THE PERFECT GIRL

THE PERFECT GIRL
48



Arion berusaha keras memikirkan apa yang harus dia lakukan malam ini untuk memgalihkan perhatian matanya pada gerak - gerik Grace yang pastinya akan membangkitkan gairahnya.


Ar pun mengambil ponsel dari dalam sakunya dan mengirimkan pesan singkat pada Steve. Tidak berapa lama, Steve datang dengan membawakan tas berisikan laptop.


"Kamu yakin mau bekerja sepanjang malam, Ar? Apa kamu tidak salah? Seharusnya kamu istirahat, karena besok pagi - pagi sekali, kita harus ikut meeting bersama Daddy."


Perkataan Steve dari balik pintu terdengar oleh Grace. Grace merasa dirinya sudah mengajukan permintaan yang konyol kepada Arion. Dia merasa bersalah sudah meminta Arion menemaninya malam ini.


Arion hanya mengambil tas laptop itu dan menutup pintu kamar. Dia duduk di sofa dekat jendela kamar yang jaraknya tidak begitu jauh dari tempat tidur.


"Aku akan menemanimu malam ini. Aku tidak akan meninggalkanmu sendirian tidak tidur di sini."


"Terima kasih banyak, Ar. Hari ini kamu sudah berulang kali membantuku."


"Iya, itu tidak masalah bagiku. Aku akan terus mengulurkan tanganku padamu setiap kamu membutuhkan bantuan. Jadi, sekarang kamu mau ngapain? Hanya melihatku melakukan pekerjaanku saja? Atau kamu mau melakukan sesuatu hal?"


"Hmm.. Aku hanya akan menceritakan semua yang terjadi pada ku selama dua tahun terakhir. Apa kamu mau mendengarnya? Apa aku akan mengganggu konsentrasimu melakukan pekerjaanmu?"


"Tidak akan. Aku kan tetap bisa mendengarkanmu bercerita, meskipun mataku fokus melihat isi dari laporan pekerjaanku."


Arion pun membuka Laptop nya dan mulai memfokuskan pandangannya pada layar laptop itu sambil menunggu Grace memulai ceritanya.


ARION POV


Grace mulai bercerita. Sesekali dia berhenti karrna menahan desahan yang timbul karena reaksi obat sialan itu.


"Semua berawal sejak saat aku membuka mataku pertama kalinya. Aku bertemu dengan anak kecil yang imut dan tampan."


'Anak kecil?' Aku ingin bertanya, tapi kuurungkan niatku. Aku harus fokus mendengar ceritanya sampai selesai.


"Untuk pertama kalinya, aku melihat anak kecil yang sangat bijak. Saat dia mengetahui bahwa aku sadar, dia langsung menekan sebuah tombol. Tiga dokter spesialis datang memeriksaku. Mereka bilang aku sangat beruntung. Aku bisa sadar dari keadaan ku yang vegetatif selama setahun penuh, tapi aku masih bisa bergerak dengan baik."


"Kamu koma selama setahun penuh?" Aku baru tau bahwa selama ini, yang paling menderita adalah dia. Dia koma begitu lama dan tidak ada dari keluarganya yang mengetahuinya.


"Iya, satu tahun penuh. Dan sejak saat itu, aku jadi mengenal keluarga Bang Ricky. Istri dan anaknya selalu ada untukku selama ini. Merekalah yang mengisi hari - hariku yang sepi dengan senyuman hangatnya."


'Ternyata Bang Ricky sudah berkeluarga.' Aku semakin penasaran dengan apa yang akan dibicarakannya.


"Kak Elvina, istrinya. Dia menceritakan padaku, bahwa saat aku sedang sekarat, aku di rawat di Rusia selama 2 minggu sebelum aku di bawa ke London. Karena pada saat itu, kondisi tubuhku sangat lemah dan belum bisa di bawa ke tempat yang jauh. Sedikit saja pergerakan yang salah saat membawaku pergi, akan fatal akibatnya."


"Ternyata Bang Ricky sangat menyayangimu. Buktinya, dia rela tidak kembali pada keluarganya dan merawatmu selama itu di Rusia."


Aku memang masih bisa fokus dengan pekerjaanku. Tapi, aku juga tidak mau Grace merasa bahwa aku mengabaikannya. Aku juga merespon perkataannya sambil mengetik di laptop.


"Iya, kami sudah dekat sejak aku masih di bangku SMA. Selama 3 tahun penuh, dia yang mengajariku bela diri, karena dia ingin membalas kebaikanku padanya. Dan sekarang, dia yang sudah menolongku dari maut. Dia sungguh baik padaku."


"Hmm.." Aku tidak tau lagi, apa yang harus aku katakan. Aku saja, yang berstatus tunangan Grace, tidak bisa berbuat seperti itu padanya. Pasti lah posisi Bang Ricky lebih spesial di banding denganku di hatinya.


"Setelah lulus dari ujian vegetatif, aku harus menjalani perawatan lanjutan untuk memulihkan kondisi semula tubuhku selama setahun. Aku merasa seperti boneka yang tidak bisa berbuat apa-apa tanpa bantuan orang lain. Tapi mereka dengan sabar merawatku."


"Masa pemulihan setahun lagi? Jadi, selama ini kamu hanya menjalani perawatan penuh?"


"Apa itu?"


"Aku bertemu dengan My Big Brother, anak Papa dari istri pertama Papa. Sayangnya, Mamanya sudah meninggal dunia. Di saat aku pulang ke Indonesia, aku ingin mengajaknya juga. Agar dia bisa bertemu dengan kedua orangtuaku."


"Ide yang bagus tuh. Apa kamu mau kembali ke Indonesia bersama ku? Kemungkinan lusa aku akan meninggalkan London, karena urusanku tidak banyak di sini. Sekalian saja kita bawa Big Bro mu itu. Bagaimana menurutmu?"


"Gimana ya? Ku pikir - pikir dulu deh, Ar. Aku kan juga harus izin sama Bang Ricky dan keluarga kecilnya."


"Ayolah, Grace. Apa kamu tidak permah memikirkan keluargamu yang sangat mengkhawatirkan dirimu selama lebih dari 2 tahun?"


"Aku tau itu, Ar. Aku memikirkan semuanya, aku memikirkan keluargaku, aku memikirkan adik - adikku, aku memikirkan kalian semua. Tapi, aku masih belum siap menghadapi sesuatu. Ya! Aku harus menyelesaikan masalahku di sini terlebih dahulu."


Aku masih tidak habis pikir. Apalagi urusannya di sini? Dia itu memang sangat misterius.


Terakhir, tidak ada di antara kami yang memulai percakapan serius. Kami hanya melanjutkan percakapan kami dengan bersendagurau.


Grace yang kelelahan pun tertidur dengan pulas. Dia sudah tidur selama sejam penuh.


Tidak terasa, sudah waktunya aku harus menutup laptopku. Ini sudah pukul 5 pagi. Aku harus tiba di kantor pukul 7. Jadi, aku harus bergegas ke kamar sebelah untuk bersiap - siap.


Sebelum aku pergi, aku menghampiri ranjang tempat Grace tertidur. Aku mendekatkan wajahku pada nya dan mencium keningnya dengan lembut. Tidak lupa kubisikkan kata "I Love You" padanya.


Sudah sangat lama aku tidak merasakan ketenangan seperti ini. Melihat dia baik-baik saja, aku sungguh bahagia. Aku pasti akan membawanya pulang bersama denganku.


Saat aku membuka pintu kamar, aku melihat sosok sangar yang sangat menakutkan.


"Kenapa Abang ada di sininsepagi ini?"


BUGH..!!


Yang aku terima bukan jawaban, melainkan tinjuan di bagian perut ku. Dia sedang marah saat ini. Dialah Bang Ricky.


"Itu pukulan sebagai balasan dari tamparan yang sudah diberikan Mrs.Melv. pada Grace!!" Dia membentakku dengan keras


"Apa maksud Abang menuduh Mommy ku sudah menampar Grace?" Aku hanya bisa bertanya begitu padanya.


Dia malah mencampakkan map berwarna cokelat ke arahku dengan kasar.


"Ada apa ini? Pagi-pagi begini, kenapa kalian berdua sangat bising? Apa yang kalian ributkan?" Ternyata Grace sudah terbangun. Dia terganggu karena ulah kami berdua.


"Itu semua bukti. Bukti yang bisa membungkam mulut dan pikiran Mommy mu yang sudah berani menuduh Grace yang aneh-aneh."


Bang Ricky mulai emosi dan mencekik leherku. Dia mengangkat tubuhku ke atas dan mendorong tubuhku yang terangkat sampai menabarak tembok.


Sesak. Aku tidak bisa melawannya. Dia sangat kuat. Saat ini dia benar - benar melampiaskan amarahnya padaku.


'Apa yang telah di perbuat Mommy hingga Bang Ricky marah besar sampai seperti ini padaku?'


Aku memang harus menyelidiki semuanya dengan benar. Tapi, Bagaimana aku bisa melepaskan diri dari cengkeraman Bang Ricky?