
ARION POV
Berulang kali aku memejamkan mata dan membukanya kembali, aku tetap tidak bisa melihat Grace lagi. Dia sudah di bawa pergi entah ke mana oleh Ricky.
Aku teringat di saat-saat terakhir kami berpelukan, Grace meminta ku untuk tetap sehat dan membantunya mengurus adik-adiknya. Sebenarnya, tanpa di minta pun, aku sudah pasti akan mengurus mereka. Mereka juga adik-adik ku mulai saat itu. Saat di mana Grace setuju untuk menerima lamaran dari kedua orangtua ku.
Sudah tiga bulan berlalu sejak kejadian itu. Aku masih belum boleh melakukan banyak pergerakan karena dapat membuka jahitan luka di punggung dan lengan kiri ku.
Semenjak aku tersadar dari masa kritis, aku selalu mengandalkan Adam dan Steve untuk mencaritahu keberadaan Grace. Grace seperti hilamg dari muka bumi ini, tidak ada yang mengetahui keberadaannya.
'Sebenarnya siapa Ricky itu?'
Dia bisa menyembunyikan identitas nya dan keberadaannya bersama dengan Grace dengan sangat mulus tanpa diketahui oleh siapa pun.
'Apa dia memiliki perasaan yang sama seperti perasaan ku pada Grace?'
Tapi itu tidak mungkin, karena aku sangat mengingat kata-kata nya saat mengambil Grace dari tangan ku. Dia akan menyerahkan Grace dengan sukarela jika aku menemukan dan mampu membuat Grace untuk pulang bersama ku.
'Ya! Aku harus menemukannya!'
Tekad ku sudah bulat. Setelah keluar dari Rumah Sakit ini, aku akan berusaha keras untuk menemukannya. Aku juga tidak akan lupa dengan janji ku pada nya. Aku akan merawat adik-adik kami selama dia tidak ada.
"Ar, saatnya makan dan minum obat. Mom letak makanan nya di sini ya, sayang. Di makan ya."
Suara lembut Mom membuat ku tersadar dari lamunan ku. Aku segera memakan bubur yang ada di hadapan ku saat ini. Setelah itu, aku meminum semua obat-obatan yang memang harus aku konsumsi agar tubuh ku cepat pulih.
"Mom, kapan Ar bisa pulang? Ar sudah sangat bosan berada di sini."
"Minggu depan kamu sudah boleh pulang, Ar. Kamu harus di rawat lagi di rumah. Jangan kerja dulu sampai kamu benar-benar pulih."
"Aduh, Mom. Mom ini terlalu memanjakan Ar dehh.. Ar sudah sehat, sekarang juga sudah bisa bekerja."
"Tidak boleh, ingat kata Dokter, kamu itu tidak boleh bergerak terlalu ekstrim dulu."
"Baiklah, Mom. Ar memang tidak bisa melawan kemauan Mom."
Mommy senang mendengar omelan kesal ku. Aku tidak bisa melawan keinginan Mom. Meskipun begitu, lebih baik di rawat di rumah daripada di sini.
**********
Seminggu kemudian..
"Ar, kamu ikut Steve pulang duluan ya. Mom ada janji dengan Silvia sebentar."
Mom menyodorkan tas isi pakaian ku pada Steve yang sedang berada di sebelah ku.
"Baiklah Mom. Ar tunggu Mom di rumah ya."
Aku tersenyum dan mengangguk pada Mom. Mom adalah ibu terbaik yang aku miliki. Aku beruntung memiliki Ibu yang begitu perhatian dan pengertian seperti Mommy.
Aku dan Steve pun berangkat ke Mansion. Di Mansion, sudah tampak Adam di depan pintu menunggu kedatangan kami.
"Masuk yuk, ada yang ingin aku bicarakan pada kalian." Adam membawakan barang ku dan Steve mengikuti kami masuk ke dalam.
Setelah duduk di sofa, Adam mulai memasang wajah serius nya.
"Kamu ingat dengan Ricky, Ar?" Adam bertanya pada ku, mungkin untuk memastikan ingatan ku pada lelaki itu.
"Iya, aku ingat. Dan aku yakin kalau dia lah yang membawa Grace pergi." Ucapan ku ini membuat Adam dan Steve membelalakkan matanya.
"Kamu tau tentang itu juga?" Pertanyaan Adam sungguh aneh.
"Aku pasti tau lah, Bro. Kan Grace di bawa pergi dari pelukan ku dan dia bilang kalau aku ini tidak berguna. Aku sebenarnya ingin meraih Grace, tapi apa daya ku? Lebih kuat pengaruh bius itu daripada tenaga ku."
Jawab ku menegaskan kalau aku memang tau siapa orang yang membawa pergi Grace jauh dari ku.
"Aku yakin sekali kalau itu dia. Tapi, sebelumnya, aku sempat tidak ingat siapa nama nya. Suara nya yang memarahiku itu sangat familiar. Setelah kamu menyebutkan nama nya, aku jadi teringat akan hal itu. Jadi, aku yakin kalau dia lah yang membawa Grace."
Aku melanjutkan perkataanku sambil memegang dagu ku dengan jari-jari ku.
"Apa kamu tau sesuatu, Dam?" Tanya Steve pada Adam yang bengong mendengar jawaban dari ku.
"Sebenarnya.." Ucapan Adam terpotong, dia kelihatan seperti sedang berpikir keras.
"Ya?" Tanya Steve singkat padanya.
"Sebenarnya, saat aku menelepon Dad untuk bertanya tentang apa yang terjadi sampai Arion pergi ke Moscow, aku yang mengusulkan pada Dad untuk meminta bantuan Ricky."
Adam mulai terdiam sejenak untuk mengingat peristiwa pada hari itu. Mungkin dia bingung harus mengatakan dari yang mana sampai mana.
"Aku menelepon Ricky setelah selesai berdiskusi dengan Daddy. Ricky begitu emosi saat tau kalau Grace di culik dan di bawa ke Moscow. Dia memang sudah bilang pada ku sejak awal, jika Arion tidak berguna sebagai seorang lelaki, dia akan membawa Grace pergi bersama dengan nya."
Aku tidak begitu kaget dengan ucapan Adam, karena Ricky sudah mengatakan hal yang sama pada ku saat itu.
Berbeda dengan ku, Steve malah terkejut sampai menganga dengan ekspresi tidak percaya begitu.
"Kenapa kamu meminta bantuan nya, Dam? Pada akhirnya, dia membawa Grace pergi. Aku yakin kalau dia juga menyukai Grace seperti Cakra menyukai nya."
Steve histeris sendiri mengingat betapa aneh nya keputusan Adam yang mengundang Ricky untuk menolong Grace.
"Steve, ini semua karena aku khawatir dengan kedua orang ini. Grace di culik oleh orang yang sama sekali tidak kita ketahui. Ricky adalah pemimpin dari kelompok Mafia terkenal di Inggris. Aku sangat mengenalnya sejak masa sekolah dulu, meskipun aku tidak pernah mau berdekatan dengan dia."
Adam menyempatkan dirinya untuk menarik nafas dalam-dalam. Sepertinya, dia sedang mempersiapkan diri untuk menerima pertanyaan yang akan kami lontarkan pada nya.
Steve melontarkan begitu banyak pertanyaan. Dia sungguh manusia yang tidak bisa menahan rasa penasaran nya itu.
"Apa kamu sudah tau, sejak kapan dan bagaimana Grace dan dia saling mengenal?" Aku bertanya pada Adam yang masih saja menatapku sedaritadi. Dia tidak menjawab pertanyaan yang dilontarkan oleh sahabat nya itu.
"Seminggu lalu, aku memang sudah mendapatkan sedikit informasi tentang pertemuan mereka yang tidak di sangka-sangka. Aku akan menelepon dia."
Adam pun mulai menelepon seseorang dan ternyata orang itu adalah seorang perempuan yang merupakan rekan kerja Grace saat Grace masih usia 16 tahun yang bernama Stevi. Dia pun mulai bercerita pada kami.
Flashback On
STEVI POV
Saat itu, aku dan Grace mendapat jam istirahat yang sama. Jam istirahat kami itu 1,5 jam. Jadi, kami berniat untuk pergi berbelanja di pasar. Kami ingin membeli set baju dan celana untuk di pakai bekerja.
Kami bekerja sebagai pelayan di sebuah Rumah Makan. Di sana kami memiliki kebebasan berpakaian jika di pagi hari sampai jam istirahat. Setelah jam istirahat nya selesai, kami wajib mengenakan seragam yang di jahit khusus oleh toké nya.
Kami pergi ke pasar yang terletak di perkotaan. Sepanjang jalan di pasar, kami terlalu fokus untuk melihat pakaian yang di pajang di kios-kios. Kami tidak menyadari bahwa ada seseorang yang mengikuti kami sejak awal masuk ke pasar itu.
Kami tersadar saat kami mau berbalik menuju ke kios sebelumnya. Karena kios itu menjual baju yang sama dengan harga lebih terjangkau di banding kiosyang sedang kami kunjungi. Grace tidak sengaja menabrak bahu lelaki itu.
Grace merasa bersalah dan kasihan melihat kondisi dari lelaki itu, "Ehh, maaf Bang. Grace tidak sengaja."
"Tidak apa-apa Grace, kenalkan nama ku Ricky. Aku butuh bantuan mu. Apa kamu mau membantu ku?"
Lelaki itu langsung berbicara to the point. Aku merasa heran dan aku menahan tangan Grace yang akan bersalaman dengan nya. Lelaki itu malah tersenyum melihat ke arah ku.
"Siapa kau? Jangan macam-macam ya! Di sini ramai, jadi aku bisa membuatmu di keroyok jika kau berani macam-macam."
Begitulah ancaman ku pada nya. Aku malah memdapat omelan dari Grace, "Vi, kamu tidak boleh begitu! Aku tidak suka dengan cara mu memperlakukan orang lain seperti itu! Sudah! Kamu minggir saja, aku yang akan berbicara dengan nya."
Aku takut ketika Grace seperti itu. Dia itu menyeramkan sekali jika sedang marah. Aku mundur dan langsung mengambil posisi berdiri di belakang nya.
"Begini saja Bang, kita akan melanjutkan pembicaraan kita. Tapi kita cari tempat untuk duduk sekalianmakan bersama ya? Grace yang traktir."
Grace tersenyum dengan lelaki itu dan di balas dengan senyuman oleh lelaki itu. Aku hanya bergidik ngeri melihat lelaki yang bernama Ricky itu dari balik punggung Grace.
Kami pun memasuki sebuah kios yang menjual mie ayam di dalam pasar ini. Grace duduk berhadapan dengan Ricky dan aku duduk tepat di sebelah Grace.
Setelah selesai makan, aku hanya terdiam mendengar percakapan mereka.
"Sebenarnya, Abang butuh bantuan apa?" Grace memulai pembicaraan.
"Aku butuh bantuan mu. Ibu ku seminggu yang lalu telah meninggal dunia dan aku sudah di usir rumah kontrakan kami. Aku sudah mencoba mencari pekerjaan, tapi aku tidak mendapatkan pekerjaan apa pun selama seminggu ini."
Ricky mulai menundukkan kepala nya. Aku merasa dia berkata jujur pada saat itu. Aku tetap diam dan menjadi pendengar yang baik.
"Aku butuh pekerjaan, apa kamu bisa membantuku, Grace?"
"Apa tidak masalah jika Abang bekerja sebagai pelayan?"
"Mau! Asalkan itu pekerjaan yang halal. Aku akan kerjakan semampuku." Ucap Ricky dengan penuh semangat.
"Baiklah, Bang. Aku akan ajak Abang bertemu dengan toké kami. Untuk sementara, Abang tidur di rumah teman ku, mereka para lelaki tangguh yang baik hati. Nanti akan aku ajak Abang Ayo, sekarang kita balik. Aku yakin toké kami masih ada di sana."
Grace beranjak dari tempat duduk nya dan membayar tagihan. Kami pun pergi ke tempat kerja dan langsung menghadap toké. Toké menerima lelaki iti bekerja di sana karena Grace mengaku kalau Ricky adalah sahabat terbaiknya.
'Padahal mereka baru kenal, darimana bisa jadi sahabat?' Pikir ku sekilas.
Setelah Ricky di terima, Grace mengajak Ricky entah kemana. Aku saja tidak tau.
Mulai dari situ, mereka semakin dekat. Ricky selalu mengajarkan teknik bela diri pada Grace jika jam istirahat mereka di saat hari liburnya Grace sampai 3 tahun penuh.
Grace yang menyukai hal-hal berbeda dan menantang, bisa belajar dengan baik dan bisa mengalahkan belasan orang. Aku pernah menemani Grace berlatih di suatu gudang besar bersama Ricky.
Setelah 3 tahun berlalu, Ricky mengundurkan diri dan pergi entah ke mana. Dia sempat tidak nampak selama beberapa tahun ini. Tapi, baru-baru ini dia muncul dan kami bertemu lagi saat acara pertunangan Grace.
Flashback Off
"Ohh, jadi Grace jago bela diri karena diajarkan langsung oleh Ricky. Pantas saja dia begitu jago, ternyata guru nya adalah guru langka yang sangat mahir bela diri." Kata Adam yang membuat kami berpikir bersamaan.
"Iya, Kak. Abang Ricky jago banget dalam hal bela diri. Aku saja gak nyangka, kalau dia yang dekil waktu itu, sekarang bisa sekeren sekarang." Ucapan perempuan di seberang telepon terasa mengusik pendengaran ku.
'Keren? Sekeren apa dia? Sayangnya, waktu itu penglihatanku buram. Aku jadi tidak bisa melihat dengan jelas.' Aku jadi teringat dengan kejadian terakhir kalinya saat Grace di bawa pergi dari dekapan ku.
"Oh iya, Vi. Sebenarnya, Grace dan Ricky itu sedekat apa sih? Apa Grace tau latar belakang Ricky? Apa mereka pernah punya hubungan khusus?" Steve melontarkan pertanyaan yang ku rasa aku juga ingin tau tentang jawaban nya.
Stevi terdiam sejenak dan berbicara dengan terbata-bata, "Se.. sebenarnya,, sebenarnya aku juga tidak tau bagaimana hubungan mereka dan sedekat apa mereka. Ta.. tapi,, aku,, aku sebenarnya sudah tau latar belakang Bang Ricky secara tidak sengaja setahun setelah mengenalnya. Mulai saat itu, aku mulai takut berhubungan dengan dia. Aku pun mengundurkan diri dari tempat itu. Aku tidak berani mengatakannya pada Grace, dia pasti tidak akan mempercayaiku, karena dia sangat percaya pada Bang Ricky."
"Sedekat itu kah mereka? Kan Grace lebih dulu mengenalmu di banding Ricky." Adam bertanya sambil mengerutkan alisnya.
"Yah, begitu lah, kak. Udahan dulu ya, kak. Sudah waktu nya tidur, karena besok pagi-pagi sekali harus berangkat kerja. Bye kakak-kakak semua."
"Terima kasih atas info nya Vi, bye."
Panggilan itu pun berakhir. Kami bertiga jadi saling pandang. Saat ini, aku sedang tidak ingin berkata apa-apa. Aku harus pergi dari sini dan tidur. Besok aku akan mulai berusaha melacak di mana keberadaan Grace yang sebenarnya.
"Sudah tidak ada lagi yang harus dibincangkan bukan? Aku masuk ke kamar duluan ya, aku mau istirahat." Aku pun pergi meninggalkan mereka di sana.
Setibanya di kamar, aku terkejut dengan beberapa bingkai foto yang menghiasi meja-meja di kamar ku. Semua ini adalah foto-foto yang di ambil saat pertunangan kami dan foto Prewed kami saat itu. Aku hanya bisa memandangi satu per satu foto tersebut dengan senyuman yang aku sendiri pun tidak tau mengartikan ekspresi ku saat ini.