agung di Pesta Malam itu. Malam dimana Aku hampir kehilangan Grace karena ulahnya.


Dengan tidak tau malu, dia mendekapku. Perempuan j*lang ini memelukku begitu erat. Grace melihat semuanya. Dia pergi dari kerumunan itu. Aku langsung mendorong perempuan aneh ini dengan kasar sampai dirinya terjatuh begitu keras di antara kerumunan pengunjung Menara Eiffel.


"Kamu, perempuan j*lang! Jangan pernah muncul lagi di hadapanku! Aku akan membuat perhitungan denganmu sebentar lagi..!!" Teriakku padanya sambil mengancamnya untuk tidak pernah menggangguku lagi. .


Dia pasti suruhannya Agung. Agung memang sudah gila! Dia sampai mengutus kekasihnya sendiri hanya untuk merusak hubunganku dengan Istriku. Aku pun pergi meninggalkan perempuan sialan itu. Aku mencari ke segala arah, mencari Istriku.


"Grace..!!" Teriakku berulang kali memanggil namanya dengan harapan mendapatkan jawaban dan menemukannya. Tapi, hasilnya nihil. Dia sudah tidak berada di kerumunan para pengunjung ini.


'Grace, kamu dimana?' Hanya beberapa patah kata inilah yang terlintas di dalam pikiranku saat ini.


"Kamu tidak akan pernah menemukannya lagi, Ar..!! Karena aku sudah membuat jebakan di luar sana khusus untuknya. Kamu tau bukan? Aku sangat membencinya! Dia merebut semua perhatian Agung dariku! Aku akan membalasnya sekarang juga!" Teriak perempuan sialan itu sambil berjalan mendekatiku.


"Dimana dia?!! Dimana kamu membawanya?!!" Aku meneriakinya dengan pertanyaan yang sedang menyelimuti pikiranku saat ini.


"Kamu tidak akan pernah menemukannya lagi. Dia sedang menghadapi orang - orang suruhanku yang memiliki nafsu yang baik pada perempuan yang cantik seperti Grace." Jawabnya dengan wajah yang dipenuhi oleh senyuman sinis.


Aku langsung menjambak ramburnya dengan kasar dan berkata, "Awas saja, kalau terjadi apa - apa pada Istriku. Sedikit saja dia terluka, kamu akan mendapatkan hukuman yang berkali - kali lipat dari yang dia terima! Aku akan pastikan itu!"


Begitu selesai mengancamnya, aku mencampakkan jambakanku dengan kasar hingga dia terjatuh untuk yang kedua kalinya. Aku langsung berlari keluar dari kerumunan itu. Aku menelepon beberapa bodyguard yang juga ikut bersamaku selama perjalanan.


"Kalian segera berpencar! Cari Grace ke setiap sudut daerah ini! Aku tidak mau tau! Grace harus segera ditemukan!" Perintahku pada mereka berlima.


"Siap Tuan!" Jawab mereka serentak.


Aku bingung harus ke arah mana lagi untuk mencarinya. Aku mencoba untuk menenangkan diriku dengan posisiku saat ini. Berdiru di tengah - tengah orang yang berlalu lalang. Feeling ku mengatakan bahwa aku hanya harus mendekati Menara Eiffel itu. Aku harus pergi ke sana.


Dengan pemikiranku yang tiba - tiba teringat sesuatu, aku merogoh isi saku ku untuk mencari ponselku dan membuka aplikasi yang menghubungkan ponselku dengan ponsel Istriku. Aku jadi mengetahui keberadaannya.


Titik lokasi ponselnya benar - benar tepat berada di Menara Eiffel itu. Dia pasti pergi ke sana. Semoga saja tidak terjadi apa pun di sana.


"Grace!" Sekali lagi aku emneriakkan namanya berulang kali sambil mengitari Menara Eiffel dari dekat. Aku tidak melihat keberadaannya sama sekali. Itu tidak membuatku putus asa. Aku tetap mencarinya dengan gigih.


GREEPPP..


Tiba - tiba saja ada yang memelukku dengan erat dan semakin erat. Tubuhnya bergetar hebat. Aku melihatnya! Dia menangis sambil memelukku.


"Ada apa sayang? Kamu kenapa menangis?" Tanyaku sambil membalas pelukannya dan menciumi puncak kepalanya memberikannya ketenangan.


Setelah hampir setengah jam berlalu, akhirnya dia mulai melongggarkan pelukannya. Dan..


"Sayang?!! Kamu kenapa?! Sadarlah sayang!" Teriakku sambil menopang tubuhnya.


Dia pingsan! Aku benar - benar kalut saat ini. Ku gendong saja dia dan langsung membawanya ke Rumah Sakit terdekat.


Wajahnya begitu pucat dan lemah. Dia mendapatkan penanganan yang cukup cepat. Dokter yang menanganinya mengatakan padaku, bahwa Grace memiliki trauma yang kembali mengganggu psikisnya. Di beberapa bagian tubuhnya juga memerah akibat kekerasan yang dilakukan oleh beberapa orang yang dengan kasar yang berusaha untuk memperkosanya. Itu terlihar dari pakaiannya yang sedikit rusak dan kotor di bagian lengan bajunya.


'Perempuan sialan itu, beraninya dia berbuat sampai seperti ini..!! Aku akan membuat perhitungan padanya segera!' Ucapku pada diriku sendiri.


Aku pun mengucapkan terima kasih pada Dokter yang sudah menolong Istriku. Begitu Dokter itu keluar dari ruang rawat inap Grace, aku langsung menghubungi kelima Bodyguard ku itu. Aku memerintahkan mereka untuk menangkap dan menyekap perempuan sialan itu. Aku akan menyuruh mereka untuk mengikat dan memasukkannya ke dalam bagasi Jet Pribadi kami. Dia tidak akan diberi makan selama beberapa hari. Aku ingin dia merasakan sakit yang lebih dari yang dirasakan oleh Istriku.


Aku membawanya ke Paris hanya untuk melakukan hal yang romantis, tapi aku tidak menyangka akan berakhir seperti ini. Aku memang lalai sebagai pelindungnya. Dia mengalami trauma sejak saat itu dan saat ini dia kembali merasakan ketakutannya yang membuatnya mengingat kembali trauma yang sudah sempat terpendam.


"Sayang, sadarlah. Aku ada di sini. Aku akan selalu ada di sisimu. Aku akan selalu menjagamu dengan penjagaan yang lebih ketat lagi. Aku tau kalau aku salah. Maafkan aku, aku lalai menjadi seorang Suami yang bertanggungjawab atas keselamatanmu. Maafkan aku, sayang." Kata - kata ini selalu aku sebutkan berulang kali hanya untuk mengungkapkan isi hatiku padanya.


Aku merasakan pergerakan dari telapak tangannya. Matanya juga mulai memberika reaksi. Mungkin dia mendengar ucapan permintaan maafku yang sudah sebanyak tiga kali aku sebutkan sambil menciumi telapak tangannya berulang kali.


"Sayang? Kamu sudah sadar? Kamu baik - baik saja kan?" Tanyaku sambil beranjak dari tempat dudukku dan mengelus lembut kepalanya. Aku senang melihat senyumannya itu.


Dia menganggukkan kepalanya dengan lemah dan berkata, "Sini, berbaringlah di sebelahku. Aku ingin tidur dalam pelukanmu, sayang. Aku takut mereka akan datang lagi."


Kata - katanya begitu lemah, tapi begitu menusuk. Perasaanku berkecamuk karena mendengar keluhannya yang begitu menyedihkan. Aku pun menuruti keinginannya. Aku berbaring di sebelahnya dan mendekapnya. Dia membalas pelukanku. Aku mengelus kepalanya smabil mengecup beberapa kali puncak kepalanya sampai dia kembali tertidur pulas.


Ku pandangi wajahnya yang pucat itu. Hatiku terasa tersayat - sayat. Aku benar - benar akan membalasnya. Membalas perbuatan perempuan sialan itu. Dia harus mendapatkan pengajaran yang lebih buruk lagi dari yang dilakukannya. Aku pun ikut tertidur dengan posisi kami yang seperti ini.


AUTHOR POV


Drrttt.. Drrttt.. Drrttt..


Ponsel Arion berdering. Masuk panggilan dari Silvia. Arion bangkit dari tidurnya dan dia menerima telepon itu. "Halo, Sil. Ada apa?"


"Ar, Perusahaan yang di London mengalami kebakaran di bagian barat gedung cabang. Aku tidak bisa meninggalkan perusahaan yang ada di sini. Daddy juga sednag sibuk dengan proyek barunya dengan Mr.Adhinata. Maaf aku mengganggu liburanmu. Kamu harus segera ke sana ya, Ar. Kalau tidak, nanti perusahaan di sana bisa bangkrut karena tidak ada yang menanganinya." Silvia menuturkan semuanya pada Arion.


Arion merasa tertekan akanmasalah yang menimpanya saat ini. Grace masih belum sembuh total dari traumanya saat ini. Di tambah lagi masalah perusahaan cabang yang ada di London.


Akhirnya, Arion memutuskan untuk membawa Grace ikut bersamanya ke London. Dia akan menitipkan Grace dan perempuan sialan itu pada Ricky. Karena dia memang membutuhkan seseorang yang benar - benar bisa membantunya menjaga Grace dan menghukum perempuan itu.


Arion mengurus semua biaya administrasi dan membeli obat untuk dikonsumsk oleh Grace. Dia pun menggendong Istrinya naik ke Jet Pribadi mereka. sebelumnya, dia sudah menelepon Ricky dan menceritakan semuanya. Hanya cerita pada bagian Grace lah yang tidak diketahuinya dengan jelas, sebab Grace masih belum bisa menceritakan detail kejadian yang dialaminya.


Ricky setuju untuk menjaga Grace selama Arion bekerja dan dia sudah tidak sabar untuk menghukum keras perempuan sialan yang sudah berani membuat Adik kesayangannya itu menjadi seperti sekarang.


"Kita sudah harus berangkat lagi ya, Ar?" Tanya Grace dengan suara lemahnya.


"Iya, sayang. Ada keadaan darurat di perusahaan cabang yang ada di London. Untuk sementara, kita akan tinggal di Rumah Bang Ricky ya, sayang? Kamu setuju kan, sayang?" Jawab Arion dengan lembut sambil menanyakan pendapat Istrinya dengan ragu.


"Aku bisa bertemu dengan Ed lagi?" Tanya Grace dengan wajah cerianya, meski pucat tapi tetap terlihat cantik.


"Iya, kamu bisa bermain sepuasnya dengan Ed. Karena kita akan sedikit lebih lama tinggal di sini. Aku harus menuntaskan semuanya terlebih dahulu, sayang. Maaf ya, sayang.. Honeymoon kita jadi terganggu." Ucap Arion sambil mencium bibir mungil milik Istrinya.


"Tidak masalah, sayang. Aku sudah cukup bahagia bisa jalan - jalan bersamamu, meskipun kita tidak ke semua tempat yang kamu rencanakan sebelumnya. Kamu itu sudah membuatku bahagia selama beberapa hari ini. Jadi, jangan sampai kamu berpikiran seperti itu. Honeymoon kita tidak terganggu. Di London pun kita masih bisa melakukan hal yang romantis, tidak perlu membutuhkan banyak waktu. Asal itu denganmu dan bersamamu, aku sudah sangat bahagia. Makasih untuk honeymoon nya sayang." Ucap Grace sambil mengecup pipi Suaminya.


Dia memgerti keadaan yang Suaminya sedang hadapi. Dia tidak mau lagi menambah beban pikiran sang Suami dengan rasa khawatirnya mengenai honeymoon mereka yang terganggu. Hanya dengan satu kecupan hangat yang singkat darinya, Dia melihat wajah bahagia dari Suaminya itu.


Tidak mau kalah manja, Grace pun memeluk suaminya dari samping. Dia membenamkan wajahnya di dada bidang milik Arion. Aroma khas seorang Arion pun sangat kental menyeruak melalui indera penciumannya.


"I Love You, Ar." Ucapan Grace seperti aliran listrik yang menyetrum mengalir melalui darahnya yang berhasil memberikan kekuatan pada dirinya.


"I Love You so Much, Honey." Arion pun membalas pelukan sang Istrinya.


>>> Bersambung <<<


Sampai sini dulu ya..


Kita akan lanjut di next chap, Ingat untuk selalu kirim jempol nya yaa, Kakak2..


Salam Kasih untuk Yg Terkasih


 Love You All 


💞 💞 💞 💞 💞