
Keesokan harinya..
"Steve, apa kamu ada mendapat kabar dari pengantin baru itu? Mereka tidak pernah tidak memberikan kabar seperti ini. Apalagi Grace, dia selalu rajin memberikanku kabar tentangnya jika dia bepergian jauh meskipun tidak ada respon chat dariku." Tutur Silvia pada Steve yang sedang duduk di hadapannya mengerjakan sesuatu yang tidak dimengerti olehnya.
"Belum. Aku belum mendapat kabar dari mereka. Sudahlah, pengantin baru yang sedang berbulan madu, jangan diganggu. Mereka pasti akan kembali 6 hari lagi." Jawab Steve dengan santainya. Dia terlihat seperti sedang tidak memiliki niat untuk memikirkan hal lain selain pekerjaannya saat ini.
"Yaa, aku memang tau itu. Tapi, setidaknya meereka memberikan kabar kalau mereka sudah sampai di tujuan. Kalau seperti ini, aku kan jadi cemas." Ucap Silvia yang mulai teringat dengan kedua Adiknya itu.
Steve menyerahkan dokumen yang sudah ditandai olehnya. Beberapa berkas itu diterima begitu saja oleh Silvia.
"Ini adalah data beberapa Client yang harus kamu perhatikan. Kamu akan bertemu dengan mereka bersama dengan Sheila di Restoran yang sudah kutuliskan di bagian bawah itu. Aku akan pergi memperhatikan proyek yang baru. Jangan sampai fokusmu pada pekerjaan hilang gara - gara memikirkan tentang Arion dan Grace. Aku pergi dulu." Ucap Steve sambil beranjak dari tempat duduknya dan keluar dari ruangan itu.
"Steve! Awas ya! Masa aku dicuekin gini sih? Aku kan lagi khawatir sama Adikku. Sudahlah, pergi sana! Gak perlu balik lagi." Teriak Silvia dengan kesalnya.
Steve hanya terkekeh mendengar teriakan yang menggelegar tersebut. Yang dia pikirkan saat ini adalah bagaimana proyek itu bisa berjalan lancar sesuai dengan perjanjian antara kedua belah pihak. Dengan segera dia berangkat ke lokasi proyek.
"Lho? Kenapa Daddy ada di sini?" Tanya Steve pada Mr.Melv. yang sudah berada di lokasi pembangunan dan sedang berbincang dengan beberapa Mandor.
"Dad kan juga mau melihat perkembangan proyek ini, Nak. Bagaimana keadaan perusahaan? Apakah ada kendala selama 2 hari ini?" Mr.Melv. balik bertanya pada Steve yang menghampirinya.
"Semuanya lancar, Dad. Tidak ada kendala apa pun. Karena Silvia juga bisa dengan cepat beradaptasi dengan Client yang ditemuinya." Jawab Steve singkat sembari melihat pesan yang baru saja diterimanya.
From Lisya :
Steve, sepertinya Papa mau ke lokasi pembangunan itu.
Papa ingin melihat perkembangan proyek sudah sampai sejauh apa.
Steve yang membaca pesan singkat itu malah tersenyum. Dia menoleh pada Mr.Melv. dan berkata, "Dad, nanti Papanya Lisya akan datang ke sini."
Mr.Melv. terlihat tertawa garing sambil berkata, "Dad yang akan menemuinya. Sudah lama juga kami tidak bertemu sejak hari itu. Tapi, ngomong - ngomong, bagaimana perkembangan hubunganmu dengan Lisya?"
Pertanyaan yang singkat itu membuat Steve terkejut. Dia tidak pernah menyinggung masalahnya dengan Lisya kepada orang lain.Tapi kenapa Mr.Melv. mengetahuinya?
"Dad tau?" Tanya Steve penasaran.
"Ya! Tidak ada apa pun yang bisa disembunyikan dari Daddy kalian ini, Nak. Kalian bertiga (Arion, Silvia, dan Steve) termasuk Adam dan Grace, selalu dalam pemantauan Daddy. Dad tau semuanya, Nak. Kamu itu sudah kami anggap seperti Anak sendiri sama seperti Arion. Jadi, jangan pernah berpikiran untuk menutupinya dari Daddy." Jawab Mr.Melv. sambil mengedikkan bahunya hingga tiga kali.
"Aku memang tidak bisa menutupi apa pun dari Daddy. Sebenarnya, Aku dan Lisya sudah berpacaran belum lama ini. Tapi, Dad tau kan, kalau Lisya itu masih terobsesi dengan rasa sukanya pada Ar?" Tanya Steve dengan ragu.
"Ya! Dad tau itu. Dad mengerti perasaanmu. Dad Doakan dia bisa menerimamu dengan baik. Karena kamu itu anak yang baik, pasti Tuhan akan selalu membukakan jalan bagimu, termasuk jalan untuk kisah cintamu. Dad akan membantumu mendapatkan restu dari Papanya Lisya yang keras kepala dan tinggi hati itu. Dia sebenarnya orang yang pengertian, tapi, dia tidak begitu jika menyangkut jodoh Anaknya. Kamu harus tetap tegar ya, Nak. Dad akan selalu mendukung Anak - Anak Daddy." Mr.Melv. menepuk pundak Steve beberapa kali untuk menyalurkan semangat buat Steve yang sudah dianggapnya sama seperti Anaknya sendiri.
"Terimakasih Dad. Aku tidak tau harus mengatakan apa lagi selain kata terimakasih." Ucap Steve yang masih saja bisa tersenyum setelah mendengar petuah dari lelaki paruh baya yang sudah seperti Ayahnya sendiri.
"Ya sudah, Dad akan tunggu Papanya Lisya di depan gerbang. Kamu lanjut pekerjaanmu. Oke?" Ucap Mr.Melv. sambil mengacungkan jempolnya pada Steve.
Steve mengangguk pelan dan berkata, "Oke, Dad."
**********
"Selamat pagi, sayang." Sapa Arion pada Istrinya sambil mengecup sekilas bibir mungil Istrinya.
"Ehhmmm.. Suka banget nyium tiba - tiba gitu." Umpat Grace sedikit kesal dengan kebiasaan Arion yang baru itu.
"Kamu harus biasakan dirimu, sayang. Aku akan melakukannya setiap hari. Ayo! dimakan dulu sarapannya. Kamu pasti sudah lapar kan, sayang?" Arion menyodorkan nampan yang di atasnya sudah terhidang beberapa potong sandwich.
"Iya, aku memang sudah lapar. Makasih ya, sayang." Wajah kantuknya Grace pun hilang setelah melihat sandwich lezat yang terasa sangat menggiurkan.
Arion hanya menatap Istrinya yang lahap menyantap menu sarapannya. Grace merasa ada yang aneh dengan tatapan Arion mulai bertanya, "Kamu gak makan? Mana sarapanmu?"
Arion hanya tersenyum dan menggelengkan kepalanya. Dia tidak lapar karena memang tidak berselera makan. Makanan itu bukan masakan Istrinya. Jadi, seleranya untuk makan memburuk setelah melihat makanan itu.
"Nih, dimakan. Buka mulutnya, sayang. Jangan sampai kamu sakit gara - gara gak selera makan. Nanti siapa yang temeni aku kalau kamu sakit?" Bujuk Grace pada Suaminya itu. Dia bisa tau apa yang dipikirkan oleh Arion melalui tatapan matanya yang aneh ke arah sandwich yang sedang dipegangnya.
Arion tersenyum. Dia senang mendapatkan perhatian dari Istrinya yang cuek itu.
"Nah, aaaa.. Buka mulutnya, sayang." Ucap Grace lembut membujuk Suaminya dan itu berhasil. Arion membuka mulutnya menerima suapan dari sang Istri.
"Gitu dong. Masa cuma aku yang makan sih? Nih, dimakan lagi, sayang. Biar aku yang suapin dehh."
Arion terpaku melihat tingkah Istrinya yang sudah mulai terbiasa memanggilnya dengan sebutan sayang. Suapan demi suapan dimakan oleh Arion. Dan akhirnya mereka menyelesaikan sarapan pagi itu berdua.
"Oh iya, kita lagi dimana, sayang? Sepertinya aku ketinggalan info dehh.." Ucap Grace sambil melihat ke sekelilingnya.
"Kita sedang di Kyoto, sayang. Tidurmu awet banget. Sampai gak tau udah dibopong kemana - mana." Ledek Arion pada Istrinya sambil mengelus lembut rambut sang Istri.
"Iya nih. Baru terasa capeknya. Makanya betah banget tidurnya tadi, sayang. Hehehe.." Grace cengingiran sendiri mengingat keanehan yang ada pada dirinya. Dia tidak pernah tidur sampai seperti itu. Mungkin tubuhnya terlalu lelah karena tidak tidur malam itu.
"Kita mandi bersama, yuk?" Ucapan Arion membuat Grace bergidik ngeri.
"Kenapa harus mandi bersama? Nanti jadi lama siapnya. Aku mandi duluan ya, sayang." Ucap Grace dengan menjulurkan lidahnya pada Suaminya yang menatapnya dengan tatapan lapar.
Arion yang melihat tingkah Istrinya itu langsung menangkap dan membopong Istrinya masuk ke dalam kamar mandi. Pasrah. Hanya satu kata itu yang dipikirkan oleh Grace.
"Ini bulan madu kita, sayang. Jadi, kita akan melakukannya sesering mungkin agar bisa membawa kabar gembira saat pulang ke Indonesia." Ucap Arion sambil menyunggingkan senyuman penuh kemenangan.
Grace hanya bisa tersenyum melihat ekspresi bahagia yang terpancar di wajah Arion. Dia juga menginginkan hal yang sama dengan yang diinginkan oleh Suaminya. Sebuah keluarga tidak akan lengkap jika tidak ada Anak yang meramaikan. Itulah yang terlintas dalam pikiran Arion.
"Halo, Mom. Kami sudah sampai di Kyoto. Mom bantu aku mengabari Steve. Aku ingin dia mengabariku jika ada masalah serius di perusahaan. Aku akan berusaha mengontrolnya dari sini." Ujar Arion pada Mommy nya.
Arion langsung menelepon Mommy nya setelah selesai dengan ritual barunya bersama Grace. Sebenarnya dia tidak mau diganggu oleh siapa pun juga. Seminggu ini dia benar - benar ingin memanjakan dirinya bersama sang Istri.
"Kamu tidak perlu khawatir, Nak. Semuanya akan beres selama Silvia dan Steve bekerja sama. Yang terpenting sekarang adalah tujuan utama kalian melakukan honeymoon. Mom and Dad menunggu kabar baik dari kalian." Ucap Mrs.Melv. dengan antusias.
"Nah, kamu bicara sendiri sama Daddy mu ya. Mama mau menyiapkan air hangat untuk Daddy mu." Ucap Mrs.Melv. yang langsung menyerahkan ponselnya pada sang Suami.
"Ya, Ar? Kamu tidak perlu memperdulikan hal yang seperti itu. Sementara waktu saja, semuanya berjalan dengan lancar. Kalau hanya seminggu, Silvia dan Steve sangat mampu untuk menggantikanmu, Ar." Jawab Mr.Melv. memberikan sedikit arahan pada Anaknya.
"Tapi, Dad.." Belum selesai Ar berbicara, dia malah mendapatkan omelan dari Mr.Melv.
"Tidak ada tapi - tapian, Ar. Nikmati saja masa liburmu bersama dengan Istrimu. Kalian itu pengantin baru. Masih muda dan segar. Kalian memiliki banyak perluang untuk mempunyai momongan." Timpal Mr.Melv. pada Anaknya yang selalu memikirkan tentang pekerjaan.
"Baiklah, Dad. Aku akan berusaha agar sewaktu pulang dari honeymoon, membawa Grace yang sudah berisi." Ucap Arion dengan penuh harap. Jika dai dan Grace memiki Anak di usia mudanya, Grace pasti akan berhenti bekerja dan akan menjadi Ibu Rumah Tangga yang baik.
"Harus! Kalian harus pulang bertiga. Dad akan menunggu. Tidak peduli apapun alasanmu, Nak. Dad tetap memaksa kalian untuk membawa kabar terbaik yang ingin Daddy lihat." Ucap Mr.Melv. dengan nada tegas yang tidak terbantahkan.
"Baiklah, Dad. Tunggu saja kabar baik dari kami. Makasih Doa nya ya, Dad, Mom. Ar mau ajak Grace pergi dulu. Nanti Ar telepon lagi ya, Mom." Ucap Arion sambil bersiap untuk memutuskan telepon tersebut.
"Titip salam sama Grace ya, Ar. Bye" Ucap Mrs.Melv. untuk yang terakhir kalinya.
Percakapan mereka pun berakhir begitu saja. Grace yang tidak tau apa - apa baru saja keluar dari kamar mandi. Arion bangkit dan langsung mengajak Grace. Mereka sudah siap untuk berangkat mengelilingi tempat Romantis yang ada di Kyoto.
**********
"Hai, Lisya. Tumben kamu kemari di jam seperti ini. Ada apa gerangan?" Tanya Steve pada Lisya guna mendekatkan dirinya pada Lisya.
"Ya, aku sedang menemani Papa ke sini. Tak tau nya Papa ketemu sama temannya dan aku ditinggal sendiri di sini." Ucap Lisya cuek. Dia menerima Steve sebagai kekasihnya hanya untuk melupakan sosok Arion yang selalu terbesit dalam pikirannya.
"Kan masih ada aku, Sya." Ucap Steve yang selalu berusaha untuk mendekatkan diri padanya. Meskipun risih, tapi Lisya tetap ingin duduk bersebelahan dengan siapa pun itu.
Drrttt.. Drrttt.. Drrttt..
"Sya! Malam ini kita reunian yuk?" Ucap seseorang di seberang telepon Lisya.
"Hah? Malam ini? Dimana?" Tanya Lisya yang tidak bisa menutupi rasa kagetnya karena telah menerima telepon dari teman lamanya itu.
"Di klub CK. Gimana? Kamu ikut kan?" Tanya orang sana pada Lisya.
Lisys aterdiam sejenak lalu memandangi Steve dari atas sampai ke bawah. Dia merasa bahwa Steve cukup tampan untuk dipamerkannya pada teman - temannya. Tidak mungkin dia tidak membawa pasangan di acara reunian bersama dengan temannya.
"Oke, baiklah. Aku akan datang malam ini. Kalian tunggu aku, kemungkinan aku akan sedikit terlambat pergi ke sana." Jawab Lisya singkat pada temannya itu.
"Baiklah. Sampai jumpa." Ucap orang di seberang sana.
"Sampai ketemu nanti malam." Lisya pun mengakhiri panggilan tersebut dan berusaha untuk memikirkan cara mengajak Steve pergi ke klub itu bersamanya.
"Kenapa dengan wajah murungmu, Sya? Apa yang sedang kamu pikirkan?" Tanya Steve sambil memegang bahu Lisya yang sedikit terkejut karena tiba - tiba saja Steve berada di hadapannya.
"Tadi teman aku menelepon." Ucap Lisya singkat tapi terputus.
"Jadi?" Tanya Steve penasaran.
"Mereka ingin aku ikut dengan mereka reunian." Jawab Lisya dengan singkat lagi.
"Dimana?" Tanya Steve semakin penasaran.
"Di klub CK. Mereka yang menentukan tempat pertemuannya. Aku hanya numpang nama saja. Lagipula, aku tidak bisa tidak datang. Aku harus membayar hutangku pada mereka." Ucap Lisya dengan wajah yang tertunduk. Dia masih bingung bagaimana mengajak Steve untuk ikut bersamanya. Dia masih gengsi untuk mengajak Steve duluan.
"Kenapa harus di klub? Apa Papamu akan memberikanmu izin?" Tanya Steve dengan wajah khawatirnya.
Melihat ekspresi Steve yang seperti itu, Lisya memiliki ide untuk mengajak Steve tanpa dia harus mengatakannya secara langsung.
"Aku tidak berani minta izin sama Papa, Steve." Ucap Lisya dengan wajah tertunduk.
Steve tidak tega melihat kekasihnya tertunduk lemas begitu karena takut meminta izin dengan Papanya sendiri. Jadi, dia berinisiatif untuk pergi bersama Lisya.
"Bagaimana kalau aku ikut denganmu? Kita akan pergi bersama, karena aku akan langsung menjemputmu." Tanya Steve dengan ragu.
"Kamu beneran mau ikut ke acara yang membosankan itu? Kamu yakin?" Tanya Lisya dengan penuh semangat.
Baiklah, nanti malam kita akan berangkat bersama dan pulangnya aku akan mengantarmu agar mereka percaya jika kamu itu pergi nersana denganku.
"Baiklah, Steve. Aku menunggumu malam ini?" Jawab Lisya singkat.
Steve hanya mengangguk puas dengan jawaban Lisya.
>>> Bersambung <<<
Sampai sini dulu ya..
Kita akan lanjut di next chap, Ingat untuk selalu kirim jempol nya yaa, Kakak2..
Salam Kasih untuk Yg Terkasih
~~ Love You All ~~
💞 💞 💞 💞 💞