THE PERFECT GIRL

THE PERFECT GIRL
63



Mama masih diam tak bergeming selama hampir 20 menit. Sekarang sang Mama sudah beranjak dari kursi yang dia tempati dan berkata dengan tegas, "Kamu benar, Ar. Terimakasih telah memberikan sedikit arahan pada Mama. Mama memang sangat egois selama ini. Mama akan mencoba untuk membuka hati Mama untuk menerima kenyataan yang ada di depan mata."


Setelah mengatakan hal itu, Mrs.Victor berlari kecil menuju ke ruang tamu.


**********


“Ma?” Panggil Mr.Victor dengan ragu pada Istrinya. Dia melihat Istrinya mendekatinya dan duduk di antara dia dan Ichi. Ichi pun memberikan senyum terbaiknya setelah di tatap oleh Mrs.Victor.


Steve dan Sam pun langsung berdiri dan berjalan mundur seolah berpamitan dengan maksud tidak ingin mengganggu percakapan mereka bertiga. Semua orang yang tadinya berpencar pun mulai berkumpul di ruang tamu. Tapi, mereka tidak jadi duduk di sana karena melihat posisi canggung antara ketiga orang yang sedaritadi saling tatap tapi tidak ada yang bersuara.


Mr.Melv. membisikkan kepada semuanya untuk pergi berkumpul di ruang makan. Sudah hampir waktunya makan malam. Mr.Melv. menggandeng Istrinya, Steve berjalan berdampingan dengan Sam, sedangkan Arion menggenggam erat tangan Grace dengan tangan kanannya dan sebelah tangan lagi tangannya di genggam oleh Lini dan sebelah tangan Grace yang lain di genggam oleh Lina.


“Maafkan Mama, karena sudah egois ya. Mama memang awalnya belum bisa menerimamu. Tapi, setelah Arion menasihati Mama dengan mencontohkan dirinya sendiri, Mama jadi berpikir untuk yang kesekian kalinya. Mama akan mencoba untuk menerimamu sebagai Anak Mama. Mulai sekarang kamu bisa memanggil dan menganggapku sebagai Mamamu juga.”


Mr.Victor berusaha memberitahukan Ichi apa yang dikatakan Istrinya padanya. Setelah Ichi mengerti tentang maksud dari ucapan sang Mama, dia pun memeluk erat Mamanya itu.


“Thanks Mom, I’m very happy to have you to be my Mom. I love you Mom. I love to be your son.” Ichi mengucapkannya secara perlahan agar sang Mama mengerti apa yang dikatakannya.


Mr.Victor juga memeluk kedua orang yang berada disebelahnya. Dia sangat berterimakasih pada Tuhan karena telah membukakan pintu hati Istrinya melalui Arion. Selama ini, dia dan Istrinya selalu bertengkar jika ada salah satu dari mereka mengungkit tentang hal ini. Tapi untuk hari ini, Istrinya mau menerima keberadaan Ichi.


“Sudah waktunya makan malam, semuanya pasti sudah menunggu keberadaan kita di ruang makan. Come on.” Ucap Mr.Victor pada Istri dan Anak Sulungnya itu.


Setelah acara makan malamnya selesai, Mereka kembali berkumpul di ruang tamu. Tapi, khusus Ichi dan Sam dibiarkan untuk menemani si kembar bermain di taman belakang. Mereka tidak begitu berpengaruh atas perundingan yang akan di bahas kali ini.


“Kenapa harus Sam? Kenapa bukan Kak Steve aja sih?” Sam mengambek ketika di suruh oleh Papanya untuk menemani Ichi dan adik kembarnya.


“Steve akan membantu dalam segala persiapannya. Dia lebih berperan penting di sini di banding dirimu, Sam. Pergilah, sebelum Papa menyuruhmu melakukan hal yang lebih buruk lagi. Bagaimanapun, kamu yang lebih bisa berkomunikasi dengan Ichi di banding kedua adik kecilmu itu.” Ancam seorang Papa pada Anaknya agar perkataannya di turuti.


“Oke, oke, oke. Baiklah Papa. Sam pergi,” dengan wajah lesu, dia pergi meninggalkan tempat itu. Sebenarnya dia sangat penasaran dengan hal yang akan didiskusikan orang - orang itu. Tapi apa dayanya? Dia sudah mendapat peringatan dari sang Papa.


Perbincangan pun dimulai..


Mr.Melv. mulai membuka suaranya mengeluarkan pendapatnya, “Begini. Menurut aku pribadi, upacara pernikahan Arion dan Grace lebih baik di percepat menjadi 3 hari ke depan. Sebenarnya, selama dua hari ini, kami sudah mulai bergerak mencari tempat dan beberapa orang yang ahli dalam dekorasi. Aku pribadi tidak ingin kejadian dua tahun lalu terulang kembali. Aku hanya tidak ingin menunda untuk menjadikan Grace sebagai Menantu sah keluarga Melviano. Bagaimana menurut kalian semua? Apa ada yang keberatan dengan permintaan kami?”


“Dad, apa ini tidak terlalu cepat? Tiga hari ke depan itu belum tentu cukup untuk mempersiapkan segalanya.” Ucap Grace dengan ekspresinya yang sedang risau.


“Tidak sayang. Ini adalah keputusan yang terbaik menurut kami. Mom saja setuju. Persiapannya juga sudah setengah jalan, karena kami sudah mulai mempersiapkannya selama dua hari ini, sayang. Apa yang kamu risaukan lagi?” Tanya Mrs.Melv. langsung setelah melihat Grace yang gelisah begitu.


“Grace hanya khawatir, Ma. Biasanya mempersiapkan segala sesuatunya itu minimal dua minggu Mom. Kenapa kita hanya 3 hari saja? Bagaimana dengan tamu undangan dan semacamnya, Mom?” Grace yang mulai tampak gelisah karena dia belum ada mengabari teman - teman terdekatnya.


“Acaranya akan kita laksanakan di sore hari, Nak. Kamu tidak perlu khawatir. Jika teman - teman kalian yang dari luar kota pasti bisa terkejar kalau mereka mengambil penerbangan pagi atau siang ke Jakarta. Mereka hanya akan bolos kerja selama 2 hari 1 malam saja. Kalau mereka tidak memiliki keluarga atau tempat tinggal di Jakarta, Daddy sudah membooking semua kamar di Hotel dimana Hotel itu digunakan sebagai tempat upacara pernikahan kalian. Kamu tidak perlu khawatir, Nak,” jelas Mr.Melv. pada Grace.


“Baiklah, kalau seperti itu keadaannya. Pasti semuanya akan berjalan lancar pada Hari H. Kami setuju dengan saran kalian,” jawab Mr.Victor dengan singkat.


“Kalau begitu, kita akan membuat perencanaan yang matang untuk setengah bagian yang belum tersentuh. Mulai besok kita akan mulai berpisah untuk menngerjakan masing - masing bagian kita. Bagaimana menurut kalian?” Tanya Mr.Melv. sambil melihat ke arah setiap orang secara bergantian.


“Itu ide yang bagus, Dad.” Adam mulai mengeluarkan suara.


Grace merasa dirinya sebagai pengantin telah diabaikan oleh semua orang. Kalau dia keberatan, seharusnya mereka bertanya padanya. Itulah pemikiran Grace saat ini. Karena itu, dia hanya diam tidak berkata apa pun lagi. Dia hanya akan menjadi pendengar yang baik.


“Nah, Silvia, Steve dan Sam akan tetap bekerja dan memantau perusahaan selama Arion mengambil cuti dari pekerjaannya. Karena kabar mengenai pernikahan Arion dan Grace akan mulai disiarkan dan dicantumkan di media iklan ternama. Jadi, hal itu akan memicu proses produksi hingga proses penjualan yang dilakukan oleh perusahaan. Daddy butuh kalian bertiga untuk mengamankan semuanya di perusahaan,” ucap Mr.Melv. dengan tegas pada kedua orang yang sedang menatapnya.


“Baiklah, Dad. Silvi akan berusaha semampu Silvi untuk membantu Daddy dan Arion,” ucap Silvia dengan mantap.


Steve pun menganggukkan kepalanya dengan antusias menjawab, “Baik Dad, semuanya akan


aman terkendali selama Steve membantu Daddy dan Arion.”


“Steve, kamu harus mengajarkan Sam cara untuk mengatasi masalah yang berhubungan dengan rumor di luar sana dengan bijak. Emosi anak itu masih labil. Kemungkinan besar akan ada percikan api yang menjalar ke telinganya. Dan itu akan bahaya bagi kita dan perusahaan jika sampai respon Sam memunculkan masalah.” Mr.Melv. menatap penuh makna pada Steve. Dia sangat bergantung pada Steve untuk membimbing Sam dengan baik selama beberapa hari ke depan.


“Baiklah, Dad. Semuanya aman terkendali. Steve akan membuat Sam belajar mengatasi masalah itu. Daddy tidak perlu khawatir.” Jawab Steve dengan antusias.


Sekarang mata Mr.Melv. beralih pada Adam, “Dam, kamu dan Ichi akan menjadi pemantau di Hotel itu. Karena mereka memiliki Restoran kecil yang tidak sebesar Restoranmu, Daddy harap kamu mau meminjamkan Koki handalanmu untuk beberapa hari ke depan. Kamu akan mengurus bagian menu makanan yang akan dihidangkan dan Ichi bisa membantumu dalam memantau keadaan kamar Hotel yang telah di kosongkan. Kita harus memberikan pelayanan yang baik bagi seluruh tamu undangan.”


“Daddy sungguh tau betul kemampuanku di bagian apa. Ini akan menjadi kegiatan yang menyenangkan bagiku, Dad. Aku pasti bisa melakukan hal itu dengan hasil yang memuaskan. Mulai besok, Koki handalan di Restoranku akan aku pindahtugaskan ke Hotel itu. Daddy tenang saja, semuanya akan beres sampai harinya tiba.” Dengan wajah berseri, Adam menyanggupi permintaan Mr.Melv.


Mr.Melv. pun tersenyum mendengar jawaban dari Adam. Sekarang giliran Istrinya yang mendapat tatapan darinya. Dia juga menoleh ke arah ke arah Mrs.Victor.


“Kalian berdua fokus pada bagian dekorasi. Segala keperluan yang berhubungan dengan dekorasi untuk menghias ruangan Hotel adalah tanggungjawab kalian berdua dan kalian akan di bantu oleh beberapa pegawai Hotel. Bagaimana?” Tanya Mr.Melv. pada kedua wanita paruh baya itu.


“Okee, Nanti kami berdua akan berurusan dengan kartu undangan. Cetakan kartu undangan akan selesai besok siang. Jadi, kami akan mengantarkan kartu undangan pada orang - orang penting yang berada di wilayah Jakarta. Kalau untuk keluarga, kita bisa menghubunginya lewat ponsel. Lalu kami juga akan mendata semua tamu yang wajib dan tidak wajib datang.”


Mr.Victor merasa bahwa pembagian tugas ini cukup adil dan dia hanya memberikan respon singkat pada besannya itu, “Iya, itu ide yang bagus. Rencana yang cukup sempurna. Kita pasti bisa menyelesaikannya sebelum hari H.”


“Dan kalian?” Mr.Melv. mulai menoleh ke arah pasangan pengantin itu. Arion mulai mengerutkan kedua alis matanya. Muncul ketakutan dalam dirinya. Dia kembali mengingat detik - detik terakhir saat dia bertunangan dengan Grace. Dia harus berpisah dengan Grace dan tidak boleh bertemu dengannya.


“Kenapa kamu menatap Daddy seperti itu, Ar?” Mr.Melv. mulai heran melihat tingkah Arion yang menatapnya dengan tatapan kosong.


“Ehh, Ar tidak bermaksud apa - apa, Dad. Tapi, Daddy tidak akan membuat Ar berpisah dengan Grace sebelum hari H kan? Seperti waktu di Siantar dulu? Daddy melarang Ar untuk menemui Grace.” Ucap Arion dengan ragu dan itu memunculkan gelak tawa semua orang.


“Aduh, belum lagi Daddy mengucapkan sepatah kata pun, tapi kamu malah berpikiran aneh seperti itu. Kami pun tau bagaimana rasanya berpisah dengan calon Istri selama dua tahun lebih. Daddy tidak akan memintamu melakukan hal seperti itu lagi, Nak. Tenang saja.”


“Beneran, Dad?” Tanya Arion dengan mata berbinarnya. Dia senang karena tidak ada yang melarangnya untuk selalu berdekatan dengan Grace. Karena setelah menikah, dia akan sibuk dengan urusan pekerjaannya.


“Kenapa kamu begitu suka menempel pada calon Mantu Daddy? Apa kalian sudah melakukan hal itu? Makanya kamu selalu ingin tidur berduaan dengannya? Jujur sama Daddy, Ar.” Mr.Melv. mulai menajamkan tatapannya pada Anak sematawayangnya itu.


Grace yang mendengar kata - kata itu langsung membelalakkan matanya. Dia sungguh tidak menyangka kalau calon Mertuanya akan menanyakan hal seperti itu pada Anaknya sendiri. Kalau orang lain melihat mereka tidur di dalam kamar yang sama, pastinya mereka juga akan berpikiran seperti itu.


“Dad! Daddy ini apa - apaan sih? Kami itu hanya tidur bersama, bukan tidur dalam artian melakukan hal seperti itu. Ar bukan lelaki yang mesum begitu. Ar masih menjaga kehormatan calon Istri Ar, Dad. Nanti Grace jadi tidak mau lagi tidur bareng Ar kalau Daddy berpikiran seperti itu pada kami.” Ucap Arion dengan nada kesal pada Daddy nya.


Semua orang yang ada di sana tertawa terbahak - bahak mendengar jawaban polos Arion. Dia masih saja bertingkah seperti anak kecil kalau berurusan dengan Grace. Tidak ada bedanya dengan si kembar.


Lalu Papanya Grace menjawab dengan susah payah karena kelelahan tertawa, “Kalau pun kalian sudah melakukannya, itu tidak masalah buat Papa. Kan kami juga pengen punya cucu secepatnya. Apalagi Grace orangnya paling sulit didekati oleh para lelaki. Kamu kan juga sudah sah menjadi tunangannya dan pasti akan menikah. Apalagi yang kamu ragukan?”


“Papa..!! Jangan lanjutkan lagi..!! Grace tidak mau masalah ini di bahas lagi.” Ucap Grace dengan nada sedikit keras. Dia tidak tahan mendengar hal seperti itu dijadikan sebagai lelucon.


“Sudah, sudah, sudah. Arion dan Grace sudah malu. Jangan dilanjutkan lagi,” lanjut Mrs.Melv.


“Jadi, kami kebagian tugas apa Dad?” Tanya Arion mengalihkan perhatian orang - orang di ruangan itu. Dia tau Grace sudah mulai kesal. Karena pada kenyataannya, mereka memang tidak melakukan hal yang lebih dari pelukan. Ciuman saja tidak sampai seperti orang yang berpacaran di zaman sekarang yang sudah berani sosor bagian bibir. Ar hanya mencium Grace seperlunya saja, itu pun sekedar di kening dan puncak kepala, tidak pernah di bagian lainnya.


“Kamu akan menemani Grace ke beberapa tempat termasuk Salon dan kalian juga harus ke Dokter,” perkataan Mr.Melv. terputus sesaat karena Grace bertanya, “Salon? Untuk apa lagi Grace harus ke sana, Dad?”


Grace paling tidak suka jika harus berurusan dengan Salon. Dia mulai gelisah dan tidak ingin mendengar jawaban yang dilontarkan oleh Mrs.Melv. “Kamu harus melakukan perawatan kulit, rambut, hingga kukumu, sayang. Jangan menolaknya. Arion akan membawamu ke tempat Salon Kecantikan langganan Mommy. Mereka akan melakukan yang terbaik untuk kalian berdua.”


Setelah mendengar jawaban Mrs.Melv. sekarang Arion yang terkejut dan merasa aneh, “kami berdua? Jadi, Ar juga ikut di rombak di sana, Mom? Ar kan laki - laki, gak butuh perawatan seperti itu, Mom.”


“Hahaha.. Kamu lucu banget Ar. Kamu di rombak? Apanya yang mau di rombak? Bahasamu itu lho.” Adam melontarkan kata - kata yang cukup bisa membuat orang di ruangan itu terkekeh mendengarnya.


“Bukan di rombak, sayang. Kalian hanya di rawat sebentar saja sama mereka. Itu pun tidak seterusnya, sayang. Hanya lusa. Lusa kalian akan pergi fitting baju pengantin kalian dan foto Prewed sekali lagi.” Penjelasan yang diberikan oleh Mrs.Melv. mendapat anggukan kepala dari calon pengantin.


“Dan malamnya, sekitar pukul 7 malam, kalian harus ke Dokter yang akan memeriksa kesehatan kalian luar dalam. Daddy sudah membuat janji dengan teman lama*. Daddy* hanya ingin kondisi kalian itu fit sampai acaranya selesai,” Mr.Melv. melanjutkan perkataan Istrinya.


“Jadi, satu hari sebelum hari H, kami harus melakukan apa Dad?” Tanya Arion sambil memandang ke arah Mr.Melv.


“Kalian bebas melakukan hal apa pun, asal kalian tidak melakukan hal buruk di luar sana. Karena kalian harus istirahat ekstra untuk menghadapi hari berikutnya.”


Arion langsung merangkul Grace dengan penuh semangat, “Oke Dad, semuanya akan aman - aman saja. Aku hanya akan pergi ke satu tempat lalu kami akan pulang setelahnya.”


Semuanya tersenyum bahagia melihat tingkah Arion, tetpai tidak dengan Grace. Dia memasang wajah bingung saat ini. Dia bingung harus mengatakan apa, karena hal itu tidak akan berguna sekarang.


Setelah melakukan perbincangan yang begitu panjang, akhirnya mereka pun beranjak dan menuju ke kamar masing - masing. Sudah waktunya beristirahat. Grace pun  terpaksa kembali tidur di kamar Arion, entah sejak kapan barang - barangnya sudah berpindah dan sudah tertata rapi di kamar Arion.


Malam ini termasuk malam yang singkat bagi Arion. Kenapa?


Jawabannya ada di eps selanjutnya.. 😁😁


>> Bersambung <<


**********


Selesai membaca, jangan lupa klik tanda jempol sebagai apresiasi kalian terhadap Author ^.^


Terima kasih bagi yang sudah setia membaca dan menanti kelanjutan kisah Arion dan Grace..


Ingat untuk singgah ke karya terbaru Author yang berjudul “NARA” yaa..


Salam Kasih buat yang Terkasih 😊🙏