
"Kamu itu aku ajak ke sini sebagai pendampingku! Bukan pendampingnya! Kenapa kamu malah berpegangan tangan begitu dengannya di depan semua orang?! Kamu mau membuatku malu karena telah membawa perempuan penggoda lelaki lain di acara ini?!!" Ar begitu marah, dia meluapkan seluruh emosinya dengan membentak Grace habis - habisan.
Grace mengepalkan kedua tangannya, dia sudah mencapai batasnya. Grace tidak terima diperlakukan seperti perempuan rendahan di depan umum seperti ini.
Sudah cukup kesabarannya, kali ini Ar sudah benar - benar membuat dia merasa tidak dihargai sebagai seorang perempuan.
'Ini semua karenanya! Aku tidak bersalah sama sekali, kenapa aku sampai harus dipermalukan begini?' Grace menggerutu berulangkali dalam diam. Dia memperhatikan segala tindakan dan ucapan Ar padanya.
"Kenapa kamu diam saja?!! Apa perkataaku tadi memang benar adanya?!! Kamu sudah bertunangan, tapi kamu malah pergi ke acara seperti ini denganku dan sekarang kamu malah bergandengan tangan dengan dia! Kamu itu sudah menunjukkan kalau kamu itu layaknya seperti perempuan penggoda di luar sana!" Bentak Ar melanjutkan pemikirannya mengenai Grace.
PLAAKKK..!!
"KAMU KETERLALUAN, AR..!!"
Grace menampar pipi kiri Arion dengan sekuat tenaganya. Dia paling benci dengan orang - orang yang sudah meremehkan dan merendahkan dirinya. Meskipun di dalam lubuk hati yang paling dalam menyesal karena sudah menampar orang yang dicintainya, Grace tetap pada pendiriannya. Dan akhirnya, Grace membalikkan badan menyusuri kolam renang yang ada di tengah - tengah taman menuju pintu keluar.
Arion yang menerima tamparan itu, bukannya melawan. Dia malah beralih memegang kepalanya. Sakit yang dirasakannya saat ini sangat menyiksa hingga kakinya lemas tertekuk ke bawah.
"Eeerrggghhhh..!!" Teriak Ar menahan rasa sakit di kepalanya itu. Sungguh menyiksanya.
Tiba - tiba saja Ar melihat bayang - bayang yang samar dari ingatannya yang sebelumnya. Dia sudah bisa melihat lebih jelas dari sebelumnya. Perempuan yang duduk di sofa itu, perempuan yang dilihatnya dari sisi belakang, perempuan yang baru saja akan menoleh padanya.
Semua bayangan itu tergantingan dengan kejadian diaman dia masih berada di dalam mobil yang sedang terplanting jauh dan begitu keras ke arah pohon yang rindang. Dia melihat seorang perempuan yang meneriakkan namanya berulangkali mencoba mengeluarkannya dari dalam mobil. Meski wajahnya samar, Ar mengenal suara perempuan itu. Ya! Dia sangat mengenal suara perempuan yang ada di dalam ingatannya itu.
Agung merasa sangat puas dengan rencananya yang berjalan lancar sampai detik ini. Dia terkekeh kecil melihat pertengkaran hebat antara pujaan hatinya dengan rivalnya di Dunia Modelling. Meskipun dia berteman baik dengan Ar, tidak menutup kemungkinan bahwa Agung membenci Ar yang merebut semua popularitasnya.
Setelah Ar keluar dari Dunia Modelling, barulah nama Agung secara perlahan menaiki tangga popularitas selama 2 tahun terakhir. Selama itu pula, nama Ar masih belum sepenuhnya menghilang dari kepolaritasannya. Dia masih banyak dikenang oleh para Fans nya yang jumlahnya sudah tidak terhitung lagi sangkin banyaknya.
JEBUURRR...
Semua tamu undangan menoleh ke arah suara. Suara itu sangat jelas terdengar. Suara yang menandakan ada seseorang yang jatuh ke dalam air.
"Ada yang jatuh ke dalam kolam..!! Tolongin dia..!!" Teriak seorang tamu undangan yang berada di tepi kolam melihat kejadian itu. Perempuan ini langsung mencari pihak penyelenggara pesta untuk menghubungi Ambulance dengan segera. Dia tidak pandai berenang, dia hanya bisa meminta bantuan yang lainnya untuk menolong orang yang kecebur itu.
"GRACE..!!" Teriak Ar dan Agung secara serentak. Mereka kaget melihat Grace yang tadinya berjalan menuju le arah pintu keluar malah jatuh ke dalam air kolam. Agung melepaskan jas nya terlebih dahulu dan menggulung lengan tangannya. Dia berniat untuk menolong Grace.
Dengan rasa sakit di kepalanya yang mulai mereda, Ar langsung berlari dan terjun ke dalam air kolam renang itu. Kolamnya cukup dalam, sehingga Ar harus bisa menyelam lebih dalam untuk bisa meraih tangan Grace. Arionlah yang berhasil menolongnya, sedangkan Agung? Dia kalah cepat dengan Ar.
Agung merasa sangat kesal karena bukan dia orang yang menolong Grace.
'Kenapa harus dia?!! Bukannya dia sedang kesakitan tadi? Kenapa dia bisa muncul secepat itu?' Gerutu Agung bertubi - tubi meluapkan kekesalannya dalam hati.
Ar yang sudah berhasil membawa Grace ke tepi kolam, langsung merebahkan tubuh Grace lalu mengecek tanda vitalnya. Mulai dari hembusan nafas sampai ke urat nadinya Grace. Lalu dia memberikan nafas buatan sebanyak lima kali sebelum melakukan CPR (Cardiopulmonary Resuscitation / Resusitasi Jantung Paru) pada Grace yang sudah tidak memberikan respon apapun karena sempat tenggelam beberapa saat.
Setelah memberikan nafas buatan, Ar memperhatikan bahwa Grace masih belum bereaksi. Dengan sigap, Ar melakukan proses CPR yang sudah dipelajari dan dipraktekkannya saat kuliah di London dulu. Dia menempatkan bagian bawah pergelangan tangannya di tengah dadanya Grace. Dengan hati - hati, Ar melakukan kompresi dada sebanyak 15 kali dengan laju 100 kali kompresi per menit dan memberi nafas buatan sebanyak 2 kali secara bergantian. Dia juga memastikan agar dia tidak menekan tulang rusuk Grace saat melakukan kompresi.
Setelah beberapa saat, Grace mulai terbatuk - batuk mengeluarkan sedikit cairan dari mulutnya dan bisa bernafas kembali. Usaha Ar berhasil. Ar merasa sangat senang melihat Grace sudah bisa bernafas kembali dan tersadar. Tapi, itu tidak berlangsung lama, Grace pingsan kembali dengan wajah pucatnya.
Ar yang begitu khawatir langsung saja menggendong Grace ala bridal style dengan tergesa - gesa. Rasa sakit dikepalanya sudah tidak terasa lagi karena lebih besar rasa khawatirnya pada Grace saat ini. Dia menyesal sudah berkata begitu kasar pada Grace.
Ar dibantu oleh pegawai medis yang baru saja tiba di lokasi masuk ke dalam Ambulance. Ar juga ikut dengan rombongan itu. Kekhawatirannya membuat tubuhnya bergetar hebat.
"Grace, sadarlah Grace. Sadarlah Grace." Ar mengucapkannya berulangkali dengan nada yang bergetar. Rasa takut akan kehilangan seorang yang dicintainya, membuat dirinya semakin tidak berdaya.
Setibanya di Rumah Sakit, Grace langsung diberikan penanganan pertama. Mereka membawanya ke dalam ruangan UGD untuk dapat diberikan pemeriksaan lanjutan.
Ar yang terduduk di kursi tunggu masih saja memegang kepalanya yang terasa sakit. Dia sempat lupa bahwa kepalanya masih berdenyut akibat ingatan - ingatan yang muncul secara tiba - tiba itu.
Selama sejam penuh, Ar menunggu seperti orang stres. Dia mengacak - acak rambutnya secara kasar. Dia marah pada dirinya sendiri. Kenapa dia bisa bersikap kasar seperti itu pada Grace.
Ya! Dia ingat sekarang. Suara perempuan yang ada di dalam ingatannya adalah suara Grace. Dia memang tidak melihat dengan jelas wajah perempuan itu. Tapi dia benar - benar tau dengan pasti, kalau suara perempuan itu adalah suaranya Grace.
"Aku memang belum bisa mengingat semuanya, Grace. Tapi, aku sudah tau kalau kamulah perempuan itu. Perempuan yang selalu aku inginkan. Kamu harus kuat ya, Grace. Jangan tinggalkan aku. Aku tidak akan berbuat kasar lagi padamu, aku janji." Ucap Ar dengan ekspresi menyesalnya. Airmatanya sudah tak terbendung lagi. Penyesalannya sudah membuatnya sangat frustasi.
Drrttt.. Drrttt.. Drrttt..
Ponsel Ar berbunyi dan yang memanggil ternyata si Mommy.
"Ar sayang, kamu dimana? Kenapa sudah larut begini kalian belum pulang juga? Mom jadi khawatir. Apa ada yang terjadi pada kalian?" Suara itu menggelegar di telinga Ar.
"Ada apa, sayang? Kamu dimana sekarang? Biar Mom ke sana. Mom yakin, pasti terjadi sesuatu pada kalian. Kalian sekarang ada dimana?" Mrs.Melv. sudah khawatir bukan main mendengar suara sang Anak yang sangat lemah itu.
Di Rumah Sakit Slavina di depan ruang UGD, Mom. Grace jatuh ke kolam renang. Ini semua salah Ar. Ar sudah sangat bersalah padanya, Mom." Ar mulai meluapkan rasa sesalnya pada Mommy nya. Dia tidak bisa menutupi apapun pada Mommy nya.
"Kamu tenang ya, Ar. Momakan segera kesana bersama dengan Steve. Kamu jangan kemana - mana ya." Mrs.Melv. takut jika Ar melakukan hal bodoh di saat dia merasa bersalah begitu.
"Iya Mom." Ar hanya sanggup menjawab dengan singkat. Dia merasa sangat pusing, tapi dia harus menunggu hingga Mommy nya datang.
Panggilan itu pun berakhir. Mrs.Melv. segera menghubungi Steve agar pergi ke Rumah Sakit yang di maksud. Sedangkan dia pergi bersama dengan supir pribadinya. Meskipun sekarang sudah hampir tengah malam, demi Anak dan calon Menantunya, dia rela keluar dari rumah untuk menghampiri mereka.
Setelah beberapa waktu, akhirnya Mrs.Melv. dan Steve tiba di depan ruang UGD. Tiba - tiba pintu ruangan itu terbuka dan Dokternya muncul beserta beberapa perawat dengan membawa pasiennya keluar ruangan UGD.
"Dok, bagaimana keadaan Menantu saya? Apakah dia baik - baik saja?" Tanya Mrs.Melv. yang tidak kalah khawatirnya dengan Ar. Padahal Ar sedang lemas di kursi tunggu, dia terlihat terkejut mendengar Mommy nya berkata bahwa Grace adalah Menantunya.
'Grace Menantunya Mom? Apa Grace bertunangan denganku? Jadi, tunangan yang Grace maksud adalah aku?' Pikiran Ar yang beginilah yang menjadi pukulan keras untuknya. Dia masih harus mendengar kenyataan yang sangat serius seperti ini di saat yang seperti ini pula. Selama ini dia sudah salah mengira orang seperti apa Grace itu.
"Sekarang dia baik - baik saja. Tadi dia sempat pingsan karena dia mengalami Hipotermia, kondisi di mana mekanisme tubuh untuk pengaturan suhu mengalami kesulitan saat mengatasi tekanan suhu dingin. Tubuhnya sangat lemah akibat stres yang dialaminya sebelum kejadian. Saya harap Ibu bisa menjaga pasien agar tetap stabil dan tidak stres berlebihan. Itu akan mempengaruhi kesehatannya." Tutur sang Dokter sembari berjalan menjauhi keluarga pasien.
"Terimakasih, Dok." Ucap Mrs.Melv. sambil melihat Grace yang sedang terbaring lemah di atas ranjang pasien. Wajahnya pucat dan tidak bersinar seperti sebelumnya.
Setelah Steve berbicara dengan salah satu perawat, Grace langsung dibawa ke ruang VIP untuk di rawat. Ar yang sudah tidak tahan dengan denyut di kepalanya pun pingsan di tempat dia duduk sekarang. Mrs.Melv. dan Steve yang melihat itu pun langsung menghampiri Ar sambil memanggil perawat yang lewat untuk menangani Ar yang baru saja pingsan.
Mrs.Melv. merasa sangat sedih dengan keadaan kedua orang yang ia sayangi. Dia teringat akan sesuatu, dia harus memberitahukan kondisi mereka kepada Suaminya. Langsung saja, ia mengambil ponselnya dan menelepon Suaminya.
"Sayang, ada apa? Bukankah di sana sekarang waktunya masih tengah malam ya? Kenapa menelepon jam segini?" Ucap Mr.Melv. karena mendapat telepon yang begitu mendadak dengan waktu yang tidak terduga di Indonesia.
"Dad, Sepertinya terjadi sesuatu dengan Anak kita dan Menantu kita. Grace baru saja keluar dari ruang UGD dan Ar pingsan begitu saja setelah mendengar penuturan Dokter tentang keadaan Grace. Ar juga sempat berkata kalau dialah yang bersalah. Mom bingung, sangat bingung. Apa mereka bisa melewati semua ini dengan baik? Apa mereka memang ditakdirkan bersama? Kenapa kisah cinta mereka harus serumit ini, Dad?" Banyak sekali yang ingin dikatakan oleh Mrs.Melv. pada Suaminya. Tapi semuanya tertahan karena dia sudah menangis sejadi - jadinya di depan pintu rawat inap Ar dan Grace.
"Hah?!! Mereka berdua sekarang di rawat di Rumah Sakit mana? Biar besok Dad akan ke sana. Dad akan menemui Ar dan akan menyelesaikan sesuatu yang belum kelar sejak waktu itu bersama Steve." Mr.Melv. mulai meletakkan semua dokumen yang tadinya di pegangnya.
"Mereka di rawat di Rumah Sakit Slavina, Dad. Di ruang VIP 6 dan VIP 7." Ucap Mrs.Melv. sambil bersandar di kursi tunggu yang ada di lorong Rumah Sakit.
"Baiklah, tunggu Dad di sana ya, Mom. Mom juga harus beristirahat. Biarkan Steve yang menjaga Ar. Mom tidur dengan Grace saja. Biar Daddy yang mengabari keluarga Grace dan Adam. Mereka juga berhak tau dengan keadaan Grace."
"Nanti Mom bilang sama Steve ya, Dad. Selamat malam Dad. Mom juga sudah lelah memikirkan keadaan yang seperti ini. Sungguh menyesakkan melihat mereka seperti ini, Dad. Mom butuh banyak istirahat sepertinya. Bye Dad." Ucap Mrs.Melv. sambil berjalan menghampiri Steve.
"Ingat untuk beristirahat ya, Mom. Jangan bersedih lagi. Sampai jumpa besok, sayang."
Panggilan pun berakhir. Mrs.Melv. pun berbicara secara perlahan pada Steve, "Steve, malam ini kamu temeni Ar ya? Mom yang akan menemani Grace. Besok Dad akan datang, jadi besok Dad akan menemuimu untuk menyelesaikan sesuatu yang belum kelar katanya."
"Oke, Mom. Mom masuklah ke dalam, istirahatlah, Mom. Ar akan baik - baik saja. Jangan terlalu khawatir. Grace juga sudah baikan, pasti besok mereka sudah sadar." Steve berusaha menghibur Mrs.Melv. yang kelihatan lemas.
"Baiklah, Steve. Selamat malam, Nak." Mrs.Melv. pun beranjak memasuki ruang inap Grace dan berusaha untuk tidur di sofa. Setelah melihat Mrs.Melv. masuk ke ruangan Grace, dia pun berjalan memasuki ruangan Ar. Dia tidur di sofa dengan menggunakan selimut yang sudah tersedia.
>>> Bersambung <<<
Sampai sini dulu ya..
Kita akan lanjut di eps selanjutnya..
Apakah Ar bisa mengingat semuanya dengan baik?
Apakah Grace mau memaafkan sikap Ar padanya?
Apakah semua yang terjadi pada Grace adalah suatu kebetulan atau ada hal lainnya?
Usai membaca, jangan lupa beri jempolnya dan sedikit komen2nya untuk mensupport Author, yaa..
Salam Kasih untuk Yg Terkasih
Love You All