THE PERFECT GIRL

THE PERFECT GIRL
TPG2_101



Maaf ya, Kakak2 semuanya..


Author buat TPG season 2 nya tdk ada pakai yg namanya prolog atau epilog..


Kita bedainnya dr judul nya saja yaa..


πŸ˜‰πŸ‘


Semoga Bacaannya menyenangkan..


Oh iya, di eps kali ini ada terdapat sekilas adengan 21+ nya karena Author memasukkan adegan Malam Pertama AR&GR..


~ Happy Reading Guys ~


**********


Di penguhujung acara, Arion dan Grace bergantian berfoto bersama tamu undangan. Sangat banyak yang masih bersemangat untuk berfoto bersama mempelai. Mereka begitu antusias mengikuti Acara Pernikahan tersebut sampai Acara itu benar - benar selesai.


"Selamat ya, Ar, Grace. Semoga langgeng sampai maut memisahkan." Ucap saudara Grace yang sudah jauh - jauh datang dari Medan.


"Congrats ya, Bro. Kamu sangat pandai memilih Istri. Jaga dia baik - baik, karena aku yakin dia pasti banyak yang kejar meskipun dia sudah berstatus Istri orang. Selamat ulang tahun juga, Ar." Ledek teman kuliah Arion yang juga hadir untuk melihat perempuan yang bisa menaklukkan hati seorang Arion.


"Selamat ya, Ar, Grace. Semoga kalian menjadi keluarga yang sakinah mawaddah warrahmah ya. Abang akan ingat janjimu ya, Ar! Awas kalau kamu tidak bisa menepatinya! Grace akan aku bawa bersamaku lagi!" Ancam Bang Ricky pada Arion yang hanya bisa tersenyum semanis mungkin padanya.


"Akhirnya, Tuan Muda kita sudah memiliki status juga. Selamat ya, Pak. Selamat ya, Bu. Ternyata Ibu Grace yang jadi pilihan terbaik Bapak. Selamat menempuh hidup baru dan semoga selalu berbahagia, Pak. Juga selamat ulang tahun ya, Pak." Ucap para karyawan perusahaan Melv.Corp. yang datang.


Para pembisnis juga memberikan ucapan selamat secara bergantian. Mereka merasa turut bahagia melihat rekan bisnis mereka yang masih muda itu bisa mendapatkan jodoh yang begitu cantik dan belia.


Semua orang mulai menyalami dan mengucapkan selamat kepada kedua mempelai. Banyak dari tamu undangan juga berpamitan untuk pulang.


Grace pun membawa Arion untuk berkumpul bersama keluarga besarnya. Dia memperkenalkan Arion kepada mereka agar Arion pun bisa berbaur bersama keluarga besarnya.


"Bro Ichi? Did you arrive too?" Sapa Grace pada Kakaknya yang berasal dari Jepang itu.


(Kak Ichi? Ternyata Kakak datang juga?)


"Yes, i can't possibly come to this Wedding Da. You are the sister that i love. I don't want to miss your happy moments like this." Jawab Ichi sambil membalas pelukan Adiknya itu.


(Iya, Kakak tidak mungkin tidak datang ke Acara yang berbahagia ini. Kamu kan Adik yang Kakak sayangi. Kakak tidak mau melewatkan momen bahagiamu seperti ini)


"Ekhem.." Terdengar dehaman Arion melihat keintiman kedua saudara itu. Dia langsung menarik pinggang Grace dan membisikkan padanya, "Jangan berlama - lama memeluk orang lain, sayang. Aku tidak akan mengizinkannya jika lebih dari 1 menit. Hanya aku yang bisa memelukmu selama yang kamu mau. Paham kan, sayang?"


"Hello, Sweety." Tiba - tiba saja Jeff datang dari arah belakang Ichi dan melebarkan kedua tangannya seolah dia ingin memeluk Grace. Ar yang melihat hal itu pun langsung menarik Grace ke belakangnya. Jeff pun berhenti seketika sambil mengumpat kesal pada Arion, "Ar, kamu terlalu berlebihan. Kami ini sudah seperti saudara sendiri. Masa aku tidak boleh memeluknya walau hanya sebentar saja?"


"Aku tidak suka Istriku dipeluk oleh lelaki manapun. Karena mulai detik ini, aku lah yang berhak atas dirinya. Aku ini Suaminya, jangan lupakan itu Jeff." Ancam Arion pada Jeff sambil memandang dengan tatapan tidak suka. Bagaimana pun juga, Jeff adalah satu - satunya mantan pacarnya Grace. Dia hanya berusaha untuk menjaga semua yang sudah menjadi miliknya.


Ichi terkekeh melihat tingkah Ar yang posesif itu, tapi Grace hanya bisa menggelengkan kepalanya mendengar ucapan Arion yang menurutnya sangat berlebihan. Lalu dia menarik Ar untuk berdiri di depan pintu. Sudah saatnya para tamu undangan untuk kembali ke tempat mereka masing - masing. Mansion itu pun akhirnya mulai sepi dengan perginya para tamu undangan.


Sebagian besar keluarga dan teman Grace yang tidak tinggal di Jakarta akan tinggal sementara waktu di sebuah Hotel yang sudah di booking oleh Arion jauh - jauh hari sebelumnya. Dan sekarang, tinggallah mereka berdua di sana bersama dengan beberapa pelayan yang sedang membersihkan jejak dari Acara tadi.


Arion dan Grace pun duduk di sebuah sofa di ruang TV lantai 1, membicarakan hal - hal yang bisa mengisi kesunyian di antara mereka saat ini untuk menghilangkan rasa lelahnya sejenak.


"Kamu tadi cukup mahir menyanyikan lagu itu, Ar. Aku kira kamu bakalan sulit menyanyikan bagianmu. Karena tingkat kesulitan pada lagu itu cukup membuat seseorang kewalahan untuk menyanyikannya." Ucap Grace yang menoleh ke arah Ar sambil meneguk air hangat yang sudah tersedia di atas meja kecil yang ada di hadapan mereka.


"Itu agak sedikit false tadi. Ternyata kamu kejam padaku. Kamu tidak memberitahukanku sejak semalam pagi saat kita berangkat, bahwasannya kamu ingin kita menyanyikan lagu itu saat Acara Pernikahan kita. Saat aku pulang dari kantor baru kamu memberitahuku. Aku sampai sulit untuk tidur semalam karena hapalan itu selalu terngiang di kepalaku. Kamu harus bertanggung jawab, sayang." Timpal Ar dengan senyum seringainya.


"False itu sudah biasa. Toh juga gak ada yang protes kan? Kamu jangan berlebihan dehh.." Grace mengomel pada Ar yang menurutnya terlalu melebih - lebihkan perkara kecil itu.


"Siapa yang berlebihan, sayang? Kan memang benar adanya yang aku katakan tadi, sayang. Kamu memberitahukannya padaku sesudah hari menjelang malam. Apa aku tidak kelabakan sendiri, hanya untuk menghapal lirik lagu dengan kecepatan lagu yang bisa membuat lidah ini terkilir, sayang? Kamu harus bertanggung jawab malam ini juga, sayang." Grace sedikit merinding melihat seringaian yang diperlihatkan Arion padanya.


"Aaahhh, sudahlah. Kamu semakin lama semakin ngelantur saja." Umpat Grace mengakhiri percakapan mereka.


Arion hanya terkekeh geli melihat ekspresi Grace yangmenurutnya cukup menggemaskan saat itu.


"Papa sama Mama dan yang lainnya tidur dimana Ar? Kenapa mereka tidak di sini saja malam ini? Kan di Mansion ini ada beberapa kamar tamu yang cukup untuk tempat mereka beristirahat." Tanya Grace pada Ar karena dia sudah tidak melihat siapa pun di sana. Hanya mereka berdua.


Arion hanya tersenyum mendengar pertanyaan Grace sambil berkata, "Mereka tinggal di Hotel yang tidak jauh dari sini. Mereka kan tidak mau mengganggu kegiatan kita berdua malam ini, sayang."


Grace hanya bisa menggeleng - gelengkan kepalanya mendengar ucapan penuh makna dari Arion. Dia mengerti maksud dan tujuan Arion mengatakan hal tersebut.


Grace pun beranjak dari tempatnya dan langsung meninggalkan Arion menuju ke dalam kamar. Meskipun ditinggal begitu saja, Arion tetap setia mengikuti kemanapun langkah kaki sang Istri.


Hatinya berbunga - bunga mengingat kalau Grace sudah sah menjadi Istrinya. Dia tau dia akan semakin sibuk ke depannya, karena Daddy nya sudah sah pensiun dari perusahaan sejak dia mengenyam status sebagai Kepala Keluarga.


Sesampainya di kamar, dia malah kehilangan jejak Istrinya. Dia memperhatikan setiap sudut ruangan. Tidak ada siapa pun di dalam kamar itu. Dia pun mendekati pintu kamar mandi yang tertutup rapat.


Tokk.. Tokk.. Tokk..


"Sayang? Kamu di dalam?" Tanya Arion sambil mengetuk pintu kamar mandi.


Tidak ada jawaban apa pun dari dalam sana. Arion mencoba menekan knop pintu dan ternyata Grace tidak mengunci pintunya. Mungkin dia lupa.


Grace yang tidak mengetahui keberadaan Arion mendadak terkejut karena ada yang membantunya membuka resleting gaun yang tadinya sangkut di bagian tengah dan tidak bisa terbuka.


"Arion? Kenapa kamu bisa masuk ke sini? Bukannya aku sudah mengunci pintunya?" Tanya Grace pada Arion dengan nada sedikit berteriak.


"Ssttt.. Sudah jangan marah - marah dong, sayang. Mungkin kamu lupa mengunci pintunya. Buktinya, aku bisa masuk." Ucap Ar dengan lembut sambil terus menurunkan resleting gaun milik Grace. Dia tahu kalau Grace sedang kebingungan saat ini, semua terbukti dari bungkamnya Grace.


"Sayang.." Ucap Ar dengan lemah lembut sembari mengelus - elus punggung Grace yang mulus dengan pungung jemarinya, naik turun seakan ingin menggoda Grace.


"Hmm, ya Ar." Grace hanya bergumam sedikit karena dia masih merasa gugup berada dalam posisi seperti ini dengan Arion. Bahkan karena sentuhan tangan Arion membuat Grace meremang, detak jantung yang semakin kencang, bahkan kini serasa tubuhnya panas dingin di saat yang bersamaan.


"Sayang? Bolehkan malam ini aku mengambil hakku sebagai suami?" Bisik Ar lembut tepat di telinga Grace, karena memang dia sudah tidak bisa menahan diri lagi untuk bisa memiliki Grace seutuhnya.


Tidak ada perlawanan dari Grace, dia hanya diam terpaku seakan gugup namun menikmati sentuhan demi sentuhan yang Arion berikan padanya. Arion pun memeluk pinggang polos Grace dengan memasukkan kedua tangannya ke dalam celah gaun Grace yang terbuka dari belakang.


Arion mendekap Grace dan menghirup aroma tubuh Grace melalui tengkuk lehernya sambil menyebut kata sayang beberapa kali. Grace merasakan hembusan nafas hangat Arion yang melekat di tengkuk lehernya. Dia masih ragu tapi dia tidak bisa menolak permintaan sang Suami, karena itu merupakan kewajibannya sebagai Istri.


Kecupan lembut di tengkuk Grace membuat Grace semakin tegang, lembut, bahkan tanpa ia sadari Grace menikmatinya. Perlahan Arion menarik tubuh Grace supaya menghadap ke arahnya. Dan lagi-lagi tidak ada perlawanan dari Grace.


Grace yang kini sudah menghadap ke arah Arion, wajahnya tampak merah merona, di antara malu, gugup, atau bahkan dia merasa belum siap. Arion menarik dagu sang Istri supaya bisa melihat ekspresi wajah Grace saat ini, seringaian senyum tampak di bibir Arion. Ia pun mendekatkan bibirnya hingga menempel tepat di bibir mungil milik Grace dengan sebelah tangan yang tetap setia melingkar indah di pinggang Grace.


Arion mencium bibir mungil itu sedikit lebih lama, sedangkan Grace tidak menyadari bahwa Arion bergerak cepat dengan tangannya yang bebas.


"Akh!" Grace terkejut saat tubuhnya terangkat. spontan dia menyilangkan kedua tangannya menutupi bagian atas tubuhnya. Dia tidak menyadari sejak kapan dia dan Arion sudah berpenampilan tanpa busana seperti itu. Dia juga tidak menyangka akan semalu ini melihat penampilan mereka berdua yang sangat polos itu.


"Tidak perlu malu begitu sayang, aku sudah terlanjur melihat semuanya. Kita lanjut sambil berendam saja ya?" Senyum sumringah Arion pun terpancar di wajahnya. Dia sangat bahagia saat ini.


Setelah mereka berdua berada dalam bathtub, Arion melihat raut kecemasan di wajah Grace. "Ada apa sayang? Kenapa wajahmu seperti itu? Apa yang sedang kamu khawatirkan, sayang?"


"Ar, kata orang, melakukan itu akan terasa sangat menyakitkan. Apalagi ini yang pertama." Ucapan Grace berhasil membuat Arion tertawa renyah.


"Aku tidak akan pernah menyakitimu, sayang. Jadi, jangan mengkhawatirkan hal yang belum tentu kebenarannya. Itu memang akan sedikit terasa sakit saat pertama, tapi aku janji akan melakukannya secara perlahan agar kamu tidak merasakan sakit sedikit pun. Aku ingin kamu menikmatinya, sayang."


Arion pun mulai membalikkan posisi tubuh mereka. Dia menaikkan sedikit dagu Istrinya sambil berkata, "Lupakan semua kata orang itu, sayang. Aku ingin malam pertama kita ini menjadi kenangan terbaik yang tidak akan pernah kamu lupakan."


Sebelum Grace sempat menjawab, Arion sudah menyambar bibir mungilnya itu. Dia hanya bisa pasrah dan mulai mengikuti perkataan Arion. Dia berusaha tenang sampai dirinya larut dalam kenikmatan yang diberikan oleh Arion. Memang terasa sakit, tapi itu tidak sebanding dengan gairah yang membuat mereka berdua semakin gencar untuk menyatukan diri.


**********


Dengan berbalutkan jubah mandi, Arion sangat sabar mengeringkan rambut Grace yang basah menggunakan hairdryer. Dia begitu teliti saat melakukannya.


"Selesai." Ucap Arion dengan penuh semangat.


"Baiklah, mari kita tidur. Aku sudah merasa lelah." Grace mulai berjalan ke arah ranjang.


"Sayang, aku masih mau melakukannya lagi. Boleh ya?" Bisik Arion dengan manja sambil menahan tubuh Grace dengan pelukannya dari belakang.


Grace tertegun merasakan sesuatu yang sudah mengeras di bawah sana. Dia tidak habis pikir dengan stamina seorang lelaki perjaka seperti Arion.


"Tapi, tadi kita sudah melakukannya dua kali di bathtub, Ar. Dan sekarang sudah jam 2 pagi. Apa kamu tidak merasa lelah sedikit pun?" Tanya Grace dengan wajah herannya.


Tubuhnya di putar oleh Arion. Mendadak dia terpaku tidak tau harus bagaimana lagi. Suaminya saat ini sungguh merepotkannya. Tapi dia bahagia melihat wajah bahagia sang Suami malam ini. Dia ingin melihat wajah yang penuh cinta itu selalu tersenyum manis setiap hari seperti saat ini.


"Itu kan di dalam bathtub. Kita belum melakukannya di atas ranjang. Kasihan jika ranjangnya tidak bisa merasakan kehangatan di malam pertama kita ini, sayang. Boleh ya, sayang?" Pinta Arion dengan senyuman terbaiknya.


Grace yang sudah terpesona dengan senyuman Arion, langsung saja menyetujui permintaan Suaminya dengan sebuah anggukan kepala. Tidak membutuhkan waktu yang lama, Arion melepaskan semua pelindung tubuh mereka dan merebahkan tubuh Istrinya tepat di bawahnya.


Ranjang empuk yang tadinya ditinggal lama oleh pemiliknya, kini menjadi alas penambah kehangatan dari kedua pasang Suami Istri yang penuh gairah sepanjang malam itu. Begitulah kegiatan mereka sepanjang malam. Mereka sama sekali tidak tidur sedetik pun sampai cahaya Matahari bersinar terang menyambut kicauan burung yang bertengger di ranting pohon.


>>> Bersambung <<<


Sampai sini dulu ya..


Kita akan lanjut di next chap..


Bantu TPG untuk meningkatkan rate nya yaa, Kakak2..


Klik tombol garis tiga yang ada di pojok kiri atas (atau tanda kembali), lalu pilih ⭐ pada detail dan beri 5⭐ ya, Kak..


Terimakasih bagi yang bersedia memberikan 5⭐ pada TPG..


Salam Kasih untuk Yg Terkasih


~~ Love You All ~~


πŸ’ž πŸ’ž πŸ’ž πŸ’ž πŸ’ž