THE PERFECT GIRL

THE PERFECT GIRL
91



"Bu, ini ada berkas yang harus ditandatangani oleh Pak Arion." Ucap Shei sambil menyodorkan sebuah dokumen yang cukup tebal pada Grace.


"Kamu saja yang antarkan ke dalam. Saya masih ada urusan dengan email - email yang masuk dari beberapa Divisi yang berbeda." Ucap Grace tanpa menoleh pada Shei. Tatapan matanya tetap terfokus pada layar komputernya. Dia memang sangat sibuk saat ini dan sedang tidak ingin diganggu oleh siapapun.


"Tapi, Bu. Saya takut Pak Arion nya malah marah kalau saya yang mengantarkan dokumen ini secara langsung." Shei mulai panik. Ini adalah kali pertamanya disuruh berhadapan secara langsung dengan Bos nya itu. Dia takut karena kabar mengenai sikap sangar Arion terhadap perempuan yang menyentuhnya walau setitik akan menjadi pelampiasan emosinya.


"Haduh, kalian itu kenapa sih? Semuanya tidak ada yang mau menghadap Pak Arion secara langsung? Bukankah Beliau adalah Atasan kalian? Apa yang kalian takutkan? Apa dia pernah memakan pegawai yang menemuinya di Perusahaan ini?" Grace mulai kesal dengan tingkah setiap pegawai di Kantor ini.


Grace tidak menyadari kalau sebenarnya, dirinyalah yang dianggap aneh oleh para pegawai di Kantor itu. Semua pegawai pada umumnya selalu mengantarkan dokumen kepada Steve terlebih dahulu, barulah diproses oleh Arion melalui Steve. Hanya Grace lah yang berani secara langsung menyerahkan dokumen itu pada Arion, padahal dia hanyalah Pegawai baru yang dibawa dari London oleh Mr.Melv.


"Bukan begitu, Bu. Kalau Ibu memang sibuk, saya akan meminta bantuan Pak Steve saja." Ucap Shei dengan nada yang lemah.


"Kenapa sampai Steve yang harus turun tangan? Memangnya apa yang salah jika kalian yang mengantarkannya secara langsung?" Tanya Grace dengan kesal sambil menolehkan pandangannya pada Shei.


"Hei, hei, hei. Ada apa pagi - pagi begini? Apa yang kalian ributkan, Grace?" Tiba - tiba Steve muncul dengan tawa renyahnya.


"Pak Steve, saya tidak berani mengantarkan dokumen ini langsung pada Pak Arion. Tapi Ibu Grace menyuruhku mengantarkannya sendiri. Ibu kelihatan kesal karena aku bilang mau menitipkannya pada Bapak." Ucap Shei sambil menundukkan kepalanya.


"Baiklah, saya yang akan mengantarkannya. Grace, kamu ikut saya ke ruangan Pak Arion. Karena ada hal yang perlu kita bahas." Ucap Steve dengan santai sambil mengambil berkas pemberian Shei dan berjalan ke arah ruangan Arion.


'Hal penting apa yang harus dibahas? Pekerjaanku sudah sangat menumpuk. Kak Steve memang menyebalkan! Menyebalkan sekali!' Runtuk Grace dalam hati.


Grace pun pergi meninggalkan Shei yang tampak heran dengan tingkah kedua atasannya itu. Mereka terlihat sangat akrab, meskipun diselipkan dengan kata Pak dan Ibu dalam setiap percakapan mereka. Begitulah kira - kira yang dipikirkan oleh Shei yang polos itu.


"Hei, Bro. Bisa kamu jelaskan padaku mengenai sesuatu? Kenapa kamu menyuruhku mencaritahu tentang Agung lagi? Bukannya dia sudah kapok karena ancamanmu?" Tanya Steve dengan gamblang pada Ar. Padahal Ar ingin merahasiakannya pada Grace, tapi Steve malah mengungkapkannya tepat di hadapan Grace.


"Apalagi yang mau kamu selidiki darinya,Ar?" Tanya Grace sambil duduk di tempat duduk tepat di depan Ar dan di sebelah kiri Steve.


"Aku hanya ingin mengetahui apa lagi rencananya. Aku mengkhawatirkanmu, Grace." Ucap Ar yang mendapat dehaman keras dari Steve.


"Ekheemm..!! Cukup sudah kalian membunuhku dengan saling menatap, jangan tambah siksaan padaku dengan adegan romantis kalian!" Ucap Steve dengan wajah sendu yang dibuat - buatnya.


"Hiperbola." Ucap Grace singkat sambil melirik sekilas ke arah Steve.


"Jadi, untuk apa Kakak memanggilku ke sini?" Sambung Grace menanyakan hal yang sedang membuatnya penasaran.


"Nah, itu dia yang mau aku tanyakan. Kenapa untuk mengantar berkas ini saja, kalian berdua ribut di depan sana. Kamu sebagai atasan harus mengalah dong." Ucap Steve sambil terkekeh geli melihat wajah terkejutnya Grace.


"Kakak hanya ingin membahas itu saja, kenapa harus di depan orang ini sih?" Grace mulai mengeram kesal pada Steve.


"Bukannya begitu, para pegawai di sini memang belum pernah ada yang secara langsung bertemu dengan manusia es yang satu ini. Mereka takut kalau mereka senasib dengan perempuan - perempuan yang datang tak diundang dan pergi dalam keadaan yang menggenaskan. Jadi, kamu jangan memaksa mereka untuk menemui Arion." Steve mulai menjelaskan secara perlahan pada Grace.


"Tapi kan itu tamu tak diundang. Inikan pegawainya sendiri. Itu beda, Kak. Harusnya mereka jangan samakan dirinya dengan orang luar. Aku pun tidak bisa selalu menggantikan mereka hanya untuk menyerahkan berkas - berkas itu."


"Tidak ada salahnya mengantarkan berkas itu sebentar. Kenapa harus aku dan Kak Steve?"


"Kamu dan aku punya perbedaan dengan mereka. Hanya kita yang berani menatap Ar. Mereka? Mana ada yang berani."


"Apa hubungannya hal itu dengan pekerjaan sih? Kak Steve ini, ucapannya selalu tidak kumengerti."


"Ya sudah, kalau tidak mengerti. Aku juga tidak memaksamu untuk mengerti ucapanku."


Arion menutup berkas yang sudah ditandatanganinya lalu menatap kedua orang yang sedang membahas tentangnya dirinya tepat di hadapannya.


"Aku mendengarnya." Ucap Arion dengan singkat.


"Akh, aku lupa kalau kamu juga ada di sini." Steve malah kekeh sendiri dengan ucapannya.


"Aku mau balik saja. Kerjaanku sudah sangat menumpuk." Grace pun beranjak dari kursinya.


"Aku belum mengatakan apapun, Grace. Kamu duduk saja dan dia yang pergi." Ucap Ar sambil melirik ke arah Steve.


"Ayolah, masa aku yang diusir? Kan aku yang membawa Grace ke sini." Steve mulai memasang wajah memelasnya. Dia sedang ingin menggoda kedua Adiknya itu. Karena dia masih malas untuk melanjutkan pekerjaannya yang sudah menggunung.


"Tidak. Grace di sini, kamu pergi. Aku tau kalau pekerjaanmu sudah sangat banyak, belum lagi ada kerjaan tambahanmu dari Daddy." Ar pun tersenyim penuh kemenangan setelah melihat ekspresi kesal Steve yang ditujukan padanya.


"Iya, iya, iya. Aku pergi. Sini, berkasnya aku saja yang bawa." Steve pun beranjak dari kursinya dan pergi meninggalkan sepasang kekasih itu.


GREEPPP..


Tiba - tiba saja Ar memeluk Grace tanpa basa - basi. Grace yang mendapat perlakuan seperti itu malah menangis sejadi - jadinya di dalam dekapan Ar.


"Kenapa kamu malah menangis, Grace?" Ar mulai panik dan berusaha untuk melepaskan pelukannya dengan memegang kedua bahu Grace.


"Aku merindukannya, Ar. Aku sangat merindukan dia."


Ternyata Grace sedang memikirkan Arion yang dulu dan dia sedang merindukan sosok Arion sebelum lupa ingatan itu. Ar yang mendengarkan pengakuan Grace pun merasa tersentuh.


Perempuan yang dicintainya sudah membalas cintanya, meskipun cintanya lebih besar daripada cinta yang diterimanya dari perempuan itu. Dia merasa sangat bersyukur karena memgetahui secara langsung bahwa Grace sangat merindukan dirinya.


"Aku juga sangat merindukanmu, Grace." Ucap Ar sambil memeluk dan mengusap pundak Grace, lalu dia menciumi puncak kepala Grace.


Setelah mendapatkan perlakuan seperti itu, tangisan Grace semakin deras. Dia melampiaskan semua emosinya melalui tangisannya itu. Dia tidak lagi memikirkan hal lain selain sosok Ar yang dirindukannya.


Sejujurnya, Ar tidak tega melihat Grace yang seperti ini. Dia ingin mengakui semuanya pada Grace. Mengakui bahwa dia sudah ingat akan semuanya.


Ar masih menunggu semuanya selesai. Dia akan mengakuinya pada hari itu. Hari dimana dia akan membuat kejutan yang spesial untuk perempuan yang sangat dicintainya itu.


'Bersabarlah sayang, aku pasti akan kembali menjadi sosok Arion yang kamu rindukan. Tapi, bukan sekarang sayang. Sabar ya, sayang. Bersabarlah sedikit lagi.'


Setengah jam berlalu, Ar masih setia memeluk sambil menunggu Grace yang sudah mulai tenang. dia tidak tega jika dia harus melepaskan Grace begitu saja.


"Hiks.. Maafkan aku yang sudah merepotkanmu, Ar. Maafkan aku yang sudah mengotori kemejamu, Ar. Maafkan aku yang, hiks.." Ucapan Grace terhenti seketika ketika Ar mengangkat wajahnya yang memerah itu.


"Ssstttt.. Jangan meminta maaf begitu padaku, Grace. Kamu tidak salah apa - apa. Kalau masalah kemeja, aku masih punya banyak cadangannya di ruang istirahatku di sebelah sana. Kalau kamu memang merasa bersalah, kamu bisa memilihkan kemeja untukku, menggantikan yang basah ini."


Ar sudah memikirkan sesuatu yang akan membuat Grace tidak berkata seperti tadi lagi. Dia tidak suka jika Grace meminta maaf seperti itu padanya.


Grace pun menganggukan kepalanya dan melepaskan pelukannya dari pinggang Ar. Sedangkan Ar, dia berjalan menuju ke sebuah ruangan diikuti oleh Grace.


"Silahkan pilihkan aku kemeja yang cocok untuk kupakai." Steve membuka pintu ruang penyimpanan pakaiannya di ruang istirahatnya.


"Baiklah. Kamu tunggu di sini." Ucap Grace dengan singkat.


Grace pun mulai kebingungan memilih kemeja untuk Ar. Dia tidak menyangka kalau Ar akan meninggalkan pakaian ganti di dalam ruangan seperti itu. Begitu byk pilhan merk, corak, dan warna. Sedangkan Ar, dia membuka dasi, jas, terutama kemejanya yang sudah basah.


"Astaga..!!" Ucap Grace yang kaget melihat body Arion yang cukup memukau. Dia langsung menutup kedua matanya dan menyodorkan kemeja untuk Arion begitu saja.


Arion malah terkekeh melihat tingkah Grace yang begitu lucu menurutnya.


"Sangat imut," ucapnya tanpa sadar.


Bukannya merasa senang, Grace yang mendengarnya malah merona karena merasa malu di depan Arion. Dengan cepat, dia menyerahkan kemeja itu ke tangan Ar. Dan terdengarlah suara tawa lepas Ar dari dalam ruangan itu.


Siang harinya, Grace mengirimkan pesan singkat pada Ar, supaya mereka pulang ke rumah. Dia masih ingin mendengarkan penjelasan dari Ar, karena dia yakin bahwa Ar bukan laki - laki yang dengan mudahnya didekati oleh perempuan manapun. Sebab dia sudah mengalami sendiri bagaimana sikap kasar Ar terhadap perempuan tak di kenal yang berani menyentuhnya meski sejengkal.


>>> Bersambung <<<


Sampai sini dulu ya..


Kita akan lanjut di eps selanjutnya..


Jangan lupa berikan supportnya untuk Author..


Thor tidak minta yang aneh - aneh lagi dehh, hanya like dari jempolnya..


Kalau komen, itu semuanya semaunya readers saja..


Salam Kasih untuk Yg Terkasih


Love You All