THE PERFECT GIRL

THE PERFECT GIRL
TPG2_124



"Jadi, Yoru akan tinggal di sini bersama Mom and Dad. Kalian bagaimana, Ar?" Tanya Mr.Melv. pada Arion.


"Kami akan pulang ke Rumah kami, Dad. Kami akan meninggalkan sedikit pakaian kami di sini. Jadi, kami bisa sesekali tinggal di sini. Kami pamit pulang dulu ya, Dad." Ucap Ar dengan menangkup kedua tangan Daddy nya dan menempelkannya di dahinya. Dia berpamitan dengan cara yang sopan.


"Baiklah, kalian boleh pulang. Hati - hati di jalan ya, Nak." Ujar Mr.Melv. sambil menepuk pundak Anaknya yang sedang menyalaminya.


"Mom, kami pamit pulang ya. Kami mau mandiri dengan tinggal di Rumah kami sendiri. Mom kan sudah punya teman di sini. Kami pasti akan sering - sering mampir ke sini ya, Mom." Ucap Ar sambil menyalami Mommy nya.


Begitu pula dengan Grace, Adam, Silvia hingga Steve. Semuanya bergantian menyalami kedua Orangtuanya dan melambaikan tangannya pada Yoru. Mereka masih belum seutuhnya percaya begitu saja dengan kehadiran Yoru, tapi tidak ada dari antara mereka yang berani mengungkapkan isi hati dan pikiran mereka. Untuk saat ini, memang sudah seharusnya, mereka mengikuti kemauan Mr.Melv. dan melihat orang yang bagaimana sebenarnya si Yoru ini.


Mansion besar itupun akhirnya sepi dan yang tertinggal adalah ketiga orang yang saling tersenyum satu sama lainnya.


"Yoru, nama itu sebenarnya bagus. Tapi apa kamu tidak ingin jika namamu sebagai Charles kembali? Mom lebih senang jika kamu mau menggunakan nama itu lagi, Nak." Pinta Mrs.Melv. pada Yoru yang masih canggung dengan keluarga barunya sekarang.


"Sudahlah, Sayang. Besok saja kita bahas tentang itu. Dia perlu mengistirahatkan tubuhnya sejenak. Baru saja dia kehilangan keluarga angkatnya yang satu - satunya yang tersisa. Aku tidak ingin kamu menambah beban pikirannya dengan cara seperti itu. Biarkan dia tenang terlebih dahulu." Ucap Mr.Melv. pada Istrinya yang sudah meminta hal yang terdengar sangat aneh di saat yang kurang tepat menurutnya.


"Baiklah, Sayang. Aku tidak akan mengungkitnya lagi. Nak, kamu akan tidur di kamar yang di sebelah itu ya. Bagian kiri. Karena pitu kamar sebelah kanan merupakan kamar Steve. Dia juga sering berkunjung dan menginap di sini jika senggang. Anggap saja seperti Rumah sendiri. Besok pagi kita akan bertemu lagi saat jam sarapan. Selamat malam, Nak." Ucap Mrs.Melv. sambil mengelus bahu Yoru. Begitu juga dengan Mr.Melv.


"Yah, anggap saja seperti Rumah sendiri, karena mulai saat ini kamu akan tinggal di sini bersama dengan kami." Tegas Mr.Melv. untuk mengingatkan keberadaan Yoru yang cukup penting dalam keluarga itu. Meskipun dia hanyalah seorang sepupu dari Silvia, dia masih ada hubungan darah dengan sang Adik Ipar.


Adam dan Silvia beserta Steve pun pulang dengan selamat, tetapi pasangan Ar dan Grace malah mendapat maslah di pertengahan jalan. Mereka benar - benar dihadang oleh segerombolan orang yang berpakaian seperti bandit. Malam ini, Ar hanya membawa ketiga Bodyguard nya yang selalu menemani Grace kemanapun dia pergi. Karena itu, Ar terlihat sedikit mengkhawatirkan keadaan mereka. Dirinya sedang dalam kondisi yang kurang sehat. Bagaimana bisa Bodyguardnya melawan sepuluh bandit dengan tubuh yang begitu kekar?


Ketiga Bodyguard itu pun bertarung dengan enam bandit. Masing - masing dari mereka melawan dua bandit. Ar sampai tidak tau mau berbuat apa lagi selain ikut bertarung melawan mereka. Bandit itu dengan kejamnya memecahkan kaca mobil depan mereka menggunakan pemukul bola bisbol.


Ar langsung menyuruh Grace keluar dari mobil. Dia langsung di hadang oleh tiga bandit yang memiliki ikatan kain dengan warna yang berbeda di kepalanya. Salah satu dari mereka adalah orang yang membawa tongkat pemukul bisbol yang tadi di pakai untuk memukul kaca mobilnya.


Mau tak mau, Ar pun menghajar ketiga bandit itu sekaligus. Dia menahan tangan bandit yang mengarahkan tongkat pemukulnya dengan lengan kirinya dan meninju beberapa kali menggunakan tenaganya yang sekuat - kuatnya bagian ulu hati bandit tersebut.


Lalu dia mengambil alih tongkat bisbol itu. Dia menggunakan kesempatan itu untuk menghantam kedua bandit lagi. Dia memukulkan tongkta bisbol itu sekeras - kerasnya ke kepala bandit yang botak dan gondrong yang tersisa di hadapannnya. Mereka bertiga pun tepar seketika.


Sedangkan Grace? Dia mengoyakkan sedikit lengan bajunya dan mengikatnya pada telapak tangannya. Dia mempersiapkan posisi kuda - kudanya untuk mengatur kekuatannya yang sudah cukup lama tidak dipergunakannya. Saat ini, dia dikerumuni oleh tiga bandit yang lumayan seram wajahnya.


"Ayo! Majulah kalian!" Teriak Grace menantang ketiga bandit yang menurutnya tidak ada apa - apannya dibanding dirinya.


Karena merasa terpancing emosi, salah satu dari mereka pun maju menghadapi Grace. Bandit yang bertutup mata sebelah itu pun mengayuhkan tangannya ke arah Grace. Tapi, sebelum dia berhasil menyentuh Grace, kaki jenjang Grace yang mulus dengan sepatu tingginya pun melayang tepat di dagunya. Tumit sepatunya berhasil membuat gusinya berdarah dalam waktu isngkat. Bandit itu pun tersungkur ke aspal.


Dua bandit yang tersisa sempat tercengang melihat aksi yang dilakukan oleh Grace. Mereka berdua sempat saling pandang dan mengangguk kecil secara bersamaan. Mereka harus bisa melawan Grace terlebih dahulu baru bisa membawanya ke hadapan Bos mereka. Akhirnya, mereka pun maju bersamaan untuk melawan Grace. Mereka berencana menangkap kedua tangan Grace agar mereka mudah membawanya pergi dari situ.


Saat ini, bandit yang agak brewokan mulai menngalihkan perhatian Grace dari arah depan. Dia berakting melawan Grace dan temannya yang jangkung menyelip ke arah belakang dan menangkap Grace. Bukannya panik, Grace malah membiarkan si jangkung merangkulnya hingga posisi tangan si jangkung rapat di tubuhnya. Sebelum si brewok kembali menghajarnya, dia gunakan tangan kiri untuk memegang tangan kanan si brewok – di saat bersamaan dia mengangkat tangan kanan sekitar 45 derajat sambil membungkukan badan seperti akan melakukan squat.


Lalu dia mendorong lutut yang tertekuk dan membungkuk hingga tubuhnya membentuk sudut 90 derajat. Dia pun mendorong tubuh si jangkung dengan pinggul belakang dan kedua tangan yang sudah mengunci si jangkung yang ia gunakan untuk membanting si jangkung ke arah depan. Teknik ini memang harus dilakukan dengan cepat sebelum si brewok mulai mengeroyok. Akhirnya, si jangkung terplanting tepat menubruk tubuh si brewok.


Grace mulai merasa tubuhnya melemas. Mungkin karena dia terlalu berenergik melawan ketiga bandit itu. Kepalanya cukup berdenyut dan itu membuatnya terlihat pucat saat ini. Samar - samar dia melihat Sandra menghampirinya dengan langkah yang terburu - buru. Sandra menjambaknya dan menariknya ke arah mobil.


BUGH..!!


Suara pukulan yang sangat keras pun terdengar. Sandra dan Grace pingsan dalam waktu yang bersamaan. Sandralangsung tergeletak begitu saja di aspal. Sedangkan Grace, tubuhnya ditahan oleh Ar.


"Sayang? Kamu kenapa? Apa kamu terluka? Jawab aku! Grace?" Ar mencoba menepuk - nepuk lembut pipi sang Istri yang sudah pingsan dalam dekapannya.


Ar yang begitu khawatir pun menggendong tubuh Istrinya dan mennyuruh salah 1 bodyguard nya mengemudikan mobil untuk segera membawa Grace ke Rumah Sakit. Selama perjalanan, pikiran Ar kacau. Apalagi saat dia melihat ada darah mengalir dari selangkangan sang Istri yang saat ini mengenakan Dress selutut.


"Cepat! Jangan lamban kali kemudikan mobilnya! Kalau terjadi apa - apa pada Istri saya  kamu yang akan menanggung akibatnya!" Bentak Ar pada Bodyguard nya itu.


Yang mengemudi hanya bisa memfokuskan dirinya untuk mengemudi secepat mungkin. Dia tidak lagi peduli dengan bentakan - bentakan dari Tuannya.


"Sudah sampai, Tuan." Jawabnya singkat setelah dia memberhentikan mobil itu tepat di depan pintu masuk Rumah Sakit terdekat.


Ar pun bergegas membawa Istrinya memasuki Rumah Sakit itu. Dia langsung berteriak pada siapa pun yang dilewatinya, "Dokter! Suster! Tolong periksa Istri saya! Berikan dia pertolongan pertama!"


Seorang Dokter yang melihat kepanikan Ar pun mulai menghampirinya dan bertanya, "Apa yang terjadi? Kenapa ada begitu banyak darah keluar dari selangkangannya? Suster! Bawa Ibu ini ke ruang UGD sekarang juga!"


"Kenapa Dok? Apa yang terjadi pada Istri saya, Dok?" Tanya Ar dengan heran pada Dokter itu. Dia hanya bisa pasrah melihat Istrinya diambil alih oleh para Suster yang berdatangan setelah sang Dokter meneriaki mereka.


"Kami harus memastikannya terlebih dahulu. Bapak tunggu saja di sini sampai kami selesai memeriksanya. Sepertinya Ibu mengalami pendaharaan yang cukup parah. Apa Bapak tau apa yang terjadi?" Tutur sang Dokter sambil mengakhiri ucapannya dengan sebuah pertanyaan. Dia harus tau apa yang terjadi terlebih dahulu sebelum mengambil kesimpulan.


"Saat di perjalanan pulang, kami dihadang oleh beberapa bandit. Istri saya ikut melawan 3 orang dari mereka. Apa mungkin mereka memukulnya dengan keras? Sampai dia mengalami pendarahan seperti itu?" Ar kembali bertanya pada dirinya sendiri.


Sang Dokter pun mohon diri untuk masuk ke ruang UGD. Sedangkan Ar, terduduk lemas di bangku tunggu sambil menunggu Grace keluar dari ruang UGD.


"Nak, bagaimana keadaan kalian? Apa Grace baik - baik saja?" Tanya Mr.Melv. pada Ar yang baru saja menerima panggilan darinya. Ini sudah yang kelima kalinya dia menelepon sang Anak.


"Dad? Darimana Dad tau keadaan Grace sedang mengkhawatirkan begini?" Tanya Ar dengan wajah bingungnya.


"Tadi 2 Bodyguard mu membawa mobilmu yang pecah kaca depannya ke Mansion dan bertukar mobil dengan pickup. Katanya, mereka mau membawa kesepuluh Bandit beserta pemimpinnya ke Kantor Polisi. Mereka yang menceritakan pada Dad apa yang terjadi. Dad akan segera ke sana menemanimu ya, Ar." Ucap Mr.Melv. yang langsung memutuskan sambungan panggilan tersebut.


Ar hanya bisa menggeleng - gelengkan kepalanya sambil menatap layar ponselnya. Setelah beberapa saat, Mr.Melv. dan Istrinya beserta Yoru menghampiri Ar. Meskipun Yoru masih baru mengenal anggota keluarga Melviano, dia sudah merasa khawatir dengan apa yang terjadi pada Grace.


"Apa Dokternya belum memberikan kabar?" Tanya Mr.Melv. yang sudah duduk di sebelah Ar.


"Seperti yang Dad lihat. Mereka masih belum keluar dari dalam sana. Semoga saja tidak ada yang terjadi dengannya, Dad. Aku tidak bisa kehilangannya lagi dan lagi, Dad." Ucap Ar dengan suaranya yang parau. Dia sangat terpukul mengingat keadaan Grace yang tidak berdaya seoerti tadi.


"Dia pasti baik - baik saja, Nak. Jangan berkecil hati, Ar. Tuhan pasti akan melindunginya." Mrs.Melv. berusaha untuk menghibur Anak sematawayangnya itu.


"Iya, Mom. Makasih ya, Mom." Jawab Ar singkat.


Yoru hanya bisa menatap sedih wajah Ar yang begitu mengkhawatirkan Istrinya. Apa yang terjadi, masih menjadi tanda tanya bagi mereka. Mereka belum mengetahui dengan pasti motif dan dalang dari semua yang baru saja terjadi. Yang Ar ketahui adalah perempuan yang dengan beraninya menjambak rambut Istrinya merupakan orang yang ditahannya mulai dari Paris hingga ke London.


"Bapak adalah Suami Ibu tadi?" Tanya sang Dokter dengan wajah serius.


"Iya, Pak. Saya Suaminya. Ada apa dengan Istri saya, Pak?" Ar kembali bertanya setelah menjawab pertanyaan yang sedikit aneh dari Dokter tersebut.


Wajah Dokter itu pun berseri kembali dan menyalami tangan Arion dengan antusias sambil berkata, "Selamat Pak! Istri Anda sedang mengandung. Dan Janin di dalam kandungan Ibu sangatlah kuat. Dia berhasil bertahan dengan baik setelah Ibu mengalami pendarahan yang cukup parah." Tutur sang Dokter yang membuat semua orang tercengang.


"Apa Dok? Istri saya hamil? Dokter tidak salah kan?" Tanya Ar dengan perasaan yang menggebu - gebu.


"Iya, Pak. Istri Bapak sudah mengandung dengan usia kehamilan 3,5 minggu. Awal bulan depan, Istri Bapak sudah bisa cek kehamilan untuk melakukan pemeriksaan rutin." Ucap sang Dokter sambil memberikan sedikit penjelasan pada Ar dan keluarganya.


"Tapi Dok, Istri saya tidak pernah mengalami yang namanya mual atau apa pun itu seperti Ibu hamil pada umumnya. Kami saja tidak ada yang mengetahui kalau Istri saya sudah mengandung selama itu." Ucap Ar yang masih penasaran dengan penuturan sang Dokter.


"Mungkin saja, Bapak yang mengalami gejalanya. Bukan Istri Bapak. Tidak semua Ibu hamil mengalami tanda - tanda kehamilan seperti yang Bapak pikirkan selama ini. Apa Bapak sekarang lebih cepat merasa lelah? Atau malah sering mual atau muntah? Atau bahkan Bapak sering sensitif terhadap suatu bau?" Dokter itu mulai memberikan penjelasan melalui pertanyaan - pertanyaan yang bertubi - tubi pada Ar.


"Ahh, iya Dok. Beberapa minggu ini, saya memang mudah lelah, sering mual dan bahkan muntah jika saya menyentuh makanan berbau bawang putih berlebihan." Jawab Ar sambil mengingat kembali apa yang sudah terjadi padanya.


"Nah, itulah tanda - tanda kehamilan yang saya maksudkan, Pak. Saat ini kondisi tubuh Ibu cukup baik. Meskipun demikian, Bapak harus tetap menjaga Ibu dengan benar. Selama trimester pertama ini, risiko keguguran biasanya cukup tinggi. Oleh sebab itu, Bapak harus membantu Ibu untuk menjaga kondisi dan vitalitas tubuhnya. Sekali lagi, selamat ya, Pak. Saya mohon diri dulu." Ucap sang Dokter sambil lalu setelah mendapat anggukan dari keluarga Melviano.


"Wahh, ternyata Grace hamil. Masa kehamilannya juga lebih lama dibanding Silvia. Sayang, sekali mendapat Cucu, kita langsung menerima 2 Cucu sekaligus. Ini sungguh berkah." Ucap Mr.Melv. pada Istrinya yang sedang dalam pelukannya.


"Selamat ya, Ar. Kamu akan segera menjadi Papa." Ucap Yoru sambil menepuk pundak Ar yang sedang menatap Istrinya yang sedang dipindahkan dari ruang UGD ke ruang rawat inap.


"Makasih ya, Yoru." Jawab Ar dengan singkat.


"Iya, selamat ya, Nak. Kamu pasti sangat bahagia." Ucap Mrs.Melv. pada Anaknya.


"Makasih Mom." Ar pun tersenyum pada Mommy nya.


"Okelah, Dad akan mengurus administrasinya. Kalian langsung ikuti kemana Grace akan dibawa." Ucap Mr.Melv. sambil berjalan menjauhi rombongannya dan pergi ke bagian administrasi.


Mereka pun berjalan mengikuti arah yang dituju oleh pada Suster. Sesampainya di ruang rawat inap, Ar pun duduk di sebelah sang Istri. Dia mengelus rambut Istrinya dan tidak lupa memberikan kecupan kasih sayangnya di bagian kening sang Istri.


"Terimakasih, Sayang. Kamu baik - baik saja dan kamu sudah memberikanku kebahagian yang double pada malam ini." Bisik Ar pada Istrinya.


Dia pun mengelus perut sang Istri yang sudah berisi itu dan mengecupnya lembut sambil berbisik, "Terimakasih sudah hadir diantara kami, Nak. Baik - baik di dalam sana ya. Jagoan Papa harus membantu Papa menjaga Mama."


Kejadian yang tidak terduga seperti ini adalah Anugerah yang tiada taranya bagi Arion dan keluarganya. Mungkin saja, mereka tidak akan pernah mengetahui akan hadirnya sang buah hati jika kejadian ini tidak terjadi.


>>> Bersambung <<<


Bagaimana akhirnya?


Apakah sudah sesuai dengan keinginan Kakak2 semua?


**Maafkan Author yang belum.bisa up rutin ya, Kakak2..


Kedua novel Author, diikutkan ke dalam kontes yang diadakan oleh Mangatoon dan Noveltoon..


Nah, Author minta tolong sama Kakak2 semuanya laa..


Beri dukungan dengan Vote dari poinnya..


Tapi, untuk sementara, Vote nya masih berlaku di Noveltoon dan untuk yang di Mangatoon masih dalam proses pembaharuan sistem..


Bagi yang punya aplikasi Noveltoon, boleh mampir dan beri Vote nya dong..


Seminggu sekali, Vote yang diterima akan dihitung ulang. Dan perputaran rank itu yang menentukan..


Ini beberapa gambar untuk membantu Kakak2 dalam memberikan Vote nya..


Maaf, jika banyak permintaan Author..


Terimakasih, jika kalian sudah memberikan vote**..







Kita akan lanjut di next chap, Ingat untuk selalu beri like nya yaa, Kakak2..


Bagi yang belum memberikan rating, mohon kirim ☆5 untuk novel Author ya, Kakak2..


Terimakasih bagi yang sudah support Author selama ini..


Salam Kasih untuk Yg Terkasih


~~ Love You All ~~