
"Hayuk, kita ke kamar. Kamu pasti lelah karena seharian ini tidak ada istirahatnya kan, sayang?" Ucap Ar lembut tepat di telinga Grace.
Grace menganggukkan kepalanya. Dia memang merasa lelah, tapi dia merasa segan meninggalkan yang lainnya. Mereka sudah bersenda gurau sampai tengah malam begini, dia sudah tidak mampu menahan rasa sakit di pundaknya.
"Tapi, bagaimana dengan mereka?" Bisik Grace pada Ar yang sedang duduk di sebelahnya.
"Tidak perlu khawatir. Aku yang akan bertanggungjawab. Aku tidak mau kamu sakit karena kelelahan. Kamu harus ingat, tiga hari lagi hari pernikahan kita, sayang. Jadi, aku ingin kamu menjaga kesehatanmu." Ucap Ar sambil menarik tangan Grace menuju ke kamar.
Grace pun masuk ke dalam kamar mandi untuk membasuh diri. Dia sudah merasa sangat gerah. Eits, dia lupa menanyakan dimana pakaiannya. Masuk ke kamar mandi hanya bermodalkan handuk saja.
"Astaga..!! Aku lupa bawa pakaian ganti. Gimana ini? Masa aku keluar hanya pakai handuk saja?" Umpat Grace setelah selesai mandi.
Tokk.. Tokk.. Tokk..
"Sayang? Ada apa? Kenapa kamu berteriak begitu?" Tanya Ar yang khawatir pada Grace saat mendengar teriakan Grace di dalam sana.
"....."
Sama sekali tidak ada jawaban dari dalam kamar mandi. Hal ini membuat Ar semakin khawatir.
ARION POV
Aku mengetuk kembali pintu kamar mandinya. Dia tetap saja tidak menjawab.
"Sayang? Jawab dong.. Kamu kenapa? Ada yang bisa aku bantu?" Tanyaku dengan penuh penekanan. Aku khawatir padanya. Aku takut dia kenapa - kenapa di dalam sana.
Setelah hampir 10 menit, Grace mulai mengatakan sesuatu padaku.
"Ar, aku tidak membawa pakaian ganti. Apa kamu tau dimana letak tas bawaanku? Aku tidak tau dimana tas ku berada." Ucapnya lirih di dalam sana.
"Oalah, Grace. Aku kira kamu entah kenapa di dalam sana. Sebentar ya, aku akan pergi mengambilnya kembali. Sepertinya tas bawaanmu disatukan dengan bawaan Mommy ke kamar sebelah." Jawabku sambil memikirkan kemungkinan yang terjadi.
Aku pun keluar kamar dan mengetuk pintu kamar sebelah. Akhirnya Dad membuka pintu kamarnya.
"Ada apa Ar? Apa yang membawamu kemari?" Tanya Dad padaku dengan wajahnya yang terheran - heran melihat keberadaanku.
"Aku hanya ingin mengambil tas bawaan Grace yang tadi disatukan dengan bawaan Mommy, Dad." Ujarku memberitahukan maksudku mendatangi kamar mereka.
"Iya, Mom sampai lupa. Ini tas nya. Barang bawaan dia sangat sedikit. Makanya tadi Mom satukan dengan bawaan Mom." Ucap Mom yang tiba - tiba muncul dari belakang Dad dan menyodorkan sebuah tas ransel sedang milik Grace.
"Makasih, Mom." Jawabku singkat. Aku pun kembali ke dalam kamar dan membawa tas itu ke depan pintu kamar mandi.
"Grace? Ini tas bawaanmu. Ambillah," ucapku padanya yang masih berdiam diri di dalam kamar mandi.
"Oke. Sebentar ya, Ar." Jawabnya seperti orang yang sedang tergesa - gesa.
GEDEBUK..
Terdengar suara yang sangat kuat dari dalam kamar mandi. Aku menjadi panik.
"Grace? Kamu terjatuh? Kamu baik - baik sajakah?" Ucapku dengan nada khawatir yang sudah tidak terkontrol lagi.
Dia diam dan tidak ada jawaban sama sekali. Spontan aku pun mendobrak pintu kamar mandi sampai terbuka. Aku melihatnya terjatuh di lantai hanya dengan dibalut oleh sebuah handuk. Terlihat jelas lekuk tubuhnya yang mulus dan hal tersebut berhasil meningkatkan gairahku seketika.
Aku melawan pikiran mesum yang terlintas dalam pikiranku tadi. Karena aku lebih mementingkan keselamatannya dibandingkan apapun. Langsung saja ku raih tubuhnya dan mengangkat tubuhnya ala bridal style.
Bagaimana pun aku melawan hawa nafsuku saat ini, mataku tetap tidak bisa fokus ke hal lain. Sebab handuk yang dikenakan Grace cukup pendek hingga terlihat dengan jelas pahanya yang menggoda.
Ku geleng - gelengkan kepalaku dan aku pun mempercepat langkah kakiku. Ku dudukkan dirinya di atas ranjang dan aku bertanya, "Bagian mana yang sakit, sayang? Bagian kaki atau yang lainnya?"
"Hanya kakiku yang terkilir, Ar. Aku tidak sengaja terpeleset saat ingin mendekati pintu." Ucapnya dengan rasa bersalah. Padahal aku tidak marah padanya dan tidak menanyakan alasannya.
"Tahan sedikit ya, ini akan terasa sakit. Tapi hanya sebentar saja." Ucapku padanya dan hanya dijawab dengan sebuah anggukan kepala.
Kreekk..
Suara bunyi kakinya yang terdengar begitu jelas. Dia hanya meringis sedikit, karena rasa sakitnya.
"Sudah selesai. Coba gerakkan pergelangan kakimu." Tuturku padanya.
Dia melihat ke arah kakinya dan memutar pergelangan kakinya. Dia tersenyum manis karena sudah tidak merasakan sakit lagi.
"Baiklah, aku akan mandi. Cepat ganti pakaianmu dan langsung tidur. Aku tidak mau kamu sakit karena kurang tidur."
Aku beranjak dari tempatku dan berjalan ke arah kamar mandi. Sepertinya, aku memang butuh mandi air dingin. Semua bayangan itu tidak lepas dari pikiranku. Apalagi saat aku berjongkok di hadapannya mengobati kakinya yang terkilir itu.
Saat aku selesai dengan kegiatanku di kamar mandi, aku langsung menghampiri tempat tidur. Sekarang aku merasa aneh dengan posisi selimut yang membengkak d bagian tengah.
Aku mendekati Grace dan mencium keningnya. Tidak lupa, aku mengatakan "Love you" di telinganya dengan lembut. Setelah itu, aku memfokuskan diri melihat gumpalan d bagian tengah selimut.
'Aahhh, dasar bocah! Dia mengambil alih posisiku. Haeh.. Tapi, apa dayaku? Grace sangat menyayanginya, jadi aku harus mengalah kali ini.' Umpatku pada bocah kecil itu dalam hati. Ya! Dia adalah Edzard. Entah kenapa dia harus tidur di sini. Dia merebut pelukan hangat Grace yang seharusnya aku miliki malam ini. Dasar bocah!
Dengan berat hati, aku pun tidur di sebelah Ed. Dia memang bocah yang menyebalkan.
Keesokan paginya...
Aku melihat sekelilingku, tidak ada siapa pun. Bahkan bocah licik itu pun tidak kelihatan.
Ceklekk..
Ternyata Grace baru saja selesai mandi. Dia keluar dari kamar mandi dan aroma wewangian itu menyeruak sampai ke hidungku.
"Dimana bocah itu?" Tanyaku kesal padanya.
Dia mengerutkan alis matanya dan bertanya padaku, "Bocah? Maksudmu Ed? Dia sudah kembali pagi - pagi tadi ke kamar Orantuanya karena lapar. Anak sekecil itu masih bergantung pada susu formula. Jadi, dia kembali begitu saja."
"Ya sudah, aku mau bersiap - siap dulu. Kita akan sarapan bersama dan mulai berjalan - jalan di sekitar Danau Toba." Ucapku sambil meraih handuk untuk ku bawa bersamaku.
"Oke, pakaianmu akan ku letak di atas tempat tidur ya, Ar. Aku mau keluar menemui Papa dan Mama." Ucapnya sebelum dia pergi dan benar - benar meninggalkanku.
Aku hanya pasrah dengan sikapnya yanga begitu cuek padaku. Padahal aku sangat merindukannya, aku ingin menghabiskan waktuku bersamanyaa. Tapi, aku tidak bisa egois, karena mereka lebih membutuhkannya daripada aku untuk saat ini.
**********
"Wahh..! Indahnya.." Teriak Grace yang mengagumi keindahan Pemandangan yang ada di depannya. Saat ini kami sudah berada di salah satu tempat wisata yang cukup populer.
Kami menyeberangi Danau Toba menuju ke Pulau Samosir. Di sini kami mengunjungi Pantai Batu Hoda.
Ada banyak kegiatan yang bisa dilakukan di sini. Kami lebih memilih menghabiskan waktu lebih lama di bagian water sport. Banyak yang menyukai kegiatan menaiki speed boat, banana boat, jet ski sampai ada yang berani bermain selancar air yang bertahan dengan pegangan dan ditarik oleh speed boat.
Setelah cukup puas bermain, kami pun beralih ke bagian lainnya, seperti tree cabin, camping area dan photo spot. Saat mereka sudah lelah dengan kegiatan berfoto ria nya, kami pun berjalan menuju food court nya.
Setelah selesai makan, sebagian dari kami duduk menunggu beberapa dari rombongan kami yang sedang izin ingin pergi ke Mushola untuk sholat. Orang itu adalah Bang Ricky sekeluarga, 5 orang Supir kami, Dea, Jeff, Nayaka, dan juga Ahza.
Aku baru menyadari sesuatu. Grace sangat dekat dengan orang - orang dan tidak memandang suku atau agamanya. Aku juga baru mengetahui bahwa Bang Ricky yang terlihat seperti suku Batak ternyata adalah seorang Muslim. Dia benar - benar panutanku, aku mendapatkan banyak pembelajaran darinya untuk menjadi seorang kepala keluarga yang beriman dan bertanggungjawab.
Setelah semuanya selesai, kami pun pergi ke Bukit Beta. Di sini kita bisa melihat pemandangan Danau Toba lebih jelas lagi. Sangat Asri dan indah.
Dari atas bukit, kita bisa melihat cukup luas ke arah tepi Danau Toba sekitar Tuk-tuk. Di sisi yang lain, terhampar pemandangan lahan persawahan warga yang sangat eksotis untuk diabadikan. Karena terlalu asik dengan pemandangannya, kami mengahabiskan cukup banyak waktu di sini. Hampir 3 jam juga.
Setalah itu, kami pergi ke beberapa tempat lagi dan hanya sebentar saja. Karena kami juga mengejar waktu untuk mengejar jam keberangkatan kapal penumpang KMP Ihan Batak yang beroperasi terakhir pada pukul 18.30 WIB. Kami juga sepakat untuk makan malam di Wisma, karena kami akan ketinggalan jadwal penyeberangan jika kami masih mencari tempat untuk makan malam di Pulau ini.
Setibanya di Wisma, kami diberikan pelayanan lengkap. Berbagai jenis makanan telah dihidangkan di atas meja makan. Karena terlalu lama menahan rasa lapar, semua orang berhamburan ke arah meja makan dan melahap makanan yang ada dengan sepuasnya. Meskipun kami kelihatan rakus, kami masih ingat untuk berdoa sebelum makan sesuai Agama yang dianut.
Rasa makanan ini sungguh menggelitik lambung. Mungkin karena aku juga sudah kelaparan, makanya bisa makan dengan lahapnya. Biasanya, aku tidak begini amat cara makannya. Tapi, makanan ini sungguh enak. Makanan khas Batak yang disuguhkan seperti ikan mas arsik, ayam napinadar, dan daun ubi tumbuk. Belum lagi, mereka menyediakan cemilan berupa Lapet dan Itak Gurgur.
Aku mengenal semua jenis makanan ini, karena kami mendapat sedikit penjelasan dari Mamanya Grace. Dia tidak ingin kami makan makanan yang tidak kami ketahui. Setidaknya, kami tau namanya. Itu kata Mama. Setelah selesai makan, kami pun bubar kembali ke kamar masing - masing.
Aku dan Grace bergantian masuk ke kamar mandi untuk membasuh diri. Malam ini, lagi - lagi si bocah Ed masuk dan tidur di dalam pelukan Grace. Dia membuatku tidak bisa menempel pada Grace. Aku sudah tidak bertemu dengannya selama 3 hari dan selama 2 malam pula, aku harus tidur dengan dipisahkan oleh seorang bocah.
Aku hanya bisa pasrah. Aku juga harus cepat tidur, agar besok bisa cepat bangun. Jadwal penerbangan kami tepat pukul 9 pagi. Setidaknya kami harus sudah berangkat sekitar pukul 4 pagi. Kalau di htiung - hitung, jam tidur kami malam ini hanyalah 5 jam penuh.
Sebelum merebahkan tubuhku, aku selalu menyempatkan diri untuk melakukan yang selalu aku lakukan pada Grace. Aku mencium keningnya dan membisikkan kedua kata itu lagi dan lagi. Aku tidak akan pernah bosan melakukannya, karena dia adalah segalanya bagiku selain kedua Orangtuaku.
>>> Bersambung <<<
Sampai sini dulu ya..
Kita akan lanjut di eps selanjutnya..
Ingat untuk selalu beri jempolnya yaa, Kakak2..
Salam Kasih untuk Yg Terkasih
Love You All 💞💞