
Pagi ini aku kembali bekerja. Entah apa yang akan dikatakan oleh pegawai perusahaan karena yang mereka tau bahwasannya aku mengambil cutiku untuk berlibur bersama keluargaku selama seminggu penuh. Aku masih menyembunyikan identitasku pada mereka semua.
Begitu bangun dari tidurku, aku langsung beranjak menuju ke dapur untuk membuat sarapan dan bekal makan siangku dan Ar. Aku akan membuat Ar kembali mengingatku secara perlahan. Salah satunya dengan membuatnya kembali merasa nyaman di dekatku.
Selesai dengan kegiatanku di dapur, aku pun bergegas untuk membasuh diri dan berpakaian rapi. Tidak lupa aku membawa kunci mobil dan tas kantorku. Steve akan menjemput Ar, sedangkan aku akan mengemudikan mobilku sendiri.
"Ar, ini ada bekal untuk makan siangmu nanti. Aku sudah memasaknya agar kamu dapat makan tertaur setiap harinya. Aku dengar dari Mom, selama seminggu ini nafsu makanmu berkurang. Dan untuk pagi ini, aku sudah memasakkan bubur untukmu." Tuturku padanya. Dia hanya mengangguk dan tidak menjawab sepatah katapun karena dia sedang serius memakan bubur yang ada di hadapannya.
Selesai sarapan, aku langsung pergi meninggalkan dia sambil berkata, "Aku pergi duluan ya, Ar."
"Kamu pergi sendirian? Berangkat dengan apa?" Ar bertanya dengan wajah bingungnya.
Aku tersenyum dan mengangkat kunci mobilku untuk kuperlihatkan padanya, "Aku pergi dengan mobil pemberian Daddy. Bye Ar."
Ar hanya mengikutiku dari belakang, karena Steve pun sudah tiba untuk menjemput Ar. Dengan kecepatan sedang, aku pun mengemudikan mobilku mendahului mobil mereka. Aku tidak mau ada orang yang mengetahui bahwa aku tinggal serumah dengan Bos ku sendiri. Kan bahaya itu.
Sesampainya di Kantor, aku langsung berlari mendahului yang lainnya untuk menghindari keterlambatan hari ini. Hampir saja, sekitar 3 menit lagi sudah telat jika aku tidak segera melakukan absen sidik jari.
Aku pun melakukan pekerjaanku sseperti biasanya. Memeriksa dokumen yang diantarkan padaku, mengecek file yang masuk melalui email dari beberapa kepala divisi dan melaporkan semua kegiatan Ar yang menjadi tanggungjawab Ar.
Saat jam makan siang, aku pergi ke taman kantor dan duduk di bawah pohon rindang sebagai tempat bersandar sembari aku menikmati makananku. Mulai hari ini, aku juga akan menikmati hari - hariku untuk memperjuangkan cintaku.
AUTHOR POV
Sosok perempuan yang sedang makan di bawah pohon rindang itu membuat mata seorang Arion tidak bisa berpaling darinya.
'Ada apa denganku? Kenapa aku tidak pernah bosan melihatnya? Apa sebenarnya hubungan diantara diriku dengan dirinya?' Ar mulai bertanya - tanya dalam hati.
Setelah Grace selesai makan, dia kembali ke meja kerjanya. Ar pun tersadar kalau dia masih belum makan karena terus - menerus tidak bisa melepaskan pandangannya dari Grace.
Dia duduk di sofa dan mulai melirik ke arah rantang makanan yang dibawanya tadi pagi. Dia mulai membuka satu per satu tutup rantang bertingkat itu.
"Hemm.. Dari aromanya saja, sudah sangat menggiurkan. Dia memang sangat pandai membuatku berselera untuk makan," ucap Arion sambil mengambil sendok dan garpu.
Pertama hanya mencicipi lauk pauk yang tersedia di atas meja. Dia tersenyum sesaat lalu melahap makanan yang ada di rantang itu sampai kandas. Tidak tau apa yang merasuki dirinya, rasanya dia terlalu bersemangat untuk makan, padahal sudah seminggu dia tidak mau menyentuh makanan apapun yang sudah susah payah disodorkan oleh Mommy nya.
Tiba - tiba muncul ide Ar untuk mengajak Grace menemaninya melakukan jadwal perawatannya. Dia ingin Dokter itu menjauh darinya agar Steve bisa mendapat kesempatan untuk mendekati sang Dokter.
"Grace, nanti sore kamu akan ikut dengan aku dan Steve ke Rumah Sakit. Jangan membuat onar nantinya." Ar menutup teleponnya barusan.
Grace yang kaget mendapat telepon dari Ar, malah membelalakkan matanya mendengar perkataan Ar yang seperti memberikan Surat Peringatan padanya.
'Dasar tukang perintah!' Gerutu Grace dalam hati dengan geram.
Untungnya, hari ini tidak ada rapat penting. Jadi Ar tidak perlu bekerja ekstra. Dan Grace pun tidak perlu menghadap Ar sesering dia mengahadap Silvia waktu itu.
Sorenya, Grace tidak diperbolehkan naik mobil sendiri. Kunci mobil Grace diberikan Ar pada supir pribadinya untuk dibawa pulang ke Mansion. Grace hanya pasrah mengikuti kemauan Ar yang menurutnya sangat konyol itu.
Steve mengemudikan mobil dengan serius, tapi sesekali dia melirik ke arah kaca melihat dua orang yang diam membisu sejak masuk ke dalam mobil.
'Mereka kenapa sih? Gak bisa aku kayak dulu lagi apa?' Gerutu Steve dalam hati. Dia merasa awkward berada di antara dua orang yang seperti patung itu.
Sesampainya di Rumah Sakit, Lisaya sangat terkejut melihat Ar datang bersama dengan seorang perempuan. Perempuan yang setia menemeni Ar selama Ar belum sadar dari kondisi komanya.
"Selamat sore, Dok." Ucap Grace yang dipenuhi dengan senyuman.
"Selamat pagi juga, Mbak." Ucap Lisya dengan gamblang. Dia tidak suka melihat ada perempuan lain di sekitar Arion.
Grace menyadari tatapan benci yang dilemparkan Dokter itu padanya. Dia mengetahui bahwa Dokter itu menyukai Ar, calon suaminya yang sedang amnesia itu. Tatapan mata sang Dokter tidak bisa menutupi perasaannya pada Ar.
Grace menggenggam tangan Ar masuk ke dalam ruangan Lisya. Dia sengaja melakukannya. Meskipun dengan resiko Ar akan marah besar padanya, tapi itu tidak membuatnya takut lagi. Ar sempat kaget melihat keberanian Grace menggenggam tangannya. Tapi, Ar tidak marah sama sekali karena dia memang berencana membawa Grace untuk menyingkirkan sang Dokter.
Tiba saatnya Ar membaringkan tubuhnya di atas ranjang pasien untuk diperiksa oleh sang Dokter. Dengan cekatan, Lisya memeriksa keadaan kepala Ar yang sudak mulai membaik dari hari ke hari.
"Apakah beberapa hari ini ada keluhan?" Tanya Lisya pada Ar yang sudah terduduk dari ranjang pasien.
"Semalam siang kepalaku sempat berdenyut saat aku berusaha mengingat sesuatu. Sesuatu yang menurutku cukup penting bagiku. Tapi, kepalaku malah berdenyut hebat hingga aku tidak bisa menahan rasa sakitnya." Tutur Ar sambil menerawang ruangan itu.
"Jangan memaksakan dirimu untuk mengingat masa lalu yang kamu lupakan. Kamu kan hanya menderita amnesia sementara, jadi semuanya akan kembali dengan sendirinya." Kata Lisya sambil kembali duduk di kursi kebesarannya.
Selesai pemeriksaan, Ar pun pamitan dengan Dokter itu bersamaan dengan Grace dan steve. Tapi, langkah Ar terhenti saat Lisya membisikkan sesuatu padanya.
"Ar, ternyata seleramu itu adalah perempuan yang sudah memiliki tanda kepemilikan. Kamu suka dengan milik orang lain ya?" Bisik Lisya pada Ar sebelum Ar benar - benar meninggalkan ruangan itu. Ar memang keluar yang paling akhir.
Ar bertanya sambil menatap Lisya dengan heran, "Apa maksudmu?"
"Kamu tidak menyadari cincin pertunangan yang ada di jari manis perempuan itu? Seharusnya kamu lebih tau daripada aku." Ucap Lisya dengan senyuman liciknya. Dia yakin kalau Ar tidak akan pernah mau berhubungan dengan perempuan yang berbohong padanya. Dia beranggapan bahwa Grace itu pasti telah menipu Ar selama ini, padahal dia tidak mengetahui kebenaran di balik cincin itu.
"Bukan urusanmu!" Jawab Ar dengan ketus.
Setibanya di Mansion, Grace langsung menuju ke dapur dan memasakkan sedikit lauk untuk Ar dan Mommy nya. Grace berencana untuk pulang ke Mansion pribadinya. Dia memang tidak pernah memberitahukan kepada siapapun tentang Mansion itu. Bahkan Steve yang mengurus berkasnya saja tidak mengetahui letak Mansion tersebut. Hanya Ar dan Grace lah yang mengetahuinya.
"Mom, Grace pamit pulang ya. Mulai malam ini, Grace tidak tidur di sini ya. Grace akan tidur di Rumah Grace sendiri." Ucap Grace sambil menghampiri Mrs.Melv.
"Lho? Sejak kapan kamu punya Rumah sendiri? Apa kamu serius punya tempat tinggal sendiri mulai sekarang? Kamu tidak mau lagi tinggal di Mansion ini, sayang?" Mrs.Melv. sedikit terkejut dengan penuturan Grace. Dia merasa bahwa Grace hanya mencari alasan untuk menghindari Arion.
"Grace akan sering - sering berkunjung ke sini kok. Apalagi Grace akan selalu memasak untuk Ar." Kata Grace sambil berbisik pada Mrs.Melv.
"Baiklah, sayang. Mom pun merasa nafsu makan Ar sudah sangat baik sejak semalam. Semoga usahamu tidak sia - sia ya, sayang. Hati - hati di jalan. Kalau kamu sudah sampai tujuan, kabari Mom ya." Ucap Mrs.Melv. sambil melambaikan tangannya pada Grace.
Arion yang baru saja menuruni anak tangga melihat kepergian Grace yang terburu - buru itu.
"Mom, dia mau kemana? Bukannya dia tinggal di sini ya?" Ar bertanya pada Mrs.Melv. yang sudah berada di hadapannya kini.
"Iya, dia akan tidur di tempat tinggalnya yang baru mulai sekarang. Tapi, dia akan berjanji untuk sering - sering berkunjung ke sini untuk memasak. Kamu suka dengan masakannya bukan?" Tanya Mrs.Melv. sambil menarik tangan Anaknya.
Ar hanya mengikuti langkah Mommy nya yang menarik tangannya menuju ke meja makan. Di atas meja makan sudah tersedia 4 jenis lauk dengan 2 gelas jus jeruk hangat.
"Sebelum pergi, Grace memasakkan ini untuk makan malam kita. Dia memang perhatian sekali. Selain baik, ramah, dia juga pandai memasak. Mom akan sangat beruntung jika dia mau menjadi bagian dari keluarga kita ini, Ar. Ayo! kita makan dulu, keburu dingin makanannya. Nanti jadi gak enak di makan lagi."
Perkataan Mrs.Melv. membuat Ar semakin bingung. Dia menebak bahwa Mommy nya itu tidak mengetahui kalau sebenarnya Grace itu sudah bertunangan dengan seseorang di luar sana.
'Mom, jangan terlalu ,menyukai seseorang, padahal Mommy tidak tau kalau dia itu sebenarnya sudah menjadi milik orang lain. Mungkin dia tinggal bersama tunangannya di sana. Aku takut suatu saat nanti Mom akan kecewa jika mengetahui sifat buruk Grace yang sudah menipu keluarga kita Ar memang tidak tau dia itu siapa, tapi melihat kedekatannya dengan Mom and Dad, Ar merasa ada yang aneh dengan perempuan itu. Ar akan mencaritahu semuanya. Ar akan membuat dia mengaku dan menjauh dari keluarga kita.' Ucap Ar dalam hati.
Saat ini, Ar dalam posisi yang bimbang. Dia menyukai wajah polos Grace hingga masakannya. Tapi, dia tidak menyangka bahwa perempuan berwajah polos itu berani mendekatinya padahal dia sendiri sudah bertunangan.
Malamnya, Ar berusaha mencaritahu keberadaan Grace. Tapi, hasilnya sia - sia. Dia bertanya kepada Kepala bagian HRD di perusahaannya, tapi alamat yang tertera di sana adalah alamat Mansion Utama Keluarga Melv.
Ar pun memutuskan untuk menghubungi Steve, "Halo Steve. Aku ingin kamu berkata jujur padaku."
"Ada apa Ar? Tumben kamu meneleponku selarut ini hanya untuk mengajukan pertanyaan padaku. Pastinya ini adalah hal yang sangat mendesak. Apa itu? Tanyakanlah." Kata Steve dengan ocehan yang tiada akhirnya.
"Kamu tau dimana Grace tinggal sekarang?" Ar bertanya dengan ragu.
Steve terheran mendengar pertanyaan yang dilontarkan oleh Ar, "Hah?!! Apa maksudmu, Ar? Dia kan tidak punya tempat tinggal lain lagi selain Mansion Utama. Dia kan dibawa Dad dari London. Bagaimana bisa dia menemukan Rumah baru hanya dalam sehari semalam di Indonesia?"
"Masuk akal juga pertanyaanmu itu Steve. Aku jadi ragu, apakah dia beneran tinggal sendiri di Rumah barunya atau dia tinggal bersama dengan tunangannya? Kamu pasti kaget mendengar ini. Aku tau kalau dia itu perempuan yang pandai menutupi semuanya. Dia telah menutupi identitas aslinya pada kita." Ar berkata dengan gamblang pada Steve.
Steve terkejut setengah mati di seberang sana setelah mendengar perkataan dari Ar. Darimana Ar tau kalau Grace sudah bertunangan? Apa yang dipikirkan Ar tidak sepenuhnya benar. Steve ingin meluruskan pemikiran Ar itu, tapi dia masih ragu bagaimana caranya untuk mengatakannya tanpa membuat Ar semakin slaah paham?
"Darimana kamu tau kalau Grace itu sudah bertunangan?" Tanya Steve secara spontan. Dia begitu penasaran dengan jawaban Ar.
"Dokter Lisya yang memberitahukanku tadi."
Bagai bulan di kekang malam, Steve merasa terpuruk mendengar jawaban Ar. Ternyata Lisya tetap ingin menjauhkan Ar dengan perempuan yang ada di sekitarnya. Sungguh tragis rasanya mengetahui orang yang dia sukai berbuat seperti itu.
"Dokter Lisya tau darimana kalau Grace sudah bertunangan? Bukankah tadi adalah pertemuan pertama mereka?" Tanya Steve kembali yang membuatnya semakin penasaran. Karena setau dia, Grace tidak pernah menunjukkan pada siapa pun bahwasannya dia sudah memiliki tunangan. Bahkan di Kantor saja, dia menolak dengan keras saat Mr.Melv. ingin memberitahukan pada semua pegawai kalau dia adalah tunangannya Ar.
"Dia melihat dan menujukkan padaku cincin yang dikenakan Grace saat kita keluar dari ruangannya." Ucap Ar dengan santainya.
"Baiklah, Ar. Sekarang sudah saatnya kita tidur dan beristirahat. Ingat, kamu tidak boleh berpikiran terlalu jauh. Itu hanya akan memicu sakit di bagian kepalamu saja." Steve mengalihkan perhatian Ar dari pemikirannya yang sudah melenceng itu.
Steve tidak menyangka kalau semuanya akan rumit seperti ini. Seharusnya sejak awal, Grace harus diperkenalkan kepada semua orang, kalau dialah calon Istri dari CEO Muda Keluarga Melviano. Kalau sudah begini ceritanya, Steve harus memberitahukan pada Grace terlebih dahulu sebelum mengambil tindakan ke depannya.
>>> Bersambung <<<
Sampai sini dulu ya..
Kita akan lanjut di eps selanjutnya..
**********
Suka dengan ceritanya? Beri jempol dan sedikit komen seputar ceritanya.
Terima kasih bagi yang sudah setia membaca dan menanti kelanjutan kisah Arion dan Grace.
Ingat untuk singgah ke karya terbaru Author yang berjudul “NARA” yaa..
Salam Kasih untuk Yang Terkasih
Love You All